Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh Menit Untuk Marah
Pangeran Erlan memandangi wajah Nandikara yang masih dipenuhi rasa takut. Gadis itu bahkan enggan mengangkat kepalanya. Bahunya sedikit gemetar, seolah kehadirannya saja sudah cukup membuatnya tertekan.
Tatapan mata tajam milik sang pangeran perlahan melembut, meski hanya sesaat. Apa dia sudah keterlaluan?
Pertanyaan itu sempat terlintas di benaknya. Namun hanya sesaat sebelum kembali ditepis oleh keyakinannya sendiri.
Tidak.
Nandikara harus mengerti. Dia tidak boleh lagi berpikir untuk menolak, tidak akan pernah ada celah untuk gadis ini lolos dari jangkauannya. Dengan sukarela atau dengan paksaan, itu sama saja bagi Erlan.
Dengan pikiran itu, Erlan akhirnya melonggarkan pelukannya. Lengan yang sejak tadi mengurung tubuh mungil Elisa perlahan terlepas.
"Jika urusanmu sudah selesai," ucapnya tenang seolah tidak terjadi apa-apa,"aku akan mengantarmu sampai ke tenda keluarga Winter. Sebentar lagi makan malam bersama Raja akan segera dimulai."
Ucapan itu seakan membangunkan Elisa dari keterkejutannya. Gadis itu segera mundur dua langkah sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut akibat pelukan tadi.
"Aku bisa pulang sendiri."Jawabannya terdengar ketus. Bahkan Elisa sengaja menghindari menatap wajah Erlan. Yang ada di kepalanya saat ini hanya satu.
Aku harus cepat keluar dari ruangan ini.
Tanpa menunggu balasan, ia segera berbalik hendak pergi. Namun baru saja kakinya melangkah, suara berat Erlan kembali menghentikannya.
"Ku beri waktu sepuluh menit, Nandikara."
Elisa berhenti. Perlahan ia menoleh ke belakang.
Erlan kini sudah berdiri di dekat meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu santai di atas permukaan meja, sementara tatapan matanya tetap tertuju pada Elisa.
"Aku memberimu waktu sepuluh menit untuk melepaskan semua isi hatimu yang sedang kau tahan."
Elisa mengerjapkan mata beberapa kali.
"Marahlah." Suara Erlan tetap datar."Memakilah, seperti yang kau lakukan pada malam pertama kali kita bertemu. Lepaskan semua emosimu agar rasa kesal di wajah cantikmu menghilang, karena aku tidak suka dengan ekspresi itu."
Elisa langsung merengut.
Hah?
Dia serius?
Dia menyuruhku marah?
Dalam hati Elisa justru mulai tergoda. Dia memang ingin sekali memaki-maki pria lancang itu. Elisa menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali.
Melihat Elisa masih diam, Erlan kembali berkata,
"Aku akan mendengarkannya tanpa menyela. Aku juga tidak akan marah. Aku hanya ingin ekspresi kesal itu hilang dari wajahmu."
Kedua mata Elisa langsung berbinar tipis.
Ini kesempatan emas!
Elisa segera menegakkan tubuhnya."Berjanjilah Yang Mulia tidak akan marah. Apalagi sampai menghukumku setelah ini."
Tatapan keduanya saling bertemu.
Beberapa detik ruangan kembali sunyi.
Lalu, senyuman tipis terukir di bibir Erlan. Senyuman yang sangat jarang diperlihatkannya kepada siapa pun."Aku berjanji, Nandikara."
Mendengar jawaban itu, Elisa langsung menarik napas dalam-dalam, dan mengepalkan kedua tangannya, lalu semua kekesalan yang sejak tadi dipendam akhirnya meledak begitu saja."Anda adalah pria yang sangat arogan!"
Erlan hanya diam.
"Anda juga sok tampan!"
Alis Erlan terangkat sedikit.
"Sok berkuasa! Anda itu menyebalkan!"
Tidak ada sanggahan.
"Dan menyeramkan!" Elisa mulai menunjuk-nunjuk wajah sang pangeran tanpa sadar."Aku selalu takut kalau sudah berurusan dengan Anda! Jadi tolong jangan pernah mencari masalah denganku lagi! Karena itu sangat menakutkan! Yang Mulia benar-benar menakutkan!"
Semua kalimat itu keluar tanpa jeda.
Tanpa koma.
Tanpa napas.
Begitu selesai berbicara, Elisa langsung membungkuk sambil memegangi lututnya sendiri. Napasnya tersengal-sengal akibat terlalu bersemangat memarahi Erlan.
Sementara itu, ruangan mendadak sunyi.
Elisa perlahan mengangkat kepalanya. Yang dilihatnya justru membuat dahinya berkerut. Erlan yang sejak awal hanya memasang senyum tipis kini tertawa pelan.
Lalu tawa itu semakin jelas terdengar. Suara tawanya rendah namun tulus, sampai bahunya ikut bergetar.
Elisa benar-benar kebingungan.
Loh?
Kenapa dia malah tertawa?
Bukannya marah?
Dia memang aneh?
Elisa mendengus pelan."Terserahlah."
Tanpa ingin mencari tahu lebih jauh, ia segera berbalik lalu berlari keluar dari ruangan kerja sang pangeran. Pintu terbuka dengan cepat, kemudian kembali tertutup.
Meninggalkan Pangeran Erlan seorang diri.
Tawa pria itu masih terdengar beberapa saat setelah sosok Nandikara menghilang dari pandangannya.