NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Matahari siang menyengat begitu terik saat mobil sedan milik Bian berbelok memasuki kompleks perumahan elit. Di dalam mobil, hening terasa begitu menekan. Usai kehancuran di swalayan dan kaburnya seluruh karyawan, Bian mengemudikan mobilnya dengan pikiran kosong, sementara Salma tak henti-hentinya menangis sesenggukan meratapi nasib uang tabungannya yang melayang.

​Mobil itu akhirnya berhenti di depan gerbang besi menjulang tinggi milik rumah Husna.

​Namun, baru saja Bian hendak menekan klakson, matanya mendadak membelalak sempurna. Di luar pagar, tepat di atas lantai marmer halaman luar yang bersih, berjejer rapi empat buah koper besar beserta puluhan kardus dan kantong plastik berisi seluruh pakaian, barang-barang pribadi, serta perlengkapan milik Bian dan Salma.

​"Lho?! Mas! Itu... bukannya koper-koper kita yang ada di dalam paviliun?!" jerit Salma kaget, langsung menunjuk barang-barang tersebut dengan mata membelalak tak percaya.

​Darah Bian seketika mendidih sampai ke puncak kepala. Dengan amarah yang meluap-luap, Bian membanting pintu mobil dan melangkah lebar menghampiri pagar, disusul Salma yang berlari di belakangnya dengan raut wajah murka.

​Pak Agus satpam senior yang sudah bekerja belasan tahun di rumah itu berdiri siaga di balik pintu pagar besi yang terkunci rapat dari dalam.

​"Pak Agus! Apa-apaan ini?!" bentak Bian kasar, menunjuk barisan koper di atas lantai. "Kenapa semua barang-barang saya dan Salma ada di luar pagar begini?!"

​Salma yang sudah hilang kesabaran langsung menyembur Pak Agus dengan kata-kata pedas. "Eh, Satpam kurang ajar! Kamu gila ya?! Berani-beraninya kamu ngeluarin barang-barang saya sama Mas Bian ke pinggir jalan begini. Kamu pikir kita ini gelandangan, hah?! Buka pagarnya sekarang."

​Pak Agus menatap Salma dan Bian dengan raut wajah tenang tanpa rasa takut sedikit pun. "Maaf, Pak Bian, Bu Salma. Saya cuma menjalankan perintah resmi dari pemegang kekuasaan rumah ini."

​"Perintah dari siapa?! Husna?!" teriak Bian dengan urat leher menegang. "Pak Agus, kamu ingat ya! Saya ini masih suami sah dari Mbak Husna! Saya masih berhak tinggal di rumah ini! Lagipula barang-barang ini harusnya ada di paviliun belakang, bukan dibuang ke luar pagar kayak sampah begini! Apa maksudnya semua ini?."

​"Maksudnya sangat jelas, Mas. Kamu dan wanita itu resmi diusir dari tanah keluarga ini."

​Sebuah suara dingin, tajam, dan penuh wibawa terdengar membahana dari arah halaman dalam.

​Pintu utama rumah mewah itu terbuka. Devan putra sulung Bian dan Husna melangkah keluar seorang diri dengan tenang. Tanpa didampingi Husna maupun Deka, Devan berjalan santai mendekati pagar besi, menatap ayahnya dan Salma dengan pandangan mata yang begitu tajam, dingin, dan penuh rasa muak.

​Sebenarnya, aksi pengusiran dramatis di siang hari ini memang sudah dirancang matang-matang oleh si kembar, Devan dan Deka. Tadi pagi, usai pulang dari sekolah, Deka sengaja mengeksekusi peran khususnya: membujuk Bunda Husna untuk pergi keluar rumah. Deka mengandalkan jurus andalannya, yaitu mengajak Bunda jajan dan kulineran siang hal yang paling tidak bisa ditolak oleh Husna jika anak remajanya yang manja sudah meminta.

​Dengan begitu, Husna bisa menikmati waktu luang bahagia bersama Deka di luar, tanpa perlu mengotori tangannya atau menguras emosi menghadapi drama pengusiran Bian dan Salma. Sementara Devan, bertugas menjadi eksekutor tunggal di rumah untuk mengeksekusi pembersihan paviliun secara total.

​Melihat anak sulungnya berdiri di sana seorang diri dengan tatapan meremehkan, amarah Bian makin menjadi-jadi. Sebagai seorang ayah, ia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan istri mudanya.

​"Devan!" bentak Bian, menunjuk wajah putra sulungnya dari balik pagar. "Kurang ajar kamu ya. Tatapan mata kamu ke Ayah itu tidak sopan sama sekali! Mana Bunda kamu?! Mana Deka?, Kamu yang suruh satpam buang barang-barang Ayah ke luar?"

​Devan berhenti tepat di balik pintu pagar. Ia bersedekap dada, menyandarkan tubuhnya santai namun penuh tekanan aura yang tak tergoyahkan.

​"Bunda lagi pergi jajan kulineran sama Deka di luar, Yah. Deka yang ngajak dan Ayah tahu sendiri kan Bunda paling gak bisa nolak kalau di antara kami ngajak jajan?" jawab Devan datar dengan senyum miring, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di suaranya. "Mumpung Bunda lagi seneng-seneng di luar dan gak ada di rumah, Devan yang ambil alih. Jadi jawaban Devan iya, Devan yang perintah Pak Agus buat kumpulin sampah-sampah Ayah di paviliun dan buang ke luar pagar. Kenapa? Ayah keberatan?"

​"Devan! Ayah ini orang tua kamu!" pekik Bian dengan napas memburu, matanya memerah menahan malu dan murka. "Berani-beraninya kamu usir Ayah kamu sendiri dari rumah ini! Kamu tahu hukum tidak?! Ayah ini masih suami sah Ibu kamu! Paviliun belakang itu masih bagian dari rumah ini dan masih harta bersama."

​"Harta bersama?" Devan tertawa pendek sebuah tawa dingin yang terdengar begitu meremehkan. "Ayah... tolong jangan bikin Devan makin malu punya Ayah seperti Ayah. Mau Devan ingatkan status hukum tanah dan bangunan rumah ini?"

​Devan melangkah satu senti lebih dekat ke pagar, menatap langsung ke dalam manik mata Bian.

​"Sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan rumah utama beserta paviliun belakang ini seratus persen atas nama Bunda Husna yang dulu diwariskan langsung dari kakek sebelum Bunda menikah sama Ayah. Artinya, properti ini adalah harta bawaan murni milik Bunda, bukan harta bersama," tegas Devan dengan ucapan yang sangat tertata dan telak. "Jadi secara hukum, Bunda punya hak penuh untuk mengusir siapa pun yang tidak berhak berada di atas tanahnya. Termasuk Ayah dan wani, maksud Devan, istri muda Ayah ini."

​Salma yang tidak terima langsung menyela dengan nada melengking. "Eh, Devan! Kamu itu masih anak-anak ya, tidak usah sok tahu urusan orang tua. Lagipula Mas Bian itu Ayah kandung kamu! Mana ada anak durhaka yang tega usir ayahnya sendiri demi belain ibunya?!"

​Devan mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Salma. Tatapan mata Devan yang amat tajam membuat Salma seketika tertahan, merinding dingin.

​"Tolong ya, Tante..." panggil Devan dengan nada bicara yang sangat sopan namun sarat akan hinaan mendalam. "Tante tidak usah ikut campur atau bawa-bawa istilah anak durhaka di sini. Tante itu cuma orang asing yang datang merusak rumah tangga orang tua saya, lalu numpang hidup di paviliun belakang rumah Ibu saya."

​"Kamu...!" Salma terperanjat, dadanya naik turun menahan malu dan amarah.

​"Kenapa? Tante mau protes?" potong Devan cepat, memberikan skakmat tanpa ampun. "Tante datang ke sini sok gaya, pakai baju mewah, belanja ini itu pakai uang talangan toko. Tapi giliran nanti toko swalayan Ayah Saya bangkrut, Tante pasti akan menjerit-jerit minta pisah, kan? Tante itu cintanya sama Ayah saya, atau cuma cinta sama harta ilusi Ayah saya yang sebenarnya hasil memeras Ibu saya selama berpuluh-puluh tahun?"

​Skakmat!

​Wajah Salma seketika merah padam lalu berubah pucat pasi. Lidahnya kaku, tak mampu membalas sepatah kata pun. Semua rahasia dan kebusukan motifnya dikuliti habis oleh anak laki-laki yang baru beranjak dewasa itu di depan umum.

​Bian yang melihat istri mudanya dipermalukan semakin naik pitam. "Devan! Cukup! Jangan keterlaluan kamu sama Salma! Ayah yang beri kamu makan, Ayah yang biayai sekolah kamu dari kecil sampai besar! Mana rasa bakti kamu sama Ayah?!"

​Devan menatap ayahnya dengan pandangan mata penuh rasa kasihan yang menyayat hati.

​"Rasa bakti Devan dan Deka sudah habis sejak hari pertama Ayah membawa wanita ini masuk dan tinggal di paviliun belakang rumah Ibu," ujar Devan pelan, namun suaranya merasuk tajam ke sanubari Bian. "Ayah bilang Ayah biayai Devan? Ayah lupa ya, selama ini dari mana asal-usul modal toko swalayan Ayah? Dari aset dan sertifikat milik Bunda yang Ayah agunkan! Dari uang tabungan Bunda yang Ayah putar! Yang membesarkan Devan dan Deka itu keringat Bunda, bukan keringat dari hasil penipuan Ayah."

​Bian mematung. Kata-kata putra sulungnya bagaikan pisau tajam yang menguliti seluruh kesombongan yang tersisa di dalam dirinya.

​"Ambil koper-koper Ayah," ucap Devan dingin. "Bawa pergi istri muda Ayah ini. Silakan cari kontrakan sempit atau menginap di hotel pakai uang yang Ayah bangga-banggakan selama ini. Tapi ingat... jangan pernah coba-coba melangkah satu senti pun menembus pagar rumah Bunda lagi."

​"Devan! Buka pagarnya. Ayah mau bicara sama Ibu kamu! Devan!" teriak Bian histeris, memegang jeruji besi dan mengguncangnya kasar.

​Devan sama sekali tidak bergeming. Ia hanya berbalik badan dengan begitu tenang, menepuk bahu Pak Agus secara perlahan.

​"Pak Agus, kalau mereka masih berteriak atau membuat keributan di depan pagar dalam waktu lima menit, langsung telepon polisi saja ya," perintah Devan santai.

​"Siap, Mas Devan," jawab Pak Agus tegas.

​Devan melangkah pergi meninggalkan halaman depan, berjalan masuk ke dalam rumah mewah yang megah tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Pintu utama rumah tertutup rapat dengan suara dentuman mantap, mengunci rapat seluruh akses kehidupan mewah yang selama ini dinikmati Bian.

​Di dalam ruang tamu yang hening, Devan merogoh ponselnya dan membuat panggilan ke Deka. Begitu tersambung, terdengar suara tawa Deka dan obrolan santai Bunda di latar belakang.

​Devan menyunggingkan senyum puas. "Beres, Ka. Rumah sudah bersih dari sampah. Kamu sama Bunda puasin jajan kulinernya, nanti kalau udah kenyang baru pulang."

​Sementara di luar pagar, di bawah sengatan terik matahari siang, Bian dan Salma berdiri terpaku di antara barisan koper yang tergeletak di atas jalanan. Tidak ada lagi pangeran, tidak ada lagi nyonya besar. Yang tersisa hanyalah dua insan yang terusir, terhina dan resmi menjadi tunawisma di atas puing-puing keserakahan mereka sendiri.

1
falea sezi
🤣🤣 makanya uda punya istri cantik anak ganteng2 berulah sok pengen poligami🤣🤣😒
Nieta Poedjo
cepet sekali derita Bian
Thewie
hahah mampuslah kau bian.. gatal burung kau itukan. sok muda, sok kuat, sok kaya padahal nyatanya alaahhhhhhhh
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!