NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 Darah Keluarga yang Disembunyikan

Mira langsung memeluknya.

“Nenek tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kamu lagi.”

Dan entah kenapa pelukan itu terasa sangat hangat seperti pelukan keluarga yang selama ini hilang dari hidupnya.

Beberapa saat kemudian, Alkina akhirnya bertanya pelan,

“Kalau nenek masih keluarga Wiratmaja…” Ia ragu sesaat.

“…apa nenek juga tahu soal bang Arkan?”

Mira langsung diam, tatapannya berubah rumit dan perubahan kecil itu langsung ditangkap Alkina.

Jantung gadis itu mulai berdebar sangat keras.

“Nenek…”

Mira menggenggam tangan Alkina erat.

“Ada beberapa kebenaran yang... Mungkin belum siap kamu dengar sekarang.”

Deg.

Napas Alkina tercekat karena untuk pertama kalinya harapan kecil yang sudah lama mati mulai muncul lagi di hatinya.

Harapan yang mustahil tentang abangnya yang selama ini ia tangisi setiap malam.

Malam itu Alkina tidak bisa tidur ucapan Mira terus berputar di kepalanya.

“Ada beberapa kebenaran yang mungkin belum siap kamu dengar sekarang.”

Dan cara perempuan itu bereaksi saat mendengar nama Arkan terlalu aneh untuk diabaikan.

Alkina duduk di pinggir ranjang sambil memeluk lututnya. Jantungnya berdebar keras.

Tidak mungkinkan?

Namun semakin ia mencoba menepis pikiran itu semakin kuat harapan kecil di dalam hatinya tumbuh.

“Kak Arkan…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh perlahan karena selama bertahun-tahun, ia selalu membayangkan satu hal yang sama sebelum tidur.

Bagaimana rasanya punya seseorang yang melindunginya dan satu-satunya sosok yang pernah ia percaya akan melakukan itu adalah abangnya. Meski ia bahkan hampir tidak mengingat wajahnya.

Di tempat lain…

Seorang aki-laki berdiri diam di depan jendela besar rumah persembunyiannya, atapannya kosong memandang hujan malam.

Di tangannya ada laporan terbaru tentang Alkina.

“Nona Almulai curiga.” Ia menghela napas panjang.

“Aku tahu, aku tahu hal ini pasti akan terjadi…”

Anak buahnya berdiri beberapa langkah di belakang.

“Tuan muda… cepat atau lambat dia pasti akan tahu.”

“Ya, aku juga tahu itu.” Suara laki-laki itu terdengar berat namun ada ketakutan yang jelas tersembunyi di sana.

“Apa tuan tidak ingin menjadi orang pertama yang menjelaskan semuanya kepada nona Alkina?”

Tubuh Arkan sedikit menegang.

Menjelaskan semuanya? Bagaimana caranya? Bagaimana ia harus muncul di depan Alkina setelah bertahun-tahun menghilang? Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa selama ini ia hidup… sementara Alkina menderita sendirian?

Tatapannya perlahan berubah penuh rasa bersalah. “Aku nggak pantas dipanggil…”

Sementara itu Ranti mulai menyadari ada sesuatu yang lebih besar terjadi di balik hilangnya Alkina.

Karena terlalu banyak pihak bergerak diam-diam. Orang yang mengirim foto. Orang yang selalu lebih cepat menghapus jejak Alkina. Dan sekarang pengamanan di sekitar keluarga mereka juga mulai diawasi seseorang.

“Kita diawasi.” Setiawan menatap layar CCTV rumah dengan serius.

Ranti mengernyit.

“Siapa yang mengawali kita?”

“Aku belum tahu, siapa.”

Namun entah kenapa Setiawan merasa pengawasan itu bukan ancaman langsung. Lebih seperti peringatan.

Tok.

Kepala keamanan keluarga masuk cepat.

“Pak Setiawan… kami menemukan sesuatu.”

“Apa itu?”

Pria itu menyerahkan sebuah foto, begitu mereka melihatnya, tubuh Setiawan langsung membeku. Ranti yang ikut melihat langsung menutup mulutnya kaget.

Foto seorang pria muda keluar dari sebuah mobil hitam. Wajahnya tertutup sedikit bayangan.

Namun mata itu.

“Arkan…” bisik Ranti gemetar.

Foto itu memang buram namun tidak mungkin salah karena mata itu sangat mirip Alkina.

Dan sangat mirip putra mereka yang telah “mati.”

“Tidak, ini tidak mungkin…” air mata Ranti langsung jatuh. “I, ini tidak mungkin…”

Setiawan sendiri sampai kehilangan suara.

“D, dia masih hidup…?”

Malam itu rumah keluarga Wiratmaja berubah kacau. Ranti menangis histeris sambil memegang foto tersebut.

“Anakku, putraku…” Tubuhnya gemetar hebat.

“Ar... Arkan masih hidup…” Namun kebahagiaan itu segera berubah menjadi rasa sakit yang jauh lebih besar.

Karena jika Arkan benar-benar hidup berarti putranya menyaksikan semuanya.

Ia melihat bagaimana Alkina diperlakukan. Ia melihat ibunya menghancurkan adiknya sendiri. Dan ia memilih tidak muncul.

“Dia pasti membenciku pa…” tangis Ranti pecah semakin keras.

Sementara Setiawan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa bukan hanya Alkina yang hilang dari mereka.

Arkan juga pergi secara emosional.

Sementara itu, Mira akhirnya masuk ke kamar Alkina yang masih belum tidur.

“Kamu masih bangun?”

Alkina langsung duduk tegak.

“Nenek…” Tatapannya penuh harap sekaligus takut.

Dan Mira tahu gadis itu sudah mulai menebak.

“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”

Mira duduk perlahan di sampingnya.

“Apa itu…”

Bibir Alkina bergetar kecil.

“Bang Arkan…” Air matanya mulai jatuh.

“…apa dia benar-benar sudah meninggal?” tanya Alkina yang ragu-ragu.

Sunyi, suasana sangat sunyi.

Mira memejamkan mata sebentar lalu perlahan menggenggam tangan Alkina erat.

Dan untuk pertama kalinya perempuan itu tidak bisa lagi menghindari kebenaran.

Kamar Alkina terasa sangat sunyi. Hanya suara hujan di luar jendela yang terdengar pelan.

Mira masih menggenggam tangan Alkina erat sementara gadis itu menunggu jawaban dengan napas gemetar Air matanya terus jatuh tanpa sadar.

“Nenek…” suaranya pecah. “Tolong jawab aku…” Mira memandang wajah Alkina lama sekali.

Lalu akhirnya perempuan itu mengangguk pelan.

Deg.

Dunia Alkina seperti berhenti.

“Bang Arkan…” napasnya tercekat, “…masih hidup?” Air mata Mira ikut jatuh.

“Iya.” jawaban Mira membuat tangis Alkina langsung pecah.

Bukan tangis kesedihan elainkan tangis yang selama bertahun-tahun tertahan karena kehilangan seseorang yang paling ia rindukan.

Tubuh gadis itu gemetar hebat. “Dia hidup…”

Kalimat itu terus keluar dari bibirnya seolah ia sendiri tidak percaya. Mira memeluk Alkina erat dan ini pertama kalinya sejak pergi dari rumah Alkina menangis karena bahagia.

Namun di tempat lain laki-laki misterius yang ternyata adalah Arkan.

Arkan sama sekali tidak mengetahui percakapan itu. Meski ia mengawasi rumah Mira dengan ketat, ada beberapa area yang sengaja tidak dipasangi pengawasan.

Kamar Alkina, kamar Mira dan beberapa ruang pribadi lain.

Mira melarang keras adanya kamera di tempat-tempat itu.

Ya Mira yang memberikan izin Arkan memasang cctv di rumah Mira.

“Dia sudah terlalu lama hidup tanpa privasi,” ujar Mira dulu pada Arkan. “Aku tidak akan membuatnya merasa dikurung lagi.”

Dan Arkan menyetujuinya karena meski ingin memastikan Alkina aman ia tetap ingin menjaga kenyamanan adiknya.

Akibatnya ia tidak tahu bahwa malam ini hidup Alkina berubah total.

Sebenarnya Arkan juga yang memudahkan Alkina mendapatkan pekerjaan. Sebenarnya restoran tempat Alkina bekerja dulu adalah restoran milik Arkan.

Arkan yang khawatir Alkina tinggal sendiri memutuskan untuk meminta pertolongan kepada Mira untuk membawa Alkina tinggal bersama Mira.

“Bang Arkan di mana sekarang?” suara Alkina masih bergetar setelah tangisnya sedikit reda.

Mira mengusap rambutnya pelan, tersenyum lembut.

“Dia dekat dengan kamu.”

Deg.

“Dekat?” ulang Alkina.

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!