NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Mata yang Melihat Segalanya

Layar ponsel Bayu Prasetyo retak tepat di atas angka saldo.

Rp432.700.

Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk uang hidup Sinta bulan depan. Adiknya membutuhkan tiga juta rupiah untuk kos, makan, dan ongkos kuliah. Sementara amplop pesangon di tangan Bayu kosong. Hanya ada selembar surat pemutusan kerja.

"Posisimu dibutuhkan orang lain," kata direktur perusahaan distribusi itu tanpa berani menatapnya. "Mulai hari ini, Kevin Wijaya yang akan menangani bagianmu."

Bayu berdiri di depan meja selama dua detik.

"Saya bekerja tiga tahun di sini, Pak. Semua target saya tercapai."

"Keputusan ini sudah final."

Kevin adalah putra keluarga yang baru menanam modal di perusahaan kecil itu. Bayu hanya pegawai dari Pacitan yang datang ke Surabaya dengan satu tas pakaian dan ijazah biasa.

Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku, lalu pergi tanpa memohon.

Belum sampai lift, ponselnya bergetar.

Pesan suara dari keluarga tunangannya masuk.

"Bayu, kami sudah bicara baik-baik. Kamu belum mapan. Kapan bisa kasih mahar? Putri kami tidak mungkin menunggu tanpa kepastian. Cincin akan kami kembalikan. Anggap pertunangan ini selesai."

Pintu lift terbuka.

Bayu tidak langsung masuk. Di permukaan baja yang kusam, ia melihat wajah seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun yang kehilangan pekerjaan dan calon istri dalam selang sebelas menit.

Ia menekan tombol tutup.

Masih ada satu hal yang bisa ia lakukan.

Di dalam tasnya tersimpan sebuah keris tua milik sahabatnya, Rizal Firmansyah. Sebelum berangkat bekerja ke luar pulau, Rizal pernah berkata, "Kalau benar-benar terdesak, bawa ke orang yang paham. Kalau harus dijual, jual. Jangan biarkan keluargamu kelaparan gara-gara menjaga barangku."

Bayu tidak berniat menjualnya murah. Ia hanya membutuhkan penilaian yang jujur.

Sore itu, lorong Pasar Antik di kawasan Kembang Jepun dipenuhi bau kayu tua, minyak logam, dan asap kendaraan dari jalan besar. Jam dinding, uang kuno, topeng kayu, serta batu akik memenuhi meja-meja sempit.

Pak Karto menerima keris itu dengan dua tangan, tetapi matanya hanya memeriksanya sebentar.

"Sarungnya baru. Bilahnya juga sudah banyak karat." Ia mengetuk gagang keris dengan kuku. "Cuma barang dekorasi, Mas. Tidak layak disebut pusaka."

"Rizal bilang ini sudah ada di keluarganya selama beberapa generasi."

Pak Karto terkekeh. "Semua orang bilang begitu. Kalau saya baik hati, saya berani ambil dua juta. Lebih dari itu saya rugi biaya bersihkan karat."

Dua juta.

Angka itu menyakitkan karena terlalu kecil. Namun, notifikasi tagihan kos sudah menyala di layar. Nama Sinta berada tepat di bawahnya dalam daftar percakapan.

"Bapak yakin ini bukan keris tua yang berharga?"

"Kalau tidak percaya, silakan keliling." Pak Karto mendorong keris itu kembali setengah jengkal. "Tapi pasar mau tutup. Besok belum tentu saya masih berminat."

Bayu memandang bilah berlekuk yang kusam itu. Ia tidak tahu pamor, tangguh, atau dapur keris. Yang ia tahu hanya satu: Rizal mempercayainya.

Ia seharusnya pergi.

Namun kebutuhan tidak pernah memberi orang miskin cukup waktu untuk menjadi hati-hati.

"Dua juta. Transfer sekarang."

Pak Karto tersenyum.

Lima menit kemudian, keris itu menghilang ke bawah meja. Uang masuk ke rekening Bayu. Ia langsung mentransfer satu setengah juta kepada Sinta dengan pesan pendek: Buat makan dulu. Mas akan kirim sisanya.

Setelah membayar tunggakan kamar dan membeli tiket bus malam, saldonya kembali di bawah lima ratus ribu.

Di ujung lorong, seorang pedagang tua menatap sarung kosong di tangan Bayu.

"Keris yang barusan dibawa Pak Karto itu," katanya pelan. "Ada ukiran naga di gandiknya?"

Bayu berhenti.

"Bapak melihatnya?"

"Sekilas. Kalau benar itu Nagasasra lama, dua juta bukan harga. Dua miliar pun orang akan berebut, tergantung tangguh dan asalnya."

Darah Bayu terasa turun ke telapak kaki.

Ia berbalik dan berlari.

Meja Pak Karto sudah kosong.

Kain penutup, lampu, bahkan papan nama kecilnya lenyap. Pedagang di sebelah mengangkat bahu. Nomor yang diberikan Pak Karto tidak aktif. Rekening penerima memakai nama orang lain.

Bayu berdiri di lorong yang mulai gelap dengan sarung kosong di tangannya.

Pekerjaan hilang.

Pertunangan putus.

Pusaka sahabatnya ikut lenyap karena keputusan yang ia buat sendiri.

Malam itu ia naik bus menuju Pacitan. Hampir enam jam ia duduk dekat jendela, memegang tas di pangkuan, sementara lampu kota berganti sawah dan bukit gelap. Ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Ayah tentang pekerjaan atau melihat Ibu menghitung sisa beras.

Menjelang pagi, ia turun dan meneruskan perjalanan ke Pantai Klayar.

Laut sedang keras. Ombak menghantam karang dan menyemburkan air tinggi ke udara. Bayu duduk di pasir basah, mengeluarkan surat pemutusan kerja, lalu meremasnya hingga menjadi bola kecil.

"Kalau kertas itu dibuang ke laut, utangmu ikut hanyut?"

Bayu menoleh.

Seorang kakek duduk di atas batu karang beberapa meter darinya. Celana kainnya tergulung sampai betis. Sebatang kail sederhana terjepit di antara jari-jarinya. Bayu tidak mendengar orang itu datang.

"Saya tidak berniat membuangnya, Kek."

"Bagus. Laut tidak perlu menanggung masalahmu."

Bayu hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya embusan napas kasar.

Kakek itu menatap pelampungnya. "Kau kehilangan pekerjaan, kehilangan perempuan yang menunggumu, lalu menjual barang milik sahabatmu kepada penipu. Sekarang kau takut pulang karena tidak punya uang untuk adikmu."

Jari Bayu mengeras di atas kertas.

"Siapa Kakek?"

"Orang yang sedang memancing."

"Dari mana Kakek tahu semua itu?"

"Wajah orang yang kehilangan uang berbeda dengan wajah orang yang kehilangan harga diri." Kakek itu menarik senarnya. Kailnya kosong. "Wajahmu membawa keduanya."

Bayu bangkit. "Kalau Kakek sedang mempermainkan saya—"

"Kau terlalu miskin untuk dipermainkan."

Kalimat itu telak, tetapi tidak terdengar menghina.

Kakek tersebut menancapkan kailnya ke pasir, lalu berdiri. Matanya jernih, terlalu jernih untuk seseorang seusianya.

"Kau menyesal karena tidak bisa melihat nilai barang yang ada di tanganmu."

Bayu tidak menjawab.

"Kalau begitu, aku beri kau sepasang mata." Kakek itu mengangkat dua jari. "Cukup untuk melihat yang tersembunyi dan menjauh dari celaka. Selebihnya, tetap bergantung pada otak dan nyalimu sendiri."

Dua jari itu menyentuh kening Bayu.

Dingin.

Rasa dingin tajam menusuk ke belakang kedua matanya, jauh lebih menusuk daripada air laut. Cahaya putih menelan pantai. Bayu mundur satu langkah, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh berlutut.

Ketika penglihatannya kembali, batu karang di depannya kosong.

Kail itu tidak ada.

Jejak kaki pun tidak ada.

Hanya suara ombak dan sebutir kerikil hitam di pasir.

Bayu mengambil kerikil itu. Saat ia memusatkan pandangan, permukaan hitamnya seolah terkelupas. Ia melihat retakan halus di dalam batu, butir pasir yang terperangkap, bahkan garis mineral pucat yang tak mungkin terlihat dari luar.

Ia menjatuhkannya.

Napasnya tertahan.

Bayu mencoba lagi pada cangkang kerang, kayu hanyut, dan kaleng berkarat. Lapisan benda-benda itu menjadi bening di matanya. Pada sebuah pecahan batu akik kecil, cahaya keemasan muncul samar dari dalamnya.

Mata Dewa.

Nama itu muncul begitu saja di benaknya, tanpa penjelasan.

Bayu menoleh ke laut, tetapi kakek tadi benar-benar telah lenyap.

Ia pulang sebentar untuk mengganti pakaian, lalu mengambil bus siang kembali ke Surabaya. Perjalanan hampir enam jam itu terasa berbeda. Di terminal, di warung istirahat, bahkan pada jam tua milik penumpang di depannya, ia melihat lapisan, retakan, serta cahaya yang sebelumnya tidak pernah ada.

Saat ia tiba di Kembang Jepun, hari sudah menjelang petang pada hari kedua.

Pak Karto belum kembali.

Namun, di bagian lain pasar, seorang pemilik lapak sedang menumpuk puluhan batu kasar berwarna abu-abu. Bagi orang lain, semuanya tampak seperti batu kotor.

Bagi Bayu, tidak.

Salah satu batu memancarkan cahaya emas paling terang yang dilihatnya sejak meninggalkan Pantai Klayar.

Jantung Bayu berdegup lebih cepat.

Jika cahaya itu benar-benar berarti nilai, maka hidupnya baru saja berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!