Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYAKIT ARYA KAMBUH
Taman Bunga, Paviliun Anggrek kediaman pangeran Arya.
Plak!
"Ampuni aku yang mulia." Para pelayan itu terjatuh duduk ketika zephira menampar wajah mereka satu persatu. Padahal mereka tak melakukan kesalahan apapun.
"Zephira!"
Gadis itu tertegun, Berbalik badan dan segera mengusap kasar kedua tangannya. Seolah baru saja memegang benda kotor.
"Yang mulia, Bagaimana dengan kakak. Apa kakak ingin ikut bersama kita?" Tanya zephira tersenyum manis Meskipun hatinya di penuhi perasaan marah, Kedua mata baskara terlihat gelap.
"Kita berbicara di rumah." Tegasnya, Ia berjalan pergi. Zephira menghembuskan nafas lelah. Setelah itu pergi mengikuti suaminya memasuki kereta kuda.
Di dalam kereta kuda, Tepat ketika tirai tertutup, Zephira mulai mengeluarkan wajah tak senangnya.
"Yang mulia, Kakak memihak paman, Dia harus kita singkirkan bukan?" Tanya zephira,
Baskara hanya diam...
"Yang mulia, Kakak itu gadis bodoh yang bisa menghancurkan rencana kita. Jika bibi Yun berhasil di bawa ke kediaman pangeran Arya, Semua yang di lakukan ibuku dan bibi Yun akan ketahuan." Gelisah zephira.
Baskara menoleh dingin.
"Memangnya apa yang sudah pelayan itu lakukan pada Aluna, Sehingga gadis itu begitu ketakutan?" Bibir zephira terkatub rapat, Ia pikir. Baskara hanya akan mendengarkannya dan langsung menghabisi Aluna. Tetapi baskara justru terlihat ingin tahu.
"Aku— aku juga tidak tahu, Bibi Yun hanya mengajarinya tata Krama, Tetapi dia terlalu bodoh, Itu sebabnya selalu di hukum." Elaknya memalingkan wajah.
"Jika paman menginginkan pelayan itu, Maka biarkan dia mendapatkannya." Zephira menatap baskara dengan tak percaya. "Bungkam saja pelayan itu, Agar tidak menyeret nama kediaman wangsa." Lanjutnya, Zephira tersenyum puas. Kepalanya bersandar pada pundak baskara.
"Anda memang selalu memikirkan keluarga-ku."
Kereta kuda berjalan dengan tenang, Di dalam hatinya. Zephira masih sangat tidak terima dengan apa yang di dapatkan oleh Aluna. Mengapa pangeran Arya begitu memanjakan gadis bodoh itu?
"Yang mulia, Anda tidak marah dengan paman?" Tanya zephira menatap baskara dengan tampang polosnya.
"Tentu saja marah." Jawab baskara, Matanya menatap lurus. "Marah karna paman terlalu melindungi gadis itu." Zephira tersenyum cerah,
"Yang mulia tenang saja, Sebentar lagi mungkin pangeran Arya akan membunuhnya. Jikalau menyakitkan kambuh." Zephira tersenyum puas, Baskara membeku sejenak.
'Gadis bodoh itu, Mengapa selalu membuatku khawatir' Baskara terdiam cukup lama.
***
Kegelapan mulai menelan langit, Sehabis makan malam, Aluna sudah siap dengan piyama tidurnya. Arya merebahkan tubuhnya di sebelah gadis itu.
"Yang mulia." Bisik Aluna.
"Apa?"
"Apa benar kata zephira, Bahwa aku sangat bodoh?"
Arya terdiam, Lalu mengusap lembut kepalanya. " Tidak, Di bohong."
Aluna lega, Tetapi wajahnya langsung berubah sedih. " Kenapa dia bohong?"
"Karna dia iri." Aluna menatap Arya dengan bingung. "Kau terlihat lebih bahagia darinya." Aluna memeluk Arya, Dan mendongak sedikit.
"Terima kasih yang mulia."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak meninggalkan-ku dan tidak mengirim ku kembali ke rumah." Aluna menatap Arya dengan sebelah pipi tertekan. Arya menatapnya seperti anak kecil.
"Sudahlah, Tidur saja." Tegasnya. Aluna mulai memejamkan mata. Arya ikut memejamkan kedua matanya, Tetapi kini dadanya kembali sakit. "Ugh"
Sial, Mengapa harus sekarang
Arya bangkit dengan langkah lunglai, Ia menahan suaranya. Takut Aluna kembali terbangun. Merasakan adanya pergerakan, Aluna terbangun, Dan menatap Arya dengan polos.
"Yang mulia."
DEG!
Arya meremas jantungnya, Tidak bisa...Ia tak bisa kambuh di sini. Dia tak boleh menyentuh wanita itu.
"Juna!"
Tak lama, Juna masuk dengan wajah khawatir.
"Ya—Yang mulia!" Juna segera memapah Arya untuk pergi, Tetapi Aluna menahan ujung jubahnya.
"Jangan tinggalkan aku." Suara Aluna bergetar, Tangan mungilnya masih menggenggam ujung jubah Arya.
"Nona, lepaskan. Tuan harus segera di obati!" Panik Juna.
Arya menunduk, Nafasnya berat. Dada kirinya seperti di tusuk ribuan pisau, Luka lamanya kambuh. Di telinganya seolah banyak bisikan, Beruntungnya tak ada satu pun pedang di sana. Juna, Yang biasanya membawa pedang, Saat Arya kambuh ia langsung melempar pedangnya ke segala arah.
Dia harus pergi, jika kambuh di depan aluna. Gadis itu akan dalam bahaya...
"Aluna" Suara Arya serak "Lepas."
Aluna menggeleng, Air matanya tumpah. "Engga, Nanti yang mulia engga balik lagi."
Sial.
Dengan sisa tenaga yang ada, Arya berjongkok di hadapan Aluna. Ia menggenggam tangan kecil dan dingin itu.
"Aku tidak pergi" Bisiknya "Aku hanya... Ke kamar sebelah karna sakit."
"Bohong." Aluna terisak. "Yang mulia pucat, Seperti orang ingin mati."
'Tuan, Dia tau.' Batin Juna.
Arya menghela nafas. "Mau ikut?"
Aluna mengangguk, Juna terlihat ingin protes. Tetapi ditahan oleh tatapan Arya. Juna membawa Arya menuju ruang di sebelahnya. Ruang pengobatan. Wangi herbal menyeruak, Dengan lilin yang sudah padam.
Arya duduk dengan pelipis bercucuran keringat, Sedangkan Juna terlihat meracik obat dengan tergesa-gesa. Aluna terduduk di lantai, menatap Arya tanpa berkedip.
"Yang mulia sakit karna aku ya?" tanyanya.
"Tidak."
"Karna zephira datang?"
Arya diam.
"Karna aku ya?" Ulang Aluna, Suaranya pecah. Arya akhirnya menatapnya "Karna aku lemah."
"Ga lemah!" Aluna menyela, "Yang mulia itu orang paling kuat yang pernah aku temui." Kalimat itu terasa hangat.
Tak lama, Juna menyodorkan semangkuk obat " Tuan." Arya menelan obat pahit itu dengan sedikit keluhan, Tak lama wajahnya mengernyit.
Sebungkus madu masuk ke dalam mulutnya yang terasa pahit, Aluna tersenyum polos.
"Manis kan?" Tanyanya, Arya tak menjawab. Ia menarik gadis itu untuk duduk di sebelahnya. Di atas ranjang. "Tidur di sini." Tegasnya.
"Eh—Tapi..."
"Aku bilang tidur."
Aluna menurut, Tubuhnya Meringkuk dan Jarak keduanya cuma sejengkal. Juna pamit keluar dan Menutup pintu. Suasana hening, Cuma ada suara napas Arya yang masih berat.
"Yang Mulia..." bisik Aluna.
"Hm."
"Sakitnya sudah berkurang?"
"Sudah."
"Bohong."
Arya membuka mata. "Kau kenapa masih belum tidur?
"Takut Yang Mulia hilang kalau aku tidur."
Arya terdiam lama. Lalu tangannya bergerak. Mengusap rambut Aluna dengan Kasar. Tetapi terlihat hati-hati.
"Aku tidak akan hilang." Katanya pelan. "Selama kau masih di sini."
Aluna langsung memeluk lengannya. "Janji ya?"
"Janji."
"Janji sama ayam juga?" Arya tak menjawab.
"Tidur." Tegasnya.
Tapi sudut bibirnya naik 1mm.
Aluna senyum. Memejamkan mata. "Selamat malam, Yang Mulia."
"Selamat malam... bodoh."
***
Matahari masuk dari celah jendela. Arya terbangun duluan, Demamnya sudah turun. Dadanya juga tidak sakit lagi. Di sampingnya, Aluna masih tidur, Memeluk lengannya seperti guling. Rambutnya berantakan. Ada bekas air liur di bantal. Arya menatapnya lama.
Gadis ini... kenapa?
"Yang Mulia sudah bangun?" Aluna kebangun. Matanya masih sipit. "Masih sakit?"
"Tidak."
Aluna langsung duduk. Mengecek dahi arya. "Syukur. Aku akan minta bibi Wang membuatkan bubur !" Ia berlari keluar dengan piyama yang masih kusut. Juna masuk bawa air hangat. Melihat Tuan-nya duduk diam.
"Bagaimana, Tuan?"
Arya menatap pintu yang ditinggal Aluna.
"Juna."
"Ya?"
"Perkuat penjagaan. 3x lipat. Jangan ada satu orang pun dari Istana Timur masuk tanpa seizinku." Juna mengangguk. "Siap."
Arya mengepalkan tangannya Kalau Baskara berani menyentuhnya, Aku akan membuatnya menyesal seumur hidup.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏