NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Nyata Seperti Mimpi

Suasana rumah sakit sudah ramai sebelum matahari terbit.

Suara langkah kaki tenaga medis terdengar saling bersahutan di sepanjang koridor. Beberapa perawat terlihat membawa beberapa berkas pasien dan juga membawa alat infus untuk para pasien. Beberapa dokter juga tampak sibuk setelah selesai melakukan visite dari ruang rawat satu ke ruangan rawat yang lain.

Sementara di lantai tiga, di salah satu ruangan, tepatnya di instalasi farmasi, terdapat seorang wanita dengan rambut di gunung tampak sibuk menyiapkan beberapa obat yang di resep kan dokter untuk para pasien yang berobat di sana. Wanita itu bernama Jihan, wanita cantik yang berprofesi sebagai apoteker senior di rumah sakit tersebut.

Tangannya begitu terampil menyiapkan beberapa obat, tak lupa beberapa kali dia juga membaca selembar kertas berisi resep, tentu saja untuk mencocokkan apa yang ia ambil dengan apa yang tertulis di sana.

"Ini resep obat untuk pasien di kamar 306 ya, oiya jangan lupa sekalian periksa infusnya, tadi Mbak Jani WA aku. Pasien tersebut ibunya beliau. Minta tolong sekalian cek," ucap Jihan pada salah satu perawat yang sedang antri mengambil obat untuk pasien yang ia jaga.

"Baik, Bu. Saya akan sekalian cek," jawab Suster Ida.

Jihan tersenyum. Lalu ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

Bagi Jihan, kesalahan kecil dalam memberikan obat adalah kesalahan fatal. Kesalahan tersebut tak ada beda. Sebab menyangkut nyawa seseorang.

Jihan tidak pernah bekerja terburu-buru. Dia sangat teliti, sehingga dokter dan rekan kerjanya sangat senang bekerja dengannya.

Ia sama sekali tidak bisa mentolerir sebuah kesalahan, baginya bekerja harus sepenuh hati, apa lagi pekerjaannya menyangkut nyawa.

Setengah jam berlalu, suasana koridor terlihat riuh. Beberapa perawat sedang berbisik-bisik. Sedangkan Jihan hanya cuek, sebab ia tau siapa yang membuat suasana sedemikian riuhnya. Hal tersebut tak lain, pasti dokter tertampan di rumah sakit ini datang.

"Pak Hansen."

Siapa lagi? Jihan sudah hapal betul. Dia hapal bener kalo Dokter tampan itu selalu jadi bahan mood booster di rumah sakit ini bagi hampir semua pekerjaan wanita di rumah sakit tersebut.

"Ya Allah, dokter setampan itu kira-kira siapa ya istrinya?" celetuk Dian, yang tak lain adalah kepala perawat di sana.

"Nggak tau, Bu. Tapi saya yakin, istrinya pasti cantik, ya kan Kak Jihan," saut Nanda. Salah satu resepsionis yang saat itu sedang mengambil berkas yang dititipkan di instalasi itu.

"Waduh, mana saya tau. Dokter Hansen kan nggak pernah bawa istrinya ke sini toh." Jihan tersenyum, padahal...

"Iya juga ya, tapi aku pernah lihat beliau jemput anaknya di SDIT Assalam loh. Mungkin anaknya sekolah di sana kali ya." Dian melirik Jihan. Namun ia tidak curiga kalo Jihan adalah istri dari dokter Hansen.

"Owwhh, bisa jadi. Ah sudah suda, bubar, itu Pak Dokter ke sini." Jihan segera kembali melakukan pekerjaan.

Dan tak lama, Dokter Hansen datang.

Seperti biasa, Sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sakit ini, ia harus mematikan tak ada satupun kekurangan di rumah sakit ini. Ia mau semua pasien dan pekerja yang ada di rumah sakit ini mendapatkan haknya. Tanpa ada sekurangan sedikitpun.

"Hana." panggil Dokter Hansen, pada suster yang biasa mendampinginya. Bisa dikatakan jika Hana adalah asisten pribadinya di rumah sakit ini, selain Juan.

"Saya, Dokter." Hana mendekat. Tapi mata Dokter Hansen malah menatap istrinya, Bu Jihan.

"Siang ini aku mau pesan makan yang kayak kemarin, beli dua, anakku mau satu," ucap Dokter Hansen.

"Oh, baik, Dok." Hana merogoh ponselnya, bersiap memesan makanan yang diinginkan bosnya.

"Hemmm." jawaban Singkat, lalu Dokter tampan ini segera meninggalkan instalasi tersebut.

Tampak Jihan menghentikan pekerjaannya beberapa saat. Entah mengapa, di sudut hatinya yang terdalam ada rasa sedih di sana dan hal tersebut bukan karena apa, hal tersebut terjadi karena Jihan merasa selama ini ia hampir tidak pernah dianggap oleh Hansen. Bahkan pesan makan pun hanya untuk dia dan anaknya, sedangkan Jihan... seperti tak terlihat. Benar-benar tak terlihat dan tidak dianggap.

Ah sudahlah, kenapa aku jadi melo begini. Bukankah aku sudah biasa. Sadar diri Jihan, kamu kan hanya istri di atas kertas, kamu sudah tau itu, jadi untuk apa sedih. Gumam Jihan dalam hati.

Tak dipungkiri bahwa pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bahkan di awal mereka menikah, Pak Hansen sudah menekankan pada Jihan, bahwa Jihan tidak boleh berharap apapun padanya, termasuk cinta.

Sepuluh Tahun yang lalu...

Malam itu di sebuah kamar mewah milik keluarga Wijaya, Jihan duduk di ranjang mewah di kamar tersebut. Lalu Hansen datang dengan wajah kusut.

"Kamu tau, aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi aku harap, kamu jangan bertingkah. Jangan berharap apapun pada pernikahan ini. Kamu mengerti Jihan... "

"Tapi kenapa, Mas? Kan Mas sudah setuju menikah denganku? apakah karena aku difabel?" tanya Jihan, gugup.

Hansen tak menjawab. Dia diam sejenak. Lalu...

"Nggak usah banyak tanya, pokoknya kali sampai orang-orang tau kalo kamu istriku, lihat saja nanti, aku nggak akan segan segan menceraikan kamu." Hansen kembali menyabet jasnya. Lalu kembali meninggalkan Jihan. Meninggalkan Jihan dengan ribuan pertanyaan.

Demi Tuhan, Jihan tidak menyangka bahwa cerita hidupnya sangatlah mirip dengan novel yang pernah ia baca. Bahkan hingga saat ini, sikap Hansen padanya tak lebih dari seorang atasan pada bawahannya.

Kehidupan rumah tangga mereka tak lebih haya sekedar transaksi. Bahkan Hansen jarang pulang ke rumah utama mereka. Hansen lebih nyaman tinggal di apartemen pribadinya.

Saat mereka bertemu di jalan ataupun di tempat kerja, mereka jarang sekali mengobrol. Ataupun tegur sapa, hal tersebut terjadi seperti rekan kerja biasanya tak lebih atau pun kurang.

Namun, Jihan tak memungkiri bahwa Hansen sangat menyayangi Raka, putra semata wayang mereka. Seorang putra yang lahir tanpa mereka sengaja. Saat itu entah apa yang terjadi, Tiba-tiba Hansen meminta haknya sebagai suami dan terciptalah Raka.

Pun sampai detik ini, biasanya Hansen pulang ke rumah utama juga karena hal itu, hal yang berhubungan dengan Haknya Sebagai Suami. Tak lain dan tak lebih. Bahkan setelah ia meminta haknya, tak jarang Hansen juga langsung kembali ke apartemen pribadinya.

Jihan tak berani protes, toh hal tersebut juga sudah menjadi kesepakatan mereka. Bahwa Jihan tak diizinkan untuk mengaturnya.

Dan bagi Jihan, kesepakatan adalah kesepakatan, yang penting Hansen masih ingat pulang, ingat Raka dan sayang pada Raka. Itu saja, selebihnya Jihan tak berani ikut campur, sekalipun nanti Hansen punya wanita lain, Jihan tetap tidak akan berani protes.

Entahlah, hubungan pernikahan ini seperti apa, yang jelas, Jihan sangat mencintai Hansen, sehingga ia tak bisa berkutik saat Hansen meminta sesuatu darinya. Meskipun itu sangat menyakitkan baginya.

Bersambung...

1
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
sunaryati jarum
Segera telpon tanya keadaan putramu ,Jihan.Dia sakit dan mencarimu
Setyowati Setyowati
episode ini ikut nangiss Thor 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!