WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGIT MENGETAHUINYA.
Langit bisa melihat kesedihan, kehancuran,dan kesakitan dari tatapan mata Alluna,dia mengelus kepala Alluna dan tersenyum lembut kearahnya membuat Alluna reflek memejamkan matanya saat merasakan elusan lembut di kepalanya itu dia merasa tenang dan nyaman,,dan dengan pelan langit mencoba melepaskan cekikan Alluna dari lehernya dan langsung memeluk dan mengelus punggung gadis itu
"Tenangkan diri lo hm" ucap langit menenggelamkan wajah Alluna di dada bidangnya
"Jadi dia adik lo,banyak pertanyaan yang ingin gue tanyakan ke lo tapi gue akan tunggu sampai lo yang siap untuk ceritain semuanya ke gue" batin langit
"Kenapa gue harus lemah berhadapan sama laki‑laki sialan ini, gue merasa nyaman dan tenang, gue ingin marah,ingin lepas tapi gue butuh ini lun, gue lelah" batin Allana lirih
"Thanks langit,lo udah tenangin Allana,lo laki‑laki kedua yang bisa kontrol allana selain Alfin,tapi sorry gue akan jadikan ini yang terakhir untuk lo liat sisi lemah gue"ucap Alluna
"Ini mustahil ,Allana bisa secepat itu ditenangkan dengan lelaki ini selain Alfin" batin Alexander
Alexander menepuk bahu Langit
"Om titip anak om tolong tenangkan dan jaga luna dengan baik, om harus lihat keadaan Alfin,satu lagi, jangan membawanya bertemu dengan Alfin jika dia masih kacau" ucap Alexander yang di balas anggukan oleh langit
Alexander pergi meninggalkan mereka menuju rumah sakit tempat Alfin dibawa
"Biar gua antar pulang" ajak Arga ke lisa
"Luna gimana?" Tanya lisa
"Ada langit yang menjaganya, biarkan dia tenang terlebih dahulu" ujar Arga dan segera membawa lisa meninggalkan Langit dan Alluna
Arga bersama lisa kembali ke sekolah yang sudah sepi karna sekolah sudah berakhir sejak tadi,mereka mengambil barang‑barangnya setelah itu Arga mengantar lisa ke tempat kerjanya karna dia sudah telat,walau sempat di tolak Arga dengan keras kepalanya terus memaksa sampai Lisa mengizinkannya
Lisa turun dari motor Arga karna sudah sampai di caffe tempatnya bekerja
"Thanks tumpangannya" ujar lisa tersenyum manis
"Jantung gue bangs*t" batin Arga
"Gak gratis" jawab Arga singkat
"Ha?" Cengo Lisa
"Imbalannya lo harus temenin gue nanti" lanjut Arga lagi
"Kan tadi lo yang maksa ngantarin gue" jawab lisa kesal
"Gue gak nerima penolakan,gue balik semangat kerjanya" jawab Arga yang mengacak rambut lisa dan segera pergi dengan cepat
"Gila jantung gue cepat banget anjir" batin Arga yang tersenyum tipis di balik helemnya
"Tu anak kenapa sih beda banget, udah gak jadi kulkas berjalan kali yah" ujar lisa bingung
Kembali ke Langit dan Alluna….
Lama berada di pelukan Langit membuat langit bisa merasakan tubuh Alluna yang bergetar menahan isakannya
"Jangan di tahan lun, menangis sepuasnya jika itu bisa buat lo tenang, gue gak akan ada disini nemenin lo" ujar Langit yang tiada hentinya mengelus belakang kepala Alluna
"Gue lemah,gue gagal" ucap Alluna lirih
"Jangan seperti ini lun,gue hancur liat lo seperti ini" batin Langit yang memeluk erat Alluna
"Bagi rasa sakit lo ke gue lun,sekali aja anggap gue ada, hanya untuk hari ini gue janji" ujar Langit yang memeluk dan terus mencium pucuk kepala Alluna
"Gue takut,gue takut Alfin kenapa‑napa, ini salah gue,harusnya gue bisa jaga Alfin hiks" isak Alluna
"Gue yakin Alfin gak bakal kenapa‑napa dia kuat sama seperti lo,sekarang tenangkan diri lo kalo ingin bertemu dengan Alfin hm" ujar Langit lagi
Setelah beberapa menit isakan Alluna mulai berkurang
"Ikut gue yah gue tau tempat yang cocok untuk lampiasin kesedihan lo " ajak Langit
"Hm,muka gue pasti bengkak" ujar Alluna yang tetap bersembunyi di dada bidang langit
"Mana coba lihat" ujar Langit yang melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Alluna yang mulai merah itu
"Kok lucu sih" ujar Langit menguyel‑nguyel pipi Alluna
"Mau mati?" Tanya Alluna sensi padahal dia baru saja menangis seperti anak kecil walaupun tidak terlalu kencang
"Kalo sama kamu aku rela kok" ujar Langit dengan senyum menyebalkan
"Apaan aku kamuan geli" jawab Alluna sinis
"Pake aku‑kamu aja biar nanti terbiasa kalo udah legal" ucap langit menyebalkan dan langsung membuka hoodie yang dia pakai dan memakaikannya ke tubuh Alluna serta penutup kepala hoodie itu,membuat tubuh Alluna terlihat tenggelam membuatnya semakin lucu
"Kenapa lo pakein ini?" Tanya Alluna
"Mau muka bengkaknya dilihat?" Tanya Langit yang langsung di balas gelengan lucu oleh Alluna
"Astagaa lun lo sadar gak sih,lo lagi make mode gemesin bangs*t sudah tau jantung gue lemah" batin Langit
"Ngapain lo senyum‑senyum sendiri " sinis Alluna
"Gemesin sih " jawab langit mengacak rambut Alluna yang mendapat tatapan tajam dari sang pemilik
"Ya udah ayo ikut,kalau sudah tenang kita ke rumah sakit disana sudah ada Rey dan papa kamu yang jagain Alfin" ujar Langit menggenggam tangan Alluna menuju motor mereka
Langit dan Alluna sudah berada di dekat motor mereka namun langit tidak menaiki motornya justru menatap tangannya yang sedang menggenggam tangan alluna
"Kenapa lo diam?" Tanya Alluna yang masih belum sadar tangannya digenggam
"Kamu lun kamu" tegur langit
"Lo belum jadi siapa‑siapa gue" jawab alluna
"Ya udah kita pakai lo‑gue dulu , gue tungguin kok sampai jadi aku‑kamu" jawab Langit dengan senyum menyebalkan membuat Alluna berfikir dia telah salah bicara dengan menggunakan kata belum tadi
"Lo kalo berisik lagi,gue malas ikut lo". Ancam Alluna
"Iya iya gak usah ngomel,makin lucu" jawab langit yang memakaikan helem ke kepala Alluna dan langsung menaiki motornya
Langit membawa Alluna ke suatu tempat yang langit sering datangi saat sedang banyak fikiran
Setibanya disana Langit memakirkan motornya dan berjalan dengan diikuti Alluna
"Gimana,suka?" Tanya langit
"Hmm not bad" jawab Alluna jujur karna tempat mereka bukan hanya bersih tapi sangat cantik dan menenangkan,tempat mereka adalah sebuah taman yang di tengahnya terdapat danau kecil dengan bunga‑bunga cantik menghiasi sekeliling danau itu
"Lo sering kesini?" Tanya Alluna
"Hmm,gue biasa kesini kalau lagi banyak fikiran lagian tempat ini jarang di datangi orang lain karna sedikit yang mengetahui tempat ini dan itu cukup untuk gue jadikan tempat penenang"jawab Langit
Setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka
Langit dan Alluna duduk bersandar di bawah pohon yang lumayan besar sambil memandang kedepan tanpa ada yang memulai percakapan
Lama dengan keterdiamannya, Langit di kejutkan dengan suara Alluna
"Lo gak ingin bertanya sesuatu" tanya Alluna tiba‑tiba membuat langit menatapnya
"Tidak,gue gak mau lo gak nyaman,dan gue gak mau tau apapun kecuali lo sendiri yang ingin menceritakannya maka gue akan siap untuk mendengarkan,liat lo sedih buat hati gue sakit lun" sambung Langit yang kembali fokus menatap danau
"Nama Asli gue Alluna Putri Albertson,Orang tua gue mati dibunuh 10 tahun yang lalu tepat di depan mata gue sendiri,gue yakin lo pernah dengar berita besar ini,pembantaian sadis di mension mewah milik Albertson thomson" ujar Alluna
Langit yang mendengar itu terkejut sangat terkejut pasalnya dia mengetahui berita sadis itu yang pernah menghebohkan kota mereka, dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan salah satu anak yang selamat dari tragedi pembantaian itu
"Alfin saat itu masih sangat kecil dan dia satu‑satunya yang gue punya saat itu dan harus gue jaga tapi dengan bodohnya, gue ninggalin dia malam itu juga,disaat dia benar‑benar kaget dengan keadaan yang belum dia mengerti,disaat dia benar‑benar membutuhkan gue,sampai dia tumbuh dan hidup tanpa gue,dia benci gue ngit dia benci dengan kakak yang selalu ditungguinya,dia benci dengan kakak yang harusnya jadi tempatnya mengadu,,dan gue gak tau sampai kapan harus bersembunyi darinya" ujar Alluna yang menatap kosong danau di depannya.
Langit menatap luna dalam seolah dia bisa merasakan rasa sakit yang dialami luna saat ini
"Kenapa harus bersembunyi?" Tanya Langit reflek
"Gue harus cari pembunuh orang tua gue untuk membalas semuanya,dan jika mereka mengetahui Alfin masih hidup mereka akan membunuhnya,itu sebabnya gue gak mau Alfin tau jika gue adalah orang yang selama ini dia tunggu" jawab Alluna
"Dan lo ngorbanin diri lo dengan ngadapin mereka sendiri?" Tanya langit
"Setidaknya gue yang akan mati, bukan adik gue ataupun orang terdekat gue" jawab Alluna
"Lun lo perempuan terkuat yang pernah gue temuin izinin gue untuk jagain lo" batin Langit yang menatap Alluna lekat
"Dan karena itu juga gue gak boleh terjebak dengan perasaan termasuk untuk mencoba membalas perasaan lo, gue gak sebaik itu langit,ada monster di diri gue,ada banyak nyawa yang habis di tangan gue,jadi lo bisa mundur sekarang" ujar Alluna yang mulai merasa sesak di dadanya entah kenapa dia juga tidak mengetahuinya
"Sorry lun,Apa monster yang lo maksud itu lana?" Tanya Langit hati‑hati membuat Alluna terdiam
"Lo gak usah jawab kalo gak mau, tadi gue gak sengaja dengar Rey manggil kak Lana ke lo mungkin gue salah dengar" ucap langit lagi
"Hm,dia Allana Alter Ego gue,jiwa lain yang hidup dalam tubuh gue,dia selalu keluar disaat gue benar‑benar marah,oleh karena itu gue benar‑benar harus mengontrol diri gue karna dia berbeda,dia psikopat dan dia bisa nyakitin siapapun yang berada di sekitar gue,itu alasan gue selalu menutup diri" jawab Alluna yang memandang lurus ke danau
"Kenapa lo nyeritain semuanya ke gue" tanya Langit
Alluna menatap langit dalam dan setelah itu mendekatkan wajahnya ke langit
"Gue hanya ingin lo tau seperti apa wanita yang lo suka ini,dan kalaupun lo bersangkutan dengan orang‑orang dimasa lalu gue,lebih mudah buat gue ngabisin kalian semua" jawab Alluna tersenyum miring,bukannya takut Langit justru meniup wajah Alluna membuat Alluna reflek menutup matanya
Dan membukanya kembali saat terkejut dengan langit yang tiba‑tiba menggenggam tangannya,membuat Alluna menatap langit tajam
"Gue gak peduli lun,gue gak peduli jika lo nanti bakal lukain gue, gue juga gak peduli dengan bahaya apapun yang akan gue dapat karna dekat dengan lo, gue juga gak sebaik yang lo fikir lun,, gue ngga akan memaksa lo untuk punya perasaan yang sama ke gue,,tapi mulai sekarang izinin gue untuk jadi temen lo,izinin gue untuk bantu lo dalam hal apapun" pinta Langit serius
"Lo akan celaka jika dekat dengan gue" ujar Alluna dingin
"Gue gak takut,dan gue maksa,jadi lo harus nerima atau gue akan terus gangguin lo" paksa Langit
"Keras kepala" jawab Alluna
"Lo yang ngajarin" senyum Langit
"Mau lihat Alfin sekarang?"tanya Langit
"Hm, Rahasiain apapun yang lo dengar dari gue saat ini" pinta Alluna
"Asal lo nerima gue jadi temen lo sekarang" jawab Langit
"Gak bisa nolak kan" sindir Alluna yang di balas anggukan dan senyum lebar langit
Alluna dan Langit menuju rumah sakit tempat Alfin di rawat
Mereka sekarang berada di depan pintu rawat Alfin disana sudah ada Rey dan Alexander
"Pah Alfin gimana?" Tanya Alluna
"Alfin sedang dioperasi sayang" jawab Alexander
"Pah" jawab dingin Alluna yang minta penjelasan lebih jelas
"Kak tenang,dengerin papa dulu" bujuk Rey
"Salah satu tangan Alfin patah nak dia harus melakukan operasi dan bi Asih yang menyetujui operasi itu dia sedang berada di toilet sekarang" jawab Alexander membuat emosi Alluna mulai naik dia berjanji akan membunuh mereka yang sudah membuat tangan adiknya patah
Langit yang melihat tangan Alluna terkepal Kuat,mencoba menggenggam tangan itu dan mengelusnya lembut
"Tenang yah sekarang kita fikirkan Alfin dulu hm,kontrol emosi lo" ucap langit lembut
Alluna merasa sedikit tenang dengan perlakuan Langit membuatnya mencoba mengontrol dirinya
Rey yang melihat itu tersenyum tipis
"Semoga lo bukan orang yang akan nyakitin kakak gue kelak"batin Rey
Bi Asih yang dari toilet datang mendekat ke arah mereka,bi Asih terpaku melihat wajah Alluna,bi Asih memang tidak mengenal Alexander dia hanya tau bahwa Alexander adalah ayah dari Rey sahabat Alfin anaknya
"N‑non A‑alluna" ucap bi Asih terbata yang memperhatikan lebih jelas wajah Alluna
"Gue bukan Alluna,gue Luna" jawab Alluna datar yang sebenarnya mencoba menyembunyikan wajah terkejutnya karna bi asih yang mengenali dirinya
"Iya bu,ini kakak Rey namanya kak Luna"ucap Rey mencoba meyakinkan
"Ah benarkah,maafkan saya nak, mungkin saya salah orang" ujar bi Asih lembut di balas Anggukan oleh Alluna
"Nak papa harus balik ke kantor,kamu masih ingin disini bersama Rey" tanya Alexander
"Iya pah,Luna akan disini jagain anak nakal papa ini" jawab Alluna mencoba meyakinkan bi Asih yang berada di sekitar mereka
"Baiklah bu saya permisi" ucap Alexander
"Iya tuan, terimakasih telah menolong anak saya" jawab bi Asih dibalas anggukan oleh Alexander
"Mungkin aku salah orang,dia bukan non Alluna" batin Bi Asih
Mereka duduk di depan pintu operasi Alfin untuk menunggu operasi itu selesai,satu notif masuk di hp Alluna membuatnya membuka pesan itu
Lisa :
"Lun tas lo ada sama gue yah,besok gue bawa ke sekolah,sorry gak bisa nemanin lo untuk liat keadaan Alfin tapi nanti gue pasti jenguk Alfin kok"
Anda :
"Thanks Lis, iya gapapa lo lanjutin kerja lo,semangat"
Banyak yang ingin lisa tanyakan dengan luna tentang hari ini namun dia lebih memilih menunggu Alluna yang akan menceritakannya sendiri,dia tidak ingin luna merasa risih dengannya
"Sedingin apapun lo,lo anak yang baik dan perhatian lun gue beruntung kenal dengan lo" Batin lisa diseberang sana
"Apa yang lo liat" ujar Luna ke Langit yang tertangkap sedang mengintip dirinya bertukar pesan dengan Lisa
"Siniin hp lo" bukanya menjawab Langit malah mengambil hp Alluna padahal belum diizinkan
"Mo ngapain lo" ujar Alluna melihat langit mengetikan sesuatu di hpnya dan tiba‑tiba hp langit berbunyi
"Gue simpan nomor gue kalo ada apa‑apa kabarin gue,nomor lo juga udah di hp gue" ujar langit tersenyum menyebalkan
Membuat Alluna menatapnya horor tanpa melihat nama Langit yang dia tuliskan di hpnya dan langsung menyimpannya di saku
Tidak lama setelah itu dokter keluar membuat bi Asih yang memperhatikan Alluna beralih ke arah dokter
"Dok bagaimana keadaan anak saya" tanya bi Asih
"Operasinya berjalan lancar namun untuk sekarang pasien di harapkan tidak terlalu banyak bergerak sampai tangannya benar‑benar pulih,kalian bisa menemuinya dengan bergantian saat pasien dipindahkan ke ruang inapnya,karena pasien belum sadar saat ini" ucap dokter
"Beri dia kamar VVIP" ucap Alluna datar membuat mereka semua menatapnya terkecuali sang dokter yang sudah menganggukkan kepalanya,dia tau Alluna pemilik rumah sakit ini namun karena permintaan dari sang pemilik mereka semua tidak di perbolehkan memberitahukan identitasnya
"Nak maaf ibu tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk memasukan Alfin ke ruang VVIP" ujar bi Asih menunduk
"Tenang bu,ini tadi permintaan papa saya kok papa saya sudah menanggung semua adminstrasinya,, papa saya senang saya berteman dengan Alfin yang banyak membantu saya dalam pelajaran,tolong di terima yah bu" jawab Rey yang mencoba memberi alasan karna tau kakaknya akan malas mencari alasan
"Benarkah nak,tolong sampaikan terimakasih ibu untuk ayah kamu nak yang sudah banyak membantu anak ibu" ujar Bi Asih dengan tulus
"Iya bu Alfin juga sahabat saya jadi saya harus membantunya yang sudah banyak membantuku" jawab Rey tersenyum
(Di part selanjutnya Allana akan beraksi lagi guys,di tunggu yah)
jangan lupa di like, vote, subscribe guys jangan cuma di baca tapi juga like yahh guee maksa soalnya hewhehehe 😄