Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Di sela-sela kehangatan pelukan mereka yang erat, Alvarez perlahan merenggangkan dekapannya sedikit. Pria itu menundukkan kepalanya, menatap wajah Raelyn yang berada di dadanya dengan binar mata yang memancarkan kilatan jail.
Sifat kaku sang CEO mendadak hilang entah kemana jika sudah berhasil menjebak pertahanan hati istrinya.
"Jadi... kamu takut kalau hubungan kita hancur?" tanya Alvarez kembali menjaili Raelyn, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Raelyn yang tersadar posisinya sudah terlalu pasrah, langsung menegakkan tubuhnya. Jiwa gengsi dan asal-asalan yang menjadi ciri khasnya seketika aktif kembali untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"Yaa... takut lah! Kalau sampai hubungan kita hancur, semua fasilitas no limit gue bakal ilang tahu gak!" ucap Raelyn asal, memutar bola matanya malas seolah-olah dia hanya memedulikan harta suaminya.
Alvarez menaikkan sebelah alisnya, menatap Raelyn lekat-lekat dengan tatapan menyelidik.
"Cuma demi materi?" tanya Alvarez, suaranya terdengar berat dan tenang.
"Iyalah! Apa lagi coba?" jawab Raelyn mantap, menantang mata elang suaminya.
"Serius?" cecar Alvarez lagi, memajukan wajahnya satu jengkal.
"Iyaa, dua rius malah!" seru Raelyn berapi-api, memperkuat kebohongannya demi menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur sejak tadi sore.
Alvarez menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang dengan santai, namun matanya tetap mengunci manik mata Raelyn.
"Bukan karena kamu sudah punya perasaan sama aku? Hmm?" tanya Alvarez dengan nada menggoda yang teramat lembut di telinga Raelyn.
Deg!
Jantung Raelyn langsung melewatkan satu detakan gila. Wajahnya mendadak terasa sangat panas seolah baru saja disiram kuah sup yang mendidih.
"Dih, enggak ya! Jangan kegeeran deh lo!" semprot Raelyn galak, memalingkan mukanya ke arah lain dengan cepat.
Alvarez terkekeh rendah sebuah suara tawa kecil yang terdengar sangat seksi dan merdu. Dia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh daun telinga kiri Raelyn yang tidak tertutup rambut.
"Telinga kamu merah kalau lagi bohong, Raelyn."
Sistem pertahanan diri Raelyn langsung runtuh total. Dia refleks memegangi telinganya yang memang terasa sangat panas.
"I-ini... ini itu karena dingin! Karena AC kamar tuh yang terlalu menusuk tulang, bukan karena bohong ya! Sok tahu banget sih lo!" cerocos Raelyn panik, mencari alasan paling tidak logis sedunia mengingat hawa kamar sebenarnya cukup hangat.
Alvarez tersenyum tulus, senyuman yang sangat tampan dan dipenuhi rasa gemas yang luar biasa melihat kelakuan malu-malu kucing istrinya. Pria itu kemudian mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, menatap Raelyn dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan mutlak.
"Mulai malam ini... kita tidur sekamar," ucap Alvarez tanpa menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Raelyn langsung menoleh cepat dengan mata bulat yang membelalak sempurna.
"Gak mau!" tolaknya mentah-mentah dengan wajah yang kembali membara.
"Kenapa?" tanya Alvarez tenang.
"Ya kan perjanjian awal kita di atas kertas itu pisah kamar, Al! Lo lupa?!" ketus Raelyn mengingatkan kontrak bisnis mereka tiga bulan lalu.
Alvarez menyunggingkan senyum licik khas seorang negosiator kelas atas.
"Kontrak itu sudah aku ubah secara sepihak. Lagian... mau sampai kapan kita pisah kamar terus, hmm?"
Raelyn bungkam seribu bahasa. Otak cerdasnya mencoba mencari celah hukum untuk membantah, namun gagal total karena semua argumen Alvarez memang sangat logis dan mengunci posisinya.
Raelyn menghela napas panjang, meremas ujung selimut sutra hitam di bawahnya dengan dongkol namun ada rasa senang yang terselip di hatinya.
"Yaudah... tapi janji ya, lo gak boleh macam-macam sama gue!" tuntut Raelyn, menunjuk wajah Alvarez dengan jari telunjuknya yang dibalut hansaplas sebagai peringatan keras.
Alvarez mengangguk perlahan dengan wajah polos yang dibuat-buat.
"Iyaa... gak janji," jawab Alvarez santai.
Raelyn langsung melotot kesal, memukul lengan tegap suaminya dengan bantal kecil. "Ihh, serius, Alvarez!"
Alvarez tertawa renyah, sebuah suara tawa lepas yang membuat suasana kamar utama terasa begitu hangat dan hidup. Dia menangkap bantal yang dilempar Raelyn, lalu menatap istrinya dengan binar mata yang penuh canda.
"Iya, serius. Aku gak bakal macam-macam sama kamu... pas kamu masih melek."
Raelyn mengernyitkan dahinya curiga, merasakan ada jebakan baru dalam kalimat suaminya.
"Maksud kamu apa?!" tanya Raelyn, otomatis beralih menggunakan panggilan 'kamu' karena terlalu fokus berdebat.
Alvarez memajukan wajahnya, berbisik tepat di depan bibir Raelyn yang merona. "Ya... aku gak janji kalau kamu lagi tidur."
"Alvarez! Gak lucu tahu gak!" teriak Raelyn histeris, langsung mendorong dada bidang Alvarez dengan wajah yang sudah semerah buah stroberi matang akibat godaan tingkat tinggi dari suaminya.
Alvarez semakin tertawa puas melihat reaksi panik dan salah tingkah maksimal dari istri kecilnya. Pria itu berdiri dari tepi kasur, merapikan sedikit kemeja putihnya yang kusut.
"Iya, iya, aku cuma bercanda. Jadi, mau aku gendong sekarang atau jalan sendiri ke kamar?" tawar Alvarez, merujuk pada pemindahan barang-barang tidur Raelyn.
Raelyn mendengus sinis, bergegas turun dari ranjang dengan hati-hati demi menjaga kakinya yang terluka.
"Jalan sendiri! Udah sana lo masuk duluan ke kamar utama, gue mau beresin beberapa draf skripsi gue dulu di kamar ini, ntar gue nyusul!" ketus Raelyn, mencoba mengusir suaminya demi menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi berdegup gila tanpa izin.
Alvarez melangkah menuju pintu kamar, namun sebelum keluar, dia berbalik dan menatap Raelyn dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
"Yaudah, jangan lama-lama. Aku tunggu di kamar kita."
Setelah pintu kamar tertutup rapat, Raelyn langsung menjatuhkan dirinya kembali ke atas kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari menjerit tanpa suara.
"Aaaarggh! Bisa gila gue beneran di rumah ini! Kulkas berjalan itu sejak kapan berubah jadi hobi ngegoda orang kayak gini sih!" gerutu Raelyn frustrasi.
Namun, di balik rasa malunya yang sudah menembus langit-langit, seulas senyuman manis yang teramat tulus perlahan terukir di bibirnya. Dia tahu, malam ini akan menjadi awal dari babak baru yang sesungguhnya di dalam kehidupan pernikahan mereka.