Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara di Gubuk Kosong
"Siapa kamu?!"
Suara berat dan serak itu meluncur dari bibir sang pemuda, membelah bisingnya deru hujan yang menghantam atap jerami gubuk. Nada suaranya dingin, berwibawa, dan menyimpan ancaman terselubung yang membuat bulu kuduk Devi berdiri tegak.
Devi makin ketakutan, tubuhnya bergetar ia semakin menyudutkan tubuhnya hingga punggungnya menempel erat pada tiang bambu panggung yang dingin. Napasnya tersengal-sengal, memburu seiring dengan detak jantungnya yang berdebar kencang melebihi irama petir di luar. Lampu senter dari ponsel di tangannya gemetar hebat, membuat bayangan pria itu bergetar liar di dinding bambu gubuk.
"Sa—saya ... saya cuma mau berteduh, Mas! Jangan mendekat!" pekik Devi dengan suara bergetar menahan tangis. Jarinya meremas erat tali tas kainnya yang basah, sementara tangan satunya lagi merogoh kantong celana jinsnya, mencari botol kecil minyak angin aromatherapy, satu-satunya "senjata" lindung diri yang ia miliki saat ini.
Pria itu menyipitkan matanya, terganggu oleh kilatan lampu senter yang mengarah tepat ke wajahnya. Ia menghembuskan napas kasar. Di bawah remang cahaya ponsel, Devi kini bisa melihat lebih jelas penampilan pria di hadapannya. Pria itu tampak sangat berantakan. Pakaian dasarnya, sebuah kaos polos hitam, tergeletak begitu saja di lantai bambu dalam keadaan basah kuyup sehabis diperas. Pria itu hanya mengenakan jaket jins lusuh yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang basah oleh sisa air hujan serta tato melingkar yang tampak samar di balik bayangan.
Rambut hitamnya yang agak panjang dan acak-acakan menutupi sebagian kening, serta rahang tegasnya yang dihiasi jambang tipis memberikan kesan dingin khas seorang preman jalanan.
"Turunkan lampu ponselmu," tegur pria itu datar, nadanya lebih seperti perintah daripada permintaan. "Silau."
Bukannya menurut, Devi justru memeluk tasnya lebih erat ke dada. "Saya tidak bermaksud mengganggu. Saya ... saya cuma terjebak hujan dan mati lampu di pabrik. Nanti kalau hujannya mereda sedikit, saya langsung pergi!"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menggerutu pelan, geleng-geleng kepala melihat ketakutan berlebihan dari gadis di depannya. Pria itu menggeser duduknya, bermaksud berdiri untuk mengambil kaos basahnya yang tergeletak di sudut gubuk agar gadis itu tidak terus-menerus menatapnya seperti menatap seekor monster.
Namun, nasib buruk tidak pernah meminta izin sebelum mengetuk pintu.
Saat pria itu mulai bangkit dan menumpu berat badannya pada lantai panggung bambu, sebuah bilah bambu tua yang sudah lapuk di dasar gubuk mendadak patah!
KRAK!
"Agh ..."
Lantai yang licin akibat genangan air hujan yang merembes dari atap bocor dikombinasikan dengan patahnya bilah bambu membuat pijakan pria itu hilang seketika. Tubuh tingginya yang tegap mendadak oleng dan hilang keseimbangan.
"Awas!" jerit pria itu spontan.
Dalam hitungan detik yang terasa berjalan begitu lambat, tubuh kekar pria itu ambruk ke depan, jatuh lurus menuju arah posisi Devi yang sedang meringkuk ketakutan.
"Aaakh!" Devi menjerit histeris. Ia mencoba menghindar ke samping, tetapi ruang gerak di sudut gubuk terlalu sempit dan licin.
BRUK!
Suara benturan keras bergema di dalam gubuk tua itu.
Tubuh tegap pria asing itu jatuh tepat menimpa tubuh Devi. Ponsel yang dipegang Devi terlepas dari genggamannya, terlempar ke lantai dan mendarat dengan posisi lampu senter mengarah ke atas, menyoroti langit-langit gubuk.
Devi terhentak hebat, napasnya seolah tertahan saat dada bidang pria yang tak mengenakan baju itu menindih dada dan perutnya. Kedua tangan pria itu secara refleks terulur ke samping kepala Devi untuk menahan agar badannya tidak sepenuhnya menjepit gadis itu, namun dalam posisi seperti itu, wajah mereka berdua terpisah hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.
Napas hangat pemuda itu berembus menerpa kulit leher dan pipi Devi yang dingin. Devi terpaku, matanya terbelalak lebar menatap iris mata kelam pria di atasnya. Keadaan mereka sangat dekat, begitu intim hingga detak jantung satu sama lain seolah bisa terdengar bersahut-sahutan di tengah deru hujan.
"Kamu ... kamu tidak apa-apa?" bisik pria itu dengan suara serak, ada raut terkejut yang dalam di matanya.
Belum sempat Devi menjawab atau bahkan mendorong dada pria itu menjauh, suara derap langkah kaki yang terburu-buru menembus lumpur terdengar mendekati gubuk dari arah jalan raya.
"kalian dengar tadi?" salah satu warga yang kebetulan lewat di tempat itu menghentikan langkah ke tiga temannya?"
"Suara apa, kamu jangan nakut nakutin aku, disini agak angker, malam Jumat lagi ." jawab salah satu temannya dengan bergidik ketakutan.
"Dasar lho penakut, kita lewat di sini sudah berapa kali, tidak ada hal -hal yang janggal yang kita temui."
"Iya ,...dasar kamu penakut,kalau penakut Lo ..nggak usah keluar malam, sana tidur dipelukan Emak Lo ..." sahut temannya yang satu dengan nada mengejek."
"Sudah -sudah malah pada ribut,!" salah satu temannya mencoba menengahi "Tadi sepertinya ada suara jeritan dari arah sini!"
"Iya ...tadi aku dengar, Coba cek gubuk tua itu! Tadi saya lihat ada kilatan lampu!"
"Sebaiknya kita kesana, kita harus bisa menangkap orang yang tidak bener di gubuk itu."
****
Sementara di dalam gubuk, kedua orang yang masih asing dan berlian jenis masih saling terpaku .
"SREEEKK!"
Sebelum salah satu dari mereka sempat bergerak untuk memperbaiki posisi tubuh, beberapa kilatan cahaya lampu senter super terang mendadak menyorot masuk dari celah pintu gubuk yang terbuka lebar. Cahaya silau itu langsung mengunci posisi Devi dan pemuda asing tersebut.
"Woi! Siapa di dalam?!
Suara teriakan garang memecah kesunyian malam. Beberapa pria bertubuh kekar mengenakan sarung yang dililitkan di leher dan memegang pentungan kayu, para warga desa yang kebetulan sedang ronda malam bersama Pak RT, melangkah masuk ke dalam gubuk.
Lampu senter mereka menembus kegelapan dan seketika menerangi pemandangan mengejutkan di lantai panggung gubuk: seorang gadis desa yang baju dan celananya basah kuyup, sedang tertindih di bawah tubuh seorang pemuda asing berwajah gahar yang tidak mengenakan baju, dengan jaket jins terbuka dan tato yang terpampang nyata.
Suasana gubuk mendadak menjadi hening mencengangkan selama dua detik, sebelum akhirnya meledak menjadi kehebohan yang luar biasa.
"Astagfirullahal'adzim! Warga sekalian, lihat ini!" teriak seorang warga bertubuh tambun sambil menunjuk-nunjuk posisi mereka dengan telunjuk bergetar.
"Perbuatan mesum! Bermaksiat di desa kita malam-malam begini!" timpal warga lainnya dengan nada penuh amarah.
"Iya ...bisa -bisanya kalian berbuat menjijikan ditempat ini ?! Sahut salah satu pemuda dengan amarahnya .
"Iya ....kalian berdua sudah berbuat mesum di tempat ini, kalian membuat sial daerah kami ."
"Kalian berdua harus bertanggung jawab, kalian berdua harus menikah malam ini juga ."
"Hah ...apa ? MENIKAH?!
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja