Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Malam itu aroma masakan kembali memenuhi rumah.
Mia berdiri di dapur dengan celemek terikat rapi. Ia memasak dengan porsi yang jauh lebih banyak dari biasanya, nasi putih dalam jumlah besar, ayam goreng yang renyah, tumis kangkung, telur dadar, dan sup ayam yang menguap harum. Setiap gerakan tangannya tenang, seolah tidak ada beban. Padahal di balik senyum tipisnya, ada rencana yang sudah matang. Hitung-hitung menyenangkan mereka terlebih dahulu sebelum mengusirnya menjadi gelandangan.
Rukmini yang sejak tadi duduk di ruang tamu akhirnya mendekat ke dapur. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap menantunya dengan sinis.
“Tumben kamu mau masak lagi,” sindirnya. “Biasanya malas, sekarang tiba-tiba rajin.”
Mia menoleh, tersenyum ramah. Senyum yang manis, tapi tidak sampai ke matanya. “Oh iya, Bu. Malam ini aku akan menyenangkan kalian semua,” ucapnya lembut. “Makan sebanyak-banyaknya. Jangan tersisa.”
Rukmini memicingkan matanya penuh curiga. Sikap menantunya yang berubah-ubah membuatnya bingung. Kemarin masih berani melawan, sekarang tiba-tiba ramah dan memasak banyak. Ada sesuatu yang tidak beres.
“Kau tidak sedang berencana meracun kami, kan?” tanya Rukmini penuh selidik, suaranya rendah.
Mia tertawa kecil, lalu mengangkat bahu. “Tidaklah. Neraka terlalu baik untuk kalian.”
Ucapan itu dilontarkan dengan nada santai, seolah hanya candaan. Tanpa menunggu reaksi, Mia melepas celemeknya, mencuci tangan, lalu berlalu menuju kamarnya dengan langkah tenang.
Rukmini terdiam beberapa detik. Kalimat itu terngiang di telinganya. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengabaikan firasat aneh di dadanya. Lagipula, makanan di meja terlihat biasa saja, harum, dan menggugah selera.
Ia berbalik ke arah kamar putranya.“Lukman! Sonya! Ayo makan! Mia sudah masak banyak untuk kita!” serunya.
Mendengar kata makanan, reaksi keduanya langsung cepat. Lukman yang sejak tadi rebahan langsung bangun dan keluar kamar. Sonya menyusul sambil menggendong Janu. Mereka bergegas menuju meja makan, seolah tidak sabar.
“Wah, banyak sekali,” komentar Lukman sambil sudah menyendok nasi. “Tumben Kak Mia baik hati.”
Sonya tersenyum puas. “Iya, Bu. Enak nih. Nanti minta tambah lagi, ya.”
Mereka bertiga, Lukman, Sonya, dan Janu di gendongan langsung makan dengan lahap. Tidak ada yang menawarkan untuk memanggil Mia. Tidak ada yang berpikir untuk menunggu. Rukmini akhirnya ikut duduk, masih dengan sedikit curiga, tapi lapar membuatnya ikut menyendok nasi.
Di dalam kamar, Mia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya. Ada pesan dari agen properti yang baru saja masuk. Ia membaca pelan, lalu tersenyum tipis.
Biarkan mereka makan kenyang malam ini. Besok, atau lusa, mereka akan tahu. Bahwa kenikmatan terakhir itu… adalah perpisahan.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka pelan. Rian masuk dengan langkah berat, masih membawa aroma luar dari perjalanan pulang kerja. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri sejenak menatap istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang ponsel.
Mia mengangkat wajah. Tatapannya tenang, hampir datar.
“Kamu sudah makan?” tanyanya. Tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan, “Aku sudah makan. Lebih baik makan gih, keluargamu juga pasti lagi makan.”
Nada suaranya netral, tidak dingin tapi juga tidak hangat. Seolah hanya menyampaikan informasi biasa. Rian terdiam sejenak. Ia tahu di luar sana ibunya, adiknya, dan Sonya sedang menikmati makanan yang dimasak istrinya.
“Aku makan, asal kamu makan juga,” kata Rian akhirnya. Suaranya pelan, mencoba mendekat.
Mia mengangguk singkat. Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, lalu berdiri dan menghampiri Kayla yang sedang bermain di sudut kamar.
“Ayo, sayang. Kita makan malam,” ajaknya lembut, jauh berbeda dengan nada yang ia gunakan pada suaminya.
“Ayo, Mama!” seru Kayla semangat, langsung mengangkat kedua tangannya untuk digendong.
Mia tersenyum pada putrinya, mengangkat tubuh kecil itu, lalu berjalan keluar kamar menuju meja makan. Rian mengikuti di belakang dengan langkah lambat. Di ruang makan, Rukmini, Lukman, dan Sonya sudah duduk. Piring-piring masih berisi makanan, dan suasana terasa agak canggung ketika melihat Mia muncul bersama Kayla.
Mia mendudukkan putrinya di kursi tinggi, lalu menyuapkan nasi dan lauk dengan sabar. Ia tidak banyak bicara pada orang lain di meja. Hanya sesekali mengusap kepala Kayla atau menyeka mulutnya. Rian duduk di sisi istrinya, mencoba menyendok nasi, tapi selera makannya hilang. Ia terus melirik Mia yang tampak tenang.
Suara dan obrolan ringan antara Rukmini dan Lukman terdengar. Tapi di sisi meja tempat Mia dan Rian duduk, keheningan lebih terasa. Ada jarak yang semakin lebar di antara mereka, meski secara fisik hanya dipisahkan oleh piring dan sendok.
Mia tidak menatap suaminya. Ia hanya fokus pada Kayla, seolah dunia di luar putrinya tidak lagi terlalu penting. Dan Rian, untuk kesekian kalinya, merasa bahwa istrinya sedang menjauh, bukan hanya dari keluarganya, tapi juga dari dirinya.
"Rumah ini terlalu sesak" ucap Mia tiba-tiba membuat Lukman menghentikan makannya.
Dia menatap Mia tajam. "Maksudnya apa? Kami sedang makan, jangan memulai pertengkaran" sentak Lukman.
Mia berhenti menyuapi putrinya dan membalas tatapan tajam adik iparnya. "Tersinggung rupanya" ejek Mia santai.
Lukman langsung meletakkan sendoknya dengan sedikit keras. Wajahnya berubah merah karena merasa sindiran Mia begitu jelas.
“Aku tidak tersinggung,” bantahnya. “Tapi kalau memang ada yang mau dibicarakan, jangan saat makan begini.”
Mia terkekeh kecil. Ia kembali menyuapi Kayla seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa tidak? Bukankah kalian semua tinggal di rumah ini?” Mia menjawab santai. “Jadi aku rasa kalian juga berhak tahu kalau rumah ini sudah terlalu penuh.”
Sonya yang sejak tadi makan mendadak berhenti. Tatapannya berpindah dari Mia kepada Lukman.
“Maksud Kak Mia apa?” tanyanya.
Mia menatap Sonya sebentar, kemudian tersenyum tipis."Tidak ada. Makan saja.”
Rukmini yang mulai merasa tidak nyaman akhirnya ikut bicara.
“Mia, kalau ada masalah, bicara saja terus terang. Jangan menyindir seperti itu.”
Mia mengangkat alis.
“Terus terang?”
Ia meletakkan sendok Kayla di atas piring, kemudian mengambil segelas air.
“Baiklah. Aku bicara terus terang.”
Rian langsung menatap istrinya. Ada firasat buruk yang muncul di dalam hatinya.
“Mia…”
Namun Mia mengangkat tangannya, meminta Rian diam.
“Selama ini kalian menganggap rumah ini milik bersama. Kalian masuk, tinggal, memakai kamar, memakai listrik, makan dari dapur, dan menganggap semuanya akan terus seperti ini.”
Lukman mencibir.
“Memangnya kenapa? Rian juga saudara aku.”
“Betul.” Mia mengangguk. “Dia saudaramu. Tapi dia juga suamiku.”
Kalimat itu membuat meja makan mendadak sunyi.
Mia menatap satu per satu wajah di hadapannya.
“Dan aku rasa sudah waktunya kalian mengingat satu hal. Rumah tangga kami bukan tempat penampungan.”
Rukmini langsung membanting sendok. “Kau mengusir kami?”
Mia tersenyum tipis. “Wah, Ibu cepat sekali menyimpulkan.”
“Kalau bukan mengusir, lalu apa maksudmu?”
Mia berdiri sambil menggendong Kayla. “Besok kalian akan tahu.”
Rian ikut berdiri. “Mia, tunggu. Maksud kamu apa?”
Mia hanya menatap suaminya beberapa detik.“Besok, aku akan menunjukkan sesuatu.”
Setelah itu, Mia membawa Kayla kembali ke kamar, meninggalkan seluruh anggota keluarga dalam keheningan.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.