"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB, 7. Namanya Arumi
Malam turun perlahan, menyelimuti langit Jakarta dengan warna nila yang pekat. Cahaya lampu apartemen bertaburan laksana bintang-bintang kecil yang jatuh ke bumi, sementara suara kendaraan di jalan raya hanya terdengar sebagai dengung samar dari jendela. Seusai adzan magrib berlalu, kehangatan mulai mengisi unit apartemen sederhana milik Jeevan dan Anna.
Dari dapur mungil dengan konsep terbuka, aroma bawang putih yang ditumis bersama cabai merah memenuhi udara. Wajan yang masih mengepulkan uap menyimpan udang saus Padang berwarna jingga kemerahan, mengilap di terpa cahaya lampu. Di sampingnya, semangkuk selada air rebus tampak sederhana, ditemani sambal matah yang harum oleh irisan bawang merah, serai, daun jeruk, serta minyak panas.
Anna tersenyum tipis ketika memandangi sambal itu. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Mas Jeevan memang selalu menghabiskan sambal matah buatannya. Bahkan, terkadang sambalnya lebih dulu tandas dibanding lauk utama. Entah karena rasanya yang pas atau karena memang lidah sudah begitu akrab dengan racikan tangannya.
Ia menuangkan udang ke atas piring saji, lalu merapikan letaknya seolah sedang menyusun lukisan sederhana. Setelah itu, mangkuk selada air diletakkan berdampingan dengan sambal matah favorit Jeevan.
Di ruang tengah, suara pembawa berita dari televisi terdengar jelas.
"...pelemahan daya beli masyarakat diperkirakan masih menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia..."
Jeevan duduk santai di sofa, mengenakan kaus putih dan celana bahan abu-abu gelap. Tatapannya tertuju pada layar televisi, sesekali mengernyit ketika grafik ekonomi ditampilkan.
Anna melirik sekilas dari dapur.
Lelaki itu memang aneh.
Orang lain mungkin memilih acara hiburan selepas bekerja, tetapi Jeevan justru menikmati berita ekonomi, politik, hingga perkembangan teknologi. Baginya, informasi adalah bekal sebelum mengambil keputusan dalam pekerjaannya. Mungkin karena jarak umur mereka yang cukup jauh.
"Mas..."
Suara Anna pelan.
"Makan malam sudah siap."
Jeevan segera menoleh. "Baiklah."
Ia meraih remot, mematikan televisi, lalu bangkit menuju meja makan.
Meja makan mereka tidak besar. Hanya cukup untuk dua sampai empat orang. Namun, justru disanalah sebagian besar percakapan mereka selama hampir lima tahun pernikahan terjadi.
Anna lebih dulu mengisi piring milik Jeevan dengan nasi hangat lalu menyodorkan piring itu kepada suaminya--itulah kebiasaannya.
"Nasinya jangan terlalu banyak." Pinta Jeevan.
"Bilangnya begitu, nanti nambah dua kali." Celetuk Anna.
Jeevan terkekeh pelan. "Ketahuan, ya?"
Anna tidak menjawab. Hanya menyodorkan piring kehadapan suaminya. Sesudahnya ia baru mengisi piring miliknya lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Kebiasaan kecil itu tidak pernah berubah sejak awal menikah. Bukan karena Jeevan meminta dilayani, melainkan karena Anna memang terbiasa melakukan itu.
Jeevan mengucapkan terima kasih dengan senyum tipis sebelum mengambil seekor udang.
Suasana kembali hening.
Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.
Anna makan perlahan, tatapannya lebih banyak tertuju pada nasi dibanding wajah lelaki di depannya.
Akhir-akhir ini entah kenapa Anna merasa kosong. Meskipun ia masih bisa tersenyum, masih mampu berbicara, masih sanggup untuk memasak namun, semua itu terasa seperti dilakukan oleh tubuh yang berjalan sendiri, sementara jiwanya tertinggal jauh di tempat yang tidak mampu ia temukan.
Jeevan diam-diam memperhatikan istrinya. Sejak tadi, perempuan itu nyaris tidak membuka pembicaraan. Biasanya, meski hanya sedikit, Anna akan mengomentari rasa masakan atau bertanya tentang pekerjaan hari itu.
Malam ini cukup kentara perbedaan dari wajah datar istrinya. Dan entah kenapa akhir-akhir ini Anna terlihat tidak menunjukkan sikap yang pertama kali ia lihat sejak mereka saling mengenal.
Jeevan akhirnya meletakkan garpu dan sendok di sisi piring. Lalu ia menatap Anna beberapa detik.
"Anna." Panggilnya pelan.
Perempuan itu mengangkat kepala. "Hm?"
"Tadi siang..."
Anna menunggu.
"...Mas ketemu klien."
Ia mengangguk pelan.
"Harusnya Mas berangkat sama Abi." Jeevan mengambil segelas air putih, membasahi tenggorokannya sebelum melanjutkan. "Tapi Abi mendadak membatalkannya."
Anna masih mendengarkan tanpa memotong.
"Sebelum Mas berangkat, dia nelpon. Katanya ada urusan keluarga yang tidak bisa di lewatkan." Jeevan diam sebentar lalu melanjutkan. "Lalu... akhirnya Mas berangkat sama asisten Mas."
Anna menatap suaminya.
"Namanya Arumi." Ucap Jeevan.
Nama itu membuat Anna berkedip satu kali. Jeevan menangkap perubahan kecil tersebut.
"Itu anak baru." Ujar Jeevan lagi.
Anna masih diam mendengarkan.
"Arumi baru beberapa bulan menjadi asistennya Mas." Katanya dengan suara tenang. "Tugasnya lebih ke administrasi sama nyiapin kebutuhan kalau Mas lagi ketemu klien."
Jeevan tersenyum tipis. "Tadi siang, waktu kamu di depan kafe..."
Anna langsung memahami maksud kemana arah pembicaraan suaminya. Anna masih mengingat kejadian tadi siang. Saat sedang bersama Sherly, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Jeevan yang berada di sebrang jalan.
Di samping suaminya berdiri seorang perempuan cantik yang mungkin seumuran dengan rambut pendek lalu mengenakan blouse pink dan rok span abu-abu muda.
"Kenapa...kamu langsung pergi tanpa menunggu Mas menyebrang?" tanya Jeevan hati-hati.
Anna menatap wajah suaminya lebih lama, ia tahu air wajah suaminya. Sebagai seorang penulis naskah drama ia terlalu kenal dengan bagaimana tatapan itu, suaminya sedang takut, cemas dan khawatir kalau dirinya salah paham.
"Aku lihat Mas. Tapi...aku memilih pergi karena lampu lalu lintas sudah berubah. Di tambah aku sudah pesan taksi." Jawab Anna jujur.
Karena memang benar, saat itu taksi sudah ada di hadapannya.
Anna menunduk. "Maaf." ucapnya pelan.
Jeevan sedikit terkejut dengan sikap istrinya. Tidak ada cemburu atau apa pun di wajah cantik itu.
"Mas cuma mau jelasin aja ke kamu sekarang." Ucap Jeevan pelan seraya kembali meraih sendok dan garpunya.
"Mas gak mau kamu salah paham." Katanya lagi.
Anna tersenyum tipis seraya mengaduk makanannya di piring. "Enggak kok."
Anna mengangkat pandangan dan menatap suaminya. "Aku percaya sama Mas."
Jeevan tampak sumringah mendengar ucapan istrinya. "Beneran?"
Anna mengangguk pelan. "Iya."
Hanya kata iya yang bisa ia keluarkan, bukan rasa cemburu, tak ada pertanyaan lebih yang di lontarkannya. Bukan karena ia kesal, melainkan karena hatinya sedang terlalu lelah untuk menumbuhkan emosi yang lain.
Jeevan tersenyum seraya kembali menatap istrinya. "Enak." ujarnya.
Anna mendongak.
"Sambal buatan kamu selalu enak." Ujar Jeevan lagi, kini pria itu tersenyum lebar.
Jeevan terkekeh kecil. "Kayanya kalau suatu hari kamu buka warung sambal, Mas bakal jadi pelanggan pertama."
Anna tertegun sejenak lalu akhirnya tersenyum tipis. Meskipun candaan suaminya garing ia tetap membalas candaan itu dengan seulas senyum. Bukan senyum di paksakan, melainkan senyum yang terbiasa ia lakukan.
"Habis juga nanti sambalnya, Mas." Timpal Anna.
"Lah memang itu tujuan hidup sambalnya."
Untuk pertama kalinya malam itu, tawa kecil keluar dari bibir Anna meski pendek dan pelan. Namun cukup membuat suasana yang semula dingin berubah menjadi sedikit hangat.
Mereka kembali menikmati makan malam, meskipun tidak banyak kata di antara mereka tetapi keheningan kali ini tidak lagi terasa setajam sebelumnya.
Hingga...
Brrrttt...
Getaran ponsel memecah kesunyian. Suara dengung itu berasal dari meja makan. Ponsel milik Jeevan bergetar beberapa kali di samping gelas air putihnya.
Refleks, keduanya sama-sama menoleh, layar yang menyala terang menampilkan nama pemanggil dengan begitu jelas.
Anna yang duduk tepat di hadapannya tidak sengaja menangkap tulisan itu sebelum Jeevan sempat meraih ponselnya.
Arumi calling....
...🌼🌼🌼...
Hai... jangan loncat-loncat bab ya
Jangan lupa follow, komen, like, vote dan subscribe 🫶
...BERSAMBUNG ...