Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : HANCURNYA KAMP CIKADU
Pasukan Belanda bergerak cepat, terburu-buru oleh perintah keras dari Kapten De Vries dan bayangan asap hitam pekat yang terus membumbung tinggi di langit timur. Matahari sudah sepenuhnya terbit, namun tidak ada kehangatan yang terasa. Sebaliknya, udara terasa tegang, penuh dengan janji bahaya yang membayangi. Kecepatan mereka meningkat, namun hal itu juga membuat mereka kurang waspada terhadap detail di sekitar.
Kapten De Vries memimpin di depan, teropongnya sesekali diarahkan ke arah Cikadu, berharap melihat tanda-tanda perlawanan atau setidaknya, target yang jelas. Namun yang ia lihat hanyalah kehancuran. Asap tebal masih mengepul dari desa itu, dan dari kejauhan, beberapa bangunan terlihat sudah rata dengan tanah, hangus oleh api.
" Verdomme! Ze hebben het allemaal verbrand! " (Sialan! Mereka membakar semuanya!) geram De Vries, mengepalkan tangan. " Die beesten! " (Dasar binatang!)
Sersan Van der Velde dan Sersan Kooijman berjalan di sisinya, wajah mereka juga dipenuhi ketegangan. Mereka tahu, kedatangan mereka ke Cikadu ini bukan hanya untuk mencari Bayu, tapi juga untuk menghadapi konsekuensi dari kemarahan Mayor Van Der Hock.
" Kapitein, apakah ini bukan jebakan lain? " tanya Van der Velde, suaranya pelan.
"Terlalu mudah bagi mereka untuk membakar desa ini dan menunggu kita masuk. "
De Vries menggeleng. "Aku tahu itu, Piet. Tapi kita tidak punya pilihan. Kita harus menunjukkan kepada Mayor bahwa kita melakukan sesuatu. Dan di sini, setidaknya, kita punya target yang jelas: menemukan siapa yang bertanggung jawab atas kehancuran ini."
Saat mereka semakin dekat, suara keramaian mulai terdengar. Bukan suara tembakan, melainkan suara orang berteriak-teriak, suara hewan ternak yang panik, dan suara api yang melahap bangunan. Saat mereka akhirnya memasuki Cikadu, pemandangan di depan mereka adalah kekacauan.
Api berkobar di mana-mana. Beberapa rumah penduduk sudah menjadi arang, sementara yang lain masih dilalap api. Asap tebal membuat mata pedih dan sulit bernapas. Penduduk desa, beberapa di antaranya sudah tua atau anak-anak, berlarian panik, mencoba menyelamatkan barang-barang berharga mereka atau mencari perlindungan dari kobaran api.
" Bij God! Wat een puinhoop! " (Demi Tuhan! Sungguh kekacauan!) seru Kopral Jansen, terkejut melihat pemandangan itu.
" Ze zijn gek! Helemaal gek geworden! " (Mereka gila! Benar-benar sudah gila!) tambah Kopral Meijer, sambil membantu seorang wanita tua yang mencoba menarik gerobak penuh barang.
Kapten De Vries segera mengeluarkan perintah. "Sebagian pasukan! Bantu padamkan api! Dan sebagian lagi, sisir setiap rumah yang masih berdiri! Cari siapa saja yang terlibat dalam pembakaran ini! Dan cari jejak Bayu!"
Pasukan Belanda terpecah. Beberapa mencoba membantu penduduk desa memadamkan api dengan air dari sumur dan ember, sementara yang lain mulai menyisir rumah-rumah yang masih utuh. Namun, upaya mereka menemui kendala besar.
Penduduk desa yang panik dan ketakutan tidak kooperatif. Mereka tidak mengerti bahasa Belanda, dan setiap kali prajurit mencoba bertanya, mereka hanya berteriak dan berlari menjauh.
" Kom hier, jij! Waar zijn de anderen? Waar is Bayu?! " (Kemari, kau! Di mana yang lain? Di mana Bayu?!) teriak seorang prajurit kepada seorang pria muda yang gemetar ketakutan.
Pria itu hanya menggeleng, lalu menunjuk ke arah hutan di seberang desa. " Mereka... mereka ke sana... " katanya, dalam bahasa Melayu yang terbata-bata.
De Vries yang melihat itu segera mendekat. "Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang mereka ke hutan, Kapten," jawab prajurit itu.
"Tapi dia sangat ketakutan."
"Jangan percaya begitu saja!" seru De Vries.
"Mereka bisa saja berbohong untuk mengalihkan perhatian kita! Periksa setiap sudut desa ini!"
Namun, saat prajurit menyisir desa, mereka mulai menemukan hal-hal aneh. Tidak ada tanda-tanda pertempuran sengit. Beberapa bangunan memang sengaja dibakar, tetapi ada juga yang tampaknya terbakar secara tidak sengaja karena merambat. Dan yang paling aneh, tidak ada mayat pejuang sama sekali.
" Kapitein! Ik heb iets gevonden! " (Kapten! Aku menemukan sesuatu!) teriak Sersan Van der Velde dari sebuah rumah yang terbakar sebagian.
De Vries segera bergegas ke sana. Di dinding rumah yang hangus, dengan arang hitam, terdapat tulisan besar:
"WELKOM BIJ ONZE FEEST, HEREN VAN HOLLAND. DEZE PLAATS IS NU VAN ONS. DE VRIJHEID BEHOORT TOE AAN DE INLANDERS. JULLIE ZULLEN HET NOOIT BEGRIJPEN."
(SELAMAT DATANG DI PESTA KAMI, TUAN-TUAN DARI HOLLAND. TEMPAT INI KINI MILIK KAMI. KEBEBASAN ADALAH MILIK INLANDER. KALIAN TIDAK AKAN PERNAH MEMAHAMINYA.)
Membaca tulisan itu, De Vries merasakan darahnya mendidih lagi. Ini bukan hanya pembakaran biasa. Ini adalah provokasi, pesan yang jelas dari Bayu dan pasukannya.
" Verdomme! De arrogante klootzak! " (Sialan! Bajingan sombong itu!) geram De Vries, meninju dinding di samping tulisan. " Hij denkt dat hij slim is! Hij denkt dat ini akan membuat kita takut! "
" Maar, Kapitein, de manier waarop dit geschreven is... het is een duidelijk teken van hun aanwezigheid, " (Tapi, Kapten, cara penulisan ini... ini adalah tanda jelas keberadaan mereka,) kata Van der Velde, wajahnya tegang.
" Ze zijn dichtbij. Misschien zelfs nog in dit dorp. " (Mereka dekat. Mungkin bahkan masih di desa ini.)
Tiba-tiba, dari reruntuhan sebuah rumah yang terbakar, terdengar suara ledakan kecil.
DUAK!
Beberapa prajurit terlempar, berteriak kesakitan.
"APA ITU?!" teriak De Vries.
" Mijnen! " (Ranjau!) teriak seorang prajurit.
" Ze hebben mijnen verstopt in de ruïnes! " (Mereka menyembunyikan ranjau di reruntuhan!)
Kekacauan pecah. Para prajurit yang tadinya membantu memadamkan api atau mencari jejak kini mulai panik. Beberapa berusaha mencari rekan mereka yang terluka, sementara yang lain takut melangkah sembarangan, khawatir akan menginjak ranjau lain.
" Wees voorzichtig! Kijk waar je loopt! " (Hati-hati! Perhatikan langkahmu!) teriak De Vries, mencoba mengendalikan situasi.
" Blijf kalm! Het zijn maar simpele vallen! " (Tetap tenang! Itu hanya jebakan sederhana!)
Namun, ketenangan itu sulit dipertahankan. Api masih berkobar, asap mengepul, dan ranjau yang tak terlihat itu menambah ketakutan. Suasana semakin memburuk ketika dari arah hutan yang mengelilingi desa, terdengar suara senapan bambu.
DOENG! DOENG!
Dua prajurit jatuh, terkena peluru dari arah yang tidak terduga.
" SNIPERS! " teriak Sersan Kooijman.
" Ze vallen ons aan vanuit het bos! " (Mereka menyerang kita dari hutan!)
De Vries merasakan kepalanya pening. Ia telah jatuh tepat ke dalam perangkap Bayu. Pembakaran desa ini bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menarik mereka ke dalam kekacauan, membuat mereka bingung, dan kemudian menyerang dari jarak jauh.
" Verdomde tactiek! " (Taktik terkutuk!) geram De Vries. " Roteer de linie! Dek de flank af! Zoek die snipers! " (Putar barisan! Tutup sisi sayap! Cari penembak jitu itu!)
Para prajurit mencoba untuk membentuk formasi, namun dengan api yang berkobar, asap yang tebal, dan penduduk desa yang masih berlarian panik, hal itu sangat sulit dilakukan. Setiap kali mereka mencoba maju, ranjau akan meledak, atau peluru bambu akan melesat dari hutan.
" Kapitein, we kunnen hier niet blijven! Dit is zelfmoord! " (Kapten, kita tidak bisa tinggal di sini! Ini bunuh diri!) teriak Van der Velde, sambil menyeret prajurit yang terluka.
"Aku tahu itu, Piet!" balas De Vries.
"Tapi kita tidak bisa mundur begitu saja! Kita harus menunjukkan kekuatan!"
Namun, "kekuatan" yang ia maksud terasa sia-sia di tengah kekacauan ini. Pasukan Belanda, dengan segala persenjataan modern mereka, terjebak dalam perangkap yang sederhana namun mematikan. Mereka tidak bisa melihat musuh, mereka tidak bisa menembak balik secara efektif, dan mereka terus-menerus menderita korban.
Seorang prajurit yang panik, tanpa sengaja menginjak ranjau yang disembunyikan di bawah tumpukan jerami.
DUARRR!
Ledakan itu jauh lebih besar dari sebelumnya, membuat beberapa prajurit yang dekat terpental dan berteriak kesakitan. Bau mesiu bercampur bau hangus, menambah kengerian di Cikadu.
" Terugtrekken! Terugtrekken naar de open plek! " (Mundur! Mundur ke tempat terbuka!) perintah De Vries, suaranya kini penuh keputusasaan. Ia menyadari, bertahan di Cikadu sama saja dengan bunuh diri.
Pasukan Belanda mulai mundur, namun mundur pun tidak mudah. Bayu dan pasukannya sudah memprediksi ini. Dari arah yang mereka gunakan untuk mundur, terdengar teriakan-teriakan dan suara-suara aneh yang sengaja dibuat untuk membuat mereka semakin panik.
" Ze jagen op ons! " (Mereka memburu kita!) teriak seorang prajurit.
" Blijf samen! Niet verspreiden! " (Tetap bersama! Jangan menyebar!) perintah Sersan Kooijman, mencoba mempertahankan sisa-sisa disiplin.
Akhirnya, mereka berhasil keluar dari desa Cikadu yang terbakar dan sampai di sebuah lapangan terbuka di pinggir hutan. Namun, pemandangan di sana tidak lebih baik. Beberapa prajurit terluka parah, yang lain kelelahan dan ketakutan. Moral pasukan sudah hancur.
De Vries memandang kembali ke arah Cikadu yang masih mengepulkan asap. Di antara kepulan asap itu, ia merasa seperti melihat Bayu dan pasukannya tertawa mengejek.
" De verraderlijke honden! " (Anjing-anjing pengkhianat itu!) geram De Vries.
" Ik zal ze laten boeten voor dit! " (Aku akan membuat mereka membayar untuk ini!)
Namun, hatinya tahu bahwa mereka telah kalah di sini. Kekalahan moral dan strategis. Mayor Van Der Hock pasti akan mengamuk mendengar laporan ini.
Di bukit yang mengelilingi Cikadu, Bayu dan pasukannya mengamati kehancuran dan kepanikan pasukan Belanda. Senyum kemenangan terukir di wajah mereka.
"Mereka panik," kata Karta. "Ranjau bambu kita berhasil."
"Itu baru permulaan, Ta," jawab Bayu.
"Ini hanya untuk menunjukkan kepada mereka bahwa hutan ini bukan milik mereka. Cikadu yang terbakar ini akan menjadi monumen kekalahan mereka."
Embek Gombloh mengacungkan tongkatnya.
"Mereka akan ingat pelajaran ini, Yu. Bahwa mereka tidak bisa meremehkan kita."
Jaka Kelitik membersihkan senapan bambunya.
"Sekarang mereka tahu siapa yang berkuasa di sini."
Sukria, yang melihat sisa-sisa pasukan Belanda mundur dengan panik, mengangguk setuju. "Mereka datang dengan senjata, tapi kita bertarung dengan akal. Dan di hutan ini, akal lebih tajam daripada peluru."
Bayu menatap ke arah matahari yang kini sudah tinggi, memancarkan cahaya di atas desa yang hangus. Pertempuran di Cikadu ini mungkin bukan kemenangan besar dalam arti konvensional, tetapi ini adalah kemenangan psikologis yang jauh lebih penting. Ini menunjukkan kepada Belanda bahwa mereka tidak tak terkalahkan, dan bahwa di tanah ini, mereka hanyalah orang asing yang tersesat.