NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Distrik 2

Keesokan harinya, salju turun perlahan membasahi sudut-sudut kota.

Untungnya, hembusan angin pagi itu tidak terlalu kencang sehingga butiran salju jatuh dengan lembut.

​Nathan berdiri di pinggir jalan dengan pakaian sederhana, kaos hitam tebal, celana panjang hitam, serta syal yang melilit hangat di lehernya.

Asap tipis menguar dari mulutnya setiap kali ia menghembuskan napas. Ia baru saja selesai mengabari Reno terkait lokasi penjemputan.

​Tak lama menunggu, sebuah mobil sedan hitam biasa melaju pelan dan berhenti tepat di samping Nathan.

​Kaca jendela mobil diturunkan. Di kursi kemudi, Reno mendorong kacamata hitamnya ke atas dahi sembari mengunyah permen. "Yo, juniorku Nathan! Ayo naik."

​Niko yang duduk di kursi penumpang samping kemudi melambaikan tangannya ramah. "Masuk, Nat, di luar dingin."

​Nathan membuka pintu dan duduk di bangku belakang.

Ia merapikan syalnya sejenak sebelum bersuara. "Ayo jalan. Kita langsung menuju Distrik 2. Pak Martin sudah melaporkan kedatangan kita ke kantor polisi di sana."

​Reno menggigit batang permennya hingga patah, lalu memutar kemudi meluncurkan mobil membelah jalanan bersalju. "Oke, kita berangkat. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke sana, jadi santai saja dulu di belakang."

...***...

​Di saat ketiga polisi itu baru saja memulai perjalanan panjang mereka, suasana di Distrik 2 terasa berbeda.

​Seorang pria berdiri di tepi trotoar, memandangi kepingan salju yang jatuh di telapak tangannya. Tatapan matanya teduh, diiringi senyum misterius yang tampak sangat ramah.

​"Hari yang indah..." gumamnya pelan pada diri sendiri.

​Pria itu merapatkan mantelnya lalu berjalan santai menuju rumahnya.

Di sepanjang jalan pemukiman, beberapa tetangga menyapanya hangat, dan pria itu membalas sapaan mereka dengan sopan serta ramah.

Di mata warga sekitar, ia adalah sosok tetangga yang menyenangkan, santun, dan sangat ahli bersosialisasi. Tak ada satu pun orang yang mencurigainya.

​Namun, begitu melangkah masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu depan, senyuman ramah di wajahnya mendadak sirnah.

Wajahnya berubah menjadi datar, dingin, dan sama sekali hampa dari emosi manusia.

​Pria itu berjalan menuju bagian belakang rumah, membuka sebuah pintu tersembunyi, lalu menuruni tangga kayu menuju ruang bawah tanah.

​Setiap helak langkah kakinya di tangga kayu menimbulkan suara berderit yang mencekam.

Bau kelembapan bercampur aroma amis darah yang membeku langsung menyengat hidung.

​Di dalam ruangan remang-remang itu, tembok semen dipenuhi oleh bercak-bercak darah kering.

Di sudut ruangan, terdapat sebuah papan kayu besar yang dipenuhi oleh puluhan foto-foto hasil jepretan.

​Foto-foto itu merekam secara terperinci setiap penderitaan para korbannya—gadis-gadis remaja yang ditelanjangi, berteriak ketakutan, menangis histeris, terkencing-kencing karena trauma, dipaksa makan, hingga saat-saat di mana mereka dilecehkan dan disiksa sebelum nyawa mereka dihabisi.

​Pria itu berdiri di depan papan tersebut, menatap foto-foto korban dengan pandangan tajam.

​Ia menarik sebuah kursi besi, lalu duduk di sana sembari memandangi papan tersebut. Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar.

​Ia mengangkat telepon tersebut. "Halo?"

​Suara samar di seberang memberikan sebuah informasi. Pria itu mengernyitkan alisnya tipis. "Apa?! Ah... begitu ya. Jadi ada personel dari Distrik 1 yang ikut turun tangan?"

​Pria itu mengakhiri panggilan telepon tanpa menunjukkan rasa panik.

Ia berdiri dari kursinya, merogoh saku mantelnya, lalu mengeluarkan sebuah foto baru, foto seorang gadis remaja sekolah menengah.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

​Ia membalikkan badan, melangkah keluar ruangan, lalu memutar kunci gembok ruang bawah tanah itu rapat-rapat.

​Beberapa jam kemudian...

​Mobil yang dikendarai Reno akhirnya melintasi perbatasan dan memasuki kawasan pusat Distrik 2.

Hari sudah mulai siang, namun cuaca justru semakin memburuk.

Salju turun semakin lebat, membasahi jalanan utama yang dipadati lalu lalang kendaraan.

​Reno memelankan laju mobilnya di dekat area komersial. "Saljunya makin tebal, nih. Sepertinya untuk sementara kita cari hotel dulu untuk menaruh barang-barang."

​Niko mengangguk setuju sambil melihat ke luar jendela. "Iya, harus dapat penginapan dulu agar kita punya tempat istirahat dan tidak repot nantinya kalau harus lembur."

​Setelah menemukan hotel sederhana dan menyelesaikan proses check-in, mereka bertiga langsung bergerak menuju Kantor Polisi Distrik 2 untuk berkoordinasi dan mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai kasus pembunuhan berantai tersebut.

​Sesampainya di Markas Polsek Distrik 2, suasana kantor tampak sibuk. Nathan, Reno, dan Niko diarahkan menuju ruangan utama dan disambut langsung oleh Komisaris Distrik 2.

​Pria paruh baya berseragam lengkap itu berdiri dari kursinya dan menyalami mereka bertiga satu per satu dengan raut wajah yang sangat ramah.

​"Selamat datang," sambut Komisaris Distrik 2 dengan nada hangat. "Saya sudah mendengar semuanya dari Komisaris Martin semalam. Saya senang sekali teman-teman dari Distrik 1 bersedia datang jauh-jauh untuk membantu kami menyelesaikan kasus sulit ini."

​Nathan membalas jabat tangan tersebut dengan genggaman yang mantap sembari melempar senyum sopan. "Kami hanya menjalankan tugas yang diberikan, Pak. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik untuk mengungkap kasus ini."

​Komisaris Distrik 2 menepuk bahu Nathan pelan sambil tersenyum lebar. "Tentu saja. Kami juga sangat mengharapkan hal yang sama."

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!