Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati
Sore itu langit tampak cerah, seolah ikut merayakan hari spesial orang yang paling yena sayangi. Sebelum berangkat ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhir, yena sudah sibuk di dapur toko kue nya sendiri—menghias kue cokelat kesukaan Arga dengan penuh perasaan. Di samping kotak kue itu, tersimpan sebuah kotak beludru berisi jam tangan mewah yang sudah lama ia incar, kado yang yena siapkan dengan menabung berbulan-bulan dari hasil penjualan kuenya.
Hari ini ulang tahun Arga, CEO muda berumur 28tahun yang empat tahun ini menjadi pusat dunia yena. Yena sengaja tidak memberitahunya akan datang,yena ingin memberinya kejutan manis untuknya, setelah pulang dari kampus yena langsung ke toko kuenya untuk mengambil kue coklat itu, setelah itu dia langsung berangkat ke kantornya arga menggunakan mobil. Di tengah perjalanan di saat lampu merah yena sedikit memakai makeup agar terlihat cantik nantinya saat bertemu arga. Setelah sampai yena langsung memarkirkan mobilnya.
di kantor arga yang megah di lantai paling atas gedung pencakar langit di kota Jakarta utara. Dengan hati berdebar penuh harap, yena melangkah masuk ke lobi kantornya, disambut ramah oleh resepsionis yang sudah mengenal yena.
"Selamat sore, Nona Yena. Pak Arga ada di ruangannya,” ucapnya sopan.
Yena tersenyum berterima kasih, lalu berjalan perlahan menuju pintu ruangan Arga yang tertutup kaca buram. Tangan kanannya memegang kotak kue dengan hati-hati, dan tangan kirinya menggenggam erat kotak kadonya. Yena menarik napas panjang, tersenyum lebar, lalu perlahan membuka pintu ruangan itu.
“Selamat ulang tahun, Arga—”
Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Senyum yena mengeras, lalu perlahan runtuh tak berdaya.
Di ruangan itu, di sofa empuk di sudut ruangan, Arga sedang duduk berdekatan dengan seseorang. Wanita itu menyandarkan kepala di bahunya, jari-jarinya mengusap lembut dada Arga, dan Arga membalasnya dengan pelukan hangat sambil mencium kening wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Wanita itu adalah Fira. Sahabat terbaik yena. Orang yang sejak SMP selalu ada di samping yena, yang tahu betul betapa yena sangat mencintai Arga, yang berkali-kali meminta yena bercerita tentang kebahagiaan bersaman arga, yang bahkan sering ikut membantu di toko kue saat toko kue yena sedang ramai.
Suara mereka terdengar samar namun sangat jelas menghancurkan setiap harapan yang yena punya.
“Kapan kamu akan memberitahu Yena?” tanya Fira dengan nada manja yang tak pernah yena dengar sebelumnya.
Arga mengusap rambut panjang Fira, “Sebentar lagi. Aku janji akan putus dengannya. Aku lebih memilih kamu, Sayang.”
Dunia seolah berhenti berputar di saat itu juga. Kotak kue di tangan yena terasa begitu berat, seberat hati yang tiba-tiba tertimpa beban tak terbayangkan. Kado jam tangan yang yena beli dengan susah payah kini terasa seperti benda asing yang menusuk telapak tangan.
Suara langkah yena saat masuk akhirnya membuat mereka menoleh. Senyum di wajah Arga dan Fira seketika hilang, berganti dengan wajah pucat penuh keterkejutan dan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan. Mereka segera melepaskan pelukan, tapi noda pengkhianatan itu sudah terlanjur terlihat begitu nyata di mata yena.
“YE...YENA…” panggil Arga terbata-bata, segera bangkit berdiri berusaha mendekat.
“Kamu… kamu kok ada di sini?”
Yeba tak menjawab. Mata yena menatap tajam bergantian ke pria yang dia cintai dan wanita yang dia berikan kepercayaan sepenuhnya. Dengan tangan gemetar, yena meletakkan kotak kue dan kotak kado itu di tepi meja kerja Arga—benda yang seharusnya menjadi tanda kasih sayang, kini menjadi saksi bisu betapa bodohnya yena selama ini.
“Selamat ulang tahun,” ucap yena dengan suara bergetar namun tetap berusaha tegar, meski air mata mulai menumpuk di pelupuk mata.
“Silakan dinikmati bersama. Aku tidak butuh lagi.”
Tanpa menunggu jawaban mereka, yena berbalik badan. Yena berjalan keluar dari ruangan itu secepat mungkin tapi tiba-tiba langkah yena terhenti ketika arga memegang tangan yena.
“Jangan pergi, Yena! Tolong dengarkan aku sebentar!” Suara Arga terdengar panik, napasnya tak beraturan. Ia menarik pelan tangan yena, mencoba memutar badan yena agar menghadapnya kembali.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku… aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini.”
Yena mencoba melepaskan tangannya, namun genggamannya tak lepas—campuran antara rasa takut kehilangan dan keputusasaan yang terlambat datang. “Tidak seperti apa, Arga? Tidak seperti yang kulihat sendiri dengan mataku?” tukas yena, air mata akhirnya menetes membasahi pipi.
“Kamu sedang memeluk wanita yang kuanggap saudara sendiri, dan kamu bilang tidak seperti yang kupikirkan?”
“Aku tahu aku salah, aku tahu aku bajingan!” serunya dengan wajah pucat, matanya memancarkan penyesalan yang begitu dalam.
“Tapi tolong beri aku waktu untuk menjelaskan. Semuanya terjadi di luar kendaliku. Fira… dia datang saat aku sedang lelah dengan pekerjaan, saat aku merasa kesepian… dan aku bodoh karena membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu, Yena. Aku sayang padamu, percayalah!”
“Sayang?” tawa yena pahit, berusaha menahan isak tangis agar tak terdengar memilukan.
“Kalau kamu sayang, tak akan ada ruang untuk orang lain di antara kita, Arga. Dan tak akan ada Fira di sampingmu hari ini.”
Kali ini yena berusaha melepaskan tangan arga lebih kuat, dan Arga seolah sadar bahwa kata-katanya tak lagi berguna. Genggamannya perlahan melemah, sampai akhirnya tangan yena terlepas begitu saja.
“Kita sudah selesai,” ucap yena tegas, menatapnya untuk terakhir kalinya dengan sisa kekuatan yang yena punya. “Hubungan kita berakhir di sini. "
"Tapi sayang"ucap arga dengan penuh penyesalan
" sudah gk ada yang perlu kamu jelasin lagi, dan makasih untuk 4 tahunnya"
"Yena maafin aku"ucap fira yang sambil memegang tangan yena
Tanpa menjawab yena langsung melepaskan genggaman tangan fira.
Yena kembali berbalik, membuka pintu itu, dan melangkah keluar meninggalkan segalanya—termasuk kenangan 4 tahun yang ternyata hanya berisi kebohongan di ujungnya.
tak peduli lagi pada tatapan heran para karyawan yang melihat yena lewat sambil menangis. Hati yena hancur bukan hanya karena dikhianati kekasih, tapi juga karena dikhianati sahabat sendiri. Di antara dua orang yang paling yena percaya, ternyata dialah yang paling tertipu.
Sampai di parkiran yena langsung menyalakan mesin mobil dan yena pun pergi dari tempat itu, di perjalanan yena tak henti-hentinya menangis. Hatinya begitu hancur.
Hancur-sehancur-hancurnya.
" apa salahku arga,dan apa kurangnya aku sampai kamu tega lakuin ini ke aku, kita udah menjalin hubungan selama empat tahun tapi kamu dengan mudahnya menghancurkan hubungan itu"
Make-up di wajah yena pun luntur karna air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.
"Fira selama ini aku bukan cuma anggep kamu sebagai sahabat, tapi aku udah anggap kamu sebagai saudara tapi ini balasan kamu ke aku, kamu rebut apa yang harusnya jadi milikku"
"Aaaaaaaaaaa, kenapa ini harus terjadi pada ku".
Rasanya sakit sekali bukan ketika seseorang yang kita cintai dengan tulus,tapi dia malah berhianat.