NovelToon NovelToon
JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Ketos
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata rami

Suara peluit terdengar nyaring dari dalam lapangan.

Pak Bandi selaku guru kedisiplinan anak kelas 12 menatap satu persatu wajah penuh luka dari murid-murid yang berbaris di hadapannya. "BERANTEM LAGI?!"

Digo, Tristan, Mahendra, dan Devandra terperanjat kaget ketika Pak Bandi mengayunkan tongkat saktinya ke bokong mereka.

Yang mereka maksud dengan tongkat sakti adalah kayu panjang yang selalu Pak Bandi bawa kesana dan kemari.

"Anak siapa lagi yang kalian pukul?!" teriak Pak Bandi, galak.

Devandra mengangkat tangannya. "Saya lupa tanya nama bapaknya, Pak." Sekali lagi, jawaban super ngawur dari Devandra membuat Pak Bandi mengayunkan tongkat saktinya untuk memukul bokong Devandra, gemas.

Nafsu kali ini guru sama bokongnya Devandra.

"Jawab yang benar, Devandra! Digo! Mahendra!"

Pak Bandi melirik ke arah Tristan yang seperti biasa diem aja, sumpah itu cowok kadang creepy anjir! Saking diemnya, napas doi aja suka nggak kedengeran.

"Tristan! Ayo kamu ngomong, jangan diem aja!" seru Pak Bandi, mulai emosi dengan sikap muridnya yang selalu diam itu.

Aneh nih guru punya murid berisik emosi, punya murid diem tambah emosi.

"Iya," Digo, Mahendra, dan Devandra sama-sama menarik nafasnya lega mendengar suara Tristan.

Alhamdulillah, belum ketemu malaikat jamal.

"Iya apa? Iya berantem?!" sanggah Pak Bandi penuh selidik.

"Kalau iya kenapa, Pak?" Itu jelas suara Mahendra, yang mana sukses membuat ketiga temannya langsung menahan nafas.

Itu mulutnya si Mahendra, mending diem!

"Asu lo!" umpat Devandra ke arah Mahendra, dengan sorot mata kesal.

"Heh! Ngomong kasar kamu?!" Lah! Kok jadi Devandra yang kena?

Devandra menggeleng panik di tempatnya. "Nggak Pak!!! Saya lagi nyanyi... asudahlah, gitu!" elak Devandra, banyak alasan.

"Tutur katanya dijaga ya kalian! Saya tidak terima alasan, kalian berempat langsung lari keliling lapangan 10 kali!" ujar Pak Bandi, menjatuhkan vonisnya dengan tegas.

"Loh Pak! Kok cuma kita berempat, si Kay Morgan kan juga ikut berantem," ucap Digo nggak terima, cowok itu juga menunjuk Kay Morgan yang sejak tadi tidak ikut berbaris di tengah lapangan.

Masa si Kay Morgan cuma diminta Pak Bandi berdiri di pinggir lapangan, sementara mereka berempat disuruh panas-panasan di tengah lapangan?

Nggak adil si Bandi! Tai anjing, emang!

"Iya, tapi dia korban! Liat itu mukanya babak belur semua."

"Muka saya juga babak belur Pak! Biru-biru kayak korban KDRT," balas Digo seraya menunjuk wajah tampannya sendiri dengan emosi.

"Halah! Itu luka kecil. Lagi pula saya tidak percaya kalau kamu ini korban, pastilah kamu pemimpinnya," tuduh Pak Bandi, seolah minta di headshot.

"Secara nggak langsung bapak ngatain saya tukang bohong lho?!" rajuk Digo, baper dengan ucapan yang dilontarkan Pak Bandi.

"Iya, memang."

Jancuk! Ngajak duel emang si Bandot.

"Kalau kalian tidak lekas lari, saya tambah hukumannya jadi 15 kali putaran!" ancam guru itu, seraya mendelik galak.

Mau tidak mau, akhirnya mereka berempat mulai berlari mengelilingi tepi lapangan. Yeah! Walaupun dengan perasaan dongkol setengah mati.

Di sisi lain, melihat Pak Bandi berjalan ke arahnya Kay Morgan langsung menegapkan badannya. "Kay Morgan! Bapak ingin mengajar, kamu awasin kakak-kakak kelas kamu itu! Jangan sampai mereka kabur dari hukuman!" lanjut Pak Bandi, lantas berlalu dari hadapan Kay Morgan.

Di tempatnya Kay Morgan tersenyum miring setengah puas. Jelas seneng lah doi, nggak ikut dihukum. Mana disuruh jaga, kan jadi punya alasan buat bolos.

Kodratnya anak kesayangan guru walaupun salah, ya tetap dianggap paling benar.

Bel sekolah berbunyi kencang beberapa saat setelahnya, menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai berbarengan dengan langkah rusuh dari gerombolan murid laki-laki berseragam olahraga.

Kay Morgan menoleh, ketika menangkap keberadaan Alberto dengan teman-temannya yang baru saja memasuki area lapangan. Tentu saja Kay Morgan mengenal kelompok dari kelas XI IPS 3 itu karena mereka satu kelas tahun lalu dan Alberto itu langganan yang kena razia OSIS.

Eh tunggu! XI IPS 3? Kelasnya Rora dong.

Jackpot!

Kedua netra tajam milik Kay Morgan tanpa sadar berkilat menunjukkan ketertarikan, tatkala melihat sosok gadis dengan rambut diikat cepol berjalan menuju ke lapangan bersama dua temannya.

Aurora Grey kedatangannya berhasil membuat sosok Kay Morgan mengerjap, nyaris terpesona sampai mengulum seulas senyum tipis.

Pasalnya gadis itu terlihat sedang tertawa cantik bersama teman-temannya.

Eh! Tertawa apa, cantik? Nggak anjir—yang ada b aja! Bantah Kay Morgan ngeri sendiri dengan isi pikirannya.

Mendengus kesal, Kay Morgan langsung mengalihkan pandang ke arah lain. Cowok itu pastilah idiot, karena ngerasa kesenangan cuma karena ngeliat Rora.

****************

Rami membekap mulutnya yang terbuka lebar-lebar.

Gadis itu terdiam tak bersuara dengan pemandangan yang tersuguh di hadapannya—Tristan tengah berlari keliling lapangan, bersama 3 temannya yang lain. Yang nggak kalah ganteng juga.

"Ya Tuhan... nikmat mana lagi yang Engkau dustakan." Rami berbisik dengan sorot mata berbinar-binar memperhatikan Tristan.

Jelas dengan wajah tampan dan postur tubuh kayak gitu, siapa sih yang nggak kagum?

Anjani sekali kakak kelasnya itu, dari atas kepala sampai ujung kaki. Bagi Rami, secara fisik Tristan itu sempurna tidak kekurangan apapun.

Eh ada! Sulit digapai :(

"Rami, lurusin barisan dong!" pungkas Rora yang sudah berbaris di antara Rami dan Sheila.

Ganggu banget, deh!

Mengalihkan pandang, Rami akhirnya menurut saja. Dari pada dia dimarahin sama Pak Budi.

Pelajaran olahraga pun dimulai, dengan pemanasan seperti biasa.

Namun tiba-tiba saja Pak Budi berseru ke seberang lapangan. Guru dengan kumis tipis itu menunjuk ke arah Kay Morgan yang terlihat berdiri di pinggir lapangan, kebetulan Pak Budi ini juga mengampu di kelas Kay Morgan, pastilah hafal sama murid yang notabenenya ketua OSIS itu.

"Kay Morgan! Kesini kamu!" Merasa dipanggil, Kay Morgan akhirnya berjalan masuk ke lapangan.

Kedatangan cowok itu jelas membuat gadis-gadis dari kelas IPS 3 memekik tertahan. Salah satu yang paling dicari di SMA Garuda Indonesia itu sekarang berdiri di depan barisan mereka. Wajah tampan penuh luka dengan rambut acak-acakan—sialnya tidak melunturkan ketampanan cowok itu. Sebaliknya, Kay Morgan justru terlihat lebih menawan.

Duh gusti! Rasanya pengen dikenalin ke orang tua.

Alis tebal milik Kay Morgan tertaut, bingung. "Ada apa, Pak?"

"Ngapain kamu nggak ke kelas?!" selidik Pak Budi, kepada sosok dengan lencana OSIS di lengannya itu.

"Saya disuruh Pak Bandi ngawasin mereka yang lagi dihukum, Pak." jawab Kay Morgan seraya melirik ke arah teman-temannya yang mungkin sudah berlari sebanyak 3 kali putaran.

Mendengar itu, Pak Budi menghela napasnya pelan. Lagi-lagi mereka bikin keributan. "Ya sudah! Kamu ke kelas saja, biar bapak yang ngawasin mereka."

Kay Morgan mengangguk patuh. Cowok itu sesaat menunduk sopan kepada Pak Budi sebelum berjalan dari lapangan, melewati barisan anak kelas IPS 3.

Langkah lebar kepergian Kay Morgan rupanya membuat gadis-gadis menghela napas kecewa. Baru aja lihat yang seger-seger, eh malah disuruh pergi!

Sesaat Kay Morgan memutar pandangnya menatap barisan paling depan, seolah tengah mencari sosok yang sangat ingin dirinya lihat.

Ketemu!

Netra coklatnya bertabrakan dengan milik Rora, yang kebetulan berada di barisan terdepan.

Tap!

Tap!

Tap!

Langkah cowok itu kian mendekat.

Ketika hendak melewati barisan Rora, cowok itu menghentikan langkah sepersekian detik di hadapan gadis itu.

"Semangat ya, olahraganya!" bisik Kay Morgan seraya melempar senyum menawan kepada Rora.

Di tempatnya Rora langsung bengong.

Kay Morgan sih emang berbisik tapi suara bariton tuh cowok bisa didengar sampai ke barisan terbelakang. Maka jangan kaget kalau setelahnya, suara pekikan iri dan dengki dari gadis-gadis lainnya langsung terdengar.

Selanjutnya tanpa rasa bersalah, Kay Morgan berlari keluar dari lapangan. Meninggalkan perhatian besar yang dirinya ciptakan. Mungkin bagi cowok itu, hal seperti ini bukan apa-apa. Tapi bagi Rora Kay Morgan itu cobaan besar.

****************

"Semangat ya, olahraganya!"

BRAK!

Rora langsung menutup pintu lokernya dengan keras, ketika Rami terus-terusan menggodanya.

"Diem lo!" hardik Rora, sebal.

"Cie... cie, Rora!"

"Apa sih, sel?!"

"Halah, jujur! Lo baper kan digituin sama Kay Morgan?"

"Nggak, tuh!"

"Bohong banget anjir! Muka lo aja tadi langsung merah," tuduh Rami, lantas menoel-noel lengan Rora.

Jijik sumpah muka Rora tadi, merah banget. Mirip anak TK kalau lagi kasmaran. Nggak tahu aja kalau respon gadis itu benar-benar membuat Rami geli sendiri.

"Ati-ati, Rora. Selingkuh itu nggak harus pake status, lo baper-baperan sama cowok lain aja bisa dikatain selingkuh!" kata Rami, yang membuat Rora langsung menabok lengan gadis itu.

"Ngaco!"

"Gue kan ngasih tau yang bener, kok malah ditabok!" celetuk Rami nggak terima.

Rora mendengus kesal karena omongan Rami banyak benarnya. Tapi Rora nggak mau ambil pusing, dia udah niat jaga jarak, toh Rora juga nggak ngerespon.

Iya, tapi lo baper!

"Udah deh! Nggak usah dibahas lagi, nggak penting."

"Bilangnya nggak penting, tapi diajak nonton tinju ke Aldeoz mau!" Rami mengumpat pelan.

Sebelumnya memang Rora menggunakan nama Rami untuk izin keluar, saat dirinya datang ke Aldeoz. Kalian pasti sering juga numpangin nama temen buat dapet izin dari orang tua, iya kan? Ngaku!

Dan ya! Rora melakukannya, sebagai gantinya—Rami minta cerita secara rinci dari Rora. Jelas lah dia kepo, ngapain si Rora ngelayap sampe tengah malam. Asal kalian tau, Rora itu tipikal orang yang mageran, nggak bisa jauh-jauh sama yang namanya kasur alias kaum rebahan.

Jadilah dengan terpaksa Rora bercerita kalau dia ke Aldeoz sama Kay Morgan. Dari pada Rami ngadu ke bundanya. Tapi jelas, Rora bilang kalau dia di sana cuma nonton. Nggak cerita yang rinci juga lah! Bisa heboh si Rami kalau tau cerita runtutnya.

"Kan udah dibilang, biar gue dapet alamatnya Shayen," balas Rora, membela dirinya sendiri.

"Iya-iya, gue percaya. Kalau lo bisa tahan sama si Kay Morgan, gue akuin kalau setianya orang LDR itu mahal," cibir Rami seraya menutup pintu lokernya.

Rora mendengus pelan. "Udah! Ayo kantin, kasihan Sheila kalau nunggu kelamaan di sana."

Keduanya lantas berjalan menjauh dari loker sekolah, untuk ke kantin.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedari tadi berdiri mendengarkan percakapan keduanya diam-diam. Seseorang yang tidak seharusnya tahu lebih banyak tentang kejadian itu.

****************

"Kamu yakin nggak ikut kita makan malam di luar?"

Rora yang sedang memakan serealnya di depan TV, menggeleng kecil sebagai jawaban.

"Rora di rumah aja. Biar Ayah sama Bunda bisa makan malam romantis." Mendengar godaan itu dari putrinya sendiri, Mario tertawa renyah.

"Nanti pulang, Ayah belikan pepperoni." Seolah mengapresiasi kepekaan putrinya, Ayah Rora mengangkat kedua jempolnya.

"Yeayyy!!!" sorak Rora kegirangan. "Jangan lupa, tambahin keju banyak banget!"

"Siap, tuan putri!" seru Mario, seraya memberi hormat ke arah putrinya.

Di tempatnya, Laura menggeleng kecil melihat tingkah ayah dan anak itu. "Ya sudah kalau gitu, Bunda sama Ayah pergi dulu."

"Iya, hati-hati di jalan!" seru Rora tanpa mengalihkan pandang dari layar TV.

Waktu berlalu, setelah sudah bosan menonton TV dan menghabiskan serealnya Rora memilih untuk kembali ke kamarnya.

Emang ya kamar sendiri itu tempat paling nyaman, walaupun nggak bisa dipungkiri kalau kamar Rora mirip kapal pecah.

Huft... kalau bundanya tau, bisa-bisa nyanyi lagu Indonesia Raya.

Mumpung lagi gabut kan ya, Rora memilih untuk merapikan tempat tidurnya. Duh! Lagi kesambet sih pasti dia, tapi lagi mood buat bersih-bersih juga. Karena seperti biasa doi nggak ada kerjaan berfaedah. Dari pada belajar kan ya, mending dia rapiin kamar.

Malam minggunya lagi-lagi monoton!

Mengulas seulas senyum, gadis itu memilih menarik kursi di depan meja belajarnya, setelah capek bersih-bersih.

Si anying, baru bersih-bersih 5 menit udah capek!

Menyalakan laptopnya, Rora membuka salah satu aplikasi belanja daring. Yeah dia masih cari-cari kotak lucu buat bikin hadiah untuk Shayen. Rencananya dia mau bikin album yang isinya foto-foto mereka, yaelah! Si bodoh mulai bucin.

Nggak tau lagi sama Rora, yang bisa-bisanya tahan hubungan jarak jauh 2 tahun. Bermodalkan surel yang dibalasnya seminggu sekali, teleponan juga bisa dihitung pakai jari.

Bener kata Rami setianya orang LDR itu mahal.

Tapi, emang nggak bosen setia terus?

Tok!

Tok!

Tok!

Mendongak, Rora merasa merinding mendengar ketukan dari luar jendelanya. Ih serem banget!

Tok!

Tok!

Tok!

Kali ini ketukan itu terdengar tidak sabaran. Sumpah! Ini cerita lagi nggak ganti genre horor kan? Rora lagi di rumah sendiri lho!

"WOI BUKA! GUE TAU LO BELUM TIDUR!"

Teriakan itu! Suara bariton itu, berhasil membuat Rora langsung berdiri dari tempatnya.

Dan benar saja, ketika Rora membuka jendela kamarnya, sosok yang sangat dikenalnya itu bertengger di luar jendela kamarnya.

"Kay Morgan?!" Walaupun kenal dengan suaranya, Rora masih aja kaget, dengan kedua mata melotot lucu.

"Yes! It's me!"

Damn! Maksud Kay Morgan nyengir ganteng gitu biar apa?!

Sumpah! Bisa-bisanya Rora terpesona.

"Mau ngapain?" tanya Rora, ketika Kay Morgan hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.

Sinting! Itu cowok beneran manjat ke kamarnya? Bukan apa-apa, masalahnya tuh kamar Rora ada di lantai dua.

"Masuk?" sanggah Kay Morgan, dengan nada bertanya.

"Mau ngapain sih, malem-malem gini. Kalau ada yang liat gimana?"

Kay Morgan memutar bola matanya. "Ya nggak gimana-gimana, orang gue cuma mau ngajakin lo."

"Ngajakin apa?"

"Bukan ngajakin apa, tapi yang bener ngajakin kemana." Sejurus kemudian Rora menunduk, sebelah alisnya terangkat sebelah melihat Kay Morgan menyodorkan dua buah tiket persegi panjang ke arahnya.

"Bazar makanan?" Kay Morgan mengangguk kecil.

"Buy 1, get 2!" ucap Kay Morgan, seolah tidak ingin dikira sengaja membeli 2 tiket.

"Kenapa ngajak gue?"

"Karena pengen pergi bareng lo." Jawaban itu berhasil mengusik Rora.

"Jadi mau nggak?" tanya Kay Morgan, nggak pake lama.

Rora berdehem, mengedarkan pandang ke arah lain untuk menghindari tatapan Kay Morgan. Bukan apa-apa ya, tapi setiap Kay Morgan natap Rora itu kayak dalem, instens kayak aghhhhhh!!! Nggak di jelasin, pokoknya bikin Rora nggak tenang.

Di tempatnya Rora masih memilin jarinya, bingung. Ini udah hampir jam 9 malem, dia juga harusnya lanjut cari hadiah buat Shayen. Tapi hati sama otak dia kok nggak sinkron?

Apalagi mulutnya nggak bisa diajak kerja sama.

Jadilah Rora mengangguk. "Oke!" sanggah Rora seolah lupa dengan pertahanan yang dirinya buat.

Eh! Tapi ini Rora nerima gara-gara pengen makan gratis lho! Kapan lagi kan?

...----------------...

...Hi guys bantu suport buku baru aku juga yg dibawah ini yah like bantu share juga🙏🏻...

1
falea sezi
🤣 harusnya Rora di buat jago beladiri🤣🤣 ini menye menye bgt 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettygirls: Hmm belum tau aja,masih polos2 itu
total 1 replies
Prettygirls
Serius yahh udah ku update 🤣
falea sezi
lanjut q kirim bunga🤣
Prettygirls
Hi kak falae bantu like yah biar semangat terus nulisnya🙏
falea sezi
🤣🤣🤣🤣kau bkin baper semua tau🤭
Enz99
bagus
Prettygirls: Terima kasih kak jangan lupa baca buku yg cinta terlarang diantara kita saudara tiri🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!