"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23.Alasan dibalik kebohongan.
Tiga hari berlalu sejak perintah terakhir diberikan, dan malam itu Alif kembali melangkah masuk ke ruangan bawah tanah yang lembap, gelap, dan berbau anyir darah kering serta dupa hitam pekat. Langkah kakinya terasa berat seolah terikat rantai tak kasat mata yang menjalar dari ujung kaki hingga ke dada. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti mendekatinya pada persimpangan terberat dalam hidupnya. Di hadapan pemimpinnya yang masih duduk diam di singgasana batu yang dingin dan retak, ia berlutut dalam-dalam dengan perasaan yang berkecamuk hebat antara rasa takut akan konsekuensi dan tekad baru yang perlahan tumbuh mengakar di hatinya.
"Kau sudah lama kembali dari tempat itu," suara berat sang pemimpin menggema rendah memenuhi ruangan, seolah merambat di sela-sela bebatuan. "Bagaimana perkembangan gadis itu? Apakah ia sudah mulai menguasai kekuatannya? Apakah saatnya kita mulai bergerak?"
Alif menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan hingga terasa sesak di dada. Ini adalah momen di mana ia harus memilih antara kesetiaan buta yang telah ia janjikan sejak kecil, atau mengikuti nuraninya yang kini mulai berteriak lantang melawan segala kebohongan yang selama ini diajarkan kepadanya. Dengan napas yang berusaha ia atur agar terdengar tenang, ia menjawab pelan namun sekuat tenaga berusaha terdengar meyakinkan:
"Maaf, Guru... sejauh ini belum ada perkembangan yang berarti. Semuanya masih sama seperti saat pertama kali saya melihatnya."
Pemimpin itu terdiam sejenak, keheningan yang menyelimuti ruangan terasa begitu menyesakkan hingga terdengar suara tetesan air dari sudut dinding. "Apa maksudmu? Bukankah sudah berlalu berminggu-minggu sejak mereka mulai berlatih?"
"Benar, Guru. Namun gadis itu masih terlihat sangat lemah, mudah lelah, dan sering kali bingung saat diminta merasakan apa yang ada di sekelilingnya," ucap Alif dengan suara yang berusaha ia buat datar dan pasrah. "Setiap kali mencoba menyatu dengan energi alam, ia selalu terlihat kebingungan, lalu akhirnya mengeluh lelah dan berhenti. Tubuhnya belum mampu menerima aliran kekuatan itu dengan baik. Bahkan untuk berjalan jauh sekeliling area hutan saja ia masih sering tertinggal di belakang sambil mengatur napas yang tersengal-sengal."
"Benarkah begitu? Kau yakin tidak salah melihat?" tanya sang wakil ayahnya pak Bambang, nada bicaranya mulai terdengar ragu namun masih penuh kewaspadaan.
"Saya yakin,pak. Saya mengamatinya dengan saksama setiap hari tanpa lengah sedikit pun. Belum ada tanda-tanda yang jelas bahwa Inti Sakti itu benar-benar merespons tubuh dan jiwanya sepenuhnya. Sepertinya butuh waktu jauh lebih lama dari yang kita perkirakan semula," bohong Alif lagi, menahan rasa bersalah yang meluap-luap menyiksa batinnya.
Pemimpin itu menghela napas panjang yang terdengar berat, lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita belum boleh bertindak gegabah. Jika kita menyerang saat ikatan antara gadis itu dengan kekuatan itu belum sempurna, dikhawatirkan Inti Sakti itu akan hancur bersamanya atau bahkan menghilang kembali ke dalam perut bumi. Kita tidak boleh mengambil risiko sebesar itu. Kita tunggu saja dulu sambil terus memantau perkembangannya."
Pemimpin itu menatap tajam ke arah Alif yang masih menunduk. "Awasi terus setiap gerak-gerik mereka. Segera beritahu aku jika ada perubahan sekecil apa pun yang terjadi, meski hanya perubahan kecil yang tak berarti bagi orang lain."
"Siap, Guru. Saya akan tetap menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya," jawab Alif singkat, rasa lega yang luar biasa bercampur ketakutan mencekam menyelimuti hatinya. Kebohongan itu berhasil menunda rencana jahat mereka untuk sementara waktu, namun ia sadar betul bahwa risiko yang harus ia tanggung jika ketahuan bukan sekadar hukuman, melainkan nyawanya sendiri.
Keesokan paginya, Alif kembali mengambil posisi di tempat persembunyiannya di balik rimbunnya semak belukar dan pepohonan besar yang mengelilingi mata air pegunungan. Namun kali ini, tugasnya bukan lagi sekadar mengamati dan melapor. Ia diam-diam berjanji dalam hati bahwa selama ia masih berdiri di sini, ia akan berusaha melindungi Raisa dari kejauhan, sekecil apa pun bantuan yang bisa ia berikan tanpa harus menampakkan diri.
Siang itu matahari bersinar sangat terik dan menyengat, membuat udara yang biasanya sejuk di sekitar mata air terasa panas dan gerah. Keringat mengucur deras dari pelipis dan leher Raisa, kulitnya memerah terkena sinar matahari, dan bibirnya mulai terlihat kering serta pecah-pecah karena kehausan. Ia melirik ke arah tempat bekalnya diletakkan, namun Arya sedang berbicara serius dengan Jatmika agak jauh di sisi lain air terjun, dan botol air minum yang ia bawa sudah kosong sejak tadi.
"Aduh... haus sekali rasanya," keluhnya pelan sambil mengusap dahi basah dengan punggung tangan yang gemetar lelah. "Kalau ada buah segar atau air minum sedikit saja pasti rasanya akan sangat melegakan."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Alif segera mencari buah mangga hutan yang sudah matang sempurna di dahan rendah dekat tempatnya bersembunyi. Dengan gerakan sangat hati-hati dan terlatih, ia melemparkannya perlahan-lahan hingga buah itu jatuh berguling pelan tepat di dekat kaki Raisa tanpa menimbulkan suara benturan yang keras.
Mata Raisa seketika membelalak tak percaya. Ia menunduk perlahan menatap buah kuning ranum yang mengkilap terkena pantulan cahaya matahari itu. "Wah... dari mana datangnya buah ini? Padahal tadi saya yakin sekali tidak ada apa-apa di sini."
Ia menoleh ke kiri dan kanan, menatap ke arah pepohonan yang rimbun serta ke arah tempat Arya dan Jatmika berdiri, namun tak melihat bayangan siapa pun yang mendekat. Dengan ragu namun wajahnya berseri karena senang, ia mengambil buah itu dan mengelapnya sebentar di ujung bajunya.
"Siapa pun yang menaruhnya di sini... terima kasih banyak ya," ucapnya pelan dengan tulus sambil tersenyum lebar. "Kau benar-benar tahu sekali apa yang sedang saya butuhkan saat ini."
Dari balik dedaunan yang lebat, Alif tersenyum tipis melihat wajah Raisa yang kembali cerah seketika. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya saat melihat senyum itu, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya di tengah organisasi yang penuh kebencian.
Tak lama kemudian, saat Raisa duduk bersila mencoba kembali bermeditasi, udara terasa begitu panas dan pengap hingga napasnya terasa berat dan pikirannya tak bisa tenang. Tanpa mengeluarkan suara, Alif mengumpulkan sedikit kemampuan yang ia miliki, menggerakkan tangannya perlahan seolah menyapu udara, dan seketika itu juga angin sejuk yang lembut berhembus pelan menyapu wajah, leher, dan seluruh tubuh Raisa.
Raisa perlahan tersenyum lebar tanpa membuka matanya, merasakan kesejukan yang menyapa kulitnya. "Wah... angin sejuk sekali datangnya tepat waktu sekali. Terima kasih..." gumamnya pelan, mengira itu hanyalah kebetulan alam yang sedang bersahabat dengannya.
Di waktu yang berbeda, saat Raisa hendak melangkah turun dari batu besar yang licin setelah selesai beristirahat, matanya tak sengaja melihat sebatang ranting kayu yang runcing dan tajam tergeletak tepat di jalur kakinya. Ia hampir saja melangkah tanpa sadar, namun Alif yang sedari tadi mengawasi dengan teliti segera menggunakan tenaga dalamnya untuk menggeser ranting itu menjauh secepat kilat sebelum telapak kaki Raisa menyentuhnya.
Raisa melangkah turun dengan selamat dan menginjak tanah yang rata, namun ia berhenti sejenak dan menatap bingung ke arah tempat tadi ranting itu tergeletak. "Aneh sekali... tadi saya yakin sekali melihat ada ranting besar yang runcing di sana. Apa mungkin terbawa angin kencang tadi? Atau mungkin mata ku mulai rabun?"
Perlahan namun pasti, perasaan Raisa yang tadinya hanya merasa diawasi dengan rasa takut kini perlahan berubah total. Rasa curiga itu berganti menjadi perasaan hangat dan aman seolah ada seseorang yang tak terlihat sedang menjaganya dengan penuh perhatian.
Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang duduk beristirahat sejenak di tepi air, Arya menyadari perubahan sikap gadis itu. "Kau sering tersenyum sendiri dan melamun belakangan ini," tegur Arya pelan namun penuh perhatian. "Ada sesuatu yang aneh terjadi padamu? Atau ada hal yang ingin kau sembunyikan dariku?"
Raisa menggeleng pelan namun senyum tipis tak lepas dari bibirnya. "Entahlah, Arya. Rasanya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Kadang ada buah yang jatuh tepat di dekatku saat aku haus, kadang angin sejuk datang tepat saat aku kepanasan, dan kadang hal-hal yang bisa melukai kakiku seolah bergeser sendiri menjauh sebelum aku menginjaknya."
Ia menatap sekeliling hutan yang tenang. "Dulu rasanya mengerikan jika merasa diperhatikan. Tapi sekarang... rasanya berbeda setelah tinggal bersama kalian.Atau jangan-jangan itu hantu penunggu hutan yang merasa kasihan padaku,disiksa oleh Ba nas pati."
"Kapan aku menyiksamu?. "
"Tiap hari terus latihan, aku ini masih muda mau melakukan kegiatan seperti gadis seumuran ku bukan hanya disuruh bermeditasi melulu. "
"Jadi keberatan. "
"Sedikit" Jawab Raisa sambil menberi tanda dengan jarinya.
"Baiklah kalau begitu jika terus mengeluh sore hari kita latihan lagi. "
Raisa lalu bersemangat dan bersiap untuk berlari kembali, "Tidak perlu, latihan ini sudah cukup. "
Arya menatapnya Raisa mulai menjauh lalu menatap lekat-lekat sejenak sekitar hutan, lalu matanya menyisir tajam ke segala arah pepohonan dan semak belukar di sekitar mereka, mencoba menangkap jejak energi asing yang mungkin tersembunyi. "Aku tidak merasakan kekuatan makhluk gaib disini."
Di balik rimbunnya dedaunan yang tak terlihat, Alif mendengar setiap kata yang terucap dengan jelas. Hatinya bergetar hebat antara rasa haru dan takut. Ia tahu ia tidak boleh menampakkan diri, tidak boleh menyapa atau berbicara, namun setidaknya ia tahu bahwa kebaikan kecil yang ia berikan secara diam-diam sudah dirasakan dan diterima oleh gadis itu. Dan untuk saat ini, hal itu sudah lebih dari cukup baginya.
Ia sadar betul bahwa kebohongannya tak akan mampu bertahan selamanya. Suatu hari nanti pemimpinnya pasti akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Namun selama ia masih memiliki kesempatan untuk melindungi Raisa, sekuat tenaga ia akan melakukannya. Bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya sendiri demi menjaga gadis itu tetap aman dari bahaya yang mengincarnya.