Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26 — Penguasa Hutan Pinus
Nadi Kekosongan memang benar-benar luar biasa. Hanya dengan satu Batu Roh Rendah, perubahan yang dirasakan Xiao Yun sudah jauh melampaui perkiraan siapa pun. Energi murni yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh seorang kultivator pemula justru mengalir begitu lancar di dalam tubuhnya, seolah-olah Nadi Kekosongan memang diciptakan untuk menerima kekuatan semacam itu. Namun Luo Hai memilih tetap diam. Ia hanya memperhatikan muridnya dengan tatapan dalam, sementara berbagai dugaan bermunculan di benaknya. Ada banyak rahasia yang masih tersembunyi di balik Nadi Kekosongan, dan menurutnya sekarang belumlah waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya. Beberapa kebenaran justru akan menjadi beban apabila diketahui terlalu cepat.
Xiao Yun tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan gurunya. Ia hanya memandangi Batu Roh yang berada di telapak tangannya dengan penuh kekaguman. Cahaya putih kebiruan yang terpancar dari permukaannya tampak lebih redup dibanding sebelumnya karena sebagian energinya telah terserap, tetapi benda kecil itu tetap memancarkan aura yang jauh lebih murni daripada Qi Langit dan Bumi di sekitarnya. Perlahan ia mengangkat pandangannya ke arah jendela. Langit malam membentang luas di atas Kota Sungai Hijau, dipenuhi bintang-bintang yang berkelip tenang. Untuk pertama kalinya sejak memulai perjalanan sebagai kultivator, Xiao Yun benar-benar memahami mengapa para kultivator rela mempertaruhkan nyawa demi memperoleh sumber daya kultivasi. Bukan semata-mata karena nilainya yang tinggi, melainkan karena benda seperti Batu Roh mampu mempercepat langkah seseorang menuju kekuatan. Tanpa sumber daya seperti itu, perjalanan kultivasi akan menjadi jauh lebih lambat dan penuh kesulitan.
Malam terus beranjak semakin larut. Suara keramaian di luar penginapan berangsur menghilang hingga akhirnya seluruh Kota Sungai Hijau tenggelam dalam keheningan. Di dalam kamar sederhana itu, Xiao Yun masih duduk bersila sambil menggenggam Batu Roh pertamanya. Sorot matanya dipenuhi tekad yang jauh lebih kuat daripada saat ia pertama kali meninggalkan Desa Kabut. Kini ia memahami bahwa bakat dan kerja keras saja tidak cukup untuk menapaki jalan menuju puncak. Seorang kultivator juga membutuhkan sumber daya yang memadai, dan Batu Roh hanyalah salah satu di antaranya. Kesadaran itu membuat tujuannya semakin jelas. Ia tidak hanya harus menjadi lebih kuat, tetapi juga harus belajar memperoleh berbagai sumber daya dengan usahanya sendiri.
Keesokan paginya, matahari baru saja muncul dari balik cakrawala ketika Xiao Yun meninggalkan Kota Sungai Hijau. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus yang memenuhi wilayah utara, sementara udara pagi terasa begitu sejuk hingga setiap tarikan napas menghadirkan kesegaran yang menenangkan. Tas perjalanannya kini berisi beberapa Koin Emas hasil penjualan Babi Taring Besi, sedangkan Batu Roh Rendah disimpan dengan hati-hati di tempat paling aman. Meski hanya menghabiskan sebagian energinya semalam, Xiao Yun dapat merasakan perubahan yang nyata. Langkahnya menjadi lebih ringan, tubuhnya lebih bertenaga, dan seluruh indranya terasa lebih peka dibanding beberapa hari sebelumnya.
Luo Hai melayang perlahan di samping muridnya sambil mengamati perubahan itu dengan tenang. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Kemajuanmu cukup baik. Batu Roh pertama itu berhasil memperkuat fondasi tubuhmu lebih cepat daripada yang kuduga."
Xiao Yun mengangguk sambil mengepalkan tangan. Ia dapat merasakan tenaga yang mengalir lebih mantap ke seluruh tubuhnya. "Aku juga merasakannya, Guru. Rasanya setiap gerakanku menjadi lebih ringan."
"Itu baru permulaan," jawab Luo Hai. "Kalau kau ingin terus berkembang, kau membutuhkan lebih banyak sumber daya. Jangan berpikir satu Batu Roh sudah cukup."
Xiao Yun tersenyum kecil. "Kalau begitu aku akan mendapatkan lebih banyak Batu Roh."
Luo Hai terkekeh pelan. "Keinginanmu bagus. Tapi ingat, Batu Roh tidak jatuh begitu saja dari langit. Setiap keping harus diperoleh melalui usaha, keberanian, atau keberuntungan."
Percakapan mereka berakhir ketika matahari mulai meninggi. Jalur pegunungan yang mereka lalui berubah menjadi kawasan hutan pinus yang lebih rapat. Sesekali terdengar suara aliran sungai dari kejauhan, sementara aroma getah pinus memenuhi udara. Xiao Yun terus melangkah tanpa mengeluh. Semangatnya justru semakin besar setelah mengetahui seperti apa dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Tidak lama kemudian, suara beberapa orang terdengar dari balik pepohonan. Refleks, Xiao Yun menghentikan langkah dan menggenggam gagang Pisau Naga Kuno. Naluri yang terbentuk selama bertahun-tahun hidup di sekitar Hutan Terlarang membuatnya selalu waspada terhadap suara asing. Namun setelah memperhatikan beberapa saat, ia menyadari bahwa suara itu berasal dari sekelompok manusia, bukan hewan iblis.
Di tepi sebuah sungai kecil tampak beberapa pria dewasa sedang beristirahat. Mereka mengenakan pakaian pemburu, membawa busur, tombak, serta berbagai perlengkapan berburu yang tampak sudah sering digunakan. Ketika melihat seorang anak kecil berjalan sendirian dari arah hutan, mereka langsung menghentikan percakapan dan menatapnya dengan heran.
Seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tipis berdiri lebih dulu. Wajahnya terlihat tegas, tetapi sorot matanya tidak menunjukkan permusuhan. "Anak kecil, kau sendirian?" tanyanya.
Xiao Yun mengangguk sopan. "Benar."
Pria itu tampak semakin bingung. "Namaku Han Wei. Aku memimpin kelompok pemburu ini."
"Salam, Paman Han. Namaku Xiao Yun."
Perkenalan singkat itu membuat suasana menjadi lebih santai. Han Wei mengajak Xiao Yun duduk sejenak untuk beristirahat. Awalnya para pemburu hanya mengira Xiao Yun adalah anak desa yang tersesat, tetapi dugaan itu berubah ketika mereka melihat gulungan kulit dan sepasang taring besar yang tersimpan di dalam tasnya.
Salah seorang pemburu mengambil salah satu taring itu dengan hati-hati, lalu matanya langsung membelalak. "Kapten... ini taring Babi Taring Besi."
Semua orang segera mendekat. Mereka memeriksa kulit serta taring itu bergantian, lalu menatap Xiao Yun dengan ekspresi sulit dipercaya.
"Jangan bilang kau memburunya sendiri?" tanya seorang pemburu lain.
Xiao Yun hanya mengangguk jujur.
Beberapa orang langsung saling pandang. Bahkan Han Wei tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia tahu persis bahwa Babi Taring Besi bukanlah mangsa yang mudah ditaklukkan, apalagi oleh seorang anak berusia lima tahun.
Han Wei akhirnya tertawa lepas. "Kalau begitu kau benar-benar luar biasa. Beberapa pemburu baru di kelompokku bahkan belum tentu mampu melakukannya."
Dua pemuda yang duduk tidak jauh dari sana hanya bisa tersenyum malu, membuat seluruh kelompok tertawa. Suasana yang semula canggung berubah menjadi hangat hanya dalam beberapa saat.
Setelah beristirahat dan berbincang sejenak, Han Wei mengutarakan sebuah usul. "Kami akan masuk lebih jauh ke Hutan Pinus Utara untuk berburu. Kalau kau tidak keberatan, ikutlah bersama kami. Berburu dalam kelompok jauh lebih aman daripada sendirian."
Xiao Yun tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Luo Hai yang melayang tidak jauh darinya. Roh tua itu menganggukkan kepala perlahan, menandakan bahwa tawaran tersebut tidak berbahaya.
"Tidak ada salahnya ikut," kata Luo Hai melalui transmisi suara. "Anggap saja kesempatan untuk belajar dari para pemburu berpengalaman."
Mendengar persetujuan gurunya, Xiao Yun menerima tawaran Han Wei. Rombongan itu pun kembali melanjutkan perjalanan menuju bagian utara hutan.
Selama perjalanan, Xiao Yun memperoleh banyak pengetahuan baru. Han Wei menjelaskan bagaimana arah angin dapat menentukan keberhasilan sebuah perburuan, sementara pemburu lain mengajarinya membedakan jejak hewan yang masih baru dengan yang sudah lama. Mereka juga menunjukkan berbagai tanda yang menandakan keberadaan wilayah berbahaya, mulai dari ranting yang patah, bekas cakaran pada batang pohon, hingga perubahan perilaku burung-burung di sekitar hutan. Xiao Yun menyimak semua penjelasan itu dengan penuh perhatian. Pengalaman para pemburu ternyata melengkapi pelajaran yang selama ini ia terima dari Luo Hai.
Beberapa jam kemudian, mereka mulai menemukan jejak keberadaan hewan iblis. Bekas telapak kaki besar tercetak jelas di tanah yang lembap, sementara tidak jauh dari sana terdapat sisa-sisa bangkai hewan liar yang baru dimangsa. Para pemburu saling bertukar pandang dengan wajah penuh semangat.
"Itu pertanda bagus," kata salah seorang dari mereka. "Mangsa besar pasti masih berada di sekitar sini."
Han Wei mengangguk setuju. "Kalau keberuntungan berpihak kepada kita, hasil perburuan hari ini akan sangat memuaskan."
Namun di tengah optimisme kelompok itu, Xiao Yun justru mulai merasakan sesuatu yang ganjil. Semakin jauh mereka memasuki hutan, suasana di sekitar berubah menjadi sangat sunyi. Burung-burung yang sebelumnya masih terdengar kini lenyap sama sekali. Bahkan suara serangga pun menghilang, seolah seluruh kehidupan di kawasan itu tiba-tiba berhenti. Hembusan angin yang melewati pepohonan pinus membawa tekanan aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Pada saat yang sama, Luo Hai menyipitkan mata. Ekspresinya berubah serius.
"Ada apa, Guru?" tanya Xiao Yun melalui transmisi suara.
Luo Hai tidak segera menjawab. Tatapannya terus menyapu setiap sudut hutan, seakan sedang memastikan sesuatu.
Belum sempat Xiao Yun bertanya lagi, salah seorang pemburu tiba-tiba berteriak dari depan. "Kapten! Kemari cepat!"
Semua orang segera berkumpul. Di hadapan mereka berdiri sebuah pohon pinus raksasa yang batangnya hampir sebesar sebuah rumah. Namun perhatian seluruh rombongan tertuju pada bekas cakar yang membelah kulit batang pohon itu. Goresannya sangat dalam, meninggalkan luka panjang yang hampir menembus kayu keras tersebut.
Han Wei menelan ludah. "Ini bukan bekas hewan biasa."
Ucapan itu membuat suasana berubah tegang. Tidak jauh dari sana mereka menemukan sebuah batu besar yang terbelah menjadi dua, seolah dihantam kekuatan yang luar biasa. Di sekitar batu itu juga berserakan tulang-belulang beberapa hewan iblis, sebagian masih memperlihatkan bekas gigitan yang mengerikan.
Rasa dingin perlahan menjalar di punggung para pemburu. Pengalaman mereka mengatakan bahwa hanya penguasa wilayah yang mampu meninggalkan jejak seperti itu.
Luo Hai akhirnya berbicara dengan suara rendah, tetapi penuh ketegasan.
"Kita harus pergi sekarang."
Xiao Yun terkejut. "Guru?"
"Wilayah ini adalah daerah kekuasaan makhluk yang jauh lebih kuat daripada kalian."
Belum ada kesempatan untuk bertanya lebih jauh.
Tiba-tiba...
"ROOOAAARRRRR!"
Auman menggelegar memecah kesunyian hutan.
Suara itu mengguncang pepohonan, membuat tanah bergetar dan dedaunan berguguran dari setiap cabang. Burung-burung yang bersembunyi langsung beterbangan dengan panik, sementara seluruh rombongan membeku di tempat.
Di atas sebuah batu hitam raksasa yang menjulang tinggi, perlahan muncul seekor harimau berukuran luar biasa besar. Panjang tubuhnya mendekati delapan meter, dipenuhi bulu merah gelap yang tampak seperti kobaran api. Sepasang mata emasnya bersinar tajam, memancarkan tekanan mengerikan yang langsung membuat napas semua orang terasa berat.
Han Wei memucat.
"Harimau Api Bermata Emas..."
Suara itu hampir berubah menjadi bisikan. Para pemburu lain pun kehilangan ketenangan. Mereka mengenal nama makhluk tersebut dengan sangat baik. Harimau Api Bermata Emas adalah penguasa Hutan Pinus Utara, hewan iblis yang ditakuti seluruh pemburu di wilayah ini.
Xiao Yun ikut merasakan tekanan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Kabut, ia berhadapan langsung dengan makhluk yang membuat naluri bertahan hidupnya berteriak tanpa henti. Aura yang dipancarkan harimau itu berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada Babi Taring Besi. Bahkan hanya dengan menatap mata emasnya, tubuh Xiao Yun terasa menegang.
Harimau itu kembali mengaum. Dari sela-sela taringnya keluar semburat api yang menyala redup, sementara pandangannya menyapu seluruh kelompok manusia di bawah seolah sedang memilih mangsa yang paling mudah dibunuh.
Luo Hai langsung berkata dengan nada yang belum pernah Xiao Yun dengar sebelumnya.
"Jangan bertarung."
"Jangan berpikir untuk melawannya."
"Lari sekarang juga."
Xiao Yun membeku sesaat. Selama ini Luo Hai selalu mendorongnya menghadapi setiap tantangan, tetapi kali ini gurunya sama sekali tidak memberi ruang untuk bertarung. Tidak ada strategi. Tidak ada ujian. Tidak ada kesempatan untuk mencoba.
Hanya satu perintah.
Lari.
Pada saat yang sama, Han Wei juga berteriak sekuat tenaga kepada seluruh kelompoknya.
"Mundur!"
"Semua orang mundur sekarang juga!"
Tidak seorang pun berani membantah. Seluruh pemburu segera berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan wilayah kekuasaan Harimau Api Bermata Emas, sementara Xiao Yun ikut bergerak bersama mereka tanpa sedikit pun memperlambat langkahnya.
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?