Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kubangan trauma yang mencekik
# Kubangan trauma yang mencekik #
"Wait... wait... Kakak-kakak yang cantik. Gimana kalau aku traktir kalian? Tapi tolong kasih aku jalan ya..." karena tak bisa melepaskan diri begitu saja, Ino berniat menghabiskan saldo black card milik Axcel.
Tapi kelihatannya mereka tidak kekurangan uang. Ino masih saja dikerubungi empat gadis cantik dan beberapa Tante-tante, mereka mencoba bernegosiasi agar Ino mau menemani mereka bersenang-senang. Tangan-tangan gemulai itu mulai menyentuh dada dan lengan Ino, membuat Ino merinding sejadi-jadinya. Para bintang pesta itu tak ingin melepaskan Ino. Terlebih lagi mereka ke cafe memang untuk bersenang-senang menghabiskan uang sepanjang malam dan Ino mendadak jadi bintang pesta pora.
Di tengah kesibukannya melepaskan diri, ujung mata Ino menangkap sosok Sora yang berdiri di sebelah pintu masuk, sedang berbincang dengan Manajer San. Ino memanggil-manggil Sora, berharap Sora bisa mengeluarkannya dari jeratan para siluman cantik itu.
Sebenarnya Sora mendengar panggilan Ino dan sempat menoleh beradu tatap dengan mata Ino. Tapi buru-buru Sora berpaling lagi dan memberikan uang pada Manajer San. Ino yang tak tahu maksud Sora, malah beranggapan kalau Sora sedang menjual dirinya ke wanita-wanita ini agar ia tak bisa mengikuti Sora pulang ke rumahnya. Ino semakin kesal ketika Sora meninggalkan cafe setelah berjabat tangan dengan Manajer San.
BRUG!
---
"Ooh... Syukurlah... Tuan baik-baik saja, kan? Manajer San!...manager San! Tuan ini udah siuman, apa perlu kita antar ke rumah sakit?"
Axcel terbangun dari pingsannya. Lagi-lagi ia tak sadarkan diri, kenapa hari ini dia sangat kelelahan? Axcel terduduk sambil memegang kepalanya, mengedarkan pandangannya yang masih sedikit buram untuk mencari Sora. Tapi yang ia dapati hanya seorang staf cafe dan dirinya sendiri di ruangan VIP yang ia pesan tadi siang. Manajer San masuk dan segera menghampiri Axcel dengan segelas air mineral.
"Tuan Axcel, tadi Nona Sora menitipkan Anda pada saya. Berpesan kalau nanti Tuan pingsan, saya harus pastikan Tuan baik-baik saja dan mengantar Tuan pulang ke rumah. Saya nggak nyangka ternyata tebakan Nona kecil itu benar. Kalau Tuan masih mau tinggal di sini juga boleh."
Axcel masih memijat keningnya, kepalanya benar-benar pusing. Ia menanyakan sebenarnya apa yang terjadi? Apakah dirinya pingsan begitu lama? Yang diingat Axcel, dia tertidur ketika mengobrol dengan Sora, setelah itu ia tak tahu apa-apa. Nampaknya Manajer San pun bingung dengan perkataan Axcel dan menganggap Axcel-lah yang sedang kebingungan.
Manajer San mengatakan kalau sebelum Axcel pingsan, ia sempat duduk bergabung di meja nomor 10, minum dengan wanita-wanita cantik. Tapi entah mengapa tiba-tiba pingsan di pelukan salah satu dari mereka.
"Oh... Aku paham sekarang. Paman, tolong panggilkan taksi. Ini gesek kartu ini aja, total semua tagihan termasuk buat tipnya juga. Saya kehabisan uang tunai, Paman."
Manajer San menolak kartu debit Axcel dan menyampaikan kalau tadi Axcel sudah melunasi tagihan ruangan dan juga memberikan tip tunai yang terlalu banyak. Bahkan tadi Sora juga sudah memberikan deposit untuk memesan ruangan VIP semalam, untuk berjaga-jaga kalau Ino tak ingin pulang.
-----
"Selamat malam, Tuan. Sesuai titik pengantaran ya... Tolong pakai sabuk pengamannya. Kita akan berkendara dengan aman. Selamat menikmati perjalanan bersama kami, Auto Car Bot."
Axcel tak menanggapi ocehan robot pengemudi yang menawari layanan ini-itu. Axcel hanya mengenakan sabuk pengaman karena robot itu terus memperingatkannya sepanjang perjalanan. Axcel baru ingat kalau membawa ponselnya di tas. Setelah membukanya, Axcel baru melihat pesan suara yang dikirim Sora.
Sora hanya mengatakan kalau dirinya harus segera pulang karena ketahuan bolos kuliah dan mungkin saja orang tuanya juga sudah tahu kalau ia pergi ke cafe bersama dirinya.
"Entah kamu Ino atau Axcel, kalau besok kamu nggak bisa hubungi aku, itu artinya aku sudah tenang di tempatku. Wasiatku adalah carilah kawan baru selain aku."
Axcel menghela napas lelah. Entah apa yang sedang Sora rencanakan sekarang. Tak mungkin orang tuanya tega menghukum Sora berlebihan, apalagi Sora anak gadis satu-satunya.
Axcel mengira hal ini akan dijadikan Sora untuk alasan kabur dari misi mereka berdua. Sebelum melempar ponselnya kembali ke dalam ranselnya, Axcel sempat meninggalkan pesan untuk Sora. Ia akan menunggunya di taman belakang kampus setelah makan siang.
Dengan langkah gontai, Axcel menyeret ranselnya masuk ke rumah. Sekarang sudah hampir tengah malam. Axcel pikir semua orang sudah tidur kecuali Pak Vino, satpam rumah. Tapi saat ia membuka pintu, lampu utama ruang tamu langsung menyala. Nyonya Evelyn masih terjaga, menanti Axcel pulang.
Biasanya Nyonya Evelyn memang tak pernah melarang Axcel pulang larut malam. Tapi karena ada notifikasi tagihan Axcel untuk Moon Cafe di ponselnya, Nyonya Evelyn tampak begitu khawatir. Tak biasanya Axcel masuk ke cafe dewasa. Moon Cafe terkenal sebagai klub malam yang berkedok sebagai cafe. Sebagai penerus Pierce Group satu-satunya, mengharuskan Nyonya Evelyn ekstra hati-hati dalam menjaga Axcel.
"Ada apa? Kenapa kamu habisin uang di Moon Cafe? Kamu tahu kan reputasi Moon Cafe di kota ini? Ada apa? Kenapa ke sana? Tempat itu berbahaya buatmu, Cel."
Axcel melempar tubuhnya ke sofa, berseberangan dengan Nyonya Evelyn. Axcel bingung harus menanyakannya dari mana dulu. Kalau ia bercerita tentang kebiasaan gelap Selena, apa ibunya itu akan tahan mendengarnya? Atau jangan-jangan orang tuanya sudah tahu semua itu? Mengingat bagaimana Nyonya Evelyn memperingatkannya untuk tidak datang kembali ke Moon Cafe, seolah-olah Beliau sudah tahu lebih banyak daripada rumor yang tersebar di kota.
Sebelum-sebelumnya Axcel juga pernah menanyakan tentang Selena, tapi Nyonya Evelyn enggan bercerita apa pun. Bahkan Tuan Pierce, ayahnya sendiri, selalu memarahi Axcel dan menyuruhnya untuk diam selamanya.
Setelah kepergian Selena, memang sikap Tuan Pierce sedikit berubah pada Axcel. Beliau jadi mudah emosi dengan Axcel dan sering mengatakan, "Lebih baik kamu diam selamanya, karena sejak awal kamu juga sudah memilih untuk diam."
Axcel yang masih kecil tentunya tak paham dengan perkataan ayahnya yang selalu tak ingin menatapnya langsung. Hingga saat Axcel tumbuh remaja, ia selalu merasa ayahnya benci padanya dan ia selalu membuat kecewa ayahnya, meskipun Axcel juga tak yakin dengan apa yang ia perbuat sebelumnya. Sebelum Tuan Pierce menghembuskan napas terakhir, beliau sempat mengatakan kalau Axcel harus bisa menggantikannya dan melindungi Mamanya, karena ia kini telah dewasa dan jangan lagi diam. Tumbuhlah jadi anak yang pemberani sebagaimana mestinya.
"Axcel ke sana sama Sora, Ma... Sora dapat undangan pesta ulang tahun di sana, dia takut datang sendirian. Axcel cuma nemenin aja kok. Axcel capek banget, Ma... Mama juga pasti capek habis seharian kerja. Gimana kalau kita lanjut ngobrol besok, Ma? Ada yang pengen Axcel tanyain."
Nyonya Evelyn sebenarnya tak bisa mempercayai Axcel dengan mudah. Pasti ada yang disembunyikan Axcel. Nampak wajahnya yang lelah dan hilang semangat, pasti ada hal yang terjadi dengan Axcel sewaktu di Moon Cafe. Tapi Nyonya Evelyn harus bersabar menunggu esok dan mengizinkan Axcel beristirahat terlebih dahulu.
Tak... tak... tak... tak...
Suara detikan jam dinding masih saja mengganggu pendengaran Axcel. Itu artinya Axcel belum juga bisa beristirahat. Matanya terpejam, tapi pikirannya terus memikirkan tentang Selena dan kembali mengingat semua pengabaian dari ayahnya.
Penyesalan mendalam terus merongrong hati Axcel. Ingin kembali memutar waktu dan memperbaiki semua. Andai ia bisa menjelajahi waktu, ia ingin kembali ke masa-masa Selena meninggalkannya, hari di mana Axcel juga kehilangan ingatan.
Axcel ingin mengingat semua hanya agar bisa menebus kesalahan yang mungkin telah menyakiti banyak orang, termasuk Selena. Sebenarnya apa yang telah dirinya lakukan...? Axcel memukul-mukul kepalanya frustrasi, lalu membenamkan kepalanya ke bawah bantal agar suara teriakan frustrasinya tak terdengar hingga keluar.
"Axcel... Kenapa mukamu berantakan banget? Kurang tidur kah? Hari ini nggak usah kuliah, istirahat dulu. Nanti siang Mama ajak perawatan biar rileks. Stres banget Mama lihat kamu kayak gini, Nak."
Axcel duduk di kursi sebelah Mamanya untuk sarapan. Wajahnya memang pucat dan tak bersemangat. Meskipun sudah berendam lama, tetap saja tak bisa menyegarkan dirinya. Ia memang tak ingin kuliah karena sudah hilang semangat sedari kemarin, tapi ia perlu menemui Sora.
Axcel tak merelakan Sora yang akan menyerah begitu saja. Ia sudah membayar mahal untuk jasanya, kalau Sora mundur berarti ia harus membayar kompensasinya. Dan tentang menikahi Sora jika gagal misi, itu ternyata benar-benar akan diterapkan Axcel. Bukan karena ia menaruh hati pada Sora, tapi ia akan menjadikan Sora sebagai pawang Ino agar tak mudah muncul lagi. Axcel benar-benar serius dengan hal itu. Baginya urusan cinta itu belakangan, prioritas Axcel adalah segera menggantikan Nyonya Evelyn tanpa gangguan Ino.
"Ma... Aku udah dewasa, apa Mama bisa ceritakan tentang Kak Selena? Kenapa Kak Selena ninggalin kita? Apa itu semua karena kesalahanku di masa lalu? Tapi kenapa aku nggak bisa ingat apa-apa? Apa aku..."
TAK!
Nyonya Evelyn menaruh kasar garpu yang ia gunakan ke meja dan menghasilkan suara nyaring yang merusak suasana. Bahkan Axcel kaget dan menghentikan pertanyaannya. Nyonya Evelyn meminta Axcel untuk tidak mengungkit lagi mengenai Selena. Bukankah mereka sudah setuju untuk tidak mengingat lagi semuanya dan memulai kehidupan yang baru, seperti yang diwasiatkan Tuan Pierce?
Melihat Mamanya yang mendadak emosi membuat hati nya semakin perih. Jika Mamanya selalu setuju dengan wasiat Ayahnya, itu berarti Nyonya Evelyn juga memandang Axcel adalah orang pertama yang patut disalahkan. Hal itu semakin memperkuat dugaan Axcel kalau dirinyalah yang membuat Selena meninggal dunia.
"Jadi... Menurut Mama, aku ini orang yang udah mencelakakan Kak Selena, Ma? Sama kayak Papa? Kenapa Ma... Kenapa Mama nggak terus terang aja sama Axcel? Apa karena cuma Axcel harapan Mama satu-satunya buat warisi perusahaan, Ma? Axcel lebih pilih habisin hidup di dalam penjara daripada harus dirongrong rasa bersalah kayak gini, Ma! Axcel memang lupa, tapi rasa sakit ini terus nyiksa Axcel, Ma! Apa Mama sama Papa lebih mentingin perusahaan?!"
PLAK!
Perkataan Axcel yang membara terhentikan oleh tamparan keras di pipi kirinya. Nyonya Evelyn tak menyangka paginya akan sekacau ini. Yang lebih ia sesali lagi, mengapa ia tak bisa menahan amarahnya dengan baik dan malah menyakiti putranya.
Axcel pergi dengan wajah yang sangat kecewa tanpa berkata sepatah kata pun. Sedangkan Nyonya Evelyn terduduk lemas di kursinya lagi, memandang nanar ke tangan yang sudah menampar Axcel. Ini memang pertama kalinya beliau memukul Axcel. Kali ini hatinya kembali hancur. Sempat ia bersyukur dengan hilangnya ingatan Axcel, berpikir bisa menghapus semua masa lalu kelam dan membenahi hatinya yang telah hancur demi masa depan Axcel.
"Hati ibu mana yang bisa kehilangan anaknya... Ibu mana yang bisa hidup dan bernapas setelah ditinggal anaknya selamanya... Mama tak akan pernah lupa dan tak akan bisa melupakanmu, Selena. Semua ini salah Mama... Mama yang jahat... Mama yang salah... Aaaaa!"
PYAR! PYAR! PLANG!
"Nyonya... Nyonya! Pak Mark, tolong Nyonya, Pak!"
Benar... Beliau kehilangan kesadaran setelah tenggelam kembali ke trauma masa lalu gelap yang tak kasat mata terus mencekik lehernya.
**
WADUH KIRAVERS! RAHASIA KELUARGA PIERCE MAKIN PANAS DAN MENYAKITKAN! 😭💔
Tamparan keras Nyonya Evelyn akhirnya pecah juga! Ternyata bukan cuma Axcel yang tersiksa, tapi Sang Mama juga menyimpan penyesalan yang mendalam atas kematian Selena sampai pingsan dan mengamuk! Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu sampai Tuan Pierce menyuruh Axcel diam selamanya?!
Gimana nasib Axcel yang pergi dengan hati hancur? Dan apakah Sora bakal beneran "tenang di tempatnya" gara-gara dimarahin orang tuanya?! 😱💥
Yuk, tumpahkan teori gokil dan rasa sesak kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇
Jangan lupa ya Kiravers:
TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung Axcel yang lagi hancur banget hatinya!
SIMPAN NOVEL INI DI LIBRARY (TAP/BOOKMARK) kalian biar nggak ketinggalan Notifikasi Bab 26!
FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!
Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥