"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Bersama
"Pa Papa..." panggil Arka pada Frans dengan nada canggungnya.
"Kamu tadi panggil apa, Nak?" tanya Frans dengan mata berkaca-kaca. Hatinya bergetar mendengar panggilan dari anaknya itu.
"Alka panggil Papa, Om. Telinganya pelu dipeliksa ke doktel itu bial bisa dengal," seru Azura yang kesal karena Frans seperti pura-pura tidak mendengar panggilan Arka.
Suasana yang tadinya mengharukan karena panggilan Arka pun langsung buyar saat mendengar ucapan Azura. Frans yang tadinya terharu malah sebal sendiri dengan Azura. Ingin sekali dia mengomeli Azura tapi takut dimarahi balik oleh Arka. Frans menatap kesal pada Azura tapi gadis cilik itu seakan tak peduli. Menurut Azura, dia sudah benar karena memang Frans saja yang pura-pura tidak mendengar panggilan Arka.
"Alka, dia melototin Azula lho. Azula kok ja..."
"Udah di sini aja," sela Arka saat Azura ingin pergi dari dekatnya. Arka ingin Azura juga merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakannya.
"Jangan melotot begitu sama si ompong. Nanti kelual itu bola matanya," tegurnya pada sang Papa.
"Iya, ini tadi cuma meyakinkan mata apakah benar tadi tuyul atau bukan yang Papa lihat." ucap Frans dengan santainya.
"Alka, Papamu itu lho jahat sama Azula. Masa ngatain Azula itu tuyul. Buluan omelin," seru Azura mengadu pada Arka.
"Papamu juga, Ompong dua." ucap Arka yang tak ingin Azura nanti merasa sedih.
"Iya, ini Papanya Azura juga. Jadi nggak boleh sebal-sebal sama Papa," ucap Frans dengan gaya tengilnya.
Frans tak masalah jika Arka menginginkan Azura menjadi anaknya juga. Suasana hatinya sedang baik karena Arka sudah mau mulai menerimanya. Sedangkan Azura menatap horor pada Frans yang tengah memeluknya bersamaan dengan Arka. Ingin sekali dia memukul wajah tengil Frans itu dengan sapu. Namun ternyata dalam hatinya juga menginginkan mempunyai seorang Papa. Sedangkan empat orang dewasa yang melihat hanya tersenyum melihat interaksi itu. Tampak sekali jika Ariska begitu lega karena Frans mau menerima Arka.
"Om pun..."
"Papa, Azura." sela Frans yang ingin Azura juga memanggilnya "Papa".
"Takut nih Azula dapat halapan palsu. Udah panggil sayang, tapi dia nanti kabul sama wewek lain." ceplos Azura membuat Frans menepuk dahinya pelan. Memang agak lain ini bocah satu.
"Jangan beldlama, ompong. Mending ayo kita jajan saja. Tadi katanya kamu ingin jajan di taman sana," ucap Arka yang tak ingin lagi mendengar drama dari Azura.
"Ayo kita jajan, Alka. Yang banyak, sekalian gelobaknya juga ya." ucap Azura yang langsung berdiri dengan semangat.
"Iya, nanti Alka suluh kamu yang jualan di depan toko." ceplos Arka membuat Azura mengerucutkan bibirnya sebal.
"Papa ikut?" tanyanya pada Frans.
Frans menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia ingin menghabiskan waktu dengan anaknya itu. Walaupun hanya sekedar jajan di taman, apapun akan Frans turuti selagi itu tidak membahayakan anaknya. Frans meminta Arka dan Azura untuk berpamitan pada Ariska. Frans juga mengajak Carlo agar sama-sama pusing menghadapi Arka dan Azura. Apalagi dia tidak membawa uang cash dan akan meminta Carlo pergi mencari ATM terlebih dahulu. Jaga-jaga kalau nanti penjualnya tidak bisa pembayaran lewat online.
"Jangan culik anakku. Kembalikan dalam keadaan yang utuh dan tidak kekurangan satu hal apapun," ucap Ariska memberi peringatan.
"Iya, Ariska. Aku akan mengembalikan mereka berdua dalam keadaan utuh dan baik-baik saja," ucap Frans dengan yakin.
"Azura apa nggak di sini saja?" tanya Lina pada keponakannya itu. Pasalnya dia tak mau jika Frans berpikir bahwa keponakannya ini mengikuti Arka terus. Apalagi Lina yakin kalau Frans juga ingin menghabiskan waktu dengan Arka saja.
"Ndak bisa, Tante Lina. Si ompong ini udah sepaket sama Alka. Tak telpisahkan kita beldua," ucap Arka dengan tegasnya.
"Benal. Tante Lina ndak usah khawatil. Azula akan dijaga telus sama Alka," ucap Azura dengan antusiasnya.
Biarkan saja,
Lina hanya menganggukkan kepalanya saat diminta Ariska membiarkan Azura ikut. Menurutnya, itu untuk menilai bagaimana kesabaran Frans dalam menjaga mereka. Lagi pula terlihat jika Frans tidak masalah jika mengajak Azura. Frans pun menggendong Arka dan Azura secara bersamaan di kanan kiri menggunakan lengannya. Sedangkan Carlo menjaga dari belakang.
***
"Om calo tiket, sudah bekelja sama Papa belapa tahun?" tanya Arka pada Carlo yang berjalan di belakang ketiganya.
"Nama saya Carlo, Tuan kecil Arka." ucap Carlo sambil memaksakan senyumnya saat mendengar namanya diubah oleh Arka.
"Panggil Alka saja, Om calo tiket." ucap Arka tanpa mengubah panggilan nama untuk Carlo.
"Arka masih cadel, Carlo. Wajar kalau panggilnya calo," ucap Frans sambil terkekeh geli.
"Tapi ya nggak usah ditambahin tiket dong, Tuan Frans." dengus Carlo kesal tapi tak membuat Arka takut.
Dia memang masih cadel dan akan terasa aneh jika hanya memanggil calo saja. Azura sedari tadi diam menikmati kebersamaan bersama dengan Papa angkatnya. Kedua tangannya memeluk erat leher dengan kepala bersandar pada bahu Frans. Posisi ini begitu nyaman untuk Azura yang memang belum pernah mendapatkan perhatian dari Ayahnya. Saat sampai di taman, ternyata banyak sekali pengunjungnya. Apalagi saat ini adalah weekend dan banyak yang membawa keluarganya ke taman.
"Tulun, Papa." ucap Arka yang ingin berjalan sendiri.
"Azula juga," Azura langsung ikut-ikutan Arka. Frans pun menuruti keduanya yang ingin turun dari gendongannya.
"Papa, itu olang yang suka hina Alka ndak ada Papa." seru Azura sambil menunjuk ke arah anak kecil seumuran keduanya. Dia adalah Ichal yang sedang bermain dengan teman-temannya.
"Apa? Dia suka menghina Arka? Enak saja itu bocah. Masih kecil masa menghina oranglain," ucap Frans dengan raut wajah kesalnya.
"Waktu itu hidungnya Alka tonjok," ucap Azura mengadukan semuanya.
"Mamanya Ichal waktu itu datang ke lumah Alka telus malah-malah sama Mama. Kata Mama, ndak papa ditonjok aja hidungnya. Malah Mama bilang suluh tonjok sekalian giginya bial ndak bisa bicala," ucap Arka menambahkan.
Wah... Mama Aliska kelen,
Frans dan Carlo yang mendengar cerita keduanya pun kesal karena Arka diejek tidak mempunyai Papa. Frans juga merasa bersalah karena baru mengetahui adanya Arka. Seharusnya dia menemani Ariska dan Arka dalam masa-masa sulit itu. Pantas saja waktu itu Papa Bayu mengingatkannya untuk jangan pernah menyakiti Ariska dan Arka. Ternyata keduanya mengalami masa-masa yang sangat sulit, terutama hinaan oranglain. Namun Frans juga kagum dengan keberanian Ariska melawan orang-orang.
"Ichal yang suka pakai kolol molol..."
"Kenalin nih Papanya Alka dan Azula. Tampan kan? Papa Alka dan Azula itu jelas ada ya. Jangan suka meledek kamu ya," seru Arka langsung mengenalkan Frans pada Ichal yang dulu menghinanya.
Bohong,
Heh...
lg ya thor byk2🤭😄💪
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska