Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_20
"Semua ikut saya sekarang!" perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan, sementara sorot matanya berubah semakin tajam.
"Baik, Tuan!" jawab Nathan dan Leonard serempak. Wajah mereka dipenuhi keseriusan.
Rani langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Pak Adrian... sebenarnya ada apa?" tanya Rani pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat.
Adrian menoleh kepadanya.
"Aku harus memastikan sesuatu." jawab Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketegasan."Kau tetap di rumah. Jangan keluar ke mana pun."
"Tapi..." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Nathan." panggil Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi kewibawaan.
Nathan segera mengangguk seolah menunggu perintah selanjutnya.
"Saya mengerti, Tuan." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan.
"Perketat penjagaan. Jangan biarkan Rani sendirian." perintah Adrian serius. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Siap, Tuan." jawab Nathan mantap.
Pak Surya ikut berdiri.
"Saya ikut ke lokasi." ucap Pak Surya tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
"Tidak." jawab Adrian singkat. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Pak Surya tetap di sini bersama Rani."
Pak Surya mengangguk perlahan.
"Baik." jawab Pak Surya dengan cepat.
Sementara itu...
Sebuah sepeda motor berhenti di depan kontrakan sederhana milik Arga. Seorang petugas berpakaian rapi turun sambil membawa map cokelat.
"Permisi!" panggil petugas itu sopan. Wajahnya dipenuhi sikap profesional.
Arga yang sedang duduk di teras langsung menoleh.
"Siapa?" tanya Arga ketus. Wajahnya dipenuhi rasa heran.
"Saya petugas pengadilan." jawab pria itu tenang. Wajahnya dipenuhi kesopanan.
"Apakah benar ini kediaman Saudara Arga?" tanya Pria itu dengan sopan.
"Iya." jawab Arga singkat. Wajahnya dipenuhi rasa curiga.
"Silakan tanda tangan di sini." ucap petugas tersebut sambil menyerahkan berkas. Wajahnya dipenuhi ketenangan.
Arga mengambil map itu dengan kasar.
"Surat apa ini?" tanyanya sinis. Wajahnya dipenuhi rasa tidak sabar.
"Surat panggilan sidang dari Pengadilan Agama." jawab petugas profesional. Wajahnya tetap tenang.
Arga langsung membuka amplop itu. Matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat.
Beberapa detik kemudian...
"Apa?!" bentaknya keras. Wajahnya memerah dipenuhi amarah.
Petugas itu tetap tenang.
"Saudara Arga diwajibkan hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan." ucapnya sopan. Wajahnya dipenuhi profesionalisme.
Arga meremas surat itu hingga kusut.
"Berani sekali wanita itu!" bentaknya geram. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara urat di lehernya mulai terlihat.
"Ada yang perlu saya jelaskan lagi?" tanya petugas itu tenang.
"Pergi!" hardik Arga kasar. Wajahnya dipenuhi emosi.
Petugas hanya mengangguk singkat.
"Baik. Selamat siang." balas Petugas itu ramah.
Sepeda motor itu kembali melaju meninggalkan kontrakan.
Arga masih berdiri membeku. Tangannya terus menggenggam surat panggilan sidang hingga bergetar.
Tak lama kemudian, ibunya keluar dari dalam rumah.
"Arga... ada apa ribut-ribut?" tanya ibunya heran. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
Arga langsung melempar surat itu ke atas meja.
"Lihat sendiri!" bentaknya keras. Wajahnya dipenuhi amarah.
Sang ibu mengambil surat tersebut. Semakin lama membaca, wajahnya semakin terkejut.
"Rani menggugat cerai?" tanya ibunya lirih. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan, sementara matanya terus menatap surat panggilan sidang di tangannya.
"Iya!" bentak Arga keras. Wajahnya memerah dipenuhi amarah, sementara tangannya meremas surat itu hingga kusut. "Perempuan tidak tahu diri itu benar-benar berani menggugatku!"
Ibunya masih tampak sulit percaya.
"Tidak mungkin..." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Selama ini
Rani selalu menuruti semua perkataanmu."
"Itu dulu!" geram Arga. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Sekarang dia merasa punya tempat bersandar."
Arga berjalan mondar-mandir sambil
mengumpat.
"Perempuan miskin seperti dia berani-beraninya menggugatku!" bentaknya penuh emosi. Wajahnya dipenuhi penghinaan.
"Dia lupa siapa dirinya. Tidak punya uang, tidak punya keluarga di kota ini, hidupnya saja dulu bergantung padaku!" lanjutnya dengan penuhh emosi.
Ibunya menghela napas panjang.
"Jangan-jangan memang ada orang yang menghasutnya." ucap sang ibu pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Kalau tidak, mana mungkin Rani tiba-tiba punya keberanian seperti ini."
Arga mendengus kasar.
"Bukan sekadar menghasut." ucap Arga dingin. Wajahnya dipenuhi dendam. "Pasti ada seseorang yang menyembunyikannya dan membiayai semua ini."
Ibunya mengangguk pelan.
"Aku juga berpikir begitu." jawabnya serius. Wajahnya dipenuhi kecurigaan. "Rani tidak mungkin sanggup menyewa pengacara sendirian."
Arga berhenti melangkah. Sorot matanya berubah tajam.
"Tunggu..." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa curiga. "Selama ini Rani tidak punya saudara di kota ini."
"Iya." jawab ibunya cepat. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Dia benar-benar sendirian."
"Lalu sekarang dia tinggal di mana?" tanya Arga pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Kalau bukan karena ada seseorang yang menolongnya, mustahil dia bisa menghilang begitu saja."
Ibunya mulai ikut berpikir.
"Benar juga." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Selama ini dia tidak pernah punya teman dekat, apalagi keluarga."
Arga mengepalkan kedua tangannya.
"Aku harus menemukan tempat persembunyiannya." ucap Arga dingin. Wajahnya dipenuhi tekad. "Begitu aku tahu dia tinggal di mana, aku akan mendatanginya."
Ibunya langsung menatap Arga dengan cemas.
"Jangan bertindak nekat." ucapnya cepat. Wajahnya dipenuhi kegelisahan. "Kalau sampai terjadi sesuatu, justru kau yang akan rugi."
Arga menyeringai tipis. Senyuman itu terlihat penuh kelicikan.
"Tenang saja." ucap Arga pelan. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya ibunya penasaran. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Aku akan mencari tahu lebih dulu siapa yang melindunginya." jawab Arga dingin. Wajahnya dipenuhi rasa curiga. "Kalau memang ada pria yang berada di belakang Rani, aku akan memastikan dia menyesal karena sudah ikut campur dalam urusanku."
Ibunya menelan ludah.
"Semoga semuanya belum terlambat." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Arga menatap surat gugatan di tangannya sekali lagi.
"Rani..." gumamnya penuh amarah. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Kau pikir dengan menggugat cerai semuanya akan selesai? Tidak. Justru ini baru permulaan."
Saat itu juga ponsel Arga berdering.
Ia melihat nama penelepon. Nomor itu tidak tersimpan.
"Halo?" ucap Arga dingin. Wajahnya dipenuhi rasa curiga.
"Suratnya sudah sampai?" tanya suara pria misterius dari balik telepon. Nada bicaranya terdengar tenang.
Arga langsung terdiam.
"Siapa kamu?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Itu tidak penting." jawab pria tersebut santai."Yang penting... kau tidak ingin kehilangan Rani, bukan?"
Sorot mata Arga berubah.
"Apa maksudmu?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Kalau ingin menang..." ucap suara itu dingin."Ikuti semua perintahku."
Arga mengernyit.
"Kamu mengenalku?" tanyanya curiga.
"Aku mengenal semua orang yang sedang memburu rahasia masa lalu Rani." jawab suara itu tenang.
Jantung Arga berdegup lebih cepat.
"Katakan siapa sebenarnya kamu!" bentaknya keras. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Namun...
Sambungan telepon kembali terputus. Arga menatap layar ponselnya dengan napas memburu.
Ibunya mendekat.
"Siapa itu?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Arga menggeleng perlahan.
"Aku tidak tahu." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Tapi satu hal yang pasti..."
"Apa?" tanya ibunya cepat.
Arga menatap surat panggilan sidang yang masih tergeletak di atas meja.
"Permainan ini ternyata jauh lebih besar daripada sekadar perceraian." ucapnya dingin. Wajahnya dipenuhi tekad. "Dan aku tidak akan kalah."
Di saat yang sama...
Api masih berkobar hebat di rumah mantan guru SD Rani. Mobil pemadam kebakaran terus berdatangan, sementara Adrian, Leonard, dan Nathan baru saja tiba di lokasi.
Leonard langsung menunjuk ke arah puing-puing yang masih mengeluarkan asap.
"Tuan..." ucap Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Sepertinya... kita terlambat."
Adrian mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya tertuju pada sebuah lemari besi kecil yang tampak hangus di antara reruntuhan.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa di dalam lemari itulah tersimpan jawaban yang selama ini mereka cari. Namun, dari balik kerumunan warga, sepasang mata diam-diam mengawasi Adrian.
Pria bertopi hitam itu tersenyum tipis sebelum perlahan menghilang ke dalam gelapnya malam.