Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Lama
Setelah pintu tertutup dan Viktor pergi, ia baru tersadar dari pikirannya tadi, ketika dia melihat punggung tegap bos nya dan mengira ia adalah pria di malam itu, maka ia harus ingat bahwa pria di malam itu adalah gigolo, orang lain yang tidak sama dengan bos nya.
Anne membaringkan tubuhnya dengan perasaan kecewa, ia merasa seakan harapannya itu telah pupus.
Malam ini Anne tak bisa tidur dengan tenang, bukan karena luka di tubuhnya, tapi karena otaknya yang tak bisa berhenti bekerja.
Sesekali ia memikirkan anaknya, sesekali juga ia memikirkan Viktor dan juga gigolonya.
la semakin gelisah, mengapa ketiga hal itu terus mengganggu pikirannya?
Di dalam hati kini ia berharap agar lukanya itu akan segera sembuh.
Sementara Viktor yang baru saja kembali ke kamarnya kini tak berhenti tertawa saat mengingat wajah Anne yang sudah ketakutan karena ulahnya tadi, dia terlihat gemetar dan membuatnya tersenyum sendiri.
"Dasar wanita bodoh! Tapi dia menggemaskan", gumam Viktor seraya
berbaring di kasurnya dengan sebelah tangan tertekuk di bawah kepalanya.
***
Keesokan paginya, Anne terbangun saat ponselnya berdering, dia melihat layarnya dan nama anaknya tertera di sana.
Ia pun mengangkat panggilan itu, "halo Matteo, Marco, Marcella," sapa Anne.
"Mami, kata bibi mami sedang sibuk, kapan mami akan pulang?" tanya anak pertama.
Anne mendadak gelisah, namun ia bersyukur karena bibi Nora tak mengatakan keadaan yang sebenarnya, ia pun mencoba merayunya memberi mereka pengertian.
"Em, beberapa hari lagi, maafkan mami ya tidak bisa pulang cepat, ini adalah bagian dari pekerjaan di kantor, mami harus keluar kota,nanti jika tugas mami sudah selesai mami pasti akan langsung pulang." ujar Anne dengan berbisik, khawatir jika suaranya akan terdengar sampai luar.
"Baiklah mami, aku harap mami tetap jaga kesehatan makan dengan tepat waktu dan tidak begadang." ucap Matteo.
Anne tertegun mendengar nasehat putranya, namun dia tersenyum karena anak-anaknya sangat perhatian padanya.
"Mami, mami aku merindukanmu!" suara Marcella terdengar melengking di dalam
telepon itu, membuat hati Anne bergetar, dia lalu menatap dengan berlinang, "mami juga rindu kalian, mami akan segera pulang, kalian jaga diri baik-baik di rumah jangan merepotkan bibi Nora, ok."
"OK." jawab anak-anaknya secara serempak.
Anne kemudian mengakhiri sambungan itu ketika meminta tiga anaknya untuk bersiap-siap pergi sekolah agar tidak terlambat.
Tidak lama setelah panggilan itu berakhir, pintu di ruangannya tiba-tiba terketuk lalu terbuka dan dokter Stella datang membawa meja troli bersama beberapa pelayan yang mengekorinya.
"Selamat pagi nona Anne,"
"Pagi juga dok," balas Anne menyapa.
Dokter Stella lalu membantu punggung Anne untuk duduk.
"Saya membawa sarapan untukmu, dan pelayan akan menyuapimu," ujar dokter Stella.
Anne mengangguk, tidak lama satu suapan terbang di depan mulutnya ia pun terimanya, dan mengunyah dengan lembut makanan itu hingga berulang kali suapan itu di berikan.
Makan selesai setelah Anne menghabiskan semua menu yang mereka bawa, pagi ini jelas saja Anne sangat lapar, karena semalam ia tak dapat makan.
"'Sekarang saya akan mengganti perban
yang membalut luka nona," lanjut dokter Stella.
"Rasanya mungkin akan sedikit sakit, jadi mohon di tahan." lanjutnya.
"Baiklah," Anne mengangguk.
Di saat itu pintu kamarnya yang masih terbuka, ia dapat melihat Viktor yang melintas di depan pintu, pria itu berpakaian rapi, dengan kemeja putih yang di balut jas, penampilan itu sangat mempertegas sosoknya yang penuh kharisma, menawan dan cerdas.
Postur tubuhnya yang tinggi tegap terlihat memancarkan sisi maskulinitas miliknya.
Dia terlihat sedang berteleponan, sambil berjalan pria itu menoleh ke arah kamar Anne hingga tatapan keduanya pun bertemu, Viktor sangat menawan dengan segala pesona nya yang mendominasi dan penuh arogansi hingga membuat ekspresi wajah Anne kembali menegang seperti semalam.
Hingga akhirnya bos nya itu tak terlihat lagi ketika sudah menjauh.
Tepat ketika itu, Anne mengernyit merasakan kulitnya seperti akan terkelupas dari tubuhnya, dia menoleh saat dokter Stella sedang berusaha melepas perbannya.
"Ah..." secara refleks mulutnya berteriak.
Tadi ia sempat berfikir jika rasa sakitnya pasti tak akan seberapa, namun kini ia benar-benar kesakitan.
Viktor yang baru saja akan menuruni tangga itu berhenti seketika setelah mendengar teriakan Anne, "kerjakan dengan pelan!" teriaknya kemudian.
"Baik, tuan." sahut dokter Stella yang merasa cemas, ia takut jika pria itu akan memarahinya.
Anne tercengang ketika pria itu memberinya perhatian lebih padanya, sekali lagi ia teringat dengan perkataannya semalam, lalu membenarkan ucapannya jika bosnya naksir dengannya.
Anne gugup, alam pikirannya melayang-layang, ia bahkan membayangkan jika ia benar-benar berkeluarga dengannya, maka kehidupannya pasti akan mudah.
"Maaf nona, jika ini sakit." ujar dokter Stella.
Tiba-tiba hayalan Anne kembali ke dunia nyata, dan ia menggeleng sebagai jawaban dokter Stella, "tidak, tidak apa-apa, Dokter Stella lantas mengganti perban itu dengan yang baru, Anne sempat mengintip lukanya yang sudah sedikit kering, meski ia tak tahu kapan akan sembuh tapi pengobatan yang di lakukan dokter Stella mengalami kemajuan.
"Apakah nona mau menikmati matahari
pagi?" tawar Stella.
Anne melihat ke arah jendela bahwa matahari baru saja menyingsing, ini adalah momen bagus-bagusnya untuk ia mendapat vitamin pagi.
"Ya," ia mengangguk, tidak lama para pelayan membantunya berdiri kemudian
memapahnya ke kursi roda.
Mereka mendorongnya keluar dari kamar, menuruni lift lalu menuju halaman belakang yang berupa taman.
Setelah keluar dari kamarnya tadi ia baru menyadari kekayaan yang di miliki Viktor, bahwa rumah ini benar-benar luas dan mewah, arsitekturnya menggambarkan gaya klasik modern yang sangat mewah.
Setiap sudut rumah di sangga dengan pilar yang tinggi dan kokoh.
Anne di giring ke taman dengan beraneka bunga indah yang bermekaran, ada halaman dengan rumput hijau yang luas di ujung sana itu adalah lapangan golf, di samping kirinya ada kolam renang yang luas dengan air mancur dari sebuah patung sosok mitologi yunani yang berdiri di pinggir kolam dan menjatuhkan air ke dalam kolam.
Anne benar-benar tak bisa berhenti kagum, dia benar-benar kaya, pantas saja Davin ingin bekerja sama dengannya.
Dahulu ia juga pernah hidup enak, tinggal di rumah mewah dengan banyak fasilitas, ketika ayahnya masih sehat dan berjaya, tapi kini melihat kekayaan Viktor ia merasa seperti upik abu yang belum pernah melihat bentuk kemewahan, hingga membuat lehernya tak berhenti menoleh sejak tadi untuk memandangi segala sisi rumah ini.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam ketika di beri kesempatan untuk menikmati semua ini, mungkin hanya akan sekali ia menikmati hidup seperti ini jadi ia tak ingin menyiakan kesempatan ketika berada di rumah Viktor.
Di saat ia sedang menikmati semua tiba-tiba ponselnya berdering, ia melihat bibi Nora sedang menelponnya, segera Anne mengangkat takut akan ada sesuatu pada anak-anaknya, "halo bi, apakah ada sesuatu?" Tanyanya khawatir.
"Nona ada seseorang yang datang ke rumah," ujar bibi Nora terdengar panik.
"Siapa bi?"
Tiba-tiba ponsel bibi Nora di sahut, dan
suara dari wanita lain terdengar, "halo Anne," sapanya.
Anne gugup, jantungnya berdebar tidak
karuan ketika mendengar suara wanita ini. la masih ingat suara ini, dia adalah bibi Evelyn ibu Selina. Bagaimana dia bisa menemukan rumahnya?
"Anne, apa kabarmu? Mengapa tidak bilang jika sudah kembali, Selina memberi tahuku jika kau sudah kembali. Aku satang membawakan hadiah untukmu juga anak-anakmu ..." ujar bibi Evelyn.
Anne tertegun, ia bukan tidak tahu bahwa bibi Evelyn tidak berbeda dari Selina, mereka semua adalah orang yang licik dan serakah.
Terakhir kali bibi nya mencarinya ketika
ia telah ketahuan hamil, dan kini dia ingin menemuinya, Anne selalu berusaha menghindarinya, tapi bibinya selalu mencari cari perhatiannya.
"Kami ingin mengundangmu makan malam Anne," ucap bibi Evelyn lagi.
"Juga anak-anakmu, karena kebetulan sekali anakmu berteman dengan anak Selina,"
"Maaf bi, aku tidak bisa." tolak Anne.
"Kenapa? Padahal kamu sudah lama tidak pulang, pamanmu juga merindukanmu, kita adalah saudara Anne." mohon bibi Evelyn.
Anne tidak peduli, sekuat diri ia tak ingin mendengarnya.
"Paman-paman juga bibimu merindukanmu, semua ingin tahu kabarmu, jadi jangan menghindari makan malam ini ya.."
"Apa kau tahu selama ini mereka mencarimu, banyak media juga yang berusaha mencarimu,"
Anne mengulum ludahnya sadar dengan tujuan wanita itu, bahwa dia hanya sedang berusaha mengulik informasi tentangnya, dahulu empat tahun yang lalu Selina menyebar berita tentangnya hingga ayahnya kecelakaan karena kepikiran dengan potretnya yang bermalam dengan gigolo itu, lalu bibinya mencari tahu tentang kehamilannya dan kini setelah dia tahu bahwa ia memiliki anak, maka dia pasti ingin mengorek masalah lama untuk mencari tahu siapa ayah anaknya, dan mempermalukannya bahwa mereka hanya anak haram dari pria tak jelas.
"Sebenarnya apa yang bibi mau?" Anne menahan kekesalannya dengan wajahnya yang mengeras.
Wanita itu malah terkekeh mengejek, hingga membuat Anne menggertakan
rahangnya.
"Bibi hanya ingin mengundangmu dan anak-anakmu makan malam di rumah, apa hanya dengan itu kamu marah? salahkah jika kami peduli padamu?"
Anne mengetahui di dalamn kalimatnya ada nada ancaman, bahwa jika ia tak datang ke sana itu artinya sama saja dengan ia menggali masalah baru ketika tak menghargai mereka, dan dia akan menggali luka lama, membeberkan berita buruk tentangnya dan yang lebih parah menggosipkan tentang anaknya yang tak memiliki ayah, lalu menambahkan bumbu dalam berita itu dan membesar-besarkannya.
Selama ini Anne selalu berusaha untuk
menutupi sosok ayah mereka di depan ketiga anaknya, ia tak ingin membuat anaknya kecewa dan jika anaknya tahu jika ayahnya adalah seorang gigolo maka mereka pasti akan mengecewakan dan marah padanya, ini sangat mengerikan dari momok sekalipun.
la menarik nafasnya dengan dalam, "baiklah, beri tahu dimana aku harus datang?" tanya Anne.
"Alamatnya adalah bekas rumah mu..."
ujar bibi Evelyn.
Anne tertegun, ia harus kembali terluka kala mendengarnya.
Bibi Evelyn tersenyum tipis di sana, "datanglah pukul tujuh malam, di sana juga akan ada Selina, juga suami dan anaknya."
"Oh iya kamu tahu kan siapa suaminya?"
"Ya, aku tahu, dia Davin," jawabnya dengan tenang.
"Baiklah," balas Evelyn.
"Apa perlu di jemput?" tanya bibi Evelyn lagi.
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri."
Tidak lama setelah itu, panggilan pun di akhiri, Anne menggenggam ponselnya dan memandang lurus ke depan.
Melihat halaman mewah rumah Viktor, ia jadi teringat dengan rumah lamanya, dimana di sana seribu kenangan telah
tesimpan, sejak kecil ia besardi sana, dahulu rumah itu belum sebesar itu, tapi atas kegigihan ayahnya dengan terus bekerja, rumah itu mengalami perubahan tiap tahunnya, hingga kini rumah itu berdiri dengan mewah dan luas.
Ia tidak tahu bagaimana mereka bisa menguasainya.
"Apakah nona baik-baik saja?" Ucapan dokter Stella menyadarkan Anne, ia menggeleng kemudian tersenyum.
"ya, aku baik-baik saja."
"Oh iya apakah aku boleh keluar jam tujuh malam nanti?"
"Aku akan menemani nona," jawab dokter Stella, Anne pun lega karena ia bisa keluar.
"Apakah itu tidak akan merepotkan?" tanya Anne.
"Tuan Viktor memintaku tidak hanya untuk mengobati nona, tapi juga untuk menemani nona,"
Anne tertegun, ternyata bosnya memang sangat baik dan perhatian padanya.
"Aku akan meminta pelayan untuk mendatangkan salon juga beberapa pilihan gaun." imbuh dokter Stella.
***
Malam hari, Anne kini duduk di depan cermin, penampilannya sudah di sulap
sedemikian rupa, dia tampak anggun dan cantik mempesona, dalam balutan gaun
berwarna abu dengan kristal yang mengelilingi gaun itu.
Empat tahun terakhir ia tak pernah lagi
datang ke salon, untuk sekedar merawat diri pun ia tak memiliki kesempatan karena ia lebih mementingkan anaknya, ia selama ini lebih fokus mencari uang untuk menghidupi ketiga anaknya.
"Wah, nona cantik sekali." puji dokter Stella.
Anne terkesima, perasaannya senang.
"Mari!" dokter Stella lalu mendorong kursi roda Anne diikuti pelayan dan anak buah Viktor yang lain, perasaan Anne benar-benar tak menentu, ia merasa seperti berada dalam kehidupan lamanya dimana ia di kawal oleh para pengawal.
Setelah mereka menuruni lift kini tiba di
garasi, Anne di kejutkan dengan banyak
koleksi mobil mewah milik bosnya.
Ia terkejut lalu menatap dokter Stella, "apakah kita akan menggunakan salah satunya?"
Dokter Stella mengangguk, "ya", Anne tercengang hingga sesak nafas.
"apa ... apa si ini .. maksudku tuan Viktor
mengizinkannya?"
"Aku sudah bilang padanya tadi pagi dan
dia menyuruh kita untuk pergi dengan salah satu mobilnya."
Tidak lama setelah itu, mobil dengan type rolls royce panthom pun terbuka pintunya.
Anne juga langsung membuka mulutnya.