Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Paling Penting
"Naik sendiri atau saya yang akan memaksa kamu dengan tangan saya?"
Elena tidak menjawab. Ia sama sekali tidak peduli dengan ucapan Angga. Setelah mengambil sehelai kain dari lemari, ia membentangkannya di lantai dan berbaring di atasnya.
Baru saja Elena memejamkan mata, ia merasakan sebuah tangan menyentuh tubuhnya. Beberapa detik kemudian, tubuhnya terangkat dari lantai, membuatnya tersentak dan membuka matanya.
"Mas!"
Angga sudah menggendongnya. Pria itu berjalan menuju ranjang tanpa menghiraukan protes Elena.
"Turunkan aku!"
"Tidak."
Beberapa langkah kemudian, Angga menurunkan tubuh Elena perlahan di atas ranjang.
"Tidur di sini."
"Aku tidak mau tidur satu ranjang sama kamu!"
Elena hendak bangkit, tetapi Angga segera menahan kedua tangan Elena di atas kepalanya.
"Jangan keras kepala, Elena. Di bawah dingin."
"Aku mau tidur di bawah!"
"Saya tidak mengizinkannya."
Elena menatapnya kesal.
"Mas Angga! Kamu selalu seperti ini. Semua harus sesuai kemauanmu!"
Angga terdiam sesaat, lalu menatap Elena dengan lekat.
"Kalau soal kamu, iya."
Jawaban itu membuat Elena terdiam. Angga pun menarik selimut dan menyelimutinya hingga sebatas dada.
"Saya tidak peduli kalau kamu marah kepada saya. Tapi saya tidak akan membiarkan kamu tidur di lantai yang dingin itu."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa kamu seperti ini, Mas?"
Angga menatap wajah Elena cukup lama. Sorot matanya menyiratkan rindu yang tidak bisa diucapkan.
"Karena saya mencintai kamu."
Elena langsung memalingkan wajah. Entah mengapa, mendengar ucapan itu, justru membuat hatinya sesak.
"Saya tahu kamu sedang marah. Saya juga tahu kamu belum bisa memaafkan saya."
Angga kemudian mengambil bantal tambahan dan meletakkannya di sisi ranjang.
"Tapi malam ini kamu tetap tidur di sini."
"Kamu mau tidur di mana?"
"Di kursi itu."
Elena menoleh. Kursi tua yang hanya bisa digunakan untuk duduk. Bagaimana mungkin Angga akan tidur di situ?
Pria itu bahkan tidak pernah susah seumur hidupnya.
Angga sudah berjalan menjauh dari ranjang.
"Mas..."
Pria itu berhenti. "Kenapa?"
Elena tidak menjawab.
Angga pun hanya tersenyum tipis.
"Tenang. Saya tidak akan mengganggu kamu, meskipun saya menginginkan kamu, Elena."
Ia mengambil selimut dari lemari, kemudian membawanya ke kursi.
"Saya memang egois karena tidak ingin membiarkan kamu pergi. Tapi saya masih bisa menghargai batasan kamu."
Elena terdiam. Angga masih menjadi pria baik yang sangat menghargai dan mencintai dirinya. Tapi kenapa? Kenapa rasanya justru sangat sakit?
Angga membaringkan tubuhnya di sofa, membelakangi Elena.
"Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saya."
Elena hanya diam dan membalikkan badannya membelakangi punggung Angga. Hatinya sakit. Ia merasa Angga masih mencintainya, tetapi ia juga tidak bisa melupakan bagaimana Angga bisa terlibat pernikahan bersama Cindy.
Elena pun meneteskan air matanya seraya menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. Tetapi karena tempat itu bukan di kota dan keadaan di luar lebih sunyi, bahkan suara nafas Elena pun dapat terdengar oleh Angga.
Pria itu terhenyak lalu memutar tubuhnya menghadap Elena. Ia melihat tubuh wanita itu sedang berbaring membelakanginya tetapi tubuhnya bergetar dengan suara isakan pelan.
Angga pun terdiam beberapa saat, lalu memutuskan untuk mendekati Elena. Ia berjalan ke arah ranjang dan menyentuh bahu Elena pelan.
"Elena..."
"Jangan ganggu aku, Mas," jawab Elena.
Angga pun duduk di ranjang dan berbaring di belakang tubuh Elena.
"Jangan menangis, sayang .." ucapnya seraya memeluk Elena dari belakang.
"Lepas, Mas..."
"Tidak, saya akan menemani kamu disini."
Elena pun terdiam, merasakan hatinya yang semakin sakit.
"Kenapa kamu masih seperti ini?"
"Seperti apa?" tanya nya.
"Setelah semua yang terjadi, kenapa kamu masih memperlakukanku seolah aku masih orang yang paling penting dalam hidupmu?"
"Karena kamu memang orang yang paling penting dalam hidup saya, Elena."
Elena semakin terisak mendengarnya. Ia bahkan tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Yang ia tahu, hatinya terasa sakit.
Jika Angga bisa bersikap begini terhadapnya, bukankah Angga juga bisa bersikap seperti ini terhadap Cindy?
Elena memejamkan matanya, membiarkan rasa sesak itu menjalar ke seluruh hatinya.
"Apa kamu memperlakukan Cindy juga seperti ini, Mas?"