NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: PERTEMUAN TAK TERDUGA DI LOBI HOTEL

Dua minggu berlalu begitu cepat. Undangan makan malam bisnis yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Kota Semarang tiba tepat waktu. Acara itu diadakan di ballroom hotel termewah di pusat kota—tempat di mana semua orang penting berkumpul, menjalin hubungan, dan memamerkan kesuksesan masing-masing.

Malam itu, Nadia tampil beda. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam legam yang elegan, dipadukan dengan perhiasan mutiara sederhana namun berkilau berkelas. Rambutnya yang panjang terurai rapi, menonjolkan aura tenang namun berwibawa yang membuat siapa saja yang melihatnya tak berani meremehkan. Saat ia melangkah masuk ke lobi hotel bersama Pak Haris, sepasang mata langsung tertuju padanya. Bisik-bisik terdengar samar—siapa wanita itu? Mengapa terasa begitu asing namun seolah memiliki kuasa atas segalanya?

Tak jauh dari sana, Rian sedang merapikan dasinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sampingnya berdiri Diana yang tampak berusaha tampil sempurna, sesekali merapikan gaun merahnya sambil memandang sekeliling dengan sombong.

"Tenang saja," bisik Diana, "Kita pasti akan bertemu dengan perwakilan Grup Arka malam ini. Ayahku sudah berpesan agar kita berusaha sedekat mungkin dengan mereka. Jika kau bisa membuat mereka terkesan, masa depanmu terjamin."

Rian mengangguk, menelan ludah. Matanya berkeliling mencari-cari sosok yang selama ini ia dambakan—sosok CEO misterius yang menjadi pembicaraan semua orang. Tanpa sadar, pandangannya berhenti pada sosok wanita bergaun hitam yang sedang berbicara santai dengan beberapa pebisnis senior yang biasanya sangat sulit diajak bergaul.

"Siapa dia?" tanyanya pelan, tak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu dari cara berdiri, cara ia menoleh, yang terasa sangat familier—namun ia buang jauh-jauh pikiran itu, mustahil bagi wanita yang dulu ia kenal bisa berada di tempat setinggi ini dengan posisi sedemikian rupa.

"Itu... katanya pewaris tunggal Grup Arka," bisik seorang rekan bisnis yang lewat, membuat Rian tersentak. "Belum pernah ada yang melihatnya sebelumnya. Baru kali ini ia muncul di acara umum."

Jantung Rian berdegup kencang. Inilah dia. Wanita yang bisa mengubah nasibnya seketika. Dengan napas yang diatur, ia memberanikan diri melangkah maju, meninggalkan Diana yang sempat memanggil namanya.

Nadia baru saja menyudahi percakapan dengan pemilik bank terbesar, saat sosok pria yang tak asing itu berdiri di hadapannya. Wajah Rian tampak penuh harap, tersenyum sopan yang dulu sering ia sampaikan saat ingin meminta sesuatu.

"Selamat malam, Nyonya... Maaf, saya belum tahu nama lengkap Anda," sapa Rian dengan nada sehalus mungkin, mengulurkan tangan. "Saya Rian dari PT. Rian Abadi. Saya sangat terhormat bisa bertemu dengan Anda."

Nadia menatap tangan yang terulur itu lama, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap mata pria yang pernah menjadi suaminya. Tatapannya datar, tak ada sedikit pun kilatan kenangan atau kelembutan yang dulu selalu ia berikan.

"Nadia Kirana," jawabnya singkat, suaranya tenang namun dingin. "Panggil saja saya Ibu Nadia."

Saat nama itu meluncur dari bibirnya, senyum di wajah Rian perlahan memudar. Ia mengerjap beberapa kali, seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Nadia? Nama itu... persis sama dengan nama mantan istrinya. Tapi tidak mungkin. Wanita di hadapannya ini berwibawa, cantik, berkelas—sangat jauh berbeda dengan Nadia yang dulu tinggal bersamanya di rumah sempit dan selalu bersikap rendah hati.

"N-Nadia?" Rian tergagap, tangannya yang masih terulur gemetar pelan. "Maaf... apakah nama Anda benar-benar Nadia? Bukan... mungkin saja ada kesamaan nama?"

Nadia akhirnya menyentuh tangan itu sekilas, ciuman tangan yang hangat tak ada—hanya sentuhan singkat yang terasa dingin dan menjaga jarak.

"Banyak orang yang memiliki nama yang sama, Tuan Rian," ucapnya tenang, menarik kembali tangannya. "Namun nasib setiap orang tentu berbeda. Apa yang bisa saya bantu?"

Rian terpaku. Kata-katanya, tatapannya... semakin lama semakin membuatnya merinding. Namun ambisinya menutup rasa curiga itu. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kebetulan belaka. Mantan istrinya pasti sudah menderita di mana-mana, bukan berdiri tegak menjadi pemimpin perusahaan raksasa seperti ini.

"Saya... saya ingin mengajukan kerja sama," ucapnya kembali, berusaha mengumpulkan keberaniannya meski hatinya mulai gelisah tak menentu. "Kami melihat Grup Arka sedang membuka peluang proyek perumahan. Saya yakin perusahaan kami bisa bekerja sama dengan baik."

Nadia menatapnya lekat-lekat, seolah sedang melihat masa lalu yang berantakan itu berdiri kembali di hadapannya dengan wajah penuh kepura-puraan.

"Silakan kirimkan proposal lengkapnya ke kantor pusat," jawabnya singkat, "Kami akan pelajari dulu. Keputusan ada di rapat direksi."

Belum sempat Rian berkata apa-apa lagi, Nadia sudah mengangguk sopan dan berbalik menyambut tamu penting lain yang datang menghampirinya. Ia meninggalkan Rian yang masih berdiri terpaku di tengah lobi, perasaan campur aduk—antara rasa kagum yang luar biasa pada sosok hebat itu, dan rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan mengapa setiap kali mendengar nama itu atau melihat wajahnya, hatinya terasa begitu sesak dan bersalah.

Diana yang menyusul kemudian menepuk bahunya pelan. "Kenapa diam saja? Apa kau sudah bicara dengannya?"

Rian mengangguk pelan, matanya tak lepas dari punggung Nadia yang menjauh dengan anggun. "Ya... dia bernama Nadia."

"Kau kenal dia?" tanya Diana curiga.

"Tidak... tidak mungkin," jawab Rian pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Hanya... namanya sama persis. Tapi itu tidak mungkin. Mustahil sekali."

Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah tanda tanya besar mulai terbentuk perlahan, merayap masuk dan mengganggu segala ambisi yang selama ini ia bangun.

 

(Lanjut ke Bab 6?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!