Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Pita Merah Kedua
Tiga bulan setelah "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" resmi menjadi mata kuliah wajib di Akademi Bunga Plum dan setelah "Ruangan Karpet" mulai dibangun di dua puluh klinik di seluruh provinsi, Tang Yue yang baru berusia enam belas tahun datang ke paviliun pada dini hari dengan wajah yang tidak bisa tidur dan dengan buku catatan yang sudah penuh coretan di pinggirnya, karena semalam dia ditunjuk oleh ibunya untuk pertama kali memimpin sesi sendiri tanpa pengawasan langsung, bukan dengan pasien orang dewasa yang sudah terbiasa dengan duka, melainkan dengan seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Xiao An yang sudah dua bulan tidak berbicara setelah melihat ayahnya dipenggal di depan pasar karena dituduh mencuri beras, sebuah kasus yang membuat seluruh murid senior di akademi menggeleng dan berkata bahwa itu terlalu berat untuk anak seusia Tang Yue, tetapi Xinyue hanya menatap putrinya dan berkata, "Kalau kau siap duduk, maka kau siap mencoba. Dan kalau kau gagal, maka kita belajar dari gagal itu bersama."
Pagi itu, di "Ruangan Karpet" sayap barat akademi, hanya ada tiga orang, Tang Yue yang duduk dengan punggung terlalu tegak karena gugup, Xiao An yang duduk di sudut dengan kepala menunduk dan dengan tangan yang terus meremas ujung bajunya, dan di luar pintu, Tang Hyun berdiri bersandar di dinding dengan alat kulit di tangan kirinya, tidak masuk, tidak mengganggu, hanya memastikan bahwa jika putrinya butuh, maka dia ada dalam jarak satu teriakan, sebuah posisi yang sama persis seperti yang dulu Xinyue lakukan ketika Tang Hyun belajar menulis lagi dengan tangan kiri.
Satu jam pertama tidak ada satu kata pun yang keluar, Tang Yue menuang teh dua kali, tehnya dingin, lalu dia menuang lagi, dan Xiao An hanya menatap uapnya seolah uap itu bisa membawa pergi ayahnya, dan Tang Yue yang sudah menghafal semua teori dari ibunya tiba-tiba lupa semuanya, karena teori tidak pernah mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika ada anak yang menatapmu seperti kau adalah orang terakhir di dunia yang masih hidup.
"Aku... aku tidak tahu harus bilang apa," bisik Tang Yue pada akhirnya, jujur, "tapi ibuku pernah bilang, kalau tidak tahu harus bilang apa, maka duduk saja. Jadi aku akan duduk."
Xiao An tidak menjawab, tetapi bahunya yang tadinya tegang sedikit turun, dan Tang Yue menarik napas, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, bukan pita merah milik ibunya, melainkan pita biru kecil yang dia jahit sendiri semalam, pita yang tidak rapi, benangnya berantakan, tetapi itu adalah pita pertama yang dia buat, "Ini untukmu," kata Tang Yue pelan, "bukan karena kau harus sembuh. Tapi karena aku mau kau tahu, ada orang yang ingat kau ada."
Xiao An menatap pita itu, tidak mengambilnya, tetapi juga tidak menolak, dan Tang Yue meletakkannya di lantai di antara mereka, lalu mundur selangkah, "Kau boleh ambil kapan saja. Atau tidak sama sekali. Tidak apa-apa."
Di luar, Tang Hyun mendengar keheningan itu dan mengepalkan tangan kirinya, karena dia tahu rasanya duduk di ruangan dan merasa tidak berguna, dan dia berbisik dalam hati, "Yue, kau sudah melakukan yang benar."
Hari kedua, Xiao An datang lagi, masih tidak bicara, tetapi kali ini dia duduk lebih dekat ke pita itu, sejauh satu telapak tangan, dan hari ketiga, dia menyentuhnya dengan satu jari, dan hari kelima, ketika Tang Yue bercerita tentang bagaimana ibunya pernah tersesat di kabut dan bagaimana ayahnya datang menjemputnya, Xiao An tiba-tiba bertanya dengan suara serak, "Ayahku... bisa dijemput juga?"
Pertanyaan itu membuat Tang Yue terdiam lama, karena tidak ada buku yang mengajarkan cara menjawab itu, jadi dia hanya menjawab dengan jujur, "Tidak. Ayahmu tidak bisa kembali. Aku minta maaf. Tapi aku bisa duduk di sini denganmu. Sampai rasa sakitnya tidak sebesar dulu lagi."
Xiao An menangis, bukan tangis keras seperti anak kecil, melainkan tangis pelan yang sudah ditahan terlalu lama, dan Tang Yue tidak memeluknya, dia hanya menggeser cangkir teh lebih dekat, "Minum. Kalau tersedak, aku tepuk punggungmu."
Minggu kedua, Xiao An mulai membawa gambar, gambar ayahnya dengan tongkat dan karung beras, gambar yang dia gambar dengan arang di atas kertas bekas, dan dia meletakkannya di depan Tang Yue tanpa berkata apa-apa, dan Tang Yue menerimanya dengan kedua tangan, "Ini bagus," katanya, "Ayahmu pasti bangga."
Di akhir minggu kedua, Xiao An akhirnya mengambil pita biru itu dan mengikatkannya di pergelangan tangannya sendiri, dan ketika dia pergi, dia menoleh dan berkata pelan, "Besok... aku datang lagi."
Tang Yue keluar dari ruangan dengan kaki gemetar, dan begitu melihat ayahnya di luar, dia langsung berlari dan memeluknya, "Ayah, aku melakukannya. Aku tidak tahu benar atau salah, tapi aku melakukannya."
Tang Hyun mengusap kepala putrinya dengan tangan kiri, "Kau tidak harus benar. Kau hanya harus hadir. Dan kau hadir."
Malam itu, Xinyue mendengar laporan dari putrinya dan menangis, bukan karena sedih, melainkan karena bangga, "Kau memberinya pita," katanya, "sama seperti ayahmu memberiku pita."
"Bukan pita yang sama, Ibu," jawab Tang Yue, "tapi pita yang kedua. Karena sekarang ada dua orang yang mau menunggu."
Berita tentang "Pita Biru" menyebar di akademi, dan murid-murid lain mulai membuat pita mereka sendiri, ada yang merah, ada yang hijau, ada yang kuning, dan mereka mulai menyebutnya "Pita Penunggu", sebuah simbol bahwa mereka tidak akan meninggalkan pasien mereka sendirian, dan Xinyue yang melihat itu hanya tersenyum dan berkata pada Tang Hyun, "Lihat. Luka kita melahirkan sesuatu yang baru."
Sebulan kemudian, Xiao An berbicara lebih banyak, dia mulai membantu di dapur klinik, mencuci cangkir, dan suatu sore dia datang ke Tang Yue dan berkata, "Kak Yue, aku mau belajar cara membuat pita juga. Untuk orang lain."
Tang Yue mengajarinya, dan tangan kecil Xiao An yang gemetar berhasil membuat pita biru kedua, meskipun benangnya kusut, dan pita itu diberikan kepada seorang nenek yang kehilangan cucunya, dan nenek itu memeluk Xiao An dan berkata, "Terima kasih, nak."
Tang Hyun yang melihat dari jauh menulis di jurnalnya malam itu, "Hari ini putriku menyelamatkan seseorang. Bukan dengan racun. Bukan dengan pedang. Dengan pita dan dengan duduk."
Xinyue membaca tulisan itu dan menambahkan, "Dan dengan keberanian untuk tidak tahu jawabannya."
Dua bulan berlalu, dan "Proyek Pita Penunggu" resmi dimulai, sebuah proyek kecil di bawah "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" di mana setiap murid yang lulus harus membuat minimal tiga pita dan memberikannya kepada tiga orang yang sedang berduka, dan laporannya bukan tentang berapa banyak yang sembuh, melainkan tentang berapa lama mereka mau duduk bersama.
Tang Ming yang mendengar tentang proyek itu dari adiknya langsung menyetujui dana, "Kalau ini bisa membuat satu anak tidak bunuh diri, maka ini lebih berharga daripada seribu prajurit," katanya.
Pada hari peresmian "Pojok Pita" di akademi, sebuah dinding tempat ratusan pita digantung oleh pasien dan murid, Tang Yue diminta berbicara, dan dia berdiri di depan semua orang dengan gugup, dengan pita biru di tangannya, dan dia berkata, "Aku dulu pikir menyelamatkan orang itu seperti Ayah. Masuk ke kabut, bertarung, menang. Tapi ternyata menyelamatkan orang juga bisa seperti ini. Duduk. Menunggu. Dan memberikan pita."
Aula itu hening, lalu tepuk tangan, dan Xiao An yang duduk di baris depan ikut bertepuk tangan dengan semangat, dan Tang Hyun yang melihat itu merasa matanya panas.
Malamnya, keluarga mereka makan malam bersama, dan Xinyue mengeluarkan sebuah kotak kecil, di dalamnya ada dua pita, satu merah miliknya, satu biru milik Tang Yue, "Mulai sekarang," kata Xinyue, "ini pusaka keluarga kita. Bukan pedang. Bukan racun. Tapi pita."
Tang Lei yang biasanya paling ribut malah diam, lalu dia berkata, "Aku juga mau buat pita. Warna oranye. Untuk kuda aku yang mati."
Semua orang tertawa, dan tawa itu menghangatkan paviliun.
Beberapa minggu kemudian, datang surat dari perbatasan, dari klinik tempat Xiao An sekarang tinggal bersama bibinya, surat yang ditulis oleh kepala klinik, "Yang Mulia, Xiao An sudah mulai bicara penuh. Dia bilang dia ingin jadi murid di Akademi Bunga Plum. Dia bilang dia ingin punya 'Pita Penunggu' sendiri. Terima kasih."
Tang Yue membaca surat itu tiga kali, lalu dia berlari ke ayahnya, "Ayah, dia mau jadi tabib!"
Tang Hyun mengangguk, "Maka kita ajarkan. Karena Klan Tang tidak hanya mewarisi racun. Kita mewarisi cara menyembuhkan."
Di akhir musim gugur, ketika daun mulai jatuh, Xinyue dan Tang Yue duduk di "Ruangan Karpet" tanpa pasien, hanya mereka berdua, dan Xinyue berkata, "Kau tahu, waktu aku di kabut itu, aku pikir aku tidak akan pernah bisa menolong orang lagi."
"Dan sekarang Ibu menolong lebih banyak orang daripada sebelumnya," jawab Tang Yue, "karena Ibu tahu rasanya."
Xinyue memeluk putrinya, "Terima kasih karena menjadi pita kedua."
"Terima kasih karena mengajari aku cara mengikatnya," jawab Tang Yue.
Tang Hyun yang menguping dari luar hanya tersenyum dan kembali ke bengkelnya, karena dia tahu bahwa pekerjaannya sebagai ayah sudah mulai digantikan oleh pekerjaan sebagai saksi, saksi bagaimana anaknya tumbuh menjadi orang yang bisa menyembuhkan tanpa harus melukai dirinya sendiri.
Malam terakhir di tahun itu, keluarga Tang berkumpul di bawah pohon bunga plum, dan setiap orang membawa satu pita, Tang Hyun membawa pita merah tua, Xinyue membawa pita merah muda, Tang Yue membawa pita biru, Tang Lei membawa pita oranye, dan Tang Ming membawa pita emas karena dia Kaisar, dan mereka menggantung semua pita itu di satu dahan, "Ini janji kita," kata Tang Hyun, "bahwa selama masih ada orang yang sakit di hati, maka keluarga Tang akan ada untuk duduk bersama mereka."
Angin bertiup, dan pita-pita itu berkibar, merah, biru, oranye, emas, seperti bendera kecil yang tidak untuk perang, melainkan untuk perdamaian.
Sebelum tidur, Tang Yue menulis di jurnalnya, "Hari ini aku mengerti. Pahlawan bukan orang yang tidak takut. Pahlawan adalah orang yang takut, tapi tetap duduk. Dan memberikan pita."
Xinyue membaca tulisan itu dan mencium kening putrinya, "Kau sudah jadi pahlawan, Yue."
Dan Tang Hyun, yang melihat dari pintu, berpikir bahwa mungkin inilah cara terbaik untuk menebus masa lalunya di Sekte Iblis, bukan dengan membunuh lebih banyak orang, melainkan dengan mengajari anaknya cara membuat orang ingin hidup lagi.
Karena "Pita Merah Kedua" bukan hanya tentang Tang Yue, itu tentang semua orang yang pernah diberi kesempatan kedua, dan yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua itu kepada orang lain.
Dan di Chang'an, di bawah bulan yang sama yang dulu menyaksikan Tang Hyun berjalan ke dalam kabut merah, sekarang ada ratusan pita kecil yang berkibar, dan setiap pita itu adalah janji bahwa tidak ada orang yang akan ditinggal sendirian dalam gelap lagi.