NovelToon NovelToon
Biang LaLove

Biang LaLove

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Anfi

Spin-of Baby's breath untuk Aretha

Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.

“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.

Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.

Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 # Kesibukan Queena

Di jam yang sama, di rumah mereka masing-masing Arlo dan Queena pagi itu terburu-buru. Keduanya lari menuruni tangga di rumah masing-masing.

“Aku berangkat dulu, mom.” Arlo menci um pipi mi-mom Hana, sambil kedua tangannya menyambar roti bakar dan air mineral yang ada di meja.

“Ya ampun. Ini anak,” mi-mom Hana sampai terkejut di buatnya. “Buru-buru, mom. Qila biar diantar supir saja,” teriak Arlo sambil lari keluar rumah, biasanya Arlo memang lebih dulu mengantar Aqila ke sekolah sebelum ke kampus.

Mi-mom Hana menggeleng, sudah pasti semalam putranya tersebut begadang lagi dengan project-projectnya tersebut.

“Kok Qila di tinggal abang, mom?” Aqila baru saja turun dari lantai atas, gadis itu sudah siap untuk berangkat sekolah.

“Abang buru-buru, sayang. Qila nanti berangkat diantar supir saja, ya!” mi-mom Hana menyiapkan bekal snack untuk putrinya.

“Adek biar aku saja yang antar, yank.” Papi Leo bergabung dengan mereka untuk sarapan pagi.

“Yeeah! Diantar papi,” girang Aqila.

Mi-mom Hana terkekeh. “Sebahagia itu diantar papi?”

Aqila mengangguk. “Berasa dianterin bos Hanapra gitu lho, mo.” Kikik Aqila membuat papi dan mi-momnya tertawa renyah.

Tidak berbeda dengan rumah keluarga Regantara, Queena menghampiri kedua orang tuanya yang sudah ada di meja makan.

“Ueena sarapan di kampus saja ya, ma.” Gadis itu pamit pada mamanya, dia mengambil kotak bekal yang sudah di siapkan mama Rhea. “Ada jadwal masuk laboratorium?” tanya mama Rhea yang melihat jas lab tersampir di lengan kiri putrinya.

Queena mengangguk. “Observasi plus analisis kultur bakteri, ma. Sudah 48 jam inkubasi,” jawab Queena, dia lantas menghampiri papa Rega. Gadis itu mengulurkan tangan untuk menci um punggung tangan sang papa.

“Biar sekalian papa antar, kebetulan papa sama om Aldo ada meeting di luar pagi ini. Biar pak Ujang antar Dean,” papa Rega menepuk puncak kepala putrinya yang terlihat menawan dengan jilbab warna blue sea. “Papa kan belum sarapan,” ucap Queena.

“Papa sama kakak bisa sarapan di mobil, nanti.” Mama Rhea memberikan kotak bekal sarapan untuk papa Rega dan Queena, entah kapan mamanya itu menaruh bekal sarapan pada wadah yang saat ini ada di hadapan papa Rega.

Papa Rega tersenyum. “Soal menyiapkan makan, mama itu jelmaan awan kinton. Melebihi kecepatan manusia super,” celetuk papa Rega, dia beranjak dari kursi dan meng3cup kening sang istri. “Aku berangkat dulu, sayang. Mau antar princess dulu,” pamit papa Rega pada sang istri.

“Hati-hati di jalan, mas. Bawa anak gadis,” balas mama Rhea yang sudah salim takzim mengecup punggung tangan sang suami. “Pasti, sayang. Tidak aku biarkan dia lecet,”

“Kakak ini aneh, yang romantis-romantisan papa sama mama. Tapi situ yang salah tingkah,” celetuk Dean saat melihat kedua pipi sang kakak merona, remaja itu sedang menghabiskan sarapan paginya.

“Ish… Dean,” cebik Queena, membuat papa dan mamanya tersenyum “Berangkat yuk, pa.” Queena langsung menggandeng lengan sang papa.

Pagi itu papa Rega tidak menggunakan supir, dia sendiri yang menjadi supir untuk putri sulungnya tersebut.

“Queena suapi papa ya, pa?” Queena minta ijin papanya. “Boleh, sayang. Jarang-jarang papa di suapi gadis cantik ini,” jawab papa Rega.

Queena tertawa. “Ueena aduin mama nih, padahal mama cantik lho. Papa katanya jarang di suapi yang cantik-cantik,” canda Queena.

Papa Rega tergelak. “Kalau mamamu itu bukan gadis cantik lagi, sayang. Tapi bidadari cantik, tidak ada yang bisa menggantikan dia di sini.” Tunjuk papa Rega pada dadanya. “Tapi kalau gadis cantik ini dunianya papa dan mama,” Rega menepuk puncak kepala putri sulungnya tersebut.

Queena tersenyum, dia selalu salting saat melihat papa Rega yang memperlakukan mama Rhea dengan romantis. Perjalan Queena ke kampus pagi itu penuh kehangatan, sepanjang perjalanan dia tidak hanya menyuapkan sarapan pagi untuk sang papa yang sedang menyetir. Tapi Queena juga banyak mengobrol dengan papa Rega, tentang apapun. Papa Rega hampir tidak pernah membahas tentang bisnis dengan putrinya tersebut, dia lebih suka membahas tentang hal-hal kekinian yang sedang menjadi pembahasan para muda mudi seusia Queena.

“Kakak pulang jam berapa nanti?” papa Rega menghentikan mobilnya tepat di depan Fakultas Ilmu dan Teknologi.

Queena melihat arlojinya. “Sekitar jam dua belas mungkin, pa.”

“Oke. Papa jemput lagi nanti jam dua belas,” papa Rega mengecup puncak kepala putrinya. Begitupun Queena yang salim takzim dan pamit pada papa Rega.

“Terimakasih sudah antar Ueena, pa. Papa hati-hati di jalan,” Queena membuka pintu mobil. “Sama-sama  sayang,” papa Rega melajukan mobilnya meninggalkan kampus Queena, dia langsung menuju tempat meeting dengan klien pagi itu.

***

“Ueena cayank!”

Queena menoleh kearah sumber suara, dia cukup mengenali suara salah satu sahabatnya tersebut. Intan yang memanggil Queena, dari ujung lorong menuju laboratorium ada Raya dan Intan. Keduanya berjalan bersama, dua gadis itu lantas berlari menuju Queena.

“Diantar siapa?” Raya merangkul pundak Queena.

“Papa,” jawabnya singkat.

“Anak papa mama sih ya, harap maklum. Ngampus diantar supir, kadang papa. Nenteng tas bekal, kurang anak papa mama apalagi coba?” seloroh Intan sambil terkekeh.

“Untung masakan mama Rhea enak, kita ikut kebagian juga. Ada anak mama satu ini kita tidak rugi, Ntan. Dapat asupan bergizi hampir tiap hari,” imbuh Raya.

“Ish… kalian ini,” Queena terkekeh, dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan kedua sahabatnya tersebut.

Tepat pukul delapan pagi mereka bertiga kemudian masuk ke dalam laboratorium, ketiganya menyimpan tas dan dan barang bawaan ke dalam loker masing-masing. Baru kemudian masuk ke laboratorium setelah memakai jas dan juga sarung tangan.

Queena dan kedua sahabatnya memulai prosedur kerja lab mereka pagi itu.

Queena mengambil 1 dari 5 cawan sampel miliknya dari incubator, begitu juga dengan kedua sahabatnya. Mereka bertiga sedikit lega karena ada pertumbuhan di sana, itu berarti mereka bisa melakukan prosedur selanjutnya.

Queena sudah siap dengan spidol permanen dan notebook dengan bebebrapa kode sampel, dia mengamati koloni di bawah pencahayaan. Ketiganya begitu serius dengan cawan mereka masing-masing, Queena mengamati koloni kultur bakterinya. Dia juga mencatat karakteristik dan tidak lupa mendokumentasikan.

Tepat pukul sepuluh siang, Queena sudah menyelesaikan seluruh observasi, analisis, mencatat hingga mendokumentasikan semua project kultur bakterinya. Begitu juga dengan kedua sahabatnya tersebut.

Mereka tidak lupa menyimpan kembali sampel, untuk berjaga-jaga jika nanti masih di perlukan. Tiga mahasiswi cantik itu membersihkan meja yang mereka gunakan sebelum keluar dari laboratorium.

“Akhirnya selesai,” ucap Raya.

“Perutku sudah keroncongan,” Intan meregangkan otot-ototnya.

Queena terkekeh melihat kedua sahabatnya tersebut. “Di bawah pohon rindang atau cafe? Aku tidak mau kantin, pasti tidak bisa fokus. Belum lagi kalau ada yang mengganggu,” ucap Queena, dia tidak mau kehilangan fokus karena mereka masih harus berdiskusi tentang hasil kerja project mereka hari itu.

Selain itu dia sudah bilang papa Rega kalau jam dua belas siang dia pulang, masih ada sekitar dua jam untuk berdiskusi sebelum papa Rega menjemputnya. Queena rasa itu waktu yang cukup efisien, dengan catatan tidak ada yang menganggu mereka sat diskusi.

“Pohon rindang saja, Ueena. Aku sama Intan pesan makan via aplikasi saja,” jawab Raya diangguki Intan.

Mereka bertiga keluar dari laboratorium dan langsung menuju pohon rindang.

1
muthia
sehat selalu ❤
a yulaela_fa(Ayu Anfi): siap kk... kk jg ya❤️❤️❤️
total 1 replies
muthia
❤❤❤❤❤❤❤
muthia
❤❤❤❤❤❤❤❤
muthia: sehat selalu 🙏❤
total 2 replies
Nur Asiatun
Alhamdulillah...semangat thor
a yulaela_fa(Ayu Anfi): kakak juga ya 💗💗
total 3 replies
Enz99
Bagus
a yulaela_fa(Ayu Anfi): terimakasih kk💗💗
total 1 replies
zhelfa_alfira
keren
a yulaela_fa(Ayu Anfi): terimksh kkk 💗💗💗
total 1 replies
muthia
ayo Arlo
muthia: ❤❤❤❤❤❤
total 4 replies
muthia
gegara itu l akhirnya Arlo nikah sama Queen
muthia: 😂😂😂😂😂😂❤❤❤
total 2 replies
Anto D Cotto
menarik
a yulaela_fa(Ayu Anfi): terimakasih kk.. 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Anto D Cotto: ok,,see 👍
total 2 replies
muthia
semangat dan sehat selalu thor 🙏
muthia: ❤❤❤❤❤❤❤
total 2 replies
muthia
Langsung mampir
a yulaela_fa(Ayu Anfi): trimaksh kk cntikq ❤️❤️❤️💗
total 1 replies
Niken Dwi Handayani
Waduh dalam sehari udah triple kill aja ngisengin Uena😮‍💨
a yulaela_fa(Ayu Anfi): 🤣🤣🤣🤣 emg biang rusuh kan ya dia... anehnya cm ke ueena aja dia gt
total 1 replies
Niken Dwi Handayani
Yuhuuuuu..akhirnya cerita si babang Arlo yang sedari orok ngekeep si neng cantik Uena launching juga🥳🥳.
a yulaela_fa(Ayu Anfi): ❤️❤️❤️❤️ berkat dkgn kk jg akhirnya mrk bs lauching
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!