Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Layar monitor di hadapan Reno memancarkan radiasi biru yang menembus kegelapan ruangan tersembunyi di sudut pinggiran kota. Bunyi ketukan papan tik berkecepatan tinggi bergema bagaikan detupan jantung yang terpacu adrenaline.
Di atas meja, burner phone milik Reno yang terhubung ke saluran terenkripsi dengan sel penahanan Elena masih menyala dalam mode speaker.
"Bagaimana, Reno? Apakah kamu sudah menembus otentikasi server perbankan tua itu?" suara Elena berbisik tajam dari seberang sambungan, sarat akan desakan yang beracun.
Reno menyunggingkan senyum miring. Jemarinya yang ahli bergerak lincah menembus barisan kode keamanan perbankan swasta yang telah terbengkalai selama hampir satu tahun.
"Jangan meragukan kemampuanku, Nona Elena," terkekeh Reno seraya menghembuskan asap rokoknya ke layar. "Aku sedang meretas database sistem ledger lama. Rekening penampungan atas nama Andira, yang kamu buat secara diam-diam sembilan bulan lalu, kini sudah aktif kembali di dalam sistem."
"Bagus..." desis Elena dari balik sel semen yang dingin. Matanya memancarkan kegilaan murni saat membayangkan kehancuran yang sebentar lagi akan melalap hidup rivalnya. "Buat riwayat transaksi retrospektif. Masukkan angka lima puluh miliar rupiah yang ditransfer secara bertahap dalam sepuluh bulan terakhir dari rekening cangkangku di Switzerland. Buat seolah-olah Andira menerima bayaran berkala atas eksekusi penyingkiran Roy!"
"Selesai," Reno menekan tombol Enter dengan hantaman keras.
Di layar monitor, barisan data perbankan berubah seketika. Sebuah skenario manipulasi keuangan yang teramat rapi kini tercipta, jejak digital palsu yang memperlihatkan seolah-olah Andira adalah komplotan berdarah dingin yang menjual nyawa Roy Samudra demi tumpukan uang haram, lalu berakting menjadi korban tak berdosa untuk menguras rasa iba Alvan.
"Sekarang, bagian terbaiknya," bisik Elena dengan nada yang makin mengerikan. "Bocorkan dokumen transaksi itu ke seluruh portal media independen dan akumulasi akun gosip finansial sebelum fajar menyingsing. Biarkan publik memakan umpan ini sebelum Alvan sempat menyadarinya!"
Reno terkekeh licik. "Anggap saja reputasi wanita suci itu akan terbakar habis besok pagi."
~~
Fajar baru saja menyingsing di atas langit Jakarta, merayap lembut di atas atap kaca mansion utama Samudra. Namun, ketenangan pagi itu pecah berkeping-keping dalam hitungan detik.
BZZZZ! BZZZZ! BZZZZ!
Ponsel pribadi Bima yang terletak di meja kerjanya bergetar tanpa henti. Berita utama dari puluhan portal media independen dan media sosial mendadak meledak, memicu trending topic nomor satu di seluruh negeri.
BREAKING NEWS
"Bukan Korban, Tapi Komplotan? Beredar Bukti Transfer 50 Miliar dari Elena ke Rekening Rahasia Andira Samudra !"
EXPOSE
"Drama Peran Ganda - Apakah Andira Sengaja Dijadikan Umpan di TKP Demi Membagi Hasil Kejahatan Samudra Group ?"
Di dalam kantor CEO Samudra Tower, udara terasa mendidih.
Bima berlari membelah koridor utama, membanting pintu ruang kerja Alvan tanpa sempat mengetuk. Wajah asisten pribadi itu pucat pasih, memegang sebuah tablet digital yang menampilkan grafik liputan media yang memerah panas.
"Tuan Alvan! Berita buruk!" panggil Bima dengan suara tersengal. "Seseorang telah membocorkan dokumen transaksi perbankan palsu ke media independen satu jam yang lalu!"
Alvan yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, memegang cangkir kopi hitamnya, perlahan memutar tubuhnya. Matanya yang tajam menyipit saat menerima tablet dari tangan Bima.
Di layar tersebut, tertera lembaran cetakan transaksi perbankan dengan stempel digital resmi yang memperlihatkan nama Andira Samudra sebagai penerima dana sebesar 50 miliar rupiah dari rekening cangkang milik Elena.
"Publik kembali gempar, Tuan," ujar Bima penuh kepanikan. "Para netizen memadati kolom komentar, menuduh bahwa konferensi pers Anda kemarin adalah bentuk manipulasi. Mereka menuntut agar Andira segera ditangkap kembali dan diperiksa atas dugaan keterlibatan skenario penggalangan dana haram ini!"
Alvan menatap lembaran digital itu tanpa mengedipkan mata.
Sembilan bulan lalu, ketika bukti-bukti palsu pertama kali dilemparkan ke hadapannya, Alvan tanpa ragu langsung percaya pada fitnah tersebut. Ia membiarkan kemarahannya membakar akal sehatnya, menyeret Andira ke dalam sel, dan menjadikan wanita itu sasaran dendamnya yang membabi buta.
Namun hari ini... pria yang berdiri di ruangan itu bukan lagi Alvan Samudra yang dulu.
CRACK!
Alvan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentuman pelan yang sarat akan dominasi absolut. Tidak ada sedikit pun keraguan, kepanikan, atau rasa percaya pada fitnah tersebut di dalam matanya.
"Ini rekayasa busuk," suara Alvan menggelegar tenang namun tajam bagaikan pisau pembedah. "Andira bahkan tidak pernah menyentuh atau memiliki rekening di bank swasta ini. Seseorang sedang mencoba mengalihkan perhatian dan memicu kekacauan sebelum eksekusi persidangan Elena dimulai."
Bima tertegun sejenak, menatap bosnya dengan rasa kagum yang mendalam. "Tuan... Anda tidak percaya pada bukti transfer ini?"
"Aku memercayai istriku dengan segenap jiwaku, Bima," tegas Alvan, matanya memancarkan api perlindungan yang tak tergoyahkan. "Aku pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku dengan meragukannya di masa lalu, dan aku tidak akan pernah membiarkan iblis mana pun mengulang permainan yang sama!"
Alvan melangkah mendekati mejanya, menopangkan kedua tangannya di atas kayu mahoni.
"Dengarkan perintahku, Bima," lanjut Alvan dingin. "Pertama, terbitkan pernyataan resmi atas nama direksi Samudra Group, kami akan menuntut setiap media independen yang menyebarkan berita bohong ini dengan pasal pencemaran nama baik dan manipulasi data forensik."
"Baik, Tuan!"
"Kedua," Alvan menyipitkan matanya, "hubungi Detektif Hendra sekarang juga. Lacak IP address yang membocorkan berkas ini ke media. Aku ingin tahu dari mana dokumen ini berasal, dan siapa oknum perbankan yang memberikan akses peretasan ini!"
Belum sempat Bima melangkah keluar dari ruangan, pintu ganda ruang kerja Alvan kembali terbuka.
Puluhan wartawan yang berhasil menerobos barikade keamanan di lobi bawah kini berkerumun di luar koridor lantai atas, menyorotkan kamera dan memegang mikrofon dengan agresif saat Alvan melangkah keluar menemui mereka secara langsung.
"Tuan Alvan! Bagaimana tanggapan Anda mengenai bukti transfer 50 miliar rupiah atas nama Andira?!" seru seorang wartawan senior memajukan mikrofonnya. "Apakah ini membuktikan bahwa Andira sebenarnya adalah komplotan Elena sejak awal?!"
"Apakah Anda merasa ditipu oleh akting rasa iba Andira di panggung konferensi pers kemarin, Tuan Samudra?!" sahut wartawan lain dengan nada memprovokasi.
Alvan berdiri di tengah koridor, menjulang tinggi dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat barisan wartawan mendadak terdiam menahan napas.
Alvan memajukan tubuhnya sedikit ke arah barisan kamera pers.
"Dengarkan saya baik-baik," kata Alvan, suaranya rendah namun memotong udara koridor dengan kejelasan yang mematikan. "Andira adalah istri sah saya, wanita paling suci dan berharga di dalam hidup saya. Dokumen transaksi yang beredar pagi ini adalah manipulasi sampah buatan pengkhianat yang panik karena kejahatannya telah terbongkar."
Alvan menunjuk lurus ke salah satu kamera televisi nasional yang menyiarkan secara langsung.
"Kepada siapa pun yang berada di balik rekayasa ini, entah kamu yang bersembunyi di balik sel, atau kamu yang berada di dalam kegelapan," ucapan Alvan bergema sarat akan janji pembalasan dendam, "saya memperingatkan kalian. Kalian tidak hanya berurusan dengan hukum... kalian sedang berurusan dengan saya pribadi. Saya akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh atau merusak nama baik istri saya!"
Pernyataan tegas dan penuh perlindungan itu disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok negeri.
Di dalam mansion utama, Andira yang duduk di samping Ibu Rosa menatap layar televisi di ruang keluarga dengan air mata yang menetes pelan di pipinya. Namun kali ini, air mata itu adalah bentuk keharuan murni. Kepercayaan mutlak Alvan adalah perisai paling kokoh yang membuat penderitaan masa lalu Andira menguap tanpa bekas.
~~
Malam harinya, kegelapan kembali menaungi mansion utama Samudra.
Alvan belum kembali dari kantor Kejaksaan Tinggi karena sedang mendampingi Detektif Hendra melakukan audit forensik digital pada server bank bersama para ahli IT.
Andira melangkah pelan memasuki kamar utama setelah memastikan Ibu Rosa telah terlelap di kamarnya. Suasana kamar utama terasa begitu tenang, dihiasi hembusan angin malam yang menerobos lewat celah jendela balkon.
Andira berjalan menuju meja riasnya untuk melepas selendang sutra yang dikenakannya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di tengah ruangan.
Di atas permukaan meja rias kayu berlapis kaca, tergeletak sebuah benda asing yang sebelumnya tidak ada di sana.
Sebuah amplop kertas berwarna hitam pekat tanpa nama pengirim maupun alamat tujuan.
Dada Andira mendadak berdebar kencang. Naluri bertahannya yang telah terlatih selama sembilan bulan berada di bawah tekanan trauma kini berteriak memperingatkan bahaya.
"Siapa yang meletakkan ini di sini...?" bisik Andira pada dirinya sendiri. Para pelayan rumah telah dilarang masuk ke kamar utama tanpa izin langsung darinya atau Alvan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Andira melangkah mendekat. Ia meraih amplop hitam tersebut. Kertasnya terasa dingin dan tebal.
Andira membuka perekat amplop itu secara perlahan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa lembar cetakan kertas HVS putih.
Lembaran pertama adalah salinan dari dokumen transaksi palsu 50 miliar rupiah yang heboh di media pagi tadi. Namun yang membuat darah Andira membeku adalah lembaran kedua.
Sebuah lembaran kertas hitam dengan tulisan tangan menggunakan tinta merah darah yang mencolok.
"Kamu pikir kamu sudah menang dan bisa hidup bahagia di samping Alvan, Andira?... Ini baru permulaan dari kehancuranmu yang sesungguhnya. Publik akan tetap melihatmu sebagai pembunuh berdarah dingin yang rakus. Dan ingat satu hal... orang yang memberiku akses masuk ke meja riasmu malam ini... adalah orang yang sama yang meminum teh bersama kalian di rumah ini."
DEGGGG!
Amplop hitam di tangan Andira terlepas dan jatuh melayang ke lantai kamar.
Andira mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak tepi ranjang. Matanya membelalak menatap lembaran kertas yang tergeletak di lantai dengan kepanikan yang merayap cepat melumpuhkan saraf-sarafnya.
Pesan teror itu bukan sekadar gertakan kosong!
Amplop itu diletakkan di atas meja rias pribadinya, di dalam kamar utama yang berada di lantai dua mansion yang dijaga ketat oleh puluhan pengawal pribadi Alvan!
Itu artinya... sosok dalang berinisial 'S' yang berada di dalam rumah ini tidak hanya ada dalam dokumen tua, tetapi baru saja melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya saat ia tidak berada di sana!
Andira menggenggam dadanya yang turun naik hebat di tengah keheningan malam yang mencekam. Teror bayangan itu kini berada tepat di samping mereka, menunggu saat yang tepat untuk menebaskan belatinya dari belakang!
...----------------...
To Be Continue ....