[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Makan
Malam mulai merayap turun, menyelimuti kompleks Istana Barat dengan selimut kegelapan yang pekat. Suara angin malam berdesir kencang menembus celah-celah jendela usang paviliun timur, menciptakan suara berderit yang menyeramkan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil, Fang Hua duduk bersila di atas lantai kayu, sibuk memeriksa isi tas ransel modern miliknya. Beberapa botol kecil berisi cairan kimia dan alat medis darurat masih tersusun rapi tanpa kurang suatu apa pun.
Luo Huanran duduk tidak jauh darinya, memeluk lututnya sendiri sambil menatap bayangan api lilin yang menari-nari di dinding. Rasa lelah dan ketegangan sepanjang hari membuat kelopak matanya terasa berat, namun rasa cemas membuatnya tidak berani memejamkan mata.
"Huanran, tidurlah," ucap Fang Hua tanpa mengalihkan pandangannya dari botol kecil di tangannya. "Perjalanan kita masih panjang. Kau butuh tenaga untuk menghadapi hari esok."
"Tapi... bagaimana jika para pengawal itu datang menyerang kita saat kita tidur?" cicit Luo Huanran dengan nada ragu-ragu.
Fang Hua mendengus pelan, lalu meletakkan botol itu ke dalam tas. Ia berdiri dan melangkah ke dekat pintu masuk paviliun. Dengan gerakan cepat dan terukur, ia mengeluarkan serbuk khusus dari salah satu botol kecil lalu menaburkannya tipis-tipis di sepanjang ambang pintu bagian dalam.
"Tenang saja. Serbuk ini tidak akan membunuh, tapi siapa pun yang mencoba menginjak ambang pintu ini tanpa izin akan mengalami gatal-gatal hebat dan pusing mendadak dalam waktu sepuluh detik," kata Fang Hua santai. "Tidak ada yang bisa masuk ke sini tanpa sepengetahuan kita."
Mendengar penjelasan itu, rasa takut Luo Huanran sedikit mereda. Ia akhirnya mengangguk patuh, merebahkan tubuhnya di atas balai-balai bambu tua yang sudah dilapisi kain seadanya, lalu perlahan-lahan terlelap di tengah keheningan malam.
Sementara itu, di bangunan utama istana barat yang terletak tidak jauh dari paviliun timur, suasana justru jauh dari kata tenang.
Wang Yiche duduk seorang diri di atas kursi kebesarannya. Topeng besi perak yang menutupi wajahnya sudah ia lepas diletakkan di atas meja kayu di sampingnya, menampakkan garis wajah aslinya yang tegas, pahatan rahang yang kuat, serta sepasang mata tajam yang kini memancarkan kilatan lelah. Di pelipis kirinya, terdapat bekas luka sayatan tipis berwarna putih yang membuatnya terlihat semakin berbahaya.
"Yang Mulia," suara seorang pengawal pria paruh baya terdengar lirih dari balik tirai pintu utama. Pengawal itu melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam-dalam. "Para penjaga melaporkan bahwa pengantin wanita dari keluarga Luo tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sama sekali. Dia bahkan berhasil melumpuhkan serigala penjaga hanya dengan lemparan botol kecil."
Wang Yiche tidak langsung menjawab. Ia menuangkan secangkir teh dingin ke dalam cangkir porselen, lalu menyesapnya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin.
"Bukan sekadar tidak takut," gumam Wang Yiche dengan suara baritonnya yang berat. "Dia menggunakan cairan aneh yang tidak pernah ada di daratan Dinasti Tang. Gerakannya cepat, penuh perhitungan, dan tatapannya sama sekali bukan tatapan milik seorang putri bangsawan yang lemah."
"Apakah kita perlu menyelidiki latar belakangnya lebih jauh, Yang Mulia?" tanya pengawal itu hati-hati. "Bisa jadi dia adalah mata-mata kiriman dari faksi istana pusat atau keluarga Jenderal Luo untuk mencari kelemahan kita."
Wang Yiche menggelengkan kepalanya perlahan. Ia meletakkan cangkir teh di atas meja dengan bunyi klotak yang pelan. "Keluarga Jenderal Luo membencinya setengah mati dan ingin membuangnya ke sini agar dia mati terbunuh. Mustahil mereka mengirim mata-mata yang cerdas untuk menghancurkan diri sendiri. Gadis itu... memiliki rahasianya sendiri."
Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah paviliun timur. Jarak antara bangunan utama dan paviliun tempat Fang Hua tinggal memang cukup jauh, namun dari tempat berdirinya, cahaya lampu lilin kecil dari jendela paviliun itu masih bisa terlihat samar-samar menembus kegelapan malam.
"Biarkan dia di sana untuk sementara waktu," lanjut Wang Yiche dengan sorot mata yang menyipit tajam. "Aku ingin melihat seberapa jauh gadis berwajah mirip boneka porselen itu bisa bertahan di sarang monster ini sebelum dia memohon ampun padaku."
***
"Fang Hua..." Luo Huanran berkata sembari memegangi perut nya yang mulai memberontak. Ia terbangun akibat rasa sakit yang tak terbendung di perut nya.
"Hum?"
"Aku lapar, apakah kita bisa makan."
Fang Hua yang tengah tiduran di ranjang dengan mata mengantuk, tiba tiba membuka mata nya lebar. "Kau belum makan kah?"
Luo Huanran masih terduduk di lantai kayu menggeleng. "Aku...belum."
"Ambil kotak makan di tasku, disana ada sereal kering. Kamu campur kan air panas ke dalam sereal itu. Itu makanan terakhir ku yang ada di ransel, jadi makanlah dengan wajah bahagia."
Luo Huanran menunduk. "Maafkan aku, gara gara aku--"
"Huanran, berhenti bicara tentang 'maaf' , aku sampai bosan mendengar nya."
"Maaf."
"Tidak perlu maaf, Huanran. Kau itu tidak melakukan kesalahan. Lebih baik kau ambil sereal ku sebelum serigala itu datang kemari dan memangsa mu."
Luo Huanran sedikit tersenyum. Gadis di hadapan nya, meski tingkah laku nya sangat liar, namun hati nya sangat baik. Ia akhirnya menemukan seorang yang bisa dijadikan alasan hidup.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️