NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Hujan Deras, Listrik Padam, dan Ketukan di Pintu

Empat hari setelah botol air itu disegel, hujan turun sejak pagi tanpa jeda.

Menjelang siang, langit Tangsel hampir sehitam malam. Air mengalir deras di kaca studio, mengaburkan rumah-rumah di seberang jalan. Peringatan banjir dan angin kencang muncul beberapa kali di ponsel Vivi.

Regina menelepon pukul sebelas.

“Saya harus membawa Kevin ke dokter gigi,” katanya. “Kelas sore dibatalkan karena cuaca. Kamu pulang sekarang.”

“Aku baru mulai bagian kedua.”

“Vivi.”

“Tiga puluh menit lagi. Sopir dan kendaraan keamanan masih di depan.”

Regina terdiam, jelas tidak menyukai jawaban itu. “Jangan lebih lama. Kunci pintu utama, jangan buka untuk siapa pun. Teknisi lantai sudah selesai kemarin, jadi tidak ada orang yang dijadwalkan datang.”

“Baik, Miss Regina.”

Setelah panggilan berakhir, Vivi memeriksa kedua pintu, mengirim pesan kepada sopir bahwa ia akan keluar pukul dua belas, lalu menaruh botol minum tersegel dari rumah di dekat pengeras suara. Ia sudah memeriksa tutupnya dua kali.

Ruang latihan terasa terlalu besar tanpa orang lain.

Namun ketika musik dimulai, rasa sepi itu menghilang.

Vivi berdiri di tengah lantai dengan rok latihan putih bergerak di sekitar pahanya. Ia mengulang rangkaian yang paling sulit, menghubungkan arabesque ke putaran sebelum mendarat dengan lutut lentur. Pada percobaan pertama, pusat beratnya bergeser. Percobaan kedua lebih baik. Pada percobaan ketiga, ia berhasil berhenti tepat saat nada piano turun.

Kepuasan kecil menghangatkan dadanya.

Tubuhnya mulai kembali menjadi miliknya.

Kemudian seluruh lampu padam.

Musik terputus di tengah nada.

Vivi berdiri membeku. Hanya suara hujan menghantam atap yang tersisa. Lampu darurat seharusnya menyala otomatis, tetapi lorong di balik pintu tetap gelap.

Ia meraih ponsel. Sinyal tersedia, tetapi jaringan studio terputus. Pesan terakhir dari sopir masuk dua menit lalu.

`Bu, area parkir depan mulai tergenang. Kami memindahkan dua kendaraan ke sisi jalan, sekitar seratus meter dari pintu utama.`

Seratus meter. Tidak jauh.

Vivi menekan tombol darurat pada aplikasi lokasi bersama. Notifikasi terkirim kepada sopir, kepala keamanan, Joce, dan Sebastian. Setelah itu ia menyalakan senter ponsel dan berjalan ke pintu latihan.

Belum sempat tangannya menyentuh gagang, terdengar ketukan dari pintu utama studio.

Tiga kali. Teratur.

“Halo?” Suara lelaki terdengar dari luar. “Teknisi listrik. Kami menerima laporan ada korsleting.”

Darah Vivi seperti berhenti mengalir.

Hujan. Listrik padam. Suara laki-laki di balik pintu yang berkata datang untuk memeriksa kabel.

Potongan ingatan muncul begitu keras hingga pandangannya bergetar. Sebuah lorong gelap. Tangan asing mendorong pintu. Telepon yang terlepas dari genggaman. Berjam-jam setelahnya, ketika bantuan akhirnya datang, hidupnya sudah tidak pernah terasa sama.

Ia tidak mengingat setiap wajah. Tidak tahu urutan serangan atau siapa yang memberi perintah. Tetapi suara itu, kalimat itu, dan hujan ini adalah satu simpul bahaya yang tidak mungkin salah.

“Bu?” Lelaki itu mengetuk lagi. “Buka sebentar. Kami perlu periksa panel di dalam.”

Vivi menutup mulut agar napasnya tidak terdengar.

Regina sudah mengatakan tidak ada teknisi yang dijadwalkan datang.

Ia mundur dan membuka kontak Sebastian. Jarinya terlalu gemetar sehingga salah menekan satu kali. Pada percobaan kedua, panggilan langsung tersambung.

“Vivi?”

Hanya satu kata. Suara rendah yang dikenalnya.

Kekuatan yang sejak tadi dipaksakan Vivi hampir runtuh.

“Sebas,” bisiknya.

Di luar, ketukan berhenti.

“Di mana kamu?” Nada Sebastian berubah tajam.

“Di studio. Listrik padam.” Vivi berjalan mundur menuju ruang ganti. “Ada orang mau masuk. Dia bilang teknisi, tapi Regina tidak memanggil siapa pun.”

“Kunci semua pintu. Jangan putuskan telepon. Aku berangkat sekarang.”

Suara kursi bergeser dan pintu dibuka terdengar dari seberang.

“Aku takut.”

Kalimat itu keluar sebelum Vivi sempat menahannya.

Sebastian diam sepersekian detik. “Dengarkan aku. Kendaraan keamananmu sudah menerima tanda darurat. Mereka menuju pintu depan. Cari ruangan kedua yang bisa dikunci.”

“Ruang ganti.”

“Masuk ke sana. Bawa ponselmu.”

Vivi meraih tas dan botol air. Suara logam beradu terdengar dari arah depan. Bukan ketukan lagi.

Seseorang sedang mencoba mencongkel pintu.

Ia berlari ke ruang ganti dan mengunci pintunya. Jendela kecil di ujung lorong memperlihatkan kilat putih. Sesaat kemudian guntur meledak, membuat seluruh gedung bergetar.

“Sebas.”

“Aku di sini.”

“Pengawal belum masuk.”

Suara lain menyela dari ponsel Sebastian, seseorang melaporkan gerbang depan macet dalam posisi terkunci setelah listrik padam. Kendaraan berada di luar pagar. Mereka mencoba membuka jalur manual dan menghubungi polisi.

Jadi seratus meter itu kini dipisahkan oleh pagar besi dan sistem yang sengaja dibuat lumpuh.

“Cari jalan keluar belakang,” kata Sebastian.

Vivi menyorot dinding ruang ganti. Hanya ada pintu yang baru dilewatinya, jendela ventilasi tinggi yang tidak muat untuk tubuh, serta deretan loker dan lemari kostum besi.

“Tidak ada.”

“Apa yang bisa dipakai untuk menghalangi pintu?”

Vivi menyapu ruangan dengan senter. “Bangku kayu. Rak sepatu. Ada tabung pemadam di lorong, tapi aku tidak bisa keluar lagi.”

“Jangan keluar. Geser bangku ke pintu. Setelah itu cari benda keras yang bisa kamu pegang.”

Vivi meletakkan ponsel di atas rak dengan kamera mengarah kepadanya. Ia mendorong bangku, lalu menarik rak sepatu rendah ke belakangnya. Roda kecil di bawah rak membuat benda itu mudah bergerak, tetapi setelah diputar menyamping, ujungnya terjepit di antara dinding dan pintu.

Di dasar lemari kostum terdapat batang logam untuk menggantung gaun. Vivi menariknya sampai terlepas dari penyangga. Panjangnya hampir satu meter. Tangannya begitu licin sehingga ia harus membungkus ujung logam dengan handuk agar tidak terlepas.

“Aku punya batang besi,” katanya.

Rahang Sebastian mengeras di layar. “Gunakan hanya kalau pintu terakhir terbuka. Jangan mendekati dia. Pukul lutut atau tangan, lalu lari kalau ada celah.”

“Kalau tidak ada celah?”

“Buat suara sebanyak mungkin. Pengawal ada di luar. Polisi menuju ke sana.”

Vivi mengangguk, meski Sebastian mungkin hanya melihat bayangan wajahnya di bawah cahaya senter. Ia mengirim lokasi langsung sekali lagi ke Regina dan Joce. Setelah itu ia menonaktifkan suara semua notifikasi agar dering pesan tidak menunjukkan tempat persembunyiannya.

“Bateraimu?”

“Enam puluh delapan persen.”

“Cukup. Turunkan kecerahan, tapi jangan matikan panggilan.”

Instruksi-instruksi kecil itu memberinya sesuatu untuk dikerjakan. Satu tombol, satu benda, satu napas. Bukan menunggu masa lalu mengulang dirinya.

Benturan pertama menghantam pintu utama.

Vivi tersentak begitu keras sampai ponselnya hampir jatuh. Ia menarik bangku panjang dan mendorongnya ke depan pintu ruang ganti. Kakinya licin oleh keringat. Kayu bergesek kasar di lantai.

“Apa suaranya?” tanya Sebastian.

“Dia memukul pintu.”

“Polisi sudah dalam perjalanan. Aku juga.” Napas pria itu cepat, tetapi suaranya tetap rendah. “Lihat aku lewat kamera.”

Vivi mengaktifkan panggilan video. Wajah Sebastian muncul sekilas, pucat dan keras, dengan latar lift yang bergerak turun. Ia tidak bertanya mengapa Vivi mengetahui bahaya itu. Tidak menyuruhnya berhenti menangis.

“Pegang ponselmu. Tetap bersamaku.”

Benturan kedua terdengar.

Lalu yang ketiga.

Dari lorong, kayu retak panjang.

Vivi mundur ke bagian terdalam ruang ganti sambil menggenggam ponsel yang masih tersambung.

Pada pukulan berikutnya, pintu utama studio mengeluarkan suara pecah pertama.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!