NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagas Mencari Pengacara Murah

Sinar matahari pagi yang tajam menusuk langsung melalui jendela tanpa tirai di rumah kontrakan sempit itu. Debu beterbangan di udara, menari-nari dalam sorotan cahaya yang memperlihatkan betapa kotornya kondisi lantai semen tersebut. Ibu Melati duduk bersimpuh di atas lantai, punggungnya bersandar pada dinding yang retak. Wajahnya yang pucat pasi menatap pintu depan yang terbuka lebar, seolah menunggu keajaiban yang tidak akan pernah datang.

Bagas baru saja melangkah masuk dengan langkah gontai, bahunya merosot ke bawah. Pakaian kerjanya yang penuh noda semen tampak berantakan, mencerminkan betapa hancurnya kondisi batin pria itu. Ia berhenti di ambang pintu, menatap ruangan yang kini terasa begitu asing karena ketiadaan perabotan. Matanya membelalak, mencari jejak kehidupan yang seharusnya ada di sana, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan.

"Di mana semuanya, Bu?" tanya Bagas dengan suara serak yang nyaris seperti bisikan tertahan. "Ke mana perginya lemari, televisi, bahkan sofa tempat kita biasa duduk?"

Ibu Melati tidak segera menjawab, ia hanya menunjuk ke arah sudut ruangan dengan tangan yang gemetar. Ia tidak sanggup menatap wajah putranya secara langsung, takut akan luapan amarah yang akan segera meledak. Bagas berjalan perlahan menuju tengah ruangan, napasnya terdengar memburu. Ia memutar tubuhnya, memindai setiap inci ruang sempit itu dengan tatapan tidak percaya.

"Mereka datang lagi, Bagas," ucap Ibu Melati lirih, air matanya mulai mengalir kembali membasahi pipi yang keriput. "Pengacara Laras, Pak Hendra, datang dengan petugas pengangkut barang. Mereka mengambil segalanya atas dasar dokumen hukum yang telah disahkan pengadilan."

Bagas mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menghantam dinding dengan tinjunya, menciptakan suara dentuman keras yang menggema di dalam ruangan yang kosong. Rasa malu, marah, dan frustrasi bercampur menjadi satu dalam dadanya yang sesak. Siska yang sedari tadi meringkuk di sudut ruangan akhirnya berdiri, wajahnya sembap karena tangisan tanpa henti.

"Kamu ke mana saja, Kak?" teriak Siska histeris sambil menunjuk dada Bagas. "Kamu bilang kamu bisa mengurus semuanya! Kamu bilang Laras tidak akan berani melakukan ini karena dia masih mencintaimu!"

Bagas menatap adiknya dengan tatapan dingin yang belum pernah Siska lihat sebelumnya. Ia merasa terhina karena harus menghadapi fakta bahwa harga dirinya telah diinjak-injak oleh wanita yang dulu selalu ia anggap sebagai pengabdi setianya. Ia tidak menyangka Laras akan bertindak secepat dan setegas ini.

"Diam kamu, Siska!" bentak Bagas dengan nada tinggi. "Aku sudah bekerja mati-matian sebagai kuli bangunan, tapi itu tidak cukup untuk membayar utang yang menumpuk! Laras sudah memutuskan akses segalanya, bahkan gajiku dipotong untuk membayar denda kontrak yang ia ajukan ke perusahaan lama."

Siska terdiam sejenak, matanya melebar mendengar pengakuan kakaknya. Ia menyadari bahwa situasi ini jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan selama ini. Mereka bukan hanya kehilangan perabotan mewah, tetapi juga kehilangan martabat mereka di mata lingkungan sekitar.

"Jadi kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi?" tanya Siska dengan suara yang bergetar hebat. "Bahkan untuk makan besok pagi pun kita sudah tidak punya uang?"

Ibu Melati bangkit berdiri dengan susah payah, ia memegang pinggangnya yang terasa pegal. Ia menatap Bagas dengan tatapan memelas, berharap ada secercah harapan yang bisa diberikan oleh putranya. Namun, Bagas hanya memalingkan wajah ke arah jendela yang menghadap ke gang sempit yang becek.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," ujar Bagas datar. "Jangan tanya apa pun sekarang, aku hanya ingin sendiri di sini."

Ibu Melati mendekati Bagas, mencoba menyentuh lengan putranya namun Bagas menghindar dengan kasar. Ia merasa sesak di rumah ini, merasa setiap dinding yang sempit itu seolah menghimpit dan mengejek kegagalannya. Ia teringat kembali masa-masa kejayaannya, saat ia bisa membeli apa saja hanya dengan sekali gesek kartu kredit milik Laras.

"Laras memang sudah berubah menjadi iblis," gumam Ibu Melati dengan penuh kebencian. "Dia tidak punya hati nurani sedikit pun kepada mantan keluarganya sendiri."

Siska mendengus sinis, ia duduk kembali di lantai, mengabaikan debu yang menempel di bajunya. Ia mulai menyadari bahwa menyalahkan Laras tidak akan mendatangkan makanan ke atas meja mereka. Namun, rasa egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa semua ini adalah akibat dari keserakahan mereka sendiri.

"Apa kita akan terus seperti ini, Bu?" tanya Siska dengan nada yang lebih tenang namun penuh kepahitan. "Hidup di tempat terkutuk ini sampai kita mati kelaparan?"

Ibu Melati terdiam, ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan putrinya. Pikirannya melayang pada Laras, pada sosok wanita yang dulu sering ia marahi karena hal sepele. Ia teringat bagaimana Laras selalu diam dan tersenyum, tidak pernah melawan meski diperlakukan seperti pembantu. Siapa sangka, di balik diamnya, Laras memiliki rencana besar yang kini menghancurkan hidup mereka tanpa sisa.

"Kita harus mencari cara untuk bertahan hidup," jawab Ibu Melati dengan nada yang mulai tegas. "Bagas, kamu harus mencari pekerjaan yang lebih baik, jangan hanya jadi kuli bangunan yang tidak menghasilkan uang banyak."

Bagas berbalik menatap ibunya dengan sorot mata yang tajam. "Ibu pikir mencari pekerjaan itu mudah di saat namaku sudah tercemar karena kasus penipuan bisnis yang dituduhkan Laras?"

Siska menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata penyesalan mulai mengalir kembali. Ia merasa iri melihat kehidupan orang lain yang tampak bahagia, sementara dirinya kini terjebak dalam kemiskinan yang nyata. Ia benci harus hidup seperti ini, di tengah kebisingan tetangga yang terkadang masih terdengar berbisik membicarakan kejatuhan mereka.

"Aku benci hidup seperti ini," bisik Siska pelan. "Aku benci kenyataan bahwa Laras sekarang hidup dengan sangat mewah di apartemen itu."

Bagas hanya terdiam, ia berjalan menuju pojok ruangan dan duduk di lantai yang dingin. Ia merasa lelah secara fisik dan mental. Tanpa sadar, ia memejamkan mata, membayangkan jika waktu bisa diputar kembali ke saat Laras masih ada di sisinya.

"Mungkin kita memang salah," bisik Bagas dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Tapi ego ini terlalu tinggi untuk meminta maaf."

Suasana kembali hening, hanya suara gesekan dedaunan di luar jendela yang memecah kebisuan. Mereka bertiga terjebak dalam penyesalan yang tidak akan mengubah keadaan, sementara malam perlahan turun menyelimuti rumah kontrakan tersebut. Harapan untuk kembali hidup mewah seolah terkubur bersama perabotan yang telah diangkut pergi.

Laras, di sisi lain kota, sedang menikmati secangkir kopi panas di balkon apartemen mewahnya. Ia menatap kerlip lampu kota dengan pandangan tenang, jauh dari hiruk-pikuk drama yang baru saja ia selesaikan. Ia tahu bahwa apa yang terjadi di kontrakan itu hanyalah konsekuensi dari tindakan mereka sendiri, dan ia merasa tidak perlu merasa bersalah atas keadilan yang telah ia tuntut.

Ia meletakkan cangkir kopi di meja kaca, lalu berdiri untuk berjalan masuk ke ruang tamu yang luas dan tertata rapi. Laras merasa lega karena beban yang selama ini menghimpitnya telah hilang sepenuhnya. Ia siap melangkah maju, membangun masa depan yang lebih baik dengan tangan dingin yang sudah tidak lagi mudah dibohongi oleh siapa pun.

"Selesai sudah," ucap Laras pelan kepada dirinya sendiri. "Sekarang, aku hanya perlu fokus pada diriku sendiri dan karier yang telah aku bangun dari nol."

Ia tidak lagi memikirkan Bagas, Ibu Melati, maupun Siska. Baginya, mereka hanyalah bagian dari masa lalu yang kini sudah terkunci rapat dalam kotak kenangan buruk. Ia berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan diri dengan perasaan puas yang luar biasa. Besok adalah hari baru, dan ia siap menyambutnya dengan segala keberhasilan yang menanti di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!