Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : Cerita Diatap Sudung
Isak tangis dua lelaki dewasa itu perlahan mereda, menyisakan kepulan asap tipis dari perapian kayu yang menari-nari menembus selang-seling celah atap rumbia. Di luar sana, kegelapan pedalaman Jambi semakin kelam.
Suara jangkrik malam dan gemericik arus anak Sungai Gelam menyatu dalam alam yang sunyi menjadi saksi bisu atas takdir yang mempertemukan kembali dua sahabat masa kecil.
Pandi menepuk-nepuk bahu Prasetio dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. "Sudah, Pras... Sudah," bisik Pandi parau. "Tuhan itu Maha kaya. Siapa yang menyangka, di pangkalan pasar Kota Jambi sore tadi, aku mendapati seorang lelaki yang sedang membopong ayahnya... dan ternyata itu kau."
Prasetio menyapu air matanya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyum pasrah. "Aku benar-benar tak mengenalimu saat di atas truk tadi, Pan. Pandi yang kuingat belasan tahun lalu di kampung adalah remaja kurus berambut ikal. Tapi pria yang membawaku malam ini adalah sosok tegap berotot dengan kulit sehitam tembaga."Mereka berdua tertawa renyah.
Pandi terkekeh pelan sembari menyeruput kopi hitamnya. "Kehidupan pedalaman ini yang membentukku, Pras. Jika kau lembek, rimba akan menelan mu. Tapi jika kau jujur dan mau berkeringat, tanah ini akan memberimu makan."
Prasetio melangkah mendekati bale-bale bambu berdinding pelepah di sudut pondok. Di atas pembaringan sederhana beratap rumbia itu, Pak Burhan terbaring tenang.
"Ayah..." bisik Prasetio lembut seraya berlutut di sisi pembaringan. "Ini Pandi, Yah... sahabat kecil Pras yang dulu sering bermain di rumah kita."
Kelopak mata Pak Burhan yang berkerut bergerak lambat. Pria tua itu menatap wajah Prasetio dan Pandi bergantian. Meski separuh tubuhnya lumpuh total digerogoti stroke hingga tak sanggup lagi merangkai kata, jiwa Pak Burhan telah benar-benar ikhlas menerima penderitaannya sebagai penebusan dosa masa lalu. Dari sudut matanya yang keriput, lelehan air mata keikhlasan mengalir membasahi pelipis, disertai senyum tulus yang mengembang tipis.
Pandi berlutut di sebelah Prasetio, memegang jemari tangan Pak Burhan. "Paman Burhan... tenangkan hati Paman. Selama ada Pandi di Sungai Gelam ini, Paman dan Prasetio tidak akan pernah terlantar."
Setelah emosi mereda, Prasetio kembali duduk di dekat perapian bersama Pandi. Prasetio menatap sekeliling pondok kayu beratap daun rumbia tersebut, lalu beralih menatap Pandi dengan raut bingung.
"Pan... kalau boleh aku bertanya, tempat apa sebenarnya gubuk ini?" tanya Prasetio, menatap sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. "Lalu kau sendiri tinggal di mana, Pan? Apakah rumahmu dan keluargamu masih jauh dari sini?"
Pandi tersenyum tipis, memahami keasingan sahabatnya pada medan pedalaman. "Ini dinamakan sudung, Pras—pondok singgah milik warga Suku Anak Dalam untuk menginap saat membawa hasil hutan ke perbatasan. Kalau rumahku sendiri ada di pemukiman desa, sekitar dua kilometer menyeberangi jembatan kayu di balik kebun sawit. Di sana aku tinggal bersama istriku, Lastri, dan dua anak kami yang masih kecil."
Pandi mengusap cangkir sengnya, lalu melanjutkan, "Aku sengaja belum membawamu ke rumah malam ini karena hari sudah terlanjur larut. Aku ingin Paman Burhan istirahat dulu di tempat yang tenang ini tanpa terganggu riuh anak-anakku."
Prasetio mengangguk paham. Namun, Pandi mendadak mengamati pakaian kusam Prasetio dan ketiadaan koper pakaian yang dibawanya dari Pekanbaru.
Dahi Pandi berkerut cemas. "Pras... sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau dan Paman terdampar sampai ke Jambi hanya membawa pakaian di badan? Seingat ku waktu teleponan setahun lalu, usahamu di Pekanbaru sedang maju pesat..."
Prasetio menunduk dalam-dalam, menghela napas berat yang sarat penyesalan.
"Fondasi hidup yang ku bangun dulu itu palsu, Pan..." tutur Prasetio jujur. "Aku dibutakan kemewahan dan gengsi. Aku menindas istriku, Maya, dan mengorbankan anak-anakku demi status sosial. Sampai akhirnya Takdir meruntuhkan segalanya. Seluruh rekeningku diblokir karena kasus hukum, rumah disita, dan aku pergi sendiri karena rasa malu."
Prasetio mendongak, menatap wajah Pandi. "Saat tersungkur di titik nol bersama Ayah, cuma namamu sahabat jujur yang teringat di kepalaku. Aku nekat ke Jambi bukan untuk meminta uangmu, Pan, tapi untuk merayap belajar dari bawah... belajar jadi lelaki sejati yang mencari makan dari keringat sendiri."
Pandi diam lalu meremas kuat pundak Prasetio. "Harta bisa dicari lagi dengan keringat, Pras. Tapi jiwa yang jujur seperti ini jauh lebih mahal. Kau tidak salah datang padaku. Mari kita berjuang sama-sama!"
"Terimakasih Pandi atas sambutan mu. "
Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnyarasa lelah yang luar biasa membuat mereka tertidur. Kehangatan perapian dan rasa aman bertemu sahabat sejati, menghadir kan rasa nyaman. kedua anak muda itu akhirnya tertidur lelap berdampingan.
Namun, tidur mereka tak bertahan lama. Memasuki sepertiga malam, ketika hawa dingin rimba kian menusuk celah-celah rumbia, suara erangan halus dari bale-bale bambu mengejutkan Prasetio.
Prasetio mendadak terbangun dari tidurnya, tersentak oleh embusan napas sang ayah yang terdengar memburu dan terengah-engah. Tubuh renta Pak Burhan mendadak menggigil hebat di balik sarung. Kulit pipinya membara oleh suhu tubuh yang melonjak drastis akibat sengatan hawa dingin rimba.
Prasetio panik seketika, menempelkan telapak tangannya ke dahi sang ayah. "Ayah! Ya Allah, Ayah kenapa, Yah?! Pan! Bangun, Pan! Dahi Ayah panas sekali!"
Pandi langsung melompat bangun, mengusap matanya yang sembap. Seorang wanita tua Suku Anak Dalam yang berada di sudut gubuk segera mendekat, memeriksa napas Pak Burhan, lalu berbicara pada Pandi dalam bahasa rimba yang kental.
Raut wajah Pandi seketika berubah tegang. "Induk bilang, Paman kaget dihantam hawa dingin rimba. Untuk meredakan demam tinggi dan melonggarkan napasnya, kita butuh ramuan Pasak Bumi Murni dan godokan daun Kali munting Segar malam ini juga."
"Di mana kita bisa dapatkan obat itu, Pan? Biar aku yang cari sekarang!" tegas Prasetio.
Pandi menahan lengan Prasetio, menatapnya dengan raut khawatir yang amat dalam. "Bahan obat itu disimpan oleh tetua di Dusun Pinggiran pemukiman warga pribumi luar hutan. Tapi, Pras... warga dusun itu masih sangat kaku, tertutup, dan memegang teguh kepercayaan klenik. Mereka sangat alergi pada pendatang asing dari luar daerah."
Pandi menarik napas berat sebelum melanjutkan, "Bagi pikiran mereka yang masih tradisional, pendatang asing yang datang dalam kondisi lumpuh parah seperti Paman Burhan sering dianggap membawa sial, aura penyakit, atau terkena kutukan. Jika kita nekat datang malam-malam begini meminta obat, kau tidak hanya akan dicurigai dan diinterogasi, tapi bisa dipandang rendah dan diusir sebagai pembawa petaka."
Kata-kata Pandi seakan seperti latihan mental untuk Prasetio. Ia menoleh menatap sang ayah yang terengah-engah nafasnya karena demam tingginya. Tapi tidak ada lagi raut kesedihan di mata Prasetio saat menatap ayahnya, Sang ayah nampak sangat iklas menerima sakitnya sekarang, seolah ayahnya benar benar pasrah.
"Dulu aku manusia busuk yang mengorbankan orang lain demi gengsi , Pan," ujar Prasetio mantap, jemarinya mengepal rapat. "Malam ini di depan Ayah, aku sudah tidak punya gengsi lagi. Jangankan dipandang rendah atau dicaci maki... jika aku harus berlutut mencium tanah di kaki tetua adat mereka agar Ayah dapat obat, akan kulakukan! Nyawa dan senyum keikhlasan Ayah jauh lebih berharga dari harga diriku. Aku tidak mau terlambat dan menyesal, Pan. Aku belum siap kehilangan Beliau."
Pandi tertegun mendengar ucapan sahabat kecilnya itu, lalu menepuk bahu Prasetio penuh rasa bangga. "Kau benar-benar sudah jadi laki-laki sejati, Pras. Ayo, kita ambil obat itu sekarang!"
Dua sahabat itu pun melangkah keluar menembus kegelapan malam pedalaman Jambi, siap menerjang kerasnya adat Dusun Pinggiran demi menyambung nyawa sang ayah.
Terimakasih sudah sampai di bab ini, jangan lupa like dan komennya ya, di tunggu....
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇