Su Yinyin adalah aktris cantik yang baru mekar. Ia banyak memghabiskan waktu bersama pria tampan dan mempermainkan mereka. Semua mengagumi dan mencintai nya. Namun, bagaimana jika ia harus masuk ke dalam novel berlatar kuno dan menakhlukan hati seorang pangeran kedua yang dingin dengan tingkat cinta minus seratus! Gila itu sih bukan cinta tapi sudah tidak cinta dari awal!
Belum lagi ditambah konflik Dikrit Kaisar yang mengharuskan pangeran kembali menikahi Putri Mahkota dari Utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Lembah Kabut Hitam
Derap kuku kuda memecah keheningan tanah berdebu yang membentang luas di luar perbatasan selatan kekaisaran. Selama lima hari berturut-turut, rombongan kecil yang dipimpin oleh Mo Jue dan Su Yinyin terus melaju tanpa mengenal lelah, menembus perbukitan tandus yang berangsur-angsur berubah menjadi lanskap hutan lebat dengan pepohonan tinggi berkanopi rapat. Semakin jauh mereka melangkah ke selatan, udara terasa semakin lembap, dipenuhi kabut tipis berwarna kelabu yang tidak kunjung hilang meski matahari telah naik tinggi di atas kepala.
Su Yinyin menarik tali kekang kudanya perlahan, membuat hewan tunggangannya berhenti di tepi tebing batu yang curam. Ia mengatur napasnya, merasakan hawa dingin yang mulai merayap menembus jubah perjalanannya. Di bawah sana, terbentang sebuah lembah raksasa yang tertutup rapat oleh kabut tebal berwarna kehitaman—sebuah pemandangan yang tampak asing dan menakutkan, seolah garis batas antara dunia manusia dan tempat terlarang.
"Lembah Kabut Hitam," gumam Su Yinyin pelan, mengingat kembali catatan geografis langka yang sempat ia baca di ruang arsip istana sebelum keberangkatan mereka. "Tempat ini tidak tercatat dalam peta resmi perpustakaan kekaisaran. Konon, siapa pun yang masuk ke dalam kabut itu tanpa pemandu khusus tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup."
Mo Jue menghentikan kuda hitamnya tepat di samping Su Yinyin. Pria itu menoleh, mengamati hamparan lembah di bawah sana dengan sorot mata tajam yang tidak menyiratkan rasa takut sedikit pun, melainkan kewaspadaan tingkat tinggi. Urat di pelipisnya sedikit menegang, mengevaluasi setiap sudut jalur menurun yang dipenuhi bebatuan licin.
"Kabut itu bukan sekadar uap air biasa," ucap Mo Jue rendah, suaranya terdengar berat namun menenangkan. Ia mengulurkan tangan, menunjuk ke arah pucuk-pohon di lembah yang daunnya tampak layu dengan warna kehitaman di bagian tepi. "Ada kandungan racun lambat di dalam udara lembah ini. Racun yang sama yang pernah ditemukan dalam sampel arsip tabib istana sepuluh tahun lalu—racun yang digunakan oleh klan bayangan selatan untuk melumpuhkan saraf musuh secara perlahan tanpa meninggalkan bekas luka fisik."
Su Yinyin mengangguk paham. Ia merogoh kantong jubahnya, mengeluarkan sebuah botol giok kecil berisi pil penawar racun herbal yang diracik khusus oleh tabib kepercayaan istana sebelum mereka berangkat, lalu meminumnya bersama Mo Jue untuk mengantisipasi efek buruk dari kabut beracun tersebut.
Di belakang mereka, tiga orang pengawal bayangan terpilih—dipimpin oleh seorang perwira senior bernama Jenderal Chi—mendekat dengan kuda masing-masing. Jenderal Chi membungkuk hormat di atas pelana, wajahnya tampak serius di balik zirah perak yang mulai tertutup debu perjalanan.
"Yang Mulia, jalur menurun ke dalam lembah sangat curam dan licin," lapor Jenderal Chi dengan suara tegas. "Pengintai depan melaporkan ada tanda-tanda pos penjagaan tua di dekat mulut lembah, tetapi kondisinya tampak terbengkalai. Apakah kita akan langsung menerobos turun, atau mendirikan perkemahan sementara di dataran tinggi ini?"
Mo Jue melirik sekilas ke arah Su Yinyin, meminta pertimbangan dari wanita yang terbukti memiliki insting tajam dalam membaca situasi bahaya.
Su Yinyin menatap kembali ke arah lembah berkabut itu. Ia tahu, semakin lama mereka membuang waktu di dataran tinggi, semakin besar pula peluang bagi pihak misterius yang mengirim surat tantangan untuk mengetahui pergerakan mereka. Namun, masuk ke wilayah musuh tanpa persiapan taktis adalah tindakan bunuh diri.
"Kita tidak boleh mendirikan perkemahan di sini," jawab Su Yinyin mantap. "Dataran tinggi ini terlalu terbuka dan mudah dipantau dari puncak bukit seberang. Kita turun sekarang, tetapi lakukan dengan formasi senyap. Jaga jarak, jangan gunakan obor terang, dan jadikan pos penjagaan tua di bawah sebagai tempat perlindungan pertama kita."
Mo Jue mengangguk setuju atas keputusan istrinya. "Laksanakan titah Putri. Jenderal Chi, ambil posisi di depan sebagai pembuka jalan. Aku dan Su Yinyin akan berada di tengah, sementara dua pengawal mengamankan bagian belakang."
"Baik, Yang Mulia!" seru Jenderal Chi patuh.
Satu per satu, rombongan kecil itu mulai menuruni lereng curam menuju dasar lembah dengan gerakan yang sangat hati-hati. Suara derap kuku kuda diredam oleh tanah gembur yang basah, sementara kabut hitam perlahan-lahan menelan sosok mereka, menyembunyikan bayangan mereka di balik lebatnya pepohonan purba.
Suasana di dalam Lembah Kabut Hitam terasa begitu sunyi, hampir tidak ada suara burung atau binatang liar yang biasanya menghuni hutan. Yang terdengar hanyalah desau angin pelan yang bergesekan dengan dedaunan kering dan suara decak sepatu kuda di atas tanah berlumpur.
Setelah berjalan hampir setengah jam menembus kabut yang semakin pekat, bentuk bangunan pos penjagaan tua yang dimaksud akhirnya mulai tampak samar-samar di balik tirai kabut. Bangunan itu berupa sebuah gerbang batu besar berukir simbol kepala serigala yang sudah aus, dikelilingi oleh pilar-pilar batu runtuh yang ditumbuhi lumut tebal.
Jenderal Chi yang memimpin di depan tiba-tiba mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar seluruh rombongan berhenti total. Ia turun dari kudanya, berjongkok di dekat gerbang batu, lalu meraba permukaan tanah dengan jemarinya yang bersarung kulit.
Mo Jue dan Su Yinyin ikut turun dari kuda mereka. Mo Jue melangkah maju tanpa suara, berdiri di samping Jenderal Chi sambil menghunus separuh pedang perangnya dari sarung.
"Ada apa, Jenderal?" bisik Mo Jue rendah.
Jenderal Chi mendongak, wajahnya tampak tegang. "Jejak tapak kuda di sini masih baru, Yang Mulia. Kurang dari tiga jam lalu, ada sekelompok orang berjumlah besar yang melewati gerbang ini. Dan lihat ini..."
Jenderal Chi menunjuk ke arah sebuah batu besar di dekat pilar gerbang. Di atas batu tersebut, tertoreh sebuah simbol baru menggunakan arang hitam—gambar teratai perak dengan kelopak yang terkulai ke bawah, disertai tanda panah yang mengarah langsung ke dalam lorong gelap di balik reruntuhan kuil batu.
Su Yinyin mendekat, memperhatikan tanda tersebut dengan saksama. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena ia menyadari bahwa seseorang di dalam sana memang sengaja menunggu kedatangan mereka, merancang sebuah panggung pertemuan di jantung wilayah terlarang selatan.
"Mereka tahu kita datang," ucap Su Yinyin pelan, manik matanya memantulkan kilau cahaya samar dari pedang Mo Jue.
Mo Jue merangkul bahu Su Yinyin erat-erat, menarik wanita itu sedikit mendekat ke sisinya. Pangeran itu menatap lurus ke dalam kegelapan lorong batu di hadapan mereka dengan sorot mata yang memancarkan tekad baja.
"Biar mereka menunggu," balas Mo Jue dingin. "Kita masuk."
permaisuri
jika kau berdamai dgn mu jue pasti hidupmu akan tenang
TPI sayang sekali kau selalu mengusik singa yg sedang tidur
lalu kenapa seorang permaisuri begitu merasa terancam dgn kehadiran dan kesuksesan jendral joe
sehingga permaisuri hidup semena mena👊
kena kaisar begitu ceroboh
permaisuri👊
wah gawat, dua wanita dlm satu atap
yg terkadang sejalan😭😭
semoga putri mahkota bisa diajak kerja sama
pasti bisa meluluhkan pangeran kedua
su😁😁
gak tau apa gimana hantun su yinyin😁😁👊
sungguh belum tau rasanya jadi buucin yaa🤣
apa dia dicekik atau terpeleset di kamar🤔🤔🤔