Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM JAM TERAKHIR MENUJU TELUK BAYUR DAN TIKET PALKA
Enam jam terakhir perjalanan menuju ke arah Teluk Bayur adalah enam jam yang paling panjang dan paling melelahkan.
Setelah berhenti makan siang istimewa di Rumah Makan Padang Sari Rasa pinggir jalan lintas Sumatera dengan menu Gulai Kepala Ikan Kakap Merah, Rendang Daging, dan Perkedel Kentang, serta dua plastik Es Teh Melati Manis yang dingin, pick-up kijang plat B hijau tua milik Ali Bin Rais Payobadar, Uwo Ali, kembali melaju, dong... dong... dong... dong... di atas jalan lintas yang semakin rusak mendekati Kota Padang.
Jalan yang tadinya berdebu dan berbatu, kini berganti menjadi jalan aspal yang berlobang-lobang besar, bekas dilalui truk-truk kayu surian dan truk-truk semen Padang yang berat. Setiap kali pick-up masuk lobang, bak belakang yang diberi tikar pandan itu berguncang keras, guduk... guduk... Andi Rajo Alam Sikumbang yang 19 tahun calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba dan Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun calon pewaris bengkel karoseri Cakung yang duduk di atas tikar pandan itu harus berpegangan erat pada koper kayu cokelat mereka agar tidak jatuh. Truk kayu surian kecil pemberian Arlan yang tadi pagi ngambek di teras, masih digenggam erat oleh Arya di dadanya.
Di kabin depan, Uwo Ali yang menyetir sendiri sejak dari Pande Sikek pagi jam enam tadi, wajahnya sudah lelah. Matanya merah karena debu jalan lintas dan karena kurang tidur semalam memikirkan warisan bengkel untuk Arya. Etek Upik di sebelahnya juga sudah pucat, kepalanya pusing karena guncangan pick-up yang terus menerus. Tapi Uwo Ali adalah perantau tua, sudah 17 tahun merantau dari Pande Sikek tahun 1960 jadi kuli las di Tanjung Priok sampai jadi pengusaha bengkel 30 karyawan di Cakung. Jalan lintas Sumatera yang rusak ini sudah ia lalui puluhan kali dengan pick-up plat B hijau tuanya.
Sepanjang enam jam terakhir itu, Uwo dan Etek mereka tidak pernah berhenti memperhatikan kedua keponakan kesayangannya di bak belakang.
Setiap kali pick-up melewati sebuah warung kecil di pinggir jalan lintas, setiap kali melewati seorang ibu-ibu penjual camilan yang duduk di bawah pohon karet, Uwo Ali selalu menghentikan pick-upnya.
Rem berdecit, cit... Debu mengepul.
"Uda Andi... Buyuang Arya... tunggu sabanta, Nak..." kata Uwo Ali dari kabin depan, lalu ia turun dengan Etek Upik.
Uwo Ali dan Etek Upik selalu membelikan berbagai bekal buat camilan di dalam kapal nanti, juga minuman dingin kesukaan kedua keponakan kesayangannya.
Di warung pertama, di daerah Lubuk Alung, Uwo Ali membelikan satu bungkus besar keripik singkong balado merah yang pedas, masih hangat, baru digoreng. Satu bungkus keripik pisang manis yang kuning keemasan. Dan satu bungkus kacang tojin bawang putih yang gurih.
Di warung kedua, di daerah Pariaman, Uwo Ali membelikan dua botol minuman dingin kesukaan anak-anak tahun 1977, minuman botol kaca bermerek Fanta orange dan Coca-Cola dingin yang diisi es batu di dalam ember plastik biru. Botolnya masih mengembun, dingin sekali. Untuk ukuran anak kampung Pande Sikek yang seumur hidup hanya minum air putih dari sumur dan teh pahit dan Es Teh Melati Manis tadi siang, Fanta orange dan Coca-Cola dingin itu adalah minuman istimewa dari Jakarta.
Di warung ketiga, di daerah Sungai Limau, Etek Upik membelikan dua bungkus kue panekuk Minang, kue yang manis dan lembut, berisi kelapa parut dan gula merah. Dan dua bungkus lemang ketan yang masih hangat, dibungkus daun pisang, lemang yang pulen dan harum.
Semua camilan dan minuman dingin itu, Uwo Ali dan Etek Upik berikan ke bak belakang, ke pangkuan Andi dan Arya.
"Nah, Uda Andi, Buyuang Arya... ko untuak bekal di dalam kapal beko malam... di ateh kapal laut dari Teluk Bayur ka Jakarta, perjalanan 24 jam, lautan luweh, angin kancang... beko kalau lapar di ateh kapal, makanlah karipik singkong balado ko, makanlah kacang tojin ko, makanlah panekuk jo lemang ko... kalau haus, minumlah Fanta orange jo Coca-Cola dingin ko... Uwo jo Etek lah biaso di ateh kapal, tapi kalian baru partamo kali mangarungi lautan..."
Andi dan Arya yang dari tadi diam di atas tikar pandan, yang awalnya malu-malu kepada Sang Uwo Ali dan Etek Upik di Rumah Makan Padang tadi siang, kini sudah tidak malu-malu lagi. Perut kenyang Gulai Kepala Ikan Kakap Merah dan dua plastik Es Teh Melati Manis tadi siang, ditambah perhatian Uwo dan Etek yang terus membelikan camilan di setiap warung pinggir jalan, membuat hati mereka hangat.
Mereka menerima camilan dan minuman dingin itu dengan senyum senang, senyum lebar anak rantau yang dimanjakan Uwo dan Eteknya.
"Terima kasih, Uwo Ali... terima kasih, Etek Upik..." kata Andi dan Arya bersamaan, dengan suara yang sudah tidak malu-malu lagi, tapi suara anak yang sayang kepada Uwo dan Eteknya.
Pick-up plat B hijau tua itu kembali melaju, dong... dong... dong... di dalam bak belakang kini penuh dengan bekal, rantang seng gulai ayam dari ibu Siti Aminah, dua plastik Es Teh Melati Manis yang sudah tidak dingin lagi, keripik singkong balado, keripik pisang manis, kacang tojin, kue panekuk, lemang ketan, dan dua botol Fanta orange dan Coca-Cola dingin yang masih mengembun.
Enam jam terasa seperti enam tahun. Jalan semakin ramai mendekati Kota Padang. Truk-truk besar semakin banyak, becak-becak, bendi-bendi kuda, orang-orang.
Akhirnya, jam lima sore, matahari sudah mulai condong ke barat, warna langit oranye keemasan, pick-up plat B hijau tua itu tiba di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang.
Pelabuhan Teluk Bayur tahun 1977 itu ramai sekali, seperti pasar besar. Bau laut yang asin bercampur bau solar kapal besar, bau ikan asin, bau keringat manusia, dan bau asap rokok kretek. Suara orang berteriak, suara calo tiket berteriak, suara kapal yang membunyikan klaksonnya, tuut... tuut... panjang, suara buruh pelabuhan yang mengangkut karung-karung semen dan kayu surian ke atas kapal.
Kapal laut besar yang akan membawa mereka ke Jakarta, Kapal Motor Tampomas, sudah bersandar di dermaga, besar sekali, hitam dan putih, cerobong asapnya mengepul. Kapal itu besar, seperti rumah bertingkat yang mengapung di atas lautan. Andi dan Arya yang baru pertama kali melihat laut dan melihat kapal laut sebesar itu seumur hidupnya, dari Pande Sikek yang hanya ada sungai kecil di bawah jembatan bambu, mulut mereka terbuka lebar, takjub.
"Uwo Ali... itu... itu kapalnyo, Uwo? Gadang bana..." kata Arya yang 12 tahun dengan suara pelan, matanya berbinar-binar takjub, jam Seiko kebesarannya berdetak tik... tik... kencang karena jantungnya berdebar.
"Iyo, Buyuang Arya... itu kapal kito... KM Tampomas... kapal nan akan mambawo kito mangarungi lautan dari Teluk Bayur ka Tanjung Priok Jakarta... 24 jam di ateh lautan... gadang, kan? Labiah gadang dari rumah papan ayah ang di Pande Sikek..." kata Uwo Ali sambil tersenyum, ia sudah biasa naik kapal itu pulang pergi Pande Sikek - Jakarta selama 17 tahun.
Pick-up plat B hijau tua itu diparkir di halaman pelabuhan yang becek dan ramai. Uwo Ali mematikan mesinnya, dong... dong... dong... mati. Hening seketika setelah 11 jam mesin menyala terus dari Pande Sikek jam enam pagi sampai Teluk Bayur jam lima sore.
Uwo Ali turun, Etek Upik turun dengan wajah pucat dan mulai mual karena bau solar kapal dan karena guncangan 11 jam di jalan lintas. Andi dan Arya turun dari bak belakang dengan membawa koper kayu cokelat mereka, rantang seng, dan semua bekal camilan dan minuman dingin pemberian Uwo dan Etek.
Orang-orang di pelabuhan melihat mereka, keluarga Minang dengan pick-up plat B Jakarta, dengan dua anak muda berkemeja putih bersih dan sepatu Bata mengkilap dan jam Seiko mengkilap, yang terlihat seperti orang kampung yang baru pertama kali ke pelabuhan.
Setelah memarkir pick-up di tempat penitipan kendaraan pelabuhan yang dijaga preman, Uwo Ali Bin Rais Payobadar mengajak istrinya dan kedua keponakan kesayangannya berjalan menuju loket pelabuhan untuk membeli tiket kapal laut.
Loket pelabuhan itu ramai sekali, antriannya panjang, padat, berdesak-desakan. Ratusan orang perantau Minang yang akan kembali ke Jakarta setelah Lebaran, pedagang-pedagang, mahasiswa-mahasiswa, semua berdesak-desakan di depan loket kecil yang hanya ada satu jendela. Suara orang berteriak, "Tiket... tiket Jakarta... satu... dua..." Bau keringat dan bau rokok menyengat.
Etek Upik yang sudah mulai mual karena bau solar dan karena guncangan, wajahnya semakin pucat melihat antrian padat itu. Ia memegang lengan suaminya.
"Bang Ali... Uwo... antriannyo padat bana... Etek lah mual... baa ko..."
Andi dan Arya yang 19 tahun dan 12 tahun yang baru pertama kali melihat antrian padat seperti itu, juga ciut, mereka memegang erat koper kayu mereka, takut terpisah dari Uwo dan Etek mereka di tengah keramaian pelabuhan yang asing.
Tapi Uwo Ali, Ali Bin Rais Payobadar, pengusaha bengkel karoseri 30 karyawan di Cakung yang sudah 17 tahun merantau dan sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan pelabuhan Tanjung Priok dan Teluk Bayur, tidak gentar. Ia adalah Uwo, ia adalah pemimpin rombongan, ia harus mendapatkan tiket kapal laut untuk kedua keponakan kesayangannya yang akan kuliah di Fakultas Hukum UI dan yang akan jadi pewaris bengkelnya.
Uwo Ali menyuruh Etek Upik, Andi, dan Arya menunggu di luar antrian, di dekat tiang dermaga, sambil menjaga koper kayu dan bekal camilan dan minuman dingin.
"Etek, Uda Andi, Buyuang Arya... tunggu di sinan se... jan masuak ka antrian padat tu... Etek lah mual... Uwo se nan ka masuak ka dalam antrian tu... Uwo akan bali tiket kapal laut di loket tu..."
Dengan kemeja batiknya yang sudah berdebu dan peci hitamnya, Uwo Ali menerobos masuk ke dalam antrian padat itu. Ia berdesak-desakan dengan ratusan orang, didorong, dihimpit, keringatnya mengalir deras. Ia berteriak, "Permisi... permisi... ambo ka Jakarta... ambo bali ampek tiket... ambo jo bini jo duo kemenakan ambo nan ka kuliah Hukum UI di Salemba... permisi..."
Walaupun lewat antrian padat yang berdesak-desakan, yang bau keringat dan bau rokok, yang orang saling dorong, akhirnya, setelah hampir satu jam berjuang di dalam antrian padat itu, dengan baju batiknya yang basah kuyup oleh keringat, Uwo Ali Bin Rais Payobadar bisa memperoleh tiket kapal laut.
Empat lembar tiket kapal laut kelas ekonomi, kertasnya tebal, ada tulisan KM Tampomas - Teluk Bayur - Tanjung Priok Jakarta, harga Rp 7.500 per orang tahun 1977, mahal sekali, setara dengan harga satu karung beras.
Uwo Ali keluar dari antrian padat itu dengan wajah lega, dengan empat tiket di tangannya yang basah oleh keringat, ia melambaikan tiket itu ke arah Etek Upik, Andi, dan Arya yang menunggu cemas di tiang dermaga.
"Alhamdulillah... dapek... dapek tiketnyo... ampek tiket... kito bisa ka Jakarta malam ko..."
Etek Upik, Andi, dan Arya bersorak pelan, lega.
Setelah mendapatkan tiket, setelah mendapatkan tempat di geladak kapal, tempat ekonomi yang hanya dapat tikar pandan tipis di atas lantai besi kapal, Uwo Ali Bin Rais Payobadar mengajak istrinya yang sudah mulai mual dan pucat dan kedua keponakan kesayangannya yang masih takjub melihat kapal besar itu, menuju ke dalam kapal.
Mereka naik ke atas tangga kapal yang tinggi dan bergoyang, tangga besi yang curam. Andi dan Arya naik dengan hati-hati sambil membawa koper kayu cokelat mereka dan semua bekal camilan keripik singkong balado dan Fanta orange dan Coca-Cola dingin dan lemang ketan pemberian Uwo dan Etek.
Di dalam kapal, di geladak ekonomi, suasananya pengap, bau solar dan bau muntahan orang yang sudah mabuk laut duluan, bau ikan asin. Ratusan orang sudah menggelar tikar pandan tipis mereka di lantai besi kapal. Anak-anak menangis, ibu-ibu menyusui.
Uwo Ali mencari tempat di sudut geladak yang agak sepi, dekat jendela bulat kapal yang bisa melihat lautan. Ia menggelar tikar pandan tipis dari kapal, bukan tikar pandan buatan Siti Aminah yang halus, tapi tikar plastik kasar. Ia menyuruh Etek Upik yang sudah mulai mual dan pucat untuk berbaring di situ.
"Etek, baringlah di sinan dulu... Etek lah mual dari tadi... minum aia putiah dulu..."
Lalu Uwo Ali menatap kedua keponakan kesayangannya, Uda Andi calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba dan Buyuang Arya calon pewaris bengkel karoseri Cakung 12 tahun yang jam Seikonya kebesaran.
"Uda Andi, Buyuang Arya... duduaklah di sinan... di palka ko kito akan beristirahat... kapal baru akan bajalan jam 8 malam beko, masih 2 jam lai... kito tunggu sampai kapal bajalan manuju Jakarta... mangarungi lautan... 24 jam di ateh lautan..."
Andi dan Arya duduk di atas tikar plastik kasar di palka kapal yang pengap itu, di antara ratusan perantau Minang lainnya. Mereka membuka bekal camilan pemberian Uwo dan Etek tadi, keripik singkong balado, kacang tojin, kue panekuk, lemang ketan, dan minuman dingin Fanta orange dan Coca-Cola dingin yang masih dingin sedikit.
Di luar jendela bulat kapal, matahari terbenam di atas Samudera Hindia, warna oranye keemasan yang indah, laut yang luas yang baru pertama kali mereka lihat seumur hidupnya. Ombak mulai bergoyang, kapal mulai bergoyang pelan, goyang... goyang...
Etek Upik yang mual, berbaring di pangkuan Uwo Ali, memejamkan mata.
Uwo Ali duduk di antara istrinya yang mual dan kedua keponakan kesayangannya yang masih takjub melihat lautan, menjaga mereka.
Dan di palka kapal KM Tampomas yang pengap dan bergoyang pelan itu, menunggu sampai kapal berbunyi tuut... tuut... panjang dan berangkat menuju Jakarta, Andi Rajo Alam Sikumbang memegang erat surat lulus Fakultas Hukum UI Salemba di dadanya, Arya Arsyad Sikumbang memegang erat truk kayu surian kecil pemberian Arlan dan jam Seiko kebesarannya, dan mereka berdua, dengan bekal camilan dan minuman dingin kesukaan pemberian Uwo dan Etek, memulai malam pertama mereka mengarungi lautan, menuju kota rantau, menuju Jakarta, menuju mimpi mereka masing-masing, satu di Salemba Hukum dan satu di Cakung Karoseri.
Kapal belum berangkat, tapi hati mereka sudah berangkat lebih dulu ke Jakarta.