Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguji Batas Kesabaran Sang Robot Es
Rasa lelah yang dirasakan Valerie malam itu tidak lantas membuatnya menyerah begitu saja. Sifat keras kepala yang menjadi motor perjuangannya selama setahun lalu kembali mengambil alih. Alih-alih mundur, ego wanitanya yang terluka justru menuntun Valerie pada sebuah keputusan impulsif: dia ingin menguji Dean. Dia ingin tahu sampai di mana batas kepatuhan kaku seorang Dean, dan apakah di balik sikap robotik itu ada secercah rasa takut kehilangan dirinya.
"Kalau dia memang menganggap memenuhi permintaanku adalah bentuk pembuktian cintanya, aku mau tahu seberapa jauh dia bisa bertahan," bisik Valerie pada Tiara suatu sore di kantin kampus, sambil mengaduk jus alpukatnya dengan kasar.
Tiara menghentikan aktivitas mengunyah baksonya, lalu menatap sahabatnya dengan dahi berkerut. "Val, kamu mau ngapain lagi? Kakakku itu kalau ditantang logika, dia bakal pakai kalkulator buat jawab kamu. Jangan cari penyakit."
"Aku tidak menantang logikanya, Ra. Aku cuma mau menguji hatinya. Kalau dia punya hati," sahut Valerie ketus, matanya menyiratkan tekad yang bulat.
Ujian pertama dimulai dua hari kemudian. Jakarta sedang diguyur hujan lokal yang tidak merata, dan jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang—jam-jam sibuk di mana Dean biasanya sedang memimpin rapat operasional mingguan dengan para kepala divisi.
Valerie mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat.
“Kak Dean, aku sedang di perpustakaan kampus. Tiba-tiba kepalaku pusing sekali dan badanku lemas. Bisa jemput aku sekarang dan antar aku pulang ke kos?”
Valerie tahu betul jadwal Dean hari itu karena dia masih menyimpan salinan agenda yang pernah dia ambil dulu. Pukul dua siang adalah jadwal sakral bagi Dean. Valerie meletakkan ponselnya di atas meja perpustakaan, menopang dagu, dan mulai menghitung mundur dalam hati. Dia memprediksi Dean baru akan membalas pesannya dua atau tiga jam kemudian, atau mungkin hanya mengirimkan sopir keluarga mereka.
Namun, tepat lima belas menit kemudian, ponselnya bergetar.
“Tunggu di lobi perpustakaan. Saya ke sana sekarang.”
Valerie tertegun. Dua puluh menit berlalu, mobil sedan hitam milik Dean sudah terparkir di depan lobi perpustakaan kampus yang sepi. Ketika Valerie melangkah keluar, dia melihat Dean turun dari kursi kemudi. Pria itu masih mengenakan kemeja formal tanpa jas, lengan bajunya digulung hingga siku, dan napasnya sedikit memburu seolah dia baru saja berlari dari tempat parkir.
Dean berjalan mendekatinya, menatap wajah Valerie dengan saksama. "Di mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang atau langsung ke kosmu?" tanya Dean, suaranya tetap datar namun ada nada ketegasan yang mutlak.
Valerie yang sebenarnya sehat walafiat mendadak merasa bersalah melihat wajah lelah kekasihnya. Dia memegang kepalanya, berpura-pura meringis pelan. "Ke kos saja, Kak. Cuma butuh istirahat."
Sepanjang perjalanan, Dean tidak banyak bicara. Dia fokus menyetir, namun tangannya sesekali bergerak mengubah suhu pendingin mobil agar tidak terlalu dingin untuk Valerie. Setibanya di kos, Dean mengantarnya sampai ke depan pintu kamar, memastikan Valerie masuk, lalu menyerahkan sebungkus obat sakit kepala dan bubur ayam yang ternyata sempat dia beli di dekat kampus tadi.
"Makan buburnya, lalu minum obatnya. Saya harus kembali ke kantor karena rapat saya tadi tertunda," ucap Dean sambil melirik jam tangannya.
"Kak Dean... membatalkan rapat demi aku?" tanya Valerie pelan, menatap kantong plastik berisi bubur di tangannya.
"Rapat bisa dijadwalkan ulang. Menjemput kekasih saya yang sedang sakit adalah kewajiban saya," jawab Dean tenang. Dia mengusap puncak kepala Valerie sekali—sebuah gestur yang sangat jarang dia lakukan—lalu berbalik pergi tanpa menunggu balasan kata dari Valerie.
Valerie bersandar di balik pintu kamarnya yang tertutup, memeluk bungkusan bubur itu dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatinya menghangat karena Dean langsung datang mengabaikan pekerjaannya. Namun di sisi lain, kata 'kewajiban' yang diucapkan Dean kembali menamparnya. Dean datang bukan karena panik secara emosional, melainkan karena logikanya mengatakan bahwa seorang pacar yang baik harus menjemput pasangannya yang sakit. Hubungan mereka terasa seperti daftar tugas yang harus dicentang oleh Dean demi memenuhi standar formalitas.
Ujian kedua dirancang Valerie satu minggu kemudian, kali ini melibatkan ego dan preferensi pribadi Dean yang sangat tinggi terhadap keteraturan dan kebersihan.
Dean adalah seorang pria yang sangat membenci makanan manis berlebihan dan tempat-tempat yang bising. Dia selalu memilih restoran bernuansa privat dengan musik jazz yang tenang. Maka dari itu, Valerie sengaja mengajaknya pergi ke sebuah pasar malam yang sedang viral di pinggiran kota pada hari Sabtu malam—waktu di mana tempat itu pasti akan sangat padat, panas, dan penuh sesak.
"Kak, aku mau makan sate taichan dan croffle manis di pasar malam dekat Square Park. Kita ke sana yuk malam ini?" ajak Valerie lewat panggilan telepon.
Ada jeda beberapa detik di seberang sana. Valerie bisa mendengar helaan napas halus Dean sebelum pria itu menjawab, "Baik. Saya jemput jam tujuh malam."
Ketika mereka tiba di lokasi, tempat itu jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan. Lautan manusia memenuhi koridor sempit di antara tenda-tenda makanan. Asap pembakaran sate mengepul ke udara, membuat mata perih, dan udara malam terasa sangat gerah.
Dean yang mengenakan kaus polo kasual berwarna putih tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Wajahnya mengeras, matanya menatap kerumunan itu dengan pandangan tidak nyaman. Seseorang yang berjalan terburu-buru bahkan sempat menyenggol bahu Dean, meninggalkan sedikit noda minyak di kaus putihnya yang mahal.
Valerie melirik ekspresi Dean, menanti pria itu meledak marah atau mengajak pulang. "Kak Dean kalau tidak nyaman, kita bisa pulang," pancing Valerie.
Dean menoleh, menatap noda di bajunya sejenak, lalu kembali menatap Valerie. "Kamu mau makan sate dan croffle, bukan? Mari kita cari tempat antreannya."
Pria itu kemudian mengambil inisiatif berjalan di depan Valerie. Tubuhnya yang tinggi tegap dijadikan tameng untuk membelah kerumunan, melindungi Valerie agar tidak tersenggol oleh orang-orang yang lalu lalang. Dean ikut berdiri mengantre di depan gerobak sate selama tiga puluh menit di bawah sengatan asap dan udara panas, tanpa mengeluh satu kata pun.
Saat croffle manis yang berlumuran cokelat pekat pesanan Valerie datang, Valerie sengaja menyuapkannya ke mulut Dean. "Aam... Kak, coba deh, manis banget enak!"
Dean menatap sendok yang berlumuran cokelat itu dengan dahi berkerut. Dia sangat membenci makanan manis yang melekat di gigi. Namun, melihat mata Valerie yang berbinar menatapnya, Dean membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Dia mengunyahnya dengan ekspresi kaku yang menggelikan, lalu menelan paksa makanan itu.
"Bagaimana? Enak kan?" tanya Valerie, menahan senyum.
"Terlalu manis. Tapi kalau kamu suka, habiskan saja," jawab Dean datar, sambil mengeluarkan saputangan dari sakunya untuk membersihkan sudut bibir Valerie yang terkena cokelat.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Valerie duduk diam menatap ke luar jendela mobil. Semua ujiannya berhasil dilalui oleh Dean dengan nilai sempurna. Dean tidak pernah menolak permintaannya, tidak pernah memarahinya karena bersikap impulsif, dan selalu mementingkan kenyamanan Valerie di atas kenyamanan pribadinya.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Valerie justru merasa semakin hampa.
Dean memenuhi semua permintaannya bukan karena dia terdorong oleh letupan emosi cinta yang membara. Pria itu melakukannya karena dia adalah seorang perfeksionis. Ketika dia memutuskan untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan, logikanya menuntut dirinya untuk menjadi sosok pasangan yang tidak bercelah. Dia memperlakukan Valerie dengan sangat baik karena itu adalah bagian dari kesepakatan hubungan yang mereka tanda tangani secara implisit di kafe setahun lalu.
Tidak ada kecemburuan, tidak ada spontanitas, tidak ada ekspresi emosi yang meledak-ledak. Semuanya terukur, presisi, dan dingin.
"Kak Dean," panggil Valerie pelan saat mobil berhenti di depan gerbang kosnya.
"Ya?" Dean menoleh.
"Kenapa Kakak tidak pernah marah padaku? Bahkan saat aku bersikap egois dan merepotkan seperti malam ini?"
Dean menatap Valerie dengan tatapan matanya yang selalu tenang dan rasional. "Untuk apa saya marah, Valerie? Kamu adalah kekasih saya. Sudah menjadi tugas saya untuk menuruti apa yang kamu inginkan, selama itu tidak membahayakan dirimu. Mengapa kamu harus mempertanyakan hal itu?"
Valerie menatap sepasang mata elang itu, mencari apakah ada riak emosi lain di sana. Namun yang dia temukan hanyalah kekosongan emosional yang terbungkus rapi oleh sikap protektif yang mekanis.
Valerie tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa lelah yang semakin menumpuk. "Nggak apa-apa, Kak. Terima kasih untuk malam ini. Kakak hati-hati di jalan."
Valerie turun dari mobil dengan langkah gontai. Dia menyadari satu hal yang menyakitkan: menguji seorang robot tidak akan pernah mengubahnya menjadi manusia. Dan batas kesabaran Dean yang tidak terbatas itu justru perlahan-lahan membunuh sisa-sisa harapan di dalam hatinya sendiri. Di saat yang sama, badai lain dari masa lalunya—konflik internal di dalam keluarganya—sudah mengintai di sudut hari berikutnya, siap meruntuhkan ketahanan mental Valerie yang sudah semakin rapuh.