NovelToon NovelToon
Terbangun Jadi Istri Pei

Terbangun Jadi Istri Pei

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.

Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.

Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.

Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25—Panasnya Meja Makan

Meja makan di paviliun kediaman barat telah tertata rapi, dipenuhi berbagai hidangan lezat dan mangkuk utama berisi sup ayam herbal racikan Yueli yang mengepulkan aroma harum menggugah selera. Yueli berdiri di samping meja, memastikan semuanya tersaji sempurna sebelum sang ibu mertua melangkah masuk dengan dipapah oleh Xiao Lu di sisinya.

"Yueli, kau seharusnya lebih berhati-hati," ucap sang ibu mertua begitu tiba di dekat meja makan.

Dahi Yueli langsung mengerut dalam mendapati teguran yang datang tiba-tiba itu. "Tentu, Ibu Mertua," jawabnya sopan namun penuh keheranan.

"Sampai-sampai membuat tangan Xiao Lu terluka seperti itu."

Kerutan di kening Yueli semakin dalam. Alisnya terangkat perlahan, sementara tatapannya beralih menatap tajam ke arah gadis di sebelah mertuanya—Xiao Lu, yang kini tampak menunduk patuh sambil memeluk erat lengan sang ibu mertua dengan balutan kain perban di tangannya.

Yueli menarik napas pelan, mengendalikan nada suaranya agar tetap terdengar lembut sebelum melirik gadis itu. "Adik Xiao Lu... apa sebenarnya yang kau katakan pada Ibu?" tanya Yueli dengan senyuman tipis yang menyimpan selaksa makna.

"Bukankah kau yang membuat tangan Xiao Lu tersiram dan terluka?" sambung sang ibu mertua dengan nada menuntut.

Senyum di wajah Yueli seketika melenyap, menyisakan seringai dingin yang terangkat tipis. Kehangatan palsu di matanya meredup, berganti dengan kilat ketidakpahaman atas kelicikan kecil yang baru saja dimainkan di hadapannya. "Aku tidak sengaja," jawabnya singkat, menolak untuk merendahkan diri atau memohon ampun atas insiden yang jelas-jelas dibumbui kebohongan itu.

Ibu mertuanya mendengus pelan, menatap menantunya dengan pandangan menilai. "Lain kali lebih berhati-hatilah." Nadanya jelas terdengar dingin dan berpihak.

Yueli memilih mengunci mulutnya. Di tengah tumpukan masalah besar yang sedang dihadapinya—mulai dari intrik Nenek Pei, misteri botol *shiyou*, hingga kecurigaan racun—ia sama sekali tidak berniat membuang energi untuk berdebat kusir soal drama picisan di meja makan.

Tak berselang lama, tirai pintu tersingkap dan Pei Chanqing melangkah masuk ke dalam ruangan, masih mengenakan jubah gelap kebesarannya dari markas.

"Kakak," sapa Xiao Lu manis dengan suara bergetar tertahan, hampir saja melangkah maju menyambut sang Jenderal.

Namun, gerakan Yueli jauh lebih cepat. Ia sudah terlebih dahulu melangkah gesit mendekati suaminya, mengambil alih jubah berat yang melekat di bahu Pei Chanqing, lalu menyerahkannya kepada Bai Ting yang bersiaga di belakang.

"Suamiku, makan malam sudah siap. Mari kita duduk," ucap Yueli ramah, menampilkan gestur istri teladan yang sempurna di hadapan sang suami.

Pei Chanqing melirik sekilas ke arah istrinya, lalu tersenyum tipis mengangguk. "Mari, Istriku."

Di sisi lain meja, Xiao Lu tertegun mematung di dekat kursinya. Tangannya yang terbalut perban terkepal erat, sementara bibirnya digigit kuat-kuat hingga nyaris kehilangan warna, menyaksikan bagaimana posisinya yang biasanya mendominasi perhatian di sisi sang Jenderal kini direbut sepenuhnya tanpa celah.

Pasangan pengantin baru itu berjalan beriringan menuju meja makan, bahkan tanpa ragu memamerkan keintiman di hadapan sang ibu mertua dan Xiao Lu—sebuah gestur yang sengaja Yueli pamerkan untuk mempertegas batas posisi mereka.

"Kalian ini..." gumam sang ibu pelan, ada sedikit rasa geli sekaligus risih melihat kemesraan yang mendadak itu di tengah suasana yang sempat tegang.

Yueli menunduk malu, menyapukan semburat merah buatan di pipinya untuk mempermanis akting, lalu melirik ke arah Xiao Lu yang kini hanya bisa tertunduk lesu sambil mengaduk-aduk sup di dalam mangkuk keramiknya. Dadanya tampak naik turun menahan emosi yang bergejolak, sementara Yueli justru menyunggingkan senyum kemenangan kecil di balik tunduknya.

"Adik, apakah lukamu itu membuatmu tidak nafsu makan?" tanya Yueli dengan nada penuh perhatian yang sengaja dibuat manis.

"Tidak, Kak," jawab Xiao Lu kaku, suaranya tercekat di tenggorokan.

Pei Chanqing, yang baru saja duduk di samping istrinya, menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil sumpit. Alis tebalnya bertaut bingung. "Luka?" tanyanya menyela.

"Iya..." Yueli menoleh, dengan lembut mengelus punggung tangan suaminya di atas meja. "Tadi siang, tanganku tidak sengaja terpeleset saat memeriksa persiapan di dapur, sehingga cipratan kuah panas mengenai tangan Xiao Lu."

Yueli memasang ekspresi penuh penyesalan, lalu melirik kembali ke arah sang sepupu dari pihak ibu mertuanya dengan sorot mata yang menyiratkan tantangan tersembunyi. Bibir Xiao Lu kontan membulat, terpana oleh cara Yueli membalikkan narasi—mengakui insiden tersebut dengan versi paling aman, tanpa memberi ruang bagi Xiao Lu untuk memfitnahnya lebih jauh di depan sang Jenderal.

"Adik, apakah kau perlu dipanggilkan tabib?" lanjut Yueli dengan kelembutan yang mematikan. "Aku bisa membantumu mendatangkan tabib khusus atau ahli pengobatan kulit terbaik jika lukanya parah."

Xiao Lu terdiam kaku di kursinya, jemarinya mencengkeram erat gagang sendok keramik hingga buku-buku jarinya memutih. Melihat ketegangan di wajah gadis itu, Nyonya Pei—mertua Yueli lekas mengelus pundaknya dengan penuh kasih. "Bagaimana, Xiao Lu? Apakah lukanya masih sangat nyeri?"

Gadis itu tersentak dari lamunannya, buru-buru memasang raut wajah tertunduk. "Tidak perlu khawatir, Bibi. Aku sudah meminta Ayah untuk mengirimkan salep terbaik dari kediaman kami."

Yueli mengangkat sebelah alisnya dengan anggun, membiarkan nada penasaran meluncur manis dari bibirnya. "Wah... apakah Ayah Adik Xiao adalah seorang tabib terkemuka?"

Ibu mertua Yueli terkekeh pelan, kilat bangga terpancar jelas di matanya. "Keluarga mereka sudah turun-temurun menjadi ahli obat-obatan dan peracik racun. Kapan-kapan, sebagai cucu menantu dari Klan Xiao Hui, kau memang harus berkunjung ke kediaman mereka, Yueli."

Yueli mengulas senyum ramah yang tidak mencapai matanya. "Tentu, Ibu Mertua. Kebetulan saat hari pernikahan kemarin, aku masih terlalu sibuk dan belum sempat berkenalan dengan para kerabat dari pihak keluarga."

"Tentu saja, menantuku. Sudah-sudah, mari kita nikmati makan malam ini sebelum supnya menjadi dingin," lerai sang ibu mertua mengakhiri perbincangan.

Denting alat makan mulai beradu nyaring di atas piring porselen. Tak berselang lama setelah menyendok kuah pertama ke dalam mulutnya, mata ibu mertua Yueli langsung berbinar cerah. "Wah, ini enak sekali! Xiao Lu, rempah apa saja yang kau tambahkan ke dalam sup hari ini?"

Xiao Lu, yang baru saja hendak menyuapkan makanan ke mulutnya, mendadak mengernyit heran. Ia menatap mangkuk di hadapannya dengan tatapan kosong sebelum menjawab terbata-bata, "A... a... ku... hanya memasak seperti biasa, Bibi..."

"Dagingnya sangat empuk, bahkan sari rempahnya meresap sempurna, rasanya benar-benar lezat," puji ibu Pei Chanqing tanpa henti.

Mendengar pujian itu, Yueli menyela dengan senyuman tipis penuh arti. "Mungkin karena tadi sempat ditinggal sebentar oleh Xiao Lu untuk mengobati tangannya, aku jadi sedikit menyesuaikan durasi perebusannya, Ibu."

"Oh, itu bisa jadi alasannya," angguk sang ibu mertua puas. "Tapi ini benar-benar luar biasa. Dagingnya sangat lembut. Xiao Lu, besok kau harus mencoba memasak dengan cara seperti ini lagi."

Xiao Lu, yang terjebak dalam kebingungan atas hasil masakannya sendiri yang kini sepenuhnya digantikan oleh Yueli, hanya bisa menelan ludah kelat. "Tentu... Bibi."

Dentingan alat makan berangsur mereda, digantikan oleh kesunyian malam yang mulai menyelimuti kediaman luar. Semburat jingga di ufuk barat telah sirna sepenuhnya, berganti pekat yang dihiasi pendar temaram lampu lentera. Para pelayan bergerak sigap membereskan sisa hidangan di atas meja, menyisakan cangkir-cangkir teh hangat serta beberapa piring kecil berisi camilan malam.

"Yueli," suara sang ibu mertua memecah keheningan, menarik atensi penuh dari wanita muda itu. "Besok adalah hari di mana kau harus kembali berkunjung ke kediaman orang tuamu. Sesuai tradisi, kami berniat menyiapkan beberapa hadiah kepulangan untuk keluargamu."

Yueli segera menegakkan punggungnya, menampilkan senyuman santun terbaiknya. "Terima kasih banyak, Ibu. Perhatian itu sudah lebih dari cukup, aku merasa tidak enak karena telah merepotkan Anda."

"Kau adalah menantu sah satu-satunya di kediaman barat Jenderal Pei ini. Sudah sepantasnya keluarga kita menjaga kehormatan itu, jadi daftar hadiah kepulangan ini sudah aku siapkan sejak beberapa hari lalu," jawab sang ibu mertua dengan nada tegas namun menyiratkan kebanggaan. Ia merogoh lengan jubahnya, menarik keluar secarik kertas gulung berukuran sedang yang tertulis rapi, lalu mengulurkannya ke hadapan menantunya. "Bacalah. Jika menurutmu ada yang kurang atau perlu ditambahkan, katakan saja."

Yueli menerima gulungan kertas itu dengan kedua tangan secara hormat. Namun, begitu ia membuka gulungan tersebut dan matanya mulai menyusuri baris demi baris daftar hadiah yang tertera, napasnya seketika tertahan. Bola matanya melebar tak percaya mendapati rentetan barang mewah, mulai dari gulungan kain sutra pilihan, giok murni berukir, hingga kotak-kotak ginseng liar berusia puluhan tahun yang nilainya setara dengan kekayaan sebuah marga bangsawan menengah.

Terkejut dengan skala kemewahan tersebut, Yueli reflek mendongak, melirik bergantian ke arah suaminya, Pei Chanqing, yang duduk tenang di sebelah kanannya, lalu beralih menatap sang ibu mertua dengan tatapan takjub bercampur waspada.

Ia meneguk ludahnya susah payah, merasakan betapa beratnya beban dari setiap helai sutra dan batu mulia yang kini tercantum atas namanya.

...----------------...

1
Biyan Narendra
Sepertinya tinggal di kediaman ini..
yueli harus waspada tanpa henti
Ana Dww: Ini jauh lebih bahaya sihhhh....
total 1 replies
Biyan Narendra
ternyata oh ternyata
Biyan Narendra
jangan jangan ada kaitannya dgn Xuer..
udah susah makin susah ini mah
Quinza Azalea
terimakasih othor💪
Ana Dww: Hai kak, sama-sama maaf telat update karena masih sibuk 🥹🥹🥹🥹
total 1 replies
Biyan Narendra
Karma yg tak salah tempat
Ana Dww: Karena bawa alamat asli kak
total 1 replies
Biyan Narendra
Ketika takdir berpihak dengan benar
Ana Dww: 👻 takdir selalu menemukan jalan pulang
total 1 replies
Quinza Azalea
next
Ana Dww: Cuss update kak, sabar lagi direview❣️
total 1 replies
Quinza Azalea
bagus
Quinza Azalea
di tunggu upnya thor💪
Ana Dww: Hai kak ❣️ Harap bersabar malam ini aku up yaa
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer kurang cerdas
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Ana Dww: Orang tamak memang harus dihajar
total 1 replies
Biyan Narendra
Insting tajam seorang Yueli
Ana Dww: harus donggg,
total 1 replies
Biyan Narendra
cinta yg tumbuh karena saling memanfaatkan
Ana Dww: Kita butuh simbiosis mutualisme
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer..
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
Ana Dww: dia mau jadi.......
total 1 replies
Biyan Narendra
Bikin kontrak perjanjian pernikahan segala
🤭🤭🤭🤭
Ana Dww: Biar gak rugi" amat nikah sama orang dengan masa depan 10 selir 🤣🤣🤣
total 1 replies
Biyan Narendra
Udah kayak artis kita ga sih
🤣🤣
Ana Dww: Siapa oiii
total 1 replies
Biyan Narendra
Banyak pertunjukkan drama dari dua wanita saingan Yueli
Ana Dww: Cusss kak, baca selanjutnyaaaa😂 Meski perjalanan kapal ini seperti belum lepas landas. Semoga kalian yang bacakuat buat slowburnnya yaaa...
total 1 replies
Biyan Narendra
bonus vote
Ana Dww: ❣️ Terimakasih banyak atas dukungannya
total 1 replies
Biyan Narendra
Author mau lgi
🤭🤭🤭
Ana Dww: Sabar kakkkk👻👻👻 Ntar aku update pantengin yaaa
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
seruuu
Ana Dww: Siappp kakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
Ana Dww: Hai kak, selamat mampir lagi ke cerita baruku❣️Siappp gass
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!