Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Kekuatan 50% Sang Raja Utara.
Keduanya berdiri berhadapan di tengah arena, dipisahkan oleh jarak yang cukup lebar.
Di satu sisi, Raja Isenbard sudah mengenakan pakaian latihan yang ringan dan tengah melakukan perenggangan otot, memutar bahunya hingga terdengar bunyi retakan sendi.
Di sisi lain, Edward berdiri dengan tenang. Ia hanya sesekali melakukan perenggangan kecil, tampak sangat rileks—hampir terlalu rileks untuk ukuran seseorang yang akan berhadapan dengan seorang Raja.
Di pinggir lapangan, deretan bangku penonton telah dipenuhi oleh para petinggi kerajaan. Raja Nolan, Ratu Tiana, Ratu Elizabeth, dan Putri Iselyna duduk dengan anggun, ditemani oleh para pelayan pribadi masing-masing yang berdiri tegak dalam sikap formal di belakang mereka.
“Anda sudah siap, Pangeran Edward?” tanya Raja Isenbard di sela-sela perenggangannya.
“Y-ya, kurasa saya siap,” jawab Edward singkat sembari mengambil posisi bertarung.
Tepat saat itu, seorang pria tua dengan setelan khas kepala pelayan berjalan memasuki tengah arena dengan langkah pasti. Ia adalah Ivan, kepala pelayan istana Nivalis sekaligus pelayan pribadi kepercayaan Raja Isenbard.
Ivan menatap kedua belah pihak secara bergantian dengan tatapan tajam nan berwibawa, lalu mulai membacakan peraturan.
“Baiklah, sebelum dimulai, perhatikan peraturan pertarungan ini.”
Suara Ivan menggema di seluruh area latihan.
“Pertarungan akan terus berlangsung sampai salah satu pihak menyerah atau keluar dari garis batas lapangan. Dilarang keras menggunakan sihir dalam skala besar atau berlebihan yang berpotensi membahayakan kedua petarung maupun struktur istana. Pelanggaran terhadap aturan ini akan mengakibatkan diskualifikasi seketika.”
Ivan memandang kedua orang di depannya. “Apakah Yang Mulia sekalian paham?”
“Tentu saja,” jawab Raja Isenbard dengan seringai penuh semangat, tangannya mulai mengepal.
Edward hanya mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia memfokuskan pandangannya, menunggu aba-aba.
Si pelayan senior berjalan mundur kembali ke bangku penonton, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum berteriak lantang:
“Siap... sedia... MULAI!”
BUMM!
Dentuman dahsyat bergema di udara.
Dalam sekejap mata, dua sosok yang semula berdiri berjauhan melesat cepat. Pukulan mereka beradu tajam di udara, menciptakan gelombang kejut yang menghentak kuat!
Tak berhenti di sana, pertukaran serangan berlangsung makin ganas. Pukulan dibalas pukulan, tangkisan dibalas tangkisan.
BOOM! BOOM! BOOM!
Bunyi benturan tinju mereka terdengar bak rentetan ledakan yang diiringi gempa lokal. Tanah di bawah pijakan mereka mulai retak, membentuk kawah kecil yang kian detik kian meluas!
BUMM!!
Sekali lagi, benturan tinju mereka membelah udara. Gelombang kejut yang tercipta kali ini meluas drastis—hembusan angin kerasnya bahkan sanggup memukul mundur orang-orang di sekitar.
Raja Isenbard menyeringai. Dengan gerakan tangkas, ia melompat mundur lalu menghentakkan kakinya ke tanah.
WUUUSH—!
Seketika, lingkaran-lingkaran sihir bertumpuk memancar mengelilingi tubuhnya. Satu, dua, tiga... hingga puluhan!
Setiap lapisan memancarkan aura penguat yang melipatgandakan kekuatannya secara masif.
“Ayo!”
BOOM!
Lagi, sang Raja melesat menerjang penuh dominasi. Dua sosok manusia super itu kembali beradu pukulan masif di udara!
Edward mencoba memanfaatkan celah kecil dengan melancarkan satu pukulan telak yang mengincar wajah Raja Isenbard. Namun, sang Raja dengan gerakan refleks tingkat tinggi berhasil mengelak, lalu mencengkeram erat lengan Edward.
Tanpa memberi kesempatan bernapas, Isenbard mengayunkan tubuh sang Pangeran dan membantingnya ke tanah berturut-turut!
BUUM! BUUM! BUMM!
Tanah retak dan hancur berkeping-keping di bawah dampak benturan keras itu.
Namun, Edward sama sekali tak berniat pasrah.
Di sela jeda bantingan berikutnya, manik mata sang Pangeran mendadak menyala terang benderang!
SZZZT—!
Pancaran pendaran energi murni bersuhu ekstrem meledak dari kedua mata Edward, menghantam telak dada Raja Isenbard! Hantaman laser kosmik itu seketika memaksa sang Raja melepaskan genggaman lengannya dan terdorong mundur beberapa meter.
Raja Isenbard tersentak kaget. Ini pertama kalinya dalam hidup ia menyaksikan fenomena seperti itu—menembakkan energi penghancur langsung dari iris mata!
Padahal, kenyataannya kekuatan Edward sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan sihir atau fenomena Mana apa pun di dunia ini.
Tanpa memberi waktu jeda bagi lawannya, Edward makin mengencangkan intensitas energi matanya.
Pancaran radiasi itu memancar jauh lebih pekat dan pekat. Tak sekadar memberikan daya dorong fisik, tetapi juga suhu panas ekstrem. panasnya bagaikan sebuah mesin las berteknologi tinggi yang mempunyai suhu yang dapat melelehkan logam terkeras melebihi titanium!
Jika bukan karena tumpukan puluhan sihir penguat serta ketahanan fisik monster milik Raja Isenbard, serangan mata itu dipastikan sudah membelah tubuh sang Raja menjadi dua bagian atau melubangi dadanya.
Tentu saja Edward tidak berniat mencelakai Raja Isenbard secara fatal. Ia tahu betul batas daya tahan lelaki itu. Jika ia sadar serangannya akan membahayakan nyawa sang Raja, Edward pasti akan memilih menggunakan kekuatan fisik murninya.
Dan terbukti—Raja Isenbard bahkan mampu bertahan!
Dengan satu telapak tangan yang dilapisi pendaran sihir tebal, sang Raja menahan laju tembakan energi mata tersebut. Ia justru melesat maju menerobos pancaran panas itu mendekati Edward.
Begitu jarak mereka menipis, Raja Isenbard mengayunkan tinju mautnya ke bawah!
BOOM!!
Hantaman dahsyat itu meremukkan permukaan tanah, menciptakan kawah baru yang menganga lebar. Beruntung, Edward telah lebih dulu melompat ke udara untuk meloloskan diri.
Di pinggir lapangan, seluruh penonton dibuat decak kagum—terutama pada kemampuan unik yang ditunjukkan oleh sang Pangeran.
“Oh... serangan yang sangat tidak biasa. Sihir jenis apa itu?” tanya Ratu Elizabeth penuh rasa terkejut.
Ratu Tiana membalas tenang sembari mengibaskan kipas tangannya pelan. “Itu bukan sihir, Elizabeth. Edward sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan sihir maupun Mana.”
“A-apa? Jadi rumor itu benar?” Ratu Elizabeth tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya sembari menyeruput teh herbal.
“Untuk seseorang yang tidak memiliki aliran Mana, sanggup mengimbangi kekuatan suami saya yang berada di puncak adalah pencapaian yang fantastis. Putra Anda benar-benar pemuda yang luar biasa, Ratu Tiana.”
Di sisi lain, Putri Iselyna hanya terdiam menyimak percakapan tersebut.
Seluruh informasi yang selama ini ia selidiki akhirnya tervalidasi secara sempurna. Kekuatan Pangeran Edward terbukti murni berdiri di luar hukum sihir—termasuk sensasi ajaib saat ia diajak melayang menembus awan semalam.
“Ya, tapi karena ketiadaan Mana itulah, jalan hidup Edward selalu terasa berat di kerajaannya sendiri... Kalian pasti sudah mendengar kisahnya, bukan?” timpal Raja Nolan tiba-tiba dengan nada serius.
Ratu Elizabeth terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. “Ya, kami mengetahuinya.”
“Oleh karena itu, putra Anda pasti akan menjadi aset yang teramat berharga bagi dunia ini... terlebih setelah insiden krisis yang Anda beberkan saat pembicaraan rahasia kita semalam,” lanjut sang Ratu.
Raja Nolan tersenyum tipis. “Edward memang anak yang sedikit pemalu. Tapi kalian bisa mengandalkannya kapan saja. Entah mengapa, aku merasa semua ini sudah ditakdirkan. Di saat krisis besar tengah mengintai kita, Para Dewa seolah mengirimkan bantuan terbaik-Nya untuk menjaga keberlangsungan dunia ini.”
“Anda benar, Raja Nolan,” sahut Ratu Elizabeth menyetujui.
BOOM!
Dentuman pekak kembali memotong percakapan mereka.
Edward berhasil mendaratkan satu pukulan telak tepat di perut Raja Isenbard! Dorongan fisik yang teramat kuat menghempaskan tubuh sang Raja meluncur deras ke belakang.
SREEEK!
Raja Isenbard sekuat tenaga menancapkan kakinya di atas tanah, berhasil menghentikan laju tubuhnya tepat 2 sentimeter sebelum melewati garis batas lapangan!
Sedikit saja meleset, ia akan dinyatakan kalah dalam duel ini.
“Menarik sekali, Pangeran Edward! Kau benar-benar luar biasa!” seru Raja Isenbard dengan pandangan berbinar penuh gairah bertarung.
“Kekuatanmu sangat patut diapresiasi. Karena itu... aku akan mulai bertarung secara serius!”
BZZZZT—!
Lingkaran-lingkaran sihir baru kembali bermunculan secara berturut-turut di sekeliling tubuh sang Raja—kali ini dalam jumlah yang jauh lebih masif dan pekat ketimbang sebelumnya!
Jika bos bandit yang dilawan Edward dulu hanya mampu memanggil 5 hingga 7 lapis lingkaran sihir, dan Jenderal Vermont mencapai 14 lapis...
Maka sang Raja telah menembus batas rasionalitas!
Lebih dari 86 lapis lingkaran sihir penguat tambahan!
Sihir bertingkat yang fantastis itu secara instan mendongkrak tekanannya setara dengan Penyihir Lingkaran 8. Tubuh Raja Isenbard kini diselimuti pendaran spektrum warna yang menyilaukan dan begitu mendominasi.
“Suami Anda juga sangat mengagumkan, Ratu Elizabeth,” puji Ratu Tiana sembari menyunggingkan senyuman anggun.
“Mengenai kemampuan beliau... kalau tidak salah, rumor apa yang beredar di luar sana? Multi-Tier Hexer, bukan? Sebutan bagi penyihir langka yang sanggup melipatgandakan efek penguatan sihir menggunakan lapisan bertumpuk tanpa batas.”
Ratu Tiana memberi jeda sejenak, matanya menatap pendaran sihir di lapangan.
“Legenda bahkan mencatat, beberapa di antara mereka sanggup memanggil ribuan layer sekaligus dan melompati tingkatan menuju Penyihir Lingkaran 10 secara instan.”
Mendengar pujian berkelas tersebut, Ratu Elizabeth tersenyum tipis—menyimpan sekilas rasa bangga yang terselubung.
“Pengamatan Anda sungguh luar biasa, Ratu Tiana.”
Sementara itu, Raja Nolan yang duduk di sisi mereka hanya bisa terkekeh canggung. Mengamati jumlah pendaran sihir yang kian tak terkendali di tengah arena membuat pelipis sang Raja meneteskan keringat dingin.
“Entah mengapa... aku merasa duel ini sebaiknya segera dihentikan,” gumam Raja Nolan pelan.
Ia lalu menoleh ke arah putri kerajaan di sampingnya. “Bukankah begitu, Tuan Putri?”
Putri Iselyna sempat menatap bingung ke arah Raja Nolan. Namun, begitu manik matanya beralih kembali ke arena latihan, bola mata sang Putri Es seketika membesar dalam rasa syok yang luar biasa.
Lingkaran-lingkaran sihir di sekeliling tubuh ayahnya terus merekah tajam, bertumpuk-tumpuk tanpa henti hingga melewati angka seratus layer!
Tekanan Mana yang dihasilkan kini benar-benar sudah berada di luar akal sehat.
“A-apa...?! Sihir itu...?!” seru Iselyna panik.
Wajah Putri Iselyna pucat pasi. Ia berpaling panik ke arah ibunya.
"Ibunda, kita harus menghentikan duel ini! Jika dibiarkan, bukan hanya istana yang hancur, tapi Pangeran Edward dan kita semua bisa dalam bahaya!"
Ratu Elizabeth baru saja hendak membuka suara, namun Raja Isenbard menimpali lebih dulu dengan nada santai—seolah kekhawatiran itu hanyalah lelucon.
"Tenang saja. Ini baru 50% dari kekuatanku. Kalian tidak perlu sekhawatir itu," ujar sang Raja menyeringai lebar.
Tatapannya kini mengunci Pangeran Edward yang masih berdiri kokoh.
"Pastikan dirimu tidak masuk rumah sakit, Pangeran Edward. Aku masih menantikan kehadiranmu bersama putriku di lantai dansa nanti."
SZZT—!
Sedetik kemudian, sang Raja lenyap!
Tanpa suara. Tanpa jejak. Hanya hembusan angin yang tersisa di tempatnya berdiri.
Di saat yang sama, insting Edward berteriak histeris. Ruang di sebelah kanannya terdistorsi secara ekstrem, berputar parah layaknya sebuah lubang hitam yang siap menelan apa saja.
Dan dari dalam distorsi itu—sebuah tinju raksasa berbalut aura mematikan meluncur tepat ke arah wajahnya!
‘Cepat sekali!’
Refleks tingkat tinggi Edward menyelamatkannya. Dengan presisi sempurna, ia mengangkat punggung tangannya untuk menahan hantaman dahsyat tersebut.
Dan ketika serangan mereka berbenturan, ledakan dahsyat tercipta saat itu juga.
DUAAAAARRR—!!
Jangan lupa ke naskah aku juga ya