Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana galeri Master Chef kembali menjadi sangat sunyi dan mencekam setelah waktu memasak benar benar dihentikan.
Para juri berdiri di depan meja podium dengan wajah yang sangat datar dan menakutkan.
"Kalian sudah melewati salah satu tantangan paling menguras emosi dan mental di galeri ini," ucap Chef Arya memecah keheningan.
"Bekerja sama dengan orang lain di bawah tekanan waktu yang sangat sempit adalah makanan sehari hari di dapur restoran."
"Dan hari ini kami melihat ada banyak sekali keegoisan, kepanikan, dan komunikasi yang sangat berantakan," tambah Chef Bram menyindir tajam.
Tatapan Chef Bram menyapu seluruh meja peserta dan berhenti tepat di meja milik Rina dan Danang.
Rina langsung menundukkan kepalanya dalam dalam untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes lagi.
"Rina Anatasya dan Danang, maju ke depan membawa piring kalian sekarang juga," panggil Chef Renata dengan nada dingin.
Danang mengangkat piring lebar itu dengan tangan yang sedikit gemetar dan berjalan perlahan menuju podium.
Rina mengekor di belakang Danang dengan langkah gontai seperti seseorang yang sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Brak.
Danang meletakkan piring itu di atas meja penjurian dan segera menarik tangannya ke belakang punggung.
Ketiga juri menatap hidangan di atas piring itu dengan raut wajah sangat jijik dan kecewa.
Nasi kuning yang seharusnya berdiri tegak berbentuk kerucut kini hancur berantakan menyerupai gundukan lumpur kuning yang lembek.
"Tolong jelaskan padaku, benda mengerikan apa yang kalian bawa ke depan meja penjurian ini?" tanya Chef Arya dengan suara bariton yang mengancam.
"I-ini Nasi Tumpeng Nusantara dengan lauk ayam goreng dan telur dadar iris, Chef," jawab Danang terbata bata.
"Nasi tumpeng katamu? Ini lebih mirip bubur bayi yang gagal dicetak oleh anak TK," kritik Chef Bram tanpa ampun.
"Bagaimana bisa nasi ketan kuning kalian menjadi selembek dan sehancur ini?"
Danang buru buru menunjuk ke arah Rina yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan menuduh.
"Ini murni kesalahan Rina, Chef. Dia yang menakar air kaldu santannya terlalu banyak saat giliran pertamanya masuk tadi."
Mendengar tuduhan tidak berdasar itu, Rina langsung mengangkat wajahnya dengan mata memerah karena marah.
"Itu bohong besar Chef! Aku sudah menakar santannya sesuai buku resep," bantah Rina membela diri dengan berani.
"Tapi Mas Danang yang terus berteriak menyuruhku menuangkan semua sisa santan di panci agar nasinya gurih."
"Tutup mulutmu Rina, kau mencoba melempar kesalahanmu padaku karena kau panik kan?" balas Danang tidak mau kalah.
Aldo yang melihat pertengkaran memalukan itu dari barisannya hanya bisa mengepalkan tangan kuat kuat.
Dia sangat benci melihat laki laki pengecut yang selalu menyalahkan wanita untuk menutupi kebodohannya sendiri.
"Cukup! Diam kalian berdua!" bentak Chef Arya memukul meja penjurian dengan sangat keras.
Suara bentakan itu sukses membuat Danang dan Rina langsung menutup rapat rapat mulut mereka karena terkejut.
"Saling menyalahkan di depan juri tidak akan merubah fakta bahwa makanan kalian ini adalah sebuah sampah," ucap Chef Arya telak.
Chef Renata mengambil garpu dan mencungkil sedikit nasi lembek itu lalu mencicipinya.
Wajah cantik Chef Renata langsung berkerut tidak suka saat mengunyah nasi tersebut.
"Rasanya sangat hambar, air santan yang terlalu banyak merusak konsentrasi bumbu kunyit dan serainya."
"Bahkan ayam goreng kalian juga sangat kering dan keras seperti batu kerikil," tambah Chef Bram yang ikut mencicipi.
"Kerja tim kalian benar benar nol besar, kalian berdua hanya sibuk dengan ego masing masing tanpa komunikasi yang baik."
"Kembali ke meja kalian, nasib kalian sudah bisa dipastikan akan sangat buruk hari ini," usir Chef Arya mengakhiri penjurian.
Rina berbalik dan berjalan kembali ke mejanya sambil menangis terisak isak meratapi nasibnya yang sial.
Danang berjalan di belakangnya sambil terus menggerutu pelan mengkambing hitamkan Rina atas kegagalan mereka.
"Panggilan selanjutnya, Kevin Wijaya dan Leo, silakan maju ke depan," panggil Chef Bram.
Kevin dan Leo saling melakukan tos tangan sebelum membawa piring mereka ke meja penjurian dengan sangat angkuh.
Mereka meletakkan piring berwarna hitam legam itu di depan juri dengan senyum penuh kemenangan.
"Ini adalah Chicken Roulade isi bayam dan jamur dengan saus cream cheese, Chef," jelas Kevin dengan gaya elegannya.
"Potongan ayam kalian sangat rapi dan tingkat kematangannya terlihat pas," puji Chef Renata melihat presentasi makanan tersebut.
Chef Arya memotong gulungan daging ayam itu dan mencelupkannya ke dalam saus putih kental di sebelahnya.
Dia mengunyah makanan itu cukup lama dengan wajah datar seperti biasanya.
Glek.
"Daging ayam ini sangat empuk, bumbu di dalamnya meresap sempurna dan sausnya melengkapi rasa gurihnya dengan baik," komentar Chef Arya.
"Terima kasih banyak Chef, ini adalah hasil kerja sama dua orang lulusan sekolah kuliner yang saling memahami," ucap Kevin menyombongkan diri.
Kevin sengaja melirik sinis ke arah meja Aldo saat dia mengucapkan kalimat kelas elit tersebut.
"Kalian memang punya teknik memasak yang sangat bagus untuk anak seusia kalian," puji Chef Bram.
"Kerja sama estafet kalian berjalan sangat mulus tanpa ada teriakan panik atau alat masak yang terjatuh."
Leo tersenyum lebar mendengar pujian itu. "Tentu saja Chef, kami terbiasa bekerja di dapur yang beradab dan teratur."
Namun wajah Chef Arya tiba tiba berubah menjadi sedikit dingin menatap kesombongan kedua pemuda kaya tersebut.
"Masakan kalian hari ini memang enak dan aman, kalian lolos untuk tantangan kali ini."
"Tapi ingat Kevin, kesombongan yang berlebihan akan menjadi pisau bermata dua yang siap menggorok lehermu sendiri suatu saat nanti."
Peringatan tajam dari Chef Arya itu membuat senyum di wajah Kevin sedikit memudar meski dia tetap mengangguk kaku.
"Silakan kembali ke meja kalian dan bergabunglah dengan tim yang aman," perintah Chef Renata.
Kevin dan Leo berjalan kembali ke meja mereka dengan langkah bangga dan dada membusung.
Mereka merasa sudah membuktikan kasta mereka sebagai peserta paling kuat dan tidak terkalahkan di galeri.
Sekarang tibalah momen yang paling ditunggu tunggu sekaligus paling menegangkan bagi Aldo dan Jojo.
"Panggilan terakhir, meja nomor dua belas. Aldo Raditya dan Jojo, bawa makanan kalian ke depan," panggil Chef Arya dengan nada berat.
Tubuh Jojo langsung gemetar hebat mendengar namanya dipanggil oleh juri paling menakutkan di galeri tersebut.
"A-aku takut Kak Aldo, juri pasti akan langsung mengusirku karena menjatuhkan telur puyuh tadi," bisik Jojo dengan mata berkaca kaca.
"Tarik nafasmu dalam dalam Jojo, berdirilah di belakangku dan biarkan aku yang menjawab semua pertanyaan mereka," ucap Aldo menenangkan.
Aldo mengangkat piring keramik lebar itu dengan kedua tangan dan berjalan dengan langkah sangat tenang menuju podium.
Jojo berjalan mengekor di belakang Aldo dengan bahu yang merosot turun dan kepalanya menunduk sangat dalam.