Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Tiga minggu telah berlalu sejak malam mencekam di gudang pinggiran kota. Luka memar di pipi Naura telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh rona merah yang segar berkat perawatan terbaik yang diberikan Adrian. Gavin Mahendra dan jaringan preman bayarannya kini telah mendekam di balik jeruji besi dengan vonis hukuman maksimal, memastikan bahwa ancaman fisik terhadap keluarga kecil itu telah musnah tanpa sisa.
Pagi ini, gedung pencakar langit Mahendra Group kembali beroperasi di bawah kepemimpinan Adrian Mahendra. Setelah memastikan keamanan di mansion diperketat hingga ke tingkat ekstrem dan kondisi ibu mertuanya pulih total, sang CEO berdarah dingin akhirnya kembali menginjakkan kakinya di kantor pusat untuk mengurus bisnis yang sempat tertunda.
Adrian duduk di balik meja kerja kebesarannya di lantai paling atas. Jas hitam mahalnya terpasang sempurna tanpa cela, memancarkan aura wibawa yang tak tergoyahkan. Di hadapannya, Dimas sedang membacakan agenda kerja hari ini.
"Tuan Adrian, seluruh laporan audit pasca-pemecatan Gavin sudah bersih. Namun, ada satu agenda mendesak jam sepuluh nanti," Dimas menjeda kalimatnya sejenak, menatap gawai tabletnya sebelum mendongak. "Perwakilan dari Vanderbilt Capital, investor utama asal Prancis yang akan mendanai proyek mega-resort kita di Bali, sudah tiba di Jakarta. Kepala negosiator mereka meminta pertemuan tatap muka secara privat di ruangan Anda, bukan di ruang rapat umum."
Adrian menaikkan satu alisnya, menutup map berkas di depannya. "Investasi lima triliun itu? Baik. Bawa mereka masuk begitu mereka tiba. Proyek ini sangat penting bagi saham kita."
"Dimengerti, Tuan," jawab Dimas sebelum membungkuk hormat dan melangkah keluar dari ruangan.
Begitu pintu ruang kerja yang besar itu tertutup, Adrian menghela napas pendek. Ketegangan seketika mencair saat dia meraih gawai pribadinya yang terletak di atas meja. Dia membuka ruang obrolan dengan kontak 'Naura love'. Sudut bibir tegas sang CEO melunak, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
Dia mengetikkan pesan singkat 'Mas sudah mulai bekerja di kantor, Sayang. Jangan bosan di rumah, siang nanti Mas akan menyuruh sopir mengantarkan makan siang kesukaanmu dari restoran. Jaga dirimu baik-baik untukku.'
Setelah menekan tombol kirim, Adrian meletakkan kembali gawainya. Waktu menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi ketika pintu ruang kerja CEO kembali diketuk dari luar.
Tok... tok...
"Masuk," ucap Adrian, suaranya kembali berubah menjadi dingin dan mengintimidasi.
Pintu terbuka perlahan. Namun, yang melangkah masuk terlebih dulu bukanlah Dimas, melainkan aroma parfum mewah beraroma mawar yang sangat kuat dan familier—sebuah aroma yang seketika memicu memori lama di kepala Adrian.
Langkah kaki dari sepatu hak tinggi bermerek yang anggun berbunyi di atas lantai marmer. Seorang wanita muda bertubuh semampai melangkah masuk dengan penuh rasa percaya diri. Dia mengenakan setelan gaun kerja premium berwarna merah menyala yang sangat berbeda dengan dekorasi ruangan kerja Adrian yang bernuansa gelap. Rambut pirang bergelombangnya dibiarkan terurai indah, membingkai wajah cantik oriental-eropanya yang luar biasa dengan riasan mata yang tajam.
Dia adalah Clarissa Alexander.
Wanita itu bukan hanya kepala negosiator dari Vanderbilt Capital, melainkan juga putri tunggal dari konglomerat terkaya di Prancis. Clarissa adalah mantan kekasih Adrian dari masa kuliah di London—wanita yang dulu sempat mengisi hati Adrian sebelum wanita itu memilih pergi meninggalkan Adrian demi mengejar ambisi karier fesyennya di Eropa.
Adrian terpaku di kursinya selama beberapa detik. Sepasang mata elangnya menyipit tajam, menatap kedatangan wanita dari masa lalunya itu dengan binar mata yang mendadak kembali membeku seperti es.
"Lama tidak bertemu, Adrian. Kau sama sekali tidak berubah, tetap tampan dan dingin seperti dulu," ucap Clarissa dengan nada suara yang sangat merdu, namun tersirat nada menggoda yang sangat berani. Dia berjalan mendekati meja kerja Adrian, mengabaikan keberadaan Dimas yang berdiri kaku di ambang pintu dengan wajah cemas.
Clarissa meletakkan tas jinjing mahalnya di atas meja, lalu memajukan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata hitam kelam Adrian dengan binar mata penuh obsesi yang belum padam. "Apakah kau terkejut melihatku sebagai perwakilan dari investor barumu? Aku sengaja mengambil posisi ini secara khusus dari ayahku... murni hanya untuk menemuimu kembali."
Adrian berdiri dari duduknya secara perlahan, merapikan kancing jasnya dengan gerakan formal yang sangat berjarak. Aura dominan dan kepemimpinannya seketika menekan atmosfer ruangan. "Nona Clarissa Alexander. Selamat datang di Mahendra Group. Jika kedatangan Anda ke sini adalah sebagai kepala negosiator Vanderbilt Capital, silakan duduk di kursi yang disediakan dan mari kita bahas kontrak investasi Bali. Di luar urusan bisnis... saya tidak memiliki waktu untuk membahas masa lalu."
Clarissa terkekeh pelan, seulas senyuman manis yang penuh kelicikan terukir di sudut bibirnya. Dia tidak langsung duduk, melainkan melangkah memutari meja kerja Adrian, mencoba mengikis jarak di antara mereka dengan gerakan yang sangat berani.
"Bisnis? Oh, Adrian, jangan bersikap sekaku itu padaku," bisik Clarissa, suaranya melembut penuh intrik. Dia mengulurkan tangannya yang lentik dengan kuku merah merona, mencoba menyentuh lengan jas Adrian. "Aku sudah membaca semua berita skandal di media minggu lalu. Pernikahan mendadakmu dengan gadis miskin bernama Naura Ayu itu... kau pikir kau bisa menipuku? Aku mengenalmu lebih baik dari siapa pun, Adrian. Kau tidak akan pernah menjatuhkan hatimu pada gadis kelas bawah yang tidak memiliki koneksi bisnis apa pun. Kau menikahinya murni hanya karena desakan Kakek Tirta untuk menyelamatkan posisi CEO-mu, bukan?"
Sebelum jemari tangan Clarissa sempat menyentuh kain jasnya, Adrian bergerak dengan refleks yang sangat cepat. Dia mundur satu langkah, menepis tangan Clarissa dengan sentakan dingin yang sangat tegas tanpa ragu-ragu. Kilat membunuh seketika memancar dari sepasang mata elang sang CEO.
"Jaga batasanmu, Nona Alexander!" desis Adrian, suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar menahan amarah yang pekat. "Wanita yang Anda sebut sebagai 'gadis miskin' itu adalah Nyonya Naura Mahendra. Istri sah saya yang sangat saya cintai, bukan sebuah sandiwara politik perusahaan. jika Anda berani menghina atau mengusik nama istri saya lagi seujung kuku pun di dalam ruangan ini... saya tidak akan segan-segan membatalkan seluruh kontrak investasi lima triliun dengan Vanderbilt Capital detik ini juga, tanpa mempedulikan kerugian perusahaan!"
Clarissa tertegun, wajah cantiknya seketika berubah menjadi sedikit pucat karena terkejut melihat reaksi Adrian yang begitu meledak-ledak dan protektif. Dia tidak pernah melihat Adrian yang terkenal selalu logis dan dingin dalam bisnis, bersedia mempertaruhkan proyek triliunan rupiah hanya demi membela nama seorang wanita biasa.
Rasa cemburu, dengki, dan harga diri yang terluka seketika membakar dada Clarissa. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik punggungnya, menatap Adrian dengan binar mata penuh niat jahat yang mulai tersusun di kepalanya. Dia menyadari satu hal penting. Naura Ayu adalah kelemahan terbesar yang baru saja diciptakan oleh Adrian Mahendra, jika dia ingin merebut kembali Adrian ke dalam pelukannya, dia harus menghancurkan gadis itu terlebih dulu.
"Baiklah, Adrian. Jika itu maumu, mari kita bahas bisnis secara profesional sekarang," ucap Clarissa, mengembalikan senyum manis beracunnya sambil menduduki kursi di depan meja kerja. "Tapi ingat satu hal... proyek di Bali ini membutuhkan persetujuanku sepenuhnya. aku akan sering berada di Jakarta selama beberapa bulan ke depan. Aku sangat penasaran... seberapa kuat ikatan pernikahanmu itu saat badai yang mulai datang menguji."
Di balik meja kerjanya, Adrian kembali menduduki kursinya dengan ekspresi wajah yang dingin. Pria itu tidak menjawab, namun cengkeraman tangannya pada pulpen di atas meja mengetat kuat.