Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 ~ Dia Anakku
Begitu keluar dari gedung apartemen, sebuah mobil hitam telah terparkir di depan pintu masuk.
Pengemudi yang mengenakan setelan jas segera turun begitu melihat Evelyn.
"Selamat pagi, Nona Evelyn," sapanya hormat.
"Selamat pagi," balas Evelyn sambil tersenyum tipis.
Pria itu segera mengambil koper-koper mereka dan memasukkannya ke dalam bagasi. Sementara itu, Axel sudah lebih dulu membuka pintu belakang, lalu memanjat masuk ke dalam mobil dengan lincah.
"Pelan-pelan, Sayang," ujar Evelyn sambil tersenyum kecil.
"Iya, Mommy," sahut Axel patuh.
Setelah memastikan seluruh barang telah dimasukkan ke bagasi, pengemudi kembali ke kursi kemudi.
"Bandara Heathrow, Nona?" tanyanya memastikan.
"Iya."
"Baik."
Mobil pun perlahan melaju meninggalkan apartemen.
Evelyn memandang keluar jendela tanpa banyak bicara. Gedung-gedung tinggi, taman kota, hingga jalan yang selama tiga tahun begitu akrab di matanya, satu per satu mulai tertinggal di belakang.
Di sampingnya, Axel memeluk boneka kecil kesayangannya.
"Mommy..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Acel mau naik pecawat, ya?"
Evelyn mengangguk sambil mengusap lembut rambut putranya.
"Iya. Setelah itu kita akan bertemu Opa, Oma, dan Om Arlos."
Mata Axel langsung berbinar.
"Iyaaa..."
Senyum tipis kembali menghiasi wajah Evelyn melihat tingkah putranya.
Tak lama kemudian, mobil memasuki area keberangkatan internasional Bandara Heathrow. Pengemudi menghentikan kendaraan tepat di depan pintu terminal.
"Sudah sampai, Nona."
Evelyn mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Pengemudi segera menurunkan seluruh koper dari bagasi.
"Semua barang sudah lengkap, Nona."
Evelyn menerima gagang koper, lalu menggenggam tangan mungil Axel.
"Ayo, Sayang."
"Iya, Mommy."
Mereka pun berjalan memasuki terminal keberangkatan.
Beberapa saat kemudian, setelah seluruh proses check-in dan pemeriksaan selesai, Evelyn dan Axel duduk berdampingan di ruang tunggu.
Suara pengumuman keberangkatan akhirnya terdengar menggema di seluruh bandara.
"Penerbangan menuju Jakarta dipersilakan untuk segera melakukan boarding."
Evelyn menatap layar informasi penerbangan sejenak, lalu berdiri sambil meraih koper.
"Ayo, Axel."
Bocah kecil itu langsung mengangguk semangat dan menggenggam tangan sang ibu.
Bersama puluhan penumpang lainnya, mereka melangkah menuju pintu keberangkatan, meninggalkan London yang telah menjadi rumah mereka selama tiga tahun.
••
••
Belasan jam kemudian...
Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mulai menurunkan ketinggian. Suara pramugari terdengar memenuhi kabin, mengumumkan bahwa mereka akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Evelyn menoleh ke samping. Axel masih tertidur pulas di kursinya sambil memeluk erat boneka dinosaurus kesayangannya.
Senyum tipis terukir di wajah Evelyn. Perlahan ia mengusap lembut kepala putranya, lalu kembali menatap keluar jendela.
Beberapa menit kemudian, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan.
Brak. Pesawat melaju beberapa saat sebelum akhirnya berhenti sempurna di apron.
Setelah seluruh penumpang dipersilakan turun, Evelyn tidak langsung keluar. Ia lebih dulu menuju toilet bandara sambil membawa sebuah tas kecil.
Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali melangkah keluar. Rambut panjangnya telah tersembunyi rapi di balik wig berpotongan pendek. Kacamata berbingkai hitam kembali bertengger di wajahnya. Mantel panjang yang dikenakannya selama di London telah ia lipat dan masukkan ke dalam koper.
Kini penampilannya kembali seperti tiga tahun yang lalu.
Evan Harley.
Evelyn menghampiri Axel yang masih tertidur pulas di kursi ruang tunggu. Tanpa tega membangunkannya, ia membungkuk lalu mengangkat tubuh mungil bocah itu ke dalam gendongannya.
Axel hanya bergumam pelan sebelum kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
Evan tersenyum tipis.
"Ayo pulang, Jagoan."
Dengan satu tangan menarik koper dan tangan lainnya menopang tubuh Axel, Evan berjalan keluar menuju pintu kedatangan.
Begitu melewati pintu otomatis, Pak Darto telah berdiri di sana. Di sampingnya, Arlos tampak menunggu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Tuan Evan," sapa Pak Darto sambil membungkukkan badan hormat. "Selamat datang kembali."
Evan mengangguk tipis. "Terima kasih, Pak Darto."
Baru saja Arlos hendak menyapa adiknya, tatapannya justru terpaku pada bocah kecil yang sedang tertidur di pelukan Evan.
Keningnya langsung berkerut.
"Van..." panggil Arlos pelan. Tatapan Evan beralih kepadanya.
"Siapa anak itu?"
Pertanyaan itu membuat langkah Evan terhenti sejenak. Evan terdiam beberapa detik. Tatapannya turun kepada Axel yang masih terlelap di pelukannya.
Sejak memutuskan pulang ke Indonesia, ia sudah tahu pertanyaan itu pasti akan muncul.
Dan ia juga tahu, ia tidak mungkin menyembunyikan keberadaan Axel dari keluarganya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahui semuanya.
Evan mengangkat kembali pandangannya ke arah sang kakak.
"Aku akan menjelaskan semuanya di rumah," ucapnya tenang.
Arlos masih menatap bocah kecil itu dengan penuh tanda tanya.
"Tapi, Evan..."
"Tolong, Arlos," potong Evan lirih. "Percayalah padaku. Setelah kita sampai di rumah, aku akan menceritakan semuanya. Tidak ada yang akan kututupi."
Arlos menghela napas panjang. Meski rasa penasarannya semakin besar, ia memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
"Baiklah," ucapnya akhirnya.
"Ayo pulang."
Pak Darto segera mengambil koper-koper milik Evan, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Sementara itu, Arlos membuka pintu belakang agar Evan bisa lebih mudah masuk sambil menggendong Axel yang masih tertidur pulas.
Bocah kecil itu sedikit menggeliat, lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Evan tanpa membuka mata.
Melihat pemandangan itu, Arlos kembali melirik adiknya. Entah mengapa, ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya.
Namun untuk saat ini, ia memilih menunggu. Ia yakin, sesampainya di rumah nanti, Evan akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan itu.
Sekitar satu jam kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite tempat keluarga Harley tinggal.
Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah bergaya modern.
Pak Darto segera turun dan membukakan pintu. "Kita sudah sampai, Tuan."
Arlos lebih dulu melangkah memasuki rumah dengan langkah tegas. Hatinya merasa tidak nyaman semenjak melihat Evan membawa pulang anak laki-laki itu. Dia merasa akan terjadi badai dirumah ini sebentar lagi.
"Ayah, Ma... kami sudah pulang," ucapnya.
Mendengar suara putra sulungnya, Tuan Harley dan Nyonya Chatarina segera keluar dari ruang keluarga.
Tatapan mereka langsung mencari sosok Evan.
Namun beberapa detik kemudian Evan baru melangkah masuk. Di pelukannya, seorang bocah kecil tampak tertidur pulas sambil memeluk boneka dinosaurus berwarna hijau.
Langkah Tuan Harley seketika terhenti. Sorot matanya terpaku pada anak yang berada di gendongan Evan.
Nyonya Chatarina yang berdiri di samping sang suami pun ikut terdiam. Dadanya mendadak terasa sesak.
Ia memang mengetahui keberadaan Axel. Namun ia sama sekali tidak menyangka Evelyn akan membawa cucunya pulang ke Indonesia secara terang-terangan.
Keheningan memenuhi ruang keluarga.
"Evan... Siapa dia?!" panggil Tuan Harley dengan suara berat.
"Ayah, aku bisa jelaskan." jawab Evan tenang.
Nyonya Chatarina segera menguasai dirinya. Ia menoleh ke arah Bi Lusi yang berdiri tak jauh dari sana.
"Bi Lusi."
"Iya, Nyonya."
"Tolong gendong anak itu kekamar Evan. Jangan sampai dia terbangun."
"Baik, Nyonya."
Bi Lusi menghampiri dengan langkah perlahan. "Izinkan saya, Tuan."
Evan mengangguk, lalu menyerahkan Axel dengan sangat hati-hati. Bocah kecil itu hanya menggeliat pelan, memeluk boneka dinosaurusnya semakin erat, lalu kembali terlelap.
Bi Lusi pun membawanya menuju lantai atas.
Tatapan Tuan Harley tidak pernah lepas dari putranya.
"Evan.. Sekarang jelaskan pada Ayah, siapa anak itu?!" suara itu begitu terdengar tajam dan mengintimidasi.
Ruangan seketika dipenuhi keheningan. Arlos yang berdiri di samping sang ayah ikut mengalihkan pandangannya kepada Evan. Pertanyaan itu juga yang sejak tadi ingin ia lontarkan.
Evan menarik napas pelan. Ia sudah menduga momen ini akan datang.. Dan ini saatnya ia harus menjawab semuanya.
"Dia..." ucapnya pelan. "Anakku, Axel."
DEG.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya