[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latih Ke 2 Teknik Pernafasan Sekaligus!
"Cepat bergerak!" bentak Tomi sembari melayangkan tendangan keras yang membuat Uskup Sekte Widow jatuh tersungkur di atas salju yang ternoda darah, tepat di depan kaki Simon Blake dan Kapten Jon
Uskup itu mendongak, wajahnya yang pucat dipenuhi kebencian yang mengerikan.
"Dasar bidat! Kamu akan menerima hukuman dari Dewa Laba-Laba! Kalian tidak akan mati dengan tenang!" kutuknya dengan suara yang menggema di kesunyian bukit.
Kapten Jon yang telah melihat banyak kekejaman di dunia ini, membungkuk dan mencengkeram rambut uskup itu dengan kasar, memaksanya menatap medan pembantaian di sekitar mereka.
"Kutuk kami? Lihat seberapa banyak orang yang telah kamu bunuh demi ritual gilamu ini. Bukankah seharusnya orang-orang yang kamu bantai itulah yang mengutukmu?" tanya Jon dengan nada rendah yang mengancam.
Uskup itu justru menyeringai gila, seolah-olah rasa sakit fisik tidak ada artinya bagi jiwanya.
"Kalian tidak tahu... itulah berkah bagi mereka untuk datang ke pelukan Dewa Laba-Laba! Kalian manusia fana tidak akan pernah mengerti!" serunya dengan nada yang tinggi.
"Brengsek! Kapten, aku ingin membunuhnya sekarang juga!" teriak Jack sembari menghunus pedangnya, matanya memancarkan kemarahan.
"Jangan impulsif, Jack!" potong Shade sembari menahan pergelangan tangan rekannya dengan kuat.
"Benar, Jack. Kita tunggu keputusan Kapten Jon terlebih dahulu," tambah Gogo.
Tomi menatap Kapten Jon, menantikan instruksi selanjutnya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan pada orang ini, Kapten?" tanya Tomi.
Kapten Jon melepaskan cengkeramannya pada rambut uskup itu dengan jijik.
"Kita serahkan dia pada Baron Brent terlebih dahulu. Ikat dia dengan rantai, lalu kita kurung dia di desa malam ini. Lebih baik kita beristirahat dulu, besok kita berangkat kembali menuju kediaman Baron," perintah Kapten Jon.
"Mengerti!", "Baiklah!", "Siap, Kapten!" Balas anggota tim lainnya secara bergantian.
Simon, yang sejak tadi hanya berdiri diam dengan tangan menyilang di balik jubah hitamnya, mengangguk kecil sebagai tanda setuju.
Rombongan kavaleri itu pun mulai bergerak meninggalkan area altar berdarah tersebut untuk kembali ke desa sebelumnya.
Namun, di tengah perjalanan Simon berhenti sejenak.
"Kalian duluan saja. Aku merasa mules dan ingin membuang air besar terlebih dahulu," ucap Simon dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.
"Hmm? Baiklah" kata Shade.
"Hati-hati Simon awas ada hantu!" Kata Tomi.
"Tidak mungkin ada senior Tomi, jika ada akan aku tebas dengan pedangku!" Kata Simon.
""Hahahahah""
Rekan-rekannya tidak menaruh curiga dan melanjutkan perjalanan tanpa Simon, meninggalkan pemuda itu sendirian di tengah hutan pinus yang remang-remang.
Begitu bayangan tim Kapten Jon menghilang sepenuhnya dari pandangan, Simon menghela napas lega.
Tentu saja ia tidak sakit perut.
Baginya, setiap pertempuran yang berakhir adalah tambang emas untuk memperkuat Sistem Kemahirannya.
Simon menoleh ke arah tumpukan mayat anggota sekte yang berserakan di kejauhan.
"Looting Time!" bisik Simon dengan sepasang mata merah yang berbinar.
Ia segera melesat kembali ke arah bukit, siap merampas koin emas yang mungkin disimpan oleh para pengikut sesat.
Simon segera melangkah mendekati jasad Janda Hitamyang terbujur kaku di atas salju.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Dengan tangan yang lincah khas seorang pencuri, ia mulai menggeledah saku dan lipatan jubah wanita itu.
Namun, alih-alih menemukan kantong koin atau ramuan berharga, tangan Simon justru menarik keluar sehelai celana dalam berwarna merah dari kantung tersembunyinya.
Simon menatap benda itu dengan dahi berkerut.
"Astaga, tidakkah kau membawa uang sedikit pun? Setidaknya satu koin perak juga tidak apa-apa," gerutunya sembari membanting kain merah itu ke tanah dengan rasa jijik.
Ia tidak berhenti di sana, Simon segera beralih memeriksa jasad anggota sekte lainnya.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Dari penggeledahan tersebut, ia berhasil mengumpulkan 12 koin emas, ini bisa menjadi sebuah tambahan modal yang cukup berarti bagi tabungannya.
"Nampaknya sudah tidak ada apa-apa lagi di sini?" gumam Simon sembari menyapu pandangan ke sekeliling area perkemahan yang kini sunyi.
"Tunggu! Sepertinya aku belum memeriksa di bagian altar itu."
Rasa telitinya menuntun langkahnya menuju altar utama.
Ia memindai setiap sudut hingga matanya menangkap sebuah peti kayu kecil yang tersembunyi di balik bayangan struktur altar.
"Ketemu! Apa isinya ya?" Simon membuka paksa peti tersebut.
Di dalamnya terdapat tiga lembar gulungan. Dua di antaranya hanya berisi doa-doa fanatik kepada Dewa Laba-laba yang menurutnya tidak berguna, namun gulungan terakhir menarik perhatiannya, itu adalah Pernafasan Laba-laba!
Simon menyimpan gulungan itu di balik jubahnya.
"Mungkin inilah yang dipraktikkan Janda Hitam tadi, membuatnya memiliki gerakan yang tidak masuk akal," pikirnya.
Ia kemudian membersihkan area sekitarnya dari mayat-mayat yang bersimbah darah yang mulai membeku dan duduk bersila di tengah.
Simon mengeluarkan gulungan Pernafasan Titan Jormungar yang didapatnya dari gua es.
Ia mulai mengatur posisi tubuhnya, mencoba meniru ilustrasi raksasa dalam teknik itu yang mengendalikan badai salju.
Menarik napas dalam-dalam, membayangkan paru-parunya adalah gua es yang luas, lalu menghembuskannya dengan getaran yang sangat berat.
mencoba membuat otot memori baru.
Setiap gerakan tangannya terasa berat seolah ia sedang mendorong bongkahan gunung es.
Hawa dingin yang menusuk tiba-tiba muncul dari dalam sumsum tulangnya, membuat uap yang keluar dari mulutnya menjadi lebih pekat dari biasanya.
[ Pernafasan Titan Jormungar (Pemula): 1/100 ]
"Biarkan itu masuk dulu ke dalam panel, aku akan melatihnya di lain waktu," bisik Simon sembari menyeka embun beku yang menempel di topeng besinya.
Selanjutnya, ia membuka gulungan Pernafasan Laba-laba.
Berbeda dengan Jormungar yang berat, teknik ini terasa jauh lebih ringan dan halus.
Simon mulai bernapas dengan ritme yang sangat tipis dan cepat, menyesuaikan frekuensi detak jantungnya dengan getaran alam di sekitarnya.
Seketika, ia merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh permukaan kulitnya. Bulu-bulu halus di lengannya berdiri tegak, menjadi sangat sensitif terhadap sekecil apa pun pergeseran di udara.
Ia bisa merasakan jatuhnya sebutir salju di belakang punggungnya tanpa perlu menoleh.
Ini adalah sistem peringatan otomatis yang mirip dengan Indra Laba-laba pada kehidupan sebelumnya.
[ Pernafasan Laba-laba (Pemula): 1/100 ]
"Hebat! Tidak perlu fokus pada kekuatan sepenuhnya, melatih teknik indra persepsi juga perlu!" Gumam Simon dengan puas.
Dengan kemampuan ini, peluangnya untuk disergap secara tiba-tiba akan berkurang drastis di masa depan.
Setelah memastikan seluruh barang rampasannya aman di dalam kantungnya, Simon segera merapikan penampilannya.
Ia melangkah dengan cepat meninggalkan bukit berdarah itu menembus kegelapan hutan, sebelum Kapten Jon dan yang lainnya mulai curiga dengan waktu buang air besarnya yang terlalu lama.