Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Bermulut Tajam
Motor Sagara memarkir di halaman, bertepatan dengan Nara yang berada di kusen pintu dengan plastik besar memenuhi kedua tangannya.
"Mau bagikan sekarang?" tanya pria itu, turun dari motornya, lalu mengambil alih kedua plastik tersebut.
"Iya, sudah aku bungkus juga. Tinggal kasih ke tetangga." Nara menutup pintu dan menguncinya.
Mata Sagara tak sengaja melirik ke arah warung mertuanya dan di sana sudah ada beberapa yang menunggu. Dani si pemuda tukang hutang yang sering mengajaknya bicaranya berdiri di baris terdepan.
"Kita ke sana terlebih dahulu, tuh ... udah pada nungguin."
Nara mengiyakan atas usulan Sagara, mereka pun melangkah bersama ke arah sana.
"Ngapai kepala kamu melongo ke sana ke mari, Dani?" tanya Sagara melihat tingkah aneh pemuda itu.
Dani melihat ke arah kedatangan Sagara dan Nara, lalu menjawab dengan irama pertanyaan dari menantu pemilik warung makan. "Melongo ke sana ke mari mencari Bu Ratna, ting ting ...." Pak Mamat di sampingnya geleng-geleng kepala.
"Cari Bu Ratna, Nak Saga. Mertuanya dimana, ya? Tumben jam segini warungnya belum dibuka," jawab Pak Mamat lebih baik.
"Ibu lagi ada urusan, Pak. Jenguk Uwa yang lagi sakit di kabupaten, jadi hari ini warungnya ditutup."
Mendengar jawaban Sagara wajah Dani langsung pucat. "Yang benar A, kelaparan dong kita. Mana akhir bulan," ringis pria muda itu langsung memegang perutnya.
"Besok juga belum tahu warungnya dibuka atau belum." Nara mengambil nasi yang telah dibungkusnya dengan kertas minyak di kantong plastik yang Sagara pegang.
"Serius, Teh Nara?" wajah Dani tak karuan lagi, alamat kelaparan beberapa hari ke depan.
Nara mengangguk, seraya memberikan bungkusan makanan itu pada Dani. "Ibu sempat masak tadi pagi sebelum dengar kabar itu, jadi masakannya disuruh bagikan saja. Bantu do'a, ya, untuk kesembuhan Uwa."
"Aduh, pasti Teh Nara. Semoga Uwanya cepat sembuh, kembali dapat beraktivitas seperti biasanya." Do'a Dani menerima bungkusan nasi tersebut dengan wajah berseri.
Pak Mamat berdecak, pemuda ini benar-benar. Setidaknya tunjukkan wajah biasa saja, itu bukan kabar bahagia. "Tentu, Neng Nara. Semoga segala sakit yang Uwanya alami segera di angkat oleh Allah." Do'a Pak Mamat, juga berterima kasih akan bungkusan makanan yang di berikan.
Yang lain yang juga menunggu di sana ikut kebagian, mengucapakan terima kasih, tidak lupa mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan kakak dari Bu Ratna.
"Aamiin, makasih atas do'anya semua." Nara dan Sagara melanjutkan membagikan makanan ke tetangga mereka. Termaksud untuk Nurlela yang sempat cekcok dengan mereka beberapa hari lalu.
"Memangnya sakit apa Uwa mu, Nara? Parah kah? Sudah dibawa ke rumah sakit? Saya lihat tadi ibumu buru-buru sekali." Bukannya berterima kasih, perempuan paruh baya ini malah bertanya.
Sagara memutar bola mata. Dasar tukang kepo! gumamnya dalam hati.
"Iya, sudah dilarikan ke rumah sakit. Mohon doanya Bu, ya," jawab Nara membuat wanita itu berdecak, jawaban Nara sama sekali tidak memuaskan rasa penasarannya.
"Jadi sakitnya parah, dong?" tanyanya lagi yang sudah pasti untuk bahan gosip.
"Kita ke sana lagi, ini masih banyak yang harus dibagikan." Sagara cepat-cepat menuntun Nara menuju ke tetangga yang lain, mengabaikan pertanyaan Nurlela.
"Eiii, kalian tidak sopan main pergi begitu saja. Orang tanya itu dijawab, dasar nggak punya mulut!" rutuk Nurlela saat ditinggalkan begitu saja oleh keduanya. Baik Sagara mau Nara sama-sama tidak ada yang ingin meladeninya.
Lima belas menit sudah mereka membagikan makanan, semua tetangga di dekat rumah sudah mendapatkannya. Salah satu plastik telah kosong, sisa beberapa bungkus di plastik yang satunya.
"Tinggal lima bungkus, kita jalan lagi aja ke depan sana. Banyak bapak-bapak yang pergi ke sawah."
Sagara menyanggupi, keduanya pun melewati jalan yang di sisi kiri dan kanannya terdapat hamparan sawah hijau. Daunnya bergoyang kala sesekali angin berhembus, meruntuhkan kilauan-kilauan embu yang diterpa mentari.
"Matahari pagi memang selalu menyenangkan." Nara sedikit merentangkan tangan, menikmati angin yang berhembus pelan. Sudah lama sekali ia tidak berjalan-jalan seperti ini.
"Hm, tidak terik, udaranya juga sejuk." Sagara mengangguk setuju. Berjalan-jalan dikelilingi hamparan sawah seperti ini ternyata rasanya amat menyenangkan. Apalagi melihat senyuman cantik orang di sampingnya.
"Lebih enak udara di sini ketimbang di kota, kan?" Wajah Nara menoleh ke arah Sagara yang membuat tatapan keduanya bertemu.
"Jelas, udara di sini amat segar," jawab pria itu seraya menunjukkan senyum menawannya.
Nara sejenak terpaku, lalu melarikan pandangan ke arah lain. "Ya," ujarnya singkat sebagai tanggapan, lalu melangkah sedikit lebih cepat.
"Tuhh ... lihat, ada orang di sana." Tunjuk Nara di bale-bale bambu, menoleh ke belakang ke arah Sagara. Pria itu mengangguk, keduanya pun menuju ke sana.
"Woah, penganten baru. Jalan-jalan pagi, ya?" Seorang bapak menyapa duluan saat melihat keduanya mendekat, yang lain menyahuti dengan siulan, kecuali seseorang yang tampak tidak senang.
"Heheh ... iya, Pak." Tanggap Sagara menyelami tangan mereka bergantian, sedangkan Nara mengambil alih plastik yang Sagara pegang.
"Haduh, romantis pisan euy!" Nara dan Sagara hanya membalas dengan senyuman atas godaan tersebut.
"Oh iya, Bapak-bapak. Ini ada nasi bungkus, ibu suruh bagi-bagikan." Nara mengeluarkannya dan membagikan pada bapak-bapak tersebut.
"Wahhh ... pas sekali. Lapar ini, belum sempat sarapan karena buru-buru untuk masukan air ke sawah." Mereka menerima nasi bungkus tersebut dari Nara.
"Neng Nara perhatian sekali, makasih, ya." Seseorang yang menatap tidak senang tadi, tempatnya pada Sagara. Sekarang berujar lembut pada Nara, senyum genitnya tak ketinggalan.
"Sama-sama, Juragan. Itu juga kerena memang permintaan mertua saya!" jawab Sagara dengan suara tegasnya, menekankan kalimat terakhirnya agar pria paruh baya itu tidak ganjen.
Senyum Juragan pupus, balas menatap Sagara dingin. Aura sekitar pun menjadi tidak menyenangkan.
"Hm, hm ...!" Bapak-bapak terbatuk patah-patah, padahal mereka sudah bersiap menyantap makanan.
Nara juga merasakan aura tersebut, ia menarik lengan Sagara kemudian ditautkan ke lengannya. Berjaga-jaga jika pria itu bertindak yang tidak diinginkan.
"Kalau begitu kita pamit dulu ya, Bapak-bapak. Silakan dinikmati sarapannya," pamit Nara, menarik Sagara untuk pergi.
"Iya, Neng. Sekali lagi makasih, ya."
Nara mengangguk. "Iya, Pak, permisi." Ia pun berbalik bersama Sagara yang sama sekali tidak berujar apapun, hanya tatapan tajamnya pada Juragan yang terpaksa berakhir.
"Aa kenapa sih, ada masalah kah sama Juragan?" tanya Nara ketika mereka sudah cukup jauh dari bale-bale tempat bapak-bapak tadi beristirahat.
Sagara tampak diam, tidak menjawab. "Aa," panggil Nara seraya menggerakkan lengan pria itu, menunggu jawabannya.
Sagara mendengus. "Tidak suka saja dengan tatapannya, mau ku colok matanya. Dasar pria tua genit! Tidak sadar sudah tua, punya istri tiga, anak dua belas, masih saja genit sama istri orang!" ujarnya menggebu-gebu. Sampai Nara sendiri terbelalak mendengarnya. Woahh! Mulut pria yang dinikahinya ini tajam juga kalau tidak suka dengan seseorang.
"Iya, sih." Angguk Nara setuju.
Sagara menoleh ke arahnya, senyum tipisnya terukir. Senang Nara mendukungnya. "Kan?!" Kembali Nara mengangguk, senyuman Sagara semakin lebar.
Keduanya terus menyusuri jalan, entah sadar atau tidak, lengan keduanya masih bertaut.
***
Bersambung ...