Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Yang Belum Bisa Kukatakan
Arden menatap Ilena berdiri di tengah kamarnya, tangannya masih menggenggam prisma, cahaya redupnya berkedip pelan di antara jari-jarinya. Ia menghela napas, panjang, dan untuk pertama kalinya sejak mereka kembali dari Menara Verlanth, ia tidak mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan ini.
"Duduklah," katanya, menunjuk kursi kecil di dekat jendela.
Ilena tidak duduk segera. Ia menatapnya, mengukur, seolah memastikan tawaran itu bukan taktik lain untuk menunda. Baru setelah Arden tidak bergerak, tidak mengubah topik, ia melangkah dan duduk, prisma diletakkan di pangkuannya, tapi jarinya masih menyentuh permukaannya.
"Aku dengar," kata Arden, memulai, suaranya lebih pelan dari biasa, "kau melihat sesuatu di Verlanth. Dan di gudang penyimpanan hasil panen Hollowreach."
"Aku melihat lonjakan Anima yang tidak masuk akal untuk siapa pun di rank-mu," kata Ilena, langsung, tidak berputar-putar. "Dua kali. Dengan pola yang sama. Naik jauh melampaui batas, lalu berhenti total, seperti terkunci."
Arden mengangguk, sekali, lambat.
"Itu terjadi," katanya. "Aku tidak tahu sejak kapan persisnya. Aku baru menyadarinya sendiri di altar."
...----------------...
Ilena menunggu, tidak menyela, membiarkan jeda itu ada selama yang dibutuhkan Arden untuk melanjutkan.
"Rasanya seperti pintu ditutup," lanjut Arden, tangannya bergerak tanpa sadar ke dadanya, berhenti di sana. "Aku memanggil kekuatan seperti biasa, dan untuk sesaat, semuanya mengalir seperti seharusnya. Lalu berhenti. Bukan melambat. Berhenti, seolah tubuhku sendiri memutuskan aku sudah cukup, tanpa bertanya dulu padaku."
"Itu terjadi setiap kali kau melampaui level tertentu?"
"Aku tidak yakin ada polanya," kata Arden. "Kadang aku bisa mendorong lebih jauh tanpa masalah. Kadang, seperti di altar, semuanya berhenti tepat di saat paling dibutuhkan."
Ilena mencondongkan tubuh, matanya menyipit, bukan curiga, hanya berpikir keras, jarinya mengetuk sisi prisma sekali. "Kau pernah mengalami ini sebelum Verlanth?"
Arden diam sesaat, cukup lama untuk membuat jawabannya terasa lebih berat dari sekadar ya atau tidak.
"Ya," katanya akhirnya. "Sudah lama. Bertahun-tahun."
"Berapa tahun?"
Arden menatapnya, dan untuk sesaat, Ilena bisa melihat sesuatu bergeser di balik matanya, pintu lain yang hampir terbuka sebelum tertutup lagi.
"Aku belum siap membicarakan itu," katanya, suaranya pelan tapi tegas. "Bukan malam ini."
...----------------...
Ilena tidak mendorong. Ia menahan diri, jarinya mengetuk prisma di pangkuannya sekali, memberi dirinya sendiri waktu sebelum menjawab.
"Baik," katanya.
Arden mengangkat kepala, sedikit terkejut dengan betapa mudahnya jawaban itu keluar, tanpa protes, tanpa tekanan lebih jauh.
"Baik?" ulangnya.
"Aku tidak akan memaksamu," kata Ilena, meletakkan prisma di sisinya, kedua tangannya kini bebas, terlipat di pangkuan. "Aku sudah menunggu tujuh hari untuk percakapan ini, Arden. Aku bisa menunggu lebih lama untuk bagian yang belum siap kau bagikan. Tapi aku tidak akan berhenti mengawasi kondisimu, baik kau suka atau tidak."
"Mengawasi bagaimana?"
"Setiap misi," katanya, "aku ingin melakukan pemindaian sebelum dan sesudah, bukan hanya untuk seluruh tim, tapi khusus untukmu, lebih detail dari yang biasa kulakukan. Kalau pola ini muncul lagi, aku ingin tahu persis kapan, seberapa besar, dan apa yang memicunya."
Arden mempertimbangkan itu, rahangnya sedikit mengendur. "Kau tidak akan menceritakannya pada yang lain?"
"Tidak sampai kau siap," kata Ilena. "Tapi Arden," ia menatapnya lebih tajam sekarang, "aku tidak berjanji selamanya. Kalau ini mulai membahayakan nyawamu, atau nyawa orang lain, aku akan bicara. Bukan untuk mengkhianatimu. Untuk melindungimu, meski kau tidak memintanya."
Arden menatapnya lama, sesuatu yang menyerupai kelegaan bercampur rasa bersalah muncul di wajahnya, campuran yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
"Terima kasih," katanya, "sudah bersabar sejauh ini."
"Aku bukan bersabar untuk dirimu," kata Ilena, berdiri, mengambil kembali prismanya. "Aku bersabar untuk kita semua. Kau bagian penting dari itu, Arden, tapi bukan satu-satunya alasan aku peduli."
Ia berjalan menuju pintu, berhenti sejenak dengan tangan di gagangnya.
"Satu hal lagi," katanya, tanpa berbalik. "Kalau kau merasakan tanda-tanda itu mulai muncul di tengah misi, beri tahu aku. Bukan setelahnya. Saat itu juga. Aku tidak peduli seberapa kecil tandanya."
"Aku janji," kata Arden.
Ilena menatapnya sekali lagi lewat bahu, mengukur kejujuran janji itu, lalu mengangguk pelan dan keluar, menutup pintu di belakangnya dengan lembut.
...----------------...
Arden duduk sendirian beberapa saat lebih lama, beban di dadanya sedikit berkurang meski jauh dari hilang sepenuhnya. Ia menyentuh liontin di lehernya sekali lagi, tidak mengeluarkannya, hanya merasakan bentuknya di bawah kain baju, sebelum akhirnya berbaring, membiarkan kelelahan hari itu akhirnya menariknya ke dalam tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak.
Pagi berikutnya datang dengan suasana yang lebih tenang dari malam sebelumnya, meski tidak sepenuhnya damai. Petra belum turun sarapan, masih di kamarnya menurut Yuna yang memeriksa sebentar sebelum kembali ke bawah. Corym duduk di meja panjang dengan cangkir teh yang sudah dingin, matanya menatap kosong ke dinding, jelas masih memikirkan percakapan semalam.
Ness masuk dari ruang kerjanya dengan wajah yang tidak menjanjikan kabar baik, map tipis di tangannya, langkahnya lebih cepat dari biasa.
"Kita ada masalah," katanya, meletakkan map itu di meja.
...----------------...
"Masalah apa lagi?" tanya Corym, tidak mengangkat kepala dari cangkirnya.
"Tiga kontrak kecil yang sudah kita sepakati minggu ini," kata Ness, membuka map itu, menunjukkan surat-surat pembatalan yang tersusun rapi, "semuanya membatalkan diri pagi ini. Satu demi satu, dalam waktu kurang dari dua jam."
Arden, yang baru turun dari tangga, mendekat, matanya menyapu surat-surat itu. "Alasan?"
"Tidak ada yang menyebutkan alasan jelas," kata Ness, "tapi aku bertanya pada salah satu klien secara langsung. Dia bilang seorang perwakilan Guild mengunjunginya kemarin sore, menanyakan soal kontrak dengan kami, dan menyarankan, dengan sangat halus, bahwa mungkin lebih aman menggunakan jasa kelompok yang lebih besar sampai situasi soal Menara Verlanth jelas."
Ruangan hening sejenak. Corym akhirnya mengangkat kepala, cangkirnya diletakkan dengan bunyi pelan.
"Itu bukan pengawasan," katanya. "Itu campur tangan."
"Aku tidak tahu apakah itu disengaja," kata Ness, jujur, "atau sekadar efek samping dari perhatian yang mereka berikan pada kita sekarang. Tapi hasilnya sama saja bagi kita. Pemasukan kita bulan ini akan turun jauh di bawah yang kita rencanakan."
Arden mengambil salah satu surat pembatalan, membacanya sekilas, bahasanya formal dan sopan, tidak menyebutkan alasan sungguhan di baliknya, hanya kalimat standar soal "perubahan kebutuhan mendadak."
"Berapa besar dampaknya?" tanya Arden.
"Kalau tren ini berlanjut," kata Ness, "kita akan kesulitan menutup biaya perbaikan markas dan perlengkapan yang rusak di Hollowreach dalam dua bulan ke depan."
...----------------...
Petra akhirnya turun, mendengar sebagian percakapan dari tangga, berhenti di ambang, tidak sepenuhnya masuk ke ruangan. Matanya bertemu dengan Arden sesaat, canggung, sisa ketegangan semalam masih terasa di antara mereka, tapi kali ini ada hal lain yang lebih mendesak untuk dibicarakan.
"Ini yang kumaksud," katanya, pelan, tidak dengan nada menantang seperti semalam, lebih seperti pengamatan yang menyakitkan untuk diucapkan. "Guild tidak perlu benar-benar menghukum kita. Mereka hanya perlu membuat orang lain takut bekerja sama dengan kita."
Tidak ada yang membantahnya kali ini.
"Kita bisa bicara dengan Guildmaster Orin," kata Corym, meski nada suaranya sendiri tidak yakin. "Mungkin dia tidak tahu ini terjadi."
"Atau mungkin ini persis yang dia inginkan," kata Ilsa, baru masuk dari dapur, membawa dua cangkir teh panas, satu diletakkan di depan Petra tanpa berkata apa-apa, isyarat kecil bahwa pertengkaran semalam sudah dilupakan, setidaknya untuk sekarang. "Semakin sulit kita bertahan sendiri, semakin mudah kita menerima 'bantuan' yang mereka tawarkan."
Arden menggosok wajahnya, kelelahan yang belum sepenuhnya hilang dari semalam kembali terasa berat di bahunya.
"Kita akan mencari jalan," katanya, meski kata-kata itu terasa lebih ringan diucapkan daripada dijalankan. "Ness, coba hubungi klien-klien lama yang belum pernah bermasalah dengan kita. Corym, aku ingin kau menemani Petra memeriksa perlengkapan yang perlu diganti, hitung biaya sebenarnya supaya kita tahu seberapa besar yang perlu kita tutup."
Petra mengangguk, menerima tugas itu tanpa protes, sesuatu yang menyerupai gencatan senjata kecil terbentuk di antara mereka tanpa perlu diucapkan.
...----------------...
Diskusi berlanjut beberapa saat lagi, menyusun rencana kecil untuk menghadapi situasi baru ini, sampai akhirnya satu per satu anggota mulai bergerak menjalankan tugas masing-masing. Brann kembali ke ruang kerjanya, masih penasaran mencari lebih banyak referensi soal Keruntuhan Abu. Tomas dan Doran memeriksa perlengkapan senjata di gudang belakang. Halden duduk di dekat perapian, mengasah pedangnya dengan gerakan lambat yang biasa menjadi caranya berpikir.
Arden berjalan menuju pintu depan untuk memeriksa kondisi cuaca pagi itu, berniat memutuskan apakah mereka perlu keluar mencari kontrak baru secara langsung alih-alih menunggu tawaran datang sendiri.
Ia membuka pintu, dan sesuatu jatuh dari celah di antara daun pintu dan bingkainya, melayang sebentar sebelum mendarat di lantai kayu markas.
Sepucuk surat, tanpa segel, tanpa lambang apa pun, kertasnya lecek seolah sudah digenggam lama sebelum diselipkan.
Arden berjongkok, mengambilnya, membuka lipatannya perlahan. Tulisan tangan di dalamnya kasar, terburu-buru, tanpa nama pengirim di mana pun.
Jangan percaya sepenuhnya pada Lord Draymoor. Dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan pada kalian. Tanyakan padanya soal ekspedisi Greywood tahun lalu, sebelum terlambat.
Arden membaca kalimat itu dua kali, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya untuk sepotong kertas kecil.
"Corym!" panggilnya, suaranya cukup keras untuk terdengar sampai ke ruang dalam. "Kau perlu melihat ini."