Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Wangi di Bantal
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu lewat celah tirai beludru tebal di kamar penthouse megah itu, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas seprai sutra kusut. Suasana masih sunyi, hanya terdengar deru pelan AC sentral yang menjaga suhu ruangan tetap sejuk. Di atas ranjang berukuran king-size itu, Freya masih terlelap dalam tidurnya. Napasnya teratur, wajahnya terlihat damai tanpa beban—pemandangan yang kontras jika dibandingkan dengan kepanikan dan air mata yang ia rasakan semalam.
Di sisi lain ranjang, Victor Thorne bergerak cepat dengan gerakan efisien seorang CEO kelas kakap. Ia baru saja melilitkan handuk putih di pinggangnya, membiarkan tetesan air segar meluncur bebas dari rambut gelapnya yang basah ke bahunya yang bidang. Matanya melirik sekilas ke arah jam tangan mewah di nakas: 06.45 pagi.
Sial, meeting darurat dengan jajaran direksi regional pukul delapan.
Victor mendengus pelan, berusaha tidak bersuara agar tidak membangunkan gadis yang masih lelap di sebelah tempat tidurnya. Semalam adalah babak baru yang mengubah jalurnya secara drastis—sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam blueprint hidupnya yang selalu teratur. Ia mendekat ke tepi ranjang, menatap Freya lekat-lekat. Gadis itu meringkuk kecil, memeluk selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Tanpa bisa ditahan, sudut bibir Victor terangkat membentuk senyuman tipis—sesuatu yang sangat jarang ia tunjukkan pada orang lain, bahkan pada sekutu bisnisnya yang licik. Ia membungkuk perlahan, menempelkan bibirnya dengan lembut di pipi mulus Freya yang hangat.
"Tidurlah yang nyenyak, sweetheart," bisik Victor serendah mungkin, nyaris tak terdengar.
Lima belas menit kemudian, Victor sudah berubah wujud menjadi pria paling mematikan di Amsterdam. Setelan jas tailor-made dari desainer Italia membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna, dipadu dasi sutra gelap dan sepatu kulit mengkilap yang memantulkan cahaya lampu lobi. Sebelum melangkah keluar dari penthouse rahasianya, ia sempat meninggalkan pesan singkat di ponsel Freya agar gadis itu tidak kaget saat bangun nanti. Pintu berat berdesing tertutup rapat, meninggalkan Freya sendirian dalam dekapan kemewahan yang masih terasa asing baginya.
Pukul sembilan pagi lewat sepuluh menit. Freya mengerjap pelan, merasakan silau lampu gantung kristal yang sengaja dibiarkan menyala redup oleh Victor tadi subuh. Tangannya meraba sisi ranjang sebelah kanan, mencari kehangatan tubuh pria yang semalam membawanya melewati batas kewarasan.
Kosong. Yang tersisa hanyalah lekukan bantal yang masih menyimpan samar-samar aroma parfum kayu cendana bercampur mint milik Victor.
Freya langsung terduduk, menarik selimut tinggi-high menutupi dadanya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Memorinya berputar kembali ke kejadian semalam: klub malam yang bising, kepalanya yang pusing akibat alkohol, pelukan tak sengaja, kamar hotel mewah, hingga badai gairah yang meruntuhkan benteng pertahanan mereka. Dan sekarang, ia berada di sini—sebuah penthouse super mewah di tengah hutan kota Amsterdam yang berfungsi sebagai tempat pelarian rahasia sang konglomerat.
"Dia sudah pergi?" gumam Freya pada dirinya sendiri, suaranya terdengar parau khas bangun tidur.
Ia beranjak dari tempat tidur, mengenakan jubah mandi satin hitam kebesaran yang disediakan di lemari. Langkah kakinya membawanya keluar kamar, menyusuri ruang tamu bergaya modern minimalist dengan dinding kaca besar yang langsung memperlihatkan pemandangan pucuk-puncak pohon pinus di luar sana. Tempat ini luar biasa megah, tapi di saat yang sama, terasa begitu sepi. Sangkar emas. Kata itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Saat ia berjalan menuju dapur minimalis untuk segelas air, ponsel di atas pulau dapur bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal—yang pasti nomor baru Victor khusus untuk mereka:
Aku ada meeting panjang sampai sore. Jangan ke mana-mana dulu, atau kalau bosan, ada makanan di kulkas. Jangan coba-coba kabur, Freya. Aku tahu semua gerak-gerikmu.
Freya membaca pesan itu sambil mendengus kecil, separuh kesal karena merasa diatur, separuh lagi geli mengetahui betapa posesifnya pria dingin itu. Ia membalas singkat, lalu mulai menjelajahi isi penthouse yang luas itu untuk membunuh waktu.
Waktu berjalan merayap sangat lambat. Jam di dinding digital menunjukkan pukul satu siang. Freya sudah mencoba menonton televisi layar lebar, membaca majalah bisnis milik Victor yang bahasanya bikin pusing, hingga mencoba memasak sesuatu di dapur modern yang serba otomatis itu. Tetap saja, rasa bosan menghantamnya bertubi-tubi. Dinding-dinding kaca penthouse ini mulai terasa seperti memenjarakannya.
Gila, kalau gue seharian di sini cuma mandangin pohon, bisa-bisa gue stres beneran, batin Freya sambil mondar-mandir di ruang tengah dengan celana jogger dan kaos longgar.
Niat untuk keluar mulai membuncah di kepalanya. Mall elit di pusat kota Amsterdam—P.C. Hooftstraat—hanya berjarak sekitar dua puluh menit berkendara dari kawasan hutan ini. Tempat di mana butik-butik brand papan atas dunia berjejer rapi. Freya butuh udara segar. Ia butuh melihat manusia lain selain bayangannya sendiri di kaca jendela.
Tanpa pikir panjang, Freya menyambar ponselnya dan langsung mendial nomor Victor. Nada sambung berdering tiga kali sebelum suara bariton yang berat dan terdengar lelah mengangkat telepon di seberang sana.
"Ada apa, Freya? Ada masalah?" tanya Victor langsung to the point, suaranya terdengar tegas di tengah keributan ruang rapat kantor.
"Victor..." suara Freya dibuat semanis mungkin, sedikit mendayu-dayu.
"Aku bosan banget di sini. Seharian ngeliat tembok sama pohon doang. Boleh ya aku jalan-jalan sebentar ke mall di pusat kota?"
Hening sejenak di ujung sana. Victor jelas sedang mempertimbangkan risikonya. Di luar sana, dunia luar belum sepenuhnya aman untuk Freya, terutama jika ada orang-orang suruhan relasi bisnisnya atau bahkan Annelise yang kebetulan melihat.
"Tidak, Freya. Terlalu berbahaya bagimu keluar sendirian sekarang," jawab Victor tegas, menolak mentah-mentah.
"Ih, Victor, please..." Freya mulai merajuk, menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dapur. "Aku janji nggak akan lama-lama. Cuma mau hirup udara segar, cari angin sebentar, dan beli beberapa keperluan kecil. Aku bosen banget sumpah! Plis ya? Ya??"
Victor menghela napas panjang di ujung telepon. Desahan napas lelah seorang pria yang akhirnya menyerah pada pesona wanita yang berhasil meluluhkan hatinya. Pertahanan pria dingin itu runtuh seketika mendengar merajuknya Freya.
"Baiklah," ucap Victor akhirnya dengan nada pasrah. "Kamu boleh pergi. Tapi dengan syarat: jangan pulang terlalu malam, pastikan ponselmu selalu aktif dan tersambung, dan jangan pergi ke tempat-tempat sepi."
Freya langsung bersorak tertahan di kamarnya. "Yes! Janji, Victor! Aku anak baik kok!"
"Satu lagi," potong Victor sebelum Freya sempat menutup telepon.
"Buka laci nakas di sebelah kanan tempat tidur di kamar utama. Ambil kartu hitam di dalam sana. Gunakan itu untuk belanja apa pun yang kamu mau. Jangan batasi dirimu."
Freya tertegun sejenak. Kartu hitam? *Black card?* Pria ini benar-benar gila. Belum sempat ia menolak, Victor sudah mematikan sambungannya lebih dulu.
Dengan rasa penasaran bercampur takjub, Freya berjalan cepat kembali ke kamar utama. Ia membuka laci nakas kayu mahoni yang dimaksud. Di dalam sana, di atas sehelai kain velvet hitam, tergeletak sebuah kartu kredit eksklusif berlogo logam mengkilap—kartu yang hanya dimiliki oleh segelintir orang terkaya di dunia dengan limit tanpa batas.
Freya mengangkat kartu itu, menatapnya dengan mata mengerjap tak percaya. "Ini beneran kartu sakti mandraguna..." gumamnya pelan, menggelengkan kepala. Semalem dia tidur sama pria yang dompetnya bisa beli satu kelurahan.
Tanpa buang waktu lagi, Freya langsung bersiap-siap. Ia memilih pakaian yang lebih pantas untuk pergi ke kawasan elite Amsterdam: crop top putih rajut dipadu jaket kulit hitam oversized, celana jeans model high-waist, dan sepatu sneakers putih yang nyaman. Sedikit polesan lip gloss dan parfum manis di pergelangan tangan, dan ia siap meluncur.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berpenghantar otomatis—fasilitas dari Victor—sudah menunggu di depan gerbang penthouse saat ia turun. Sopir pribadi berjas rapi membukakan pintu dengan sopan, menyambutnya dengan tunduk hormat ala pelayan istana. Freya masuk ke dalam kabin yang ber-AC dingin, merasa seperti seorang ratu mendadak.
Mobil melaju mulus meninggalkan kawasan hutan menuju jantung kota Amsterdam. Setibanya di P.C. Hooftstraat, Freya turun dan langsung disuguhi pemandangan jalanan belanja paling prestisius di Belanda. Butik-butik merk mewah seperti Chanel, Dior, Louis Vuitton, hingga Gucci berdiri megah dengan etalase kaca berkilau yang memajang koleksi musiman terbaru mereka.
Langkah kaki Freya membawanya masuk ke salah satu butik desainer ternama. Suasana di dalam toko begitu tenang, beraroma parfum mahal dengan alunan musik instrumental yang menenangkan.
Beberapa pelayan toko berjas rapi langsung menyambutnya dengan senyuman ramah, meski dari penampilan luar Freya tampak seperti gadis biasa seusia dua puluhan.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pelayan wanita dengan sopan.
Freya tersenyum tipis, lalu menunjuk sebuah tas tangan kulit berwarna emerald Green dengan aksen emas yang terpajang di etalase utama—sebuah karya seni busana yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup setahun penuh di kotanya dulu.
"Boleh saya lihat tas yang itu?" tanya Freya.
Pelayan itu dengan sigap mengambilnya dan mempersilakan Freya mencobanya di depan cermin besar. Saat Freya memegang tas itu dan mencocokkannya dengan jaket kulitnya, ia merasa pantas. Rasanya luar biasa setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang kesulitan finansial, utang keluarga, dan ketakutan akan hari esok. Sekarang, ia bisa memegang barang mewah ini tanpa harus memikirkan apakah uang makannya besok akan bersisa atau tidak.
"Saya ambil ini," kata Freya dengan percaya diri.
Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan kartu hitam milik Victor yang dibawanya tadi, dan menyerahkannya kepada kasir.
Pelayan kasir menerima kartu itu dengan kedua tangan. Saat menggeseknya ke mesin EDC, mata sang kasir sempat melirik sekilas ke layar monitor, lalu ekspresinya berubah menjadi jauh lebih hormat—bahkan sedikit terkejut. Kartu dari Thorne Private Bank itu adalah simbol kekuasaan mutlak di dunia finansial Eropa. Transaksi disetujui dalam hitungan detik tanpa hambatan sedikit pun.