Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba Jadi Bangsawan
"Meski baru saja pulih dari sakit, kecantikan Anda sama sekali tidak memudar, Nona."
Pujian yang meluncur dari bibir pelayan yang tengah menyisir rambut panjang majikannya itu rupanya tidak mampu mencairkan ekspresi dingin di wajah sang nona.
"Wajahku masih pucat, Cani. Mana mungkin terlihat cantik? Jangan mengada-ada."
Pelayan bernama Cani itu langsung menggeleng kuat."Mana berani saya mengada-ada, Nona? Anda memang sangat cantik. Lady Nandikara adalah bangsawan muda tercantik di seluruh Wilayah Timur."
Memang sudah menjadi rutinitas Cani, setiap dia membantu nonanya bersolek, Ia harus memberikan banyak pujian, dan sanjungan pada majikannya, karena kalau tidak, Cani akan mendapatkan masalah besar. Tapi hari ini, pujian itu benar-benar tulus. Nonanya memang terlihat sangat cantik dengan riasan yang sangat sederhana, tidak seperti biasanya.
Namun, alih-alih senang mendengarnya, Nandikara justru semakin mengerucutkan bibir."Sudah cukup, Cani. Kau boleh pergi."
"Baik, Nona. Jika membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya."
Cani membungkukkan badan hormat sebelum melangkah keluar. Tak lama kemudian, pintu kamar pun tertutup pelan, menyisakan keheningan yang begitu terasa.
Begitu hanya seorang diri, Nandikara atau lebih tepatnya Elisa mengangkat sebelah tangannya ke arah cermin besar di hadapannya. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan kaca yang dingin, sementara sepasang mata bening itu menatap pantulan seorang gadis berparas luar biasa cantik.
Itu bukan wajahnya. Bukan wajah Elisa yang biasa ia lihat setiap pagi sebelum berangkat kerja. Wajah itu milik Lady Nandikara, salah satu tokoh pendukung dalam novel yang pernah ia baca.
"Kalau ini mimpi, kok lama banget sih? Sampai kapan gue terjebak di sini?" gumamnya sambil mengembuskan napas panjang.
Namanya Elisa.
Seorang gadis pekerja biasa yang entah karena keajaiban apa, tiba-tiba terbangun di dalam dunia novel kerajaan berjudul 'Mengejar Cinta Sang Putra Mahkota'. Masalahnya, dari sekian banyak karakter yang ada, ia justru merasuki tubuh Lady Nandikara. Salah satu karakter pendukung yang jarang muncul, tapi sekali muncul menjengkelkan, tipe antagonis.
"Jika dipikir-pikir lagi, enak juga ya hidup di sini," ocehnya sambil tetap menatap bayangannya sendiri."Mau makan tinggal bilang, langsung disiapin. Mau apa-apa ada pelayan. Nggak kayak hidup gue yang isinya kerja mulu dari pagi sampai malam. Kaya engga, gila iya."
Elisa mendecak pelan."Wajah cantik, kaya, lahir dari keluarga bangsawan. Beruntung banget hidup lo, Nandikara." Ia menggeleng kecil, lalu terkekeh sendiri."Sayangnya terlalu bucin sama putra mahkota. Ujung-ujungnya malah sengsara. Padahal kalo hidup Lo lempeng, pasti selamat."
Tatapannya kembali menelusuri wajah cantik di dalam cermin."Eh, sebenarnya lo mati nggak, sih, di akhir cerita?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri."Biasanya tokoh antagonis kan mati tragis. Masalahnya setiap ada adegan lo, selalu gue skip. Jadi gue sama sekali nggak tahu nasib akhir lo."
Seketika senyum tipis di bibirnya memudar."Lama-lama kaya orang gila gue, ngomong sendiri."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Sedikit demi sedikit, Elisa mulai mencerna kenyataan yang sulit diterima.
Yang terakhir kali ia ingat hanyalah pulang kerja dalam keadaan kelelahan. Sesampainya di rumah, ia mandi, lalu merebahkan tubuh di atas kasur sambil melanjutkan novel fantasi romantis favoritnya, karena terlalu larut menikmati cerita, tanpa sadar ia tertidur.
Namun saat membuka mata, bukan lagi langit-langit kamar kontrakannya yang menyambut. Melainkan kamar mewah bergaya kerajaan yang sama persis seperti deskripsi di dalam novel. Awalnya Elisa mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun hari berganti hari, dan ia masih berada di tempat yang sama. Semuanya terasa begitu nyata.
"Gue harus memastikan dulu posisi lo masih aman, Nandikara," gumam Elisa pelan sambil menatap pantulan wajah cantik di hadapannya.
"Kalau memang nggak bisa pulang, setidaknya gue harus cari cara supaya nggak ikut mati di akhir cerita."
***
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Nyonya Winter kepada tabib keluarga yang selama tiga hari terakhir tidak pernah absen memantau perkembangan kesehatan Nandikara.
"Tidak ada luka yang serius," jawab sang tabib sambil merapikan tas medisnya."Hanya saja, Nona masih harus banyak beristirahat. Jangan sampai memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya cemas."
"Dengar itu, Kara. Kau tidak boleh terus-terusan memikirkan bocah sombong itu," bisik Nyonya Winter pelan, seolah tidak ingin ucapannya terdengar oleh sang tabib.
Kening Elisa langsung berkerut.
Bocah sombong? Siapa?
Otaknya bekerja keras mengingat kembali isi novel itu. Namun, tidak ada satu pun bagian yang membahas kehidupan pribadi Nandikara. Wajar saja, gadis itu hanyalah seorang figuran yang nyaris tidak mendapat porsi cerita. Ia hanya muncul sesaat dengan penampilan glamor, selalu mengenakan gaun-gaun berwarna cerah dan riasan wajah yang tebal. Hanya itu yang berhasil Elisa ingat. Karena itulah, ia sempat terkejut saat melihat wajah Nandikara untuk pertama kalinya. Cantik sekali pikirnya. Jauh berbeda dari kesan yang tergambar dalam novel. Kalau Nandikara saja secantik ini, bagaimana dengan Agnes, si pemeran utama, secantik apa dia?
Elisa hanya bisa berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kepanikannya. Ia takut jika Nyonya Winter atau tabib itu mulai mengajukan pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.
Untungnya, setelah pemeriksaan selesai, tabib keluarga segera berpamitan. Nyonya Winter pun mengantarnya keluar kamar.
Keheningan akhirnya menyelimuti ruangan.
Tak lama kemudian...
Tok... tok...
"Bolehkah aku masuk?"
Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan seorang gadis muda yang tampaknya sebaya dengan Nandikara. Wajahnya manis, tetapi ekspresinya terkesan jutek dan dingin.
Jantung Elisa kembali berdegup lebih cepat.
Siapa lagi ini?
Dia sama sekali tidak mengenali wajah gadis itu. Semakin lama berada di dunia novel ini, semakin ia sadar bahwa ternyata kehidupan Nandikara jauh lebih rumit daripada yang tertulis di novel.
"Aku sungguh tidak sengaja, Kara," ucap gadis itu lirih."Kalau kau ingin berteriak atau memarahiku, lakukan saja. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu."
Elisa hanya berkedip bingung. Rasa bersalah? Memangnya dia melakukan apa?
"Aku kan masih sakit," jawab Elisa asal."Kurasa aku tidak punya tenaga untuk berteriak."
Gadis itu melangkah mendekat hingga berdiri di sisi ranjang."Kalau begitu, kau boleh memukulku."
Belum sempat Elisa menjawab, suara nyaring tiba-tiba menggema dari ambang pintu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Suri? Apa kau ingin mencelakai adikmu lagi? Kamu belum puas, sudah membuat Kara terbaring lemah seperti ini?"
Nyonya Winter berdiri di sana dengan wajah penuh kemarahan.
Elisa spontan menoleh ke gadis itu. Dia membeku.
Suri?
Nama itu terasa sangat familiar. Elisa berusaha mengingat-ingat. Dan akhirnya...
Jangan-jangan, dia Suri Winter? Sahabat dekat Agnes, yang merupakan pemeran utama dalam novel.
Mata Elisa membelalak.
Kalau benar, berarti Suri adalah kakaknya Nandikara?