Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Lamaran dan Batas Waktu Enam Bulan
Di sisi lain, Bei Mingye hanya berdiri diam sambil menatap Chongyue dengan tatapan penuh pertimbangan. Pikirannya tenggelam dalam berbagai kemungkinan.
Chongyue berbalik. Begitu menyadari Bei Mingye sedang menatapnya tanpa berkedip, dia mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa?" tanyanya sambil menatap balik pria itu dengan heran.
"Aku sedang memikirkan siapa sebenarnya dirimu, sampai mampu menguasai dua elemen spiritual yang saling bertolak belakang: kegelapan dan cahaya," jawab Bei Mingye dengan nada datar.
Awalnya, dia menduga garis keturunan orang tua kandung Chongyue kemungkinan berasal dari Benua Timur. Namun, kini dia menepis dugaan itu sepenuhnya.
Sepanjang sejarah Benua Timur, belum pernah ada seorang pun selain dirinya yang memiliki bakat elemen kegelapan dan cahaya sekaligus.
Chongyue mengerutkan kening. "Apa sebenarnya yang dimaksud dengan elemen cahaya?"
Bukannya dia benar-benar tidak tahu. Hanya saja, pemilik tubuh ini sebelumnya memang tidak memiliki bakat elemen apa pun sehingga tidak pernah mempelajari hal-hal semacam ini.
Ditambah lagi, selama sebulan terakhir dia sepenuhnya berfokus melatih ketahanan fisiknya dan hanya keluar dua kali dalam keadaan terburu-buru.
"Elemen cahaya merupakan elemen penyembuhan abadi." Bei Mingye menjelaskan dengan tenang. "Tanpa membutuhkan bantuan pil penyembuh, luka apa pun dapat dipulihkan hanya dengan mengandalkan energi spiritualnya."
"Benarkah?" Mata Chongyue langsung berbinar. "Berarti aku tidak membutuhkan elemen kayu lagi?"
"Benar." Bei Mingye mengangguk pelan sebelum kembali mengingatkannya, "Namun proses penyembuhan menggunakan elemen cahaya menguras energi spiritual dalam jumlah yang sangat besar. Dengan tingkat kultivasimu saat ini, apakah kau mampu menyembuhkan luka goresan belati saja masih menjadi tanda tanya."
Dia mengembuskan napas pelan. "Karena itu, sebelum tingkat kultivasimu cukup tinggi, kau tetap harus mempelajari ilmu alkimia."
Mendengar kalimat terakhir, Chongyue mengepalkan jemarinya erat.
Jika tingkat kultivasinya saat ini belum memadai, dia hanya perlu berlatih lebih keras lagi.
"Nona Muda!" Pria tua itu melangkah dari balik punggung Bei Mingye dan menghampiri Chongyue dengan ekspresi yang tampak sangat serius.
Melihatnya yang tadi bertingkah konyol kini tiba-tiba bersikap begitu formal, sudut bibir Chongyue berkedut pelan.
Dia melirik serpihan pilar yang hancur akibat tindakannya tadi sebelum menatap pria tua itu.
"Tuan Tua, apa yang ingin kau sampaikan?" tanyanya dengan sedikit rasa bersalah.
Melihat sikap Chongyue yang tetap sopan meskipun baru saja menghancurkan salah satu pusaka di ruangan itu, rasa simpati pria tua itu kepadanya seketika bertambah besar.
"Nona Muda, berdasarkan hasil pengujian tadi, kau telah berhasil membangkitkan bakat elemen cahaya dan api di dalam tubuhmu." Dia menatap Chongyue dengan serius sebelum melanjutkan, "Adapun elemen kegelapan di dalam dirimu sepertinya masih ditekan oleh sesuatu sehingga belum bangkit sepenuhnya. Namun, saya yakin, seiring berjalannya waktu, elemen kegelapan itu pasti akan bangkit dengan sempurna!"
Meski salah satu elemennya masih ditekan, Chongyue sama sekali tidak merasa kecewa.
Dia justru membungkuk sedikit. "Terima kasih banyak atas petunjukmu, Tuan Tua.”
"Nona Muda, maafkan kelancangan saya." Pria tua itu menatap Chongyue dengan sungguh-sungguh sebelum berkata, "Keberadaan elemen kegelapanmu bisa saja diperlihatkan kepada dunia, tetapi elemen cahayamu harus dirahasiakan rapat-rapat!"
Setelah memberikan peringatan itu, dia segera berbalik membelakangi mereka dan mulai membersihkan serpihan pilar yang berserakan.
"Hari sudah semakin larut. Sebaiknya kalian berdua segera kembali," ujarnya tanpa menoleh.
Chongyue mengangguk kecil. "Kalau begitu, Tuan Tua, kami berdua pamit terlebih dahulu."
Setelah berpamitan, dia melangkah keluar dari aula pengujian bersama Bei Mingye.
Tepat ketika keduanya menginjakkan kaki di ambang pintu, hembusan angin malam berembus lembut menerpa wajah mereka.
Chongyue mendongak dan memandangi hamparan langit malam yang bertabur bintang. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
Langit malam ini begitu mirip dengan langit pada malam ketika dirinya mengembuskan napas terakhir di kehidupan sebelumnya.
"Ah Yue, kau tidak boleh membiarkan orang lain mengetahui bahwa kau memiliki bakat elemen cahaya." Bei Mingye menatap Chongyue dengan sorot mata yang sangat serius.
Chongyue menoleh kepadanya. "Apakah memiliki bakat elemen cahaya benar-benar sangat berbahaya di dunia ini?"
Bukan hanya pria tua tadi yang menasihatinya. Kini, Bei Mingye juga menekankan hal yang sama.
"Sangat berbahaya." Bei Mingye mengangguk serius. "Tanpa membutuhkan pil penyembuh, kau mampu memulihkan luka apa pun hanya dengan mengandalkan kekuatan spiritualmu. Jika para penguasa di benua ini mengetahuinya, kau akan menjadi sasaran perebutan mereka."
Dia menatap Chongyue lekat-lekat sebelum memperingatkannya sekali lagi. "Karena itu, sebelum kau memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi dirimu sendiri, elemen cahayamu tidak boleh diketahui siapa pun!"
Menatap raut wajah Bei Mingye yang begitu serius, Chongyue terdiam sesaat. Kemudian, senyum jahil perlahan muncul di bibirnya.
"Bei Mingye, apakah kau sedang mengkhawatirkan keselamatanku?" tanyanya sambil memiringkan kepala sedikit.
Melihat ekspresi serius di wajah tampan pria itu, dia hanya ingin sedikit menggodanya.
Meskipun pada pertemuan pertama pria ini berniat membunuhnya, kini dia justru berkali-kali membantunya.
"Benar." Di bawah tatapan Chongyue, Bei Mingye menjawab dengan nada yang sangat lembut.
"Ugh..." Chongyue langsung terdiam dengan wajah kaku.
Dia hanya melontarkan pertanyaan itu sebagai candaan semata!
Namun, sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Bei Mingye tiba-tiba menatapnya dengan serius.
"Ah Yue, bagaimana kalau kau menjadi Permaisuriku?" tanyanya.
Mendengar lamaran yang begitu tiba-tiba, Chongyue tercengang.
Dia baru saja hendak mengatakan agar pria itu tidak berbicara sembarangan. Namun ketika melihat keseriusan di wajah Bei Mingye, senyum di bibirnya perlahan memudar.
"Bei Mingye, apakah kau memintaku menjadi Permaisurimu karena aku memiliki bakat elemen cahaya?" tanyanya dengan nada dingin.
Sepasang mata abu-abu keunguan Bei Mingye menyipit tajam. Dia menatap Chongyue beberapa saat sebelum menjawab dengan suara tenang, "Ah Yue, berikan aku waktu enam bulan. Aku akan membuktikan kepadamu apakah aku menginginkan dirimu sebagai pribadimu, atau hanya menginginkan bakat kekuatan yang kau miliki."
Sebenarnya, sejak pertama kali melihat gadis itu di pegunungan, dia sudah menaruh ketertarikan yang mendalam kepadanya.
Itulah sebabnya, setelah kembali ke ibu kota, dia mengerahkan jaringan intelijen rahasianya untuk diam-diam mencari keberadaan Chongyue.
"Enam bulan?" Chongyue mengulanginya sambil tersenyum tipis.
Dia menatap lurus ke dalam mata Bei Mingye sebelum berkata, "Kalau begitu, aku menunggu kau membuktikannya."
Di dalam hatinya, dia sebenarnya tahu bahwa Bei Mingye bukanlah pria yang berpikiran picik seperti itu.
"Mari kita pergi." Bei Mingye menggenggam erat jemari Chongyue, lalu menuntunnya menyusuri lorong batu berukir di bagian luar.
Setibanya kembali di halaman kediaman yang mereka singgahi tadi siang, Bei Mingye masih menggenggam tangan Chongyue saat menuntunnya memasuki aula utama.
Begitu melewati ambang pintu, pandangan mereka langsung tertuju pada seorang anak kecil berusia sekitar enam atau tujuh tahun yang sedang duduk tenang di atas anak tangga batu.
Anak itu kini tampak sangat menawan.
Rambut pirang keemasannya terlihat indah dan berkilau. Sepasang mata hijaunya jernih, wajah mungilnya tampan sekaligus menggemaskan, sementara kulit putihnya tampak bersih dan terawat.
Dengan jubah putih bersih yang diterpa cahaya rembulan, penampilannya benar-benar menyerupai seorang pangeran kecil yang keluar dari dalam buku dongeng.
"Apakah kau... Huang?" tanya Chongyue sambil membelalakkan mata, seolah tidak percaya pada penglihatannya sendiri.
"Benar." Huang mengangguk dengan patuh. "Tuan, ini memang aku."
Chongyue terdiam.
Sialan!
Penampilan anak ini benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan saat masih menjadi pengemis lusuh tadi siang!
Rambut kusut yang sebelumnya menutupi wajahnya kini berubah menjadi rambut pirang keemasan yang berkilau, sangat serasi dengan sepasang mata hijaunya.
Bahkan Bei Mingye yang berdiri di samping Chongyue ikut mengernyit, menandakan keterkejutan yang sama.
"Tuan, tadi aku mengira kau tidak akan kembali menjemputku." Huang menatap Chongyue dengan mata hijau jernihnya.
Setelah dimandikan dan dirawat oleh para pelayan, dia memang belum bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkannya.