Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Baru di Balik Kelopak Mata
"Sekarang kamu boleh membuka matamu, Sayang," ucap Gabriel lembut di dekat telinga Amara, suaranya terdengar begitu sabar dan penuh antisipasi.
Amara, yang sejak tadi berjalan dengan kedua mata tertutup rapat atas permintaan suaminya, perlahan-lahan mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menerobos masuk menerpa kelopak matanya.
Begitu matanya terbuka sempurna, napas Amara seketika tercekat. Langkahnya terhenti total karena keterkejutan yang luar biasa.
Di hadapannya kini, terbentang sebuah taman belakang mansion yang telah disulap menjadi tempat yang bagaikan potongan surga dunia. Ribuan tangkai mawar putih dan merah muda berderet rapi di sepanjang jalan setapak, membentuk lorong bunga yang sangat indah.
Di tengah-tengah taman, berdiri sebuah gazebo kaca minimalis berdekorasi kain putih transparan, lengkap dengan kuda-kudaan kayu antik berukuran besar yang dihiasi pita-pita lembut—mengingatkan pada impian masa kecil yang pernah ia pendam dalam diam.
Amara menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru seketika menggenang di pelupuk matanya.
Gabriel yang berdiri tepat di belakangnya langsung melingkarkan kedua tangan kokoh di pinggang Amara, merengkuh tubuh istrinya dengan hangat dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
"Bagaimana?" bisik Gabriel lembut tepat di sisi telinganya. "Apakah ratu kecilku menyukai kejutan ini?"
Amara menggeleng pelan, lalu berbalik menghadap suaminya dengan isak tangis tertahan. Ia buru-buru meraih buku catatan kecilnya karena suaranya mendadak tercekat oleh kebahagiaan.
‘Ini... ini sangat indah, Gabriel,’ tulis Amara cepat dengan jemari yang bergetar hebat. ‘Aku... aku bahkan tidak pernah membayangkan tempat seindah ini ada di dunia nyata, apalagi khusus untukku.’
Gabriel membaca tulisan itu, lalu tersenyum hangat. Pria itu mengulurkan tangannya, menghapus lembut air mata yang menetes di pipi istrinya menggunakan ibu jarinya.
"Tidak ada kata tidak mungkin untukmu, Amara," bisik Gabriel penuh penekanan. "Semua masa lalu kelam di mana kau dikurung di kamar sempit sudah berakhir. Mulai hari ini, seluruh dunia milikku adalah duniamu juga."
Amara menatap lekat manik mata hitam pria yang kini menjadi suaminya itu. Rasanya begitu ajaib bagaimana seseorang yang dulunya ditakuti dunia, kini justru memperlakukannya seperti ratu yang paling diagungkan.
"Terima kasih..." ucap Amara terbata, memaksa pita suaranya bekerja melafalkan kata tulus itu tanpa bantuan buku catatan. "...terima kasih banyak, Gabriel."
Gabriel tersenyum lebar, tampak begitu terpesona setiap kali mendengar suara serak namun manis itu lolos dari bibir istrinya. Ia membawa Amara semakin erat ke dalam dekapannya.
"Sama-sama, Sayang," balas Gabriel lembut. "Sekarang, mari kita nikmati hari ini. Tidak ada beban, tidak ada rasa takut—hanya ada kita berdua."
Gabriel menuntun Amara melangkah masuk ke dalam gazebo kaca yang dipenuhi wangi mawar. Pria itu mendudukkan istrinya di sofa empuk berwarna putih bersih, lalu ikut duduk di sampingnya, mempersempit jarak hingga bahu mereka bersentuhan.
Dengan senyuman jail yang khas, Gabriel menatap Amara lekat-lekat, membiarkan manik matanya memantulkan wajah sang istri yang masih merona.
"Kalau begitu, beri aku ciuman," pinta Gabriel dengan nada santai namun penuh tuntutan manis.
Amara mengerjap kaget, kepalanya langsung mendongak dengan mata bulat yang membelalak lebar.
"Ha?" ucapnya tertahan, suaranya lolos begitu saja tanpa sempat berpikir untuk meraih buku catatan.
Gabriel terkekeh pelan melihat reaksi polos istrinya. Pria itu mencondongkan wajahnya sedikit, jemarinya terulur menyentuh dagu Amara dengan sangat lembut.
"Satu ciuman di bibir," ulang Gabriel dengan suara baritonnya yang rendah dan menggoda. "Sebagai ucapan terima kasih atas kejutan ini. Rasanya itu harga yang sangat pas, kan, Sayang?"
Pipi Amara seketika memerah hingga menjalar ke lehernya. Napasnya tercekat, dan ia reflek menggeleng pelan dengan kedua tangan mungilnya meremas ujung gaun yang dikenakannya.
‘K-kamu curang!’ tulis Amara terburu-buru di buku catatannya, lalu memperlihatkannya dengan wajah salah tingkah yang luar biasa. ‘Kenapa jadi aku yang harus menciummu?’
Gabriel melirik tulisan itu, lalu seringai di bibirnya semakin melebar.
"Curang bagaimana? Aku sudah menyiapkan taman seindah ini, lelah mendekorasi, dan suamimu ini hanya meminta satu hal kecil sebagai bayaran."
"B-bukan begitu..." ucap Amara terbata-bata, memaksa pita suaranya bekerja di tengah debaran jantung yang menggila.
Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap manik mata hitam Gabriel yang menatapnya penuh harap.
"Ini... ini terlalu tiba-tiba..."
Gabriel tidak menyerah. Ia merengkuh pinggang Amara semakin dekat, membuat jarak di antara mereka nyaris tak bersisa.
"Kalau kau tidak mau memberikannya secara sukarela..." bisik Gabriel tepat di dekat telinga Amara, suaranya terdengar begitu berbahaya namun membuai, "...maka aku
yang akan mengambilnya secara paksa."
Mendengar ancaman itu, Amara mendongak kaget. Sebelum ia sempat melarikan atau menulis alasan lain, Gabriel sudah membingkai wajahnya dengan kedua tangan besar dan hangat.
Manik mata mereka bertemu, dan tatapan penuh cinta di mata Gabriel membuat pertahanan Amara runtuh seketika.
Dengan napas yang memburu dan pipi yang terbakar api malu, Amara perlahan menutup matanya, membiarkan suaminya mempersempit jarak di antara bibir mereka.
"Aku hanya ingin menciummu saja, Sayang, bukan memakanmu. Kenapa kamu begitu gemetar dan tegang, Hm?" tegur Gabriel dengan nada lembut yang sarat akan geli.
Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, menyadari jemari Amara yang mencengkeram erat ujung bajunya dan sekujur tubuh gadis itu yang kaku bagai patung.
Amara membuka matanya perlahan, napasnya memburu dengan pipi yang sudah semerah buah ceri. Ia mengerjap menatap Gabriel, lalu buru-buru meraih buku catatan di pangkuannya dengan tangan yang masih gemetar hebat.
‘A-aku tidak terbiasa...’ tulis Amara cepat-cepat, lalu memperlihatkannya dengan mata mengerjap memohon agar Gabriel tidak menggodanya lebih jauh. ‘Dan... dan kau menatapku terlalu intens, Gabriel.’
Gabriel membaca tulisan itu, lalu terkekeh pelan—suara renyah yang terdengar begitu membuai di telinga Amara. Pria itu menyandarkan punggungnya sedikit di sofa, namun sebelah tangannya tetap melingkar posesif di pinggang ramping istrinya.
"Terlalu intens?" ulang Gabriel dengan sebelah alis terangkat, senyuman jailnya belum juga luntur. "Bukankah wajar jika seorang suami menatap istrinya sendiri dengan intens? Atau kau mau aku memejamkan mata saat menciummu?"
Mendengar godaan itu, Amara menggeleng kuat-kuat. Wajahnya semakin panas, merasa kepalanya hampir meledak karena salah tingkah. ‘B-bukan begitu maksudku...’ tulisnya lagi dengan goresan pensil yang semakin berantakan. ‘Kau membuatku gugup setengah mati.’
Gabriel tersenyum tipis, sorot matanya melembut seketika melihat kepolosan dan kecemasan yang terpancar di wajah istrinya. Ia tahu betul trauma masa lalu membuat Amara sering kali merasa tidak layak atau terkejut dengan sentuhan penuh kasih sayang seperti ini.
"Ssst... hei, lihat aku," bisik Gabriel lembut, meraih dagu Amara agar kembali mendongak dan menatap manik matanya.
Amara menelan ludahnya susah payah, namun ia menuruti perintah itu.
"Dengarkan aku, Amara," lanjut Gabriel dengan suara baritonnya yang tenang dan menghanyutkan. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Di sini, di sisiku, kau aman. Sentuhanku tidak akan pernah menyakitimu. Aku hanya ingin menunjukkan betapa aku mencintaimu."
Mendengar kalimat tulus itu, debaran panik di dada Amara perlahan mereda, digantikan oleh gelombang kehangatan yang meresap hingga ke lubuk hatinya. Rasa percaya yang sudah ia bangun untuk pria ini semakin mengakar kuat.
Amara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Ia menatap lekat bibir Gabriel, lalu perlahan beralih menatap manik mata hitam suaminya yang penuh antisipasi.
"Ga-briel..." panggil Amara pelan, melatih suaranya tanpa buku catatan.
"Ya, Sayang?" sahut Gabriel penuh kelembutan.
Tanpa banyak ragu lagi, kali ini Amara justru yang bergerak lebih dulu. Dengan mata terpejam rapat dan jantung yang berdegup seperti hendak copot, ia memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman singkat nan malu-malu di bibir Gabriel.
Gabriel sempat tertegun sepersekian detik karena inisiatif tak terduga itu. Namun, sebelum Amara sempat menjauhkan wajahnya, Gabriel langsung memperdalam ciuman tersebut—membimbingnya dengan begitu sabar, manis, dan penuh penguasaan, membuat Amara tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
Di tengah taman mawar putih yang bermekaran, di dalam gazebo kaca yang hangat, pagi itu menjadi saksi bagaimana dinding-dinding pertahanan terakhir di hati Amara runtuh sepenuhnya, melebur bersama cinta yang diberikan oleh suaminya.