Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 THE PRICE OF LOYALTY
Suasana pelataran pabrik tua di Cijalu mendadak senyap saat Gilang terkapar di tanah. Kesadaran Gilang perlahan pulih, namun tatapan matanya kosong dipenuhi rasa terpuruk dan penyesalan yang teramat mendalam. Bayangan masa kecilnya bersama Ryuka, sang abang, dan Arya Wijaya berputar bagaikan mimpi buruk. Gilang menangis tersedu-sedu di atas tanah berdebu, merasa dirinya sangat hina hingga tak lagi memiliki alasan untuk hidup. Gilang benar-benar ingin mati saat itu juga.
Namun, ketenangan singkat itu mendadak buyar total!
WUSSSSSHHH!!
Ratusan cahaya lampu motor menembus kegelapan malam, menyapu pelataran pabrik dari segala penjuru! Gemuruh mesin membelah malam Cijalu. Ratusan anggota aliansi Slonong Boys mengepung tempat itu secara mutlak! Di barisan paling depan, berdiri dua pilar utama pendiri aliansi: Friza (pemimpin CBC) dan Dimby (pemimpin TOP)—dua geng terkuat yang memimpin pergerakan penyerbuan balas dendam ini.
"Mana bajingan yang udah bikin Fatah koma?!" raung Friza dengan hawa membunuh yang membakar udara malam.
Mendengar hal itu, Gilang yang merasa bertanggung jawab dan berniat mengakhiri hidupnya, perlahan bangkit. Tanpa rasa takut, Gilang berjalan pincang menerjang ke hadapan Friza. Dengan sisa tenaga dan keputusasaannya, Gilang melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Friza! Friza yang sengaja menahan pukulan kusam itu tidak bergeming sedikit pun. Bagi Friza, pukulan Gilang hanyalah gigitan serangga.
BAM! DUAAGH!!
Friza membalas dengan hantaman telak ke rahang Gilang, disusul tendangan brutal yang membuat Gilang tersungkur memuntahkan darah segar. Friza mencabut pisau lipat dari sakunya, siap menghabisi nyawa Gilang!
Melihat hal itu, Elisa menangis histeris. Dia berlutut memegang kaki Ryuka, memohon dengan suara gemetar. "Ka... tolongin Gilang! Tolongin dia, Ka! Meskipun dia jahat dan udah mengkhianati kita... tapi dia tetap teman masa kecil kita! Plis, Ka..."
Ryuka menatap Elisa, lalu beralih menatap Gilang yang nyaris dieksekusi. Tanpa ragu, Ryuka melangkah maju berdiri memotong jalan Dimby dan anak-anak Slonong Boys yang hendak memukuli Gilang secara bersamaan!
"Jangan sentuh dia lagi," tegas Ryuka, menawarkan dirinya sendiri sebagai pengganti untuk menanggung kemarahan mereka.
Zela yang melihat aksi nekat Ryuka membelalakkan mata, berteriak kaget. "Ryuka! Apa lu udah gila, Hah?! Lu bisa mati di tangan mereka!"
"Serang gua sepuas kalian," bisik Ryuka dingin.
"Lu beneran orang terbodoh yang gua kenal, Ryuka," bisik Friza tajam.
Tanpa ampun, Dimby dan puluhan anak buah Slonong Boys langsung memukuli dan mengeroyok Ryuka serta Gilang secara brutal! Pukulan balok kayu, pipa, dan tendangan bertubi-tubi menghantam tubuh Ryuka dan Gilang hingga keduanya tersungkur pingsan tak sadarkan diri dalam genangan darah. Elisa mencoba memeluk mereka untuk menahan serangan, sementara Zela tertekan hebat, tidak bisa berbuat banyak karena jumlah musuh yang mencapai ratusan orang.
Saat Friza dan Dimby hendak menyelesaikan pertumpahan darah ini...
TAP... TAP... TAP...
Langkah kaki tunggal menggema tenang, membelah barikade ratusan anggota Slonong Boys. Hawa dingin luar biasa menyelimuti area pabrik, membuat ratusan orang di sana mendadak merinding ketakutan.
Sesosok pria tinggi dengan jaket berbulu melangkah keluar dari bayangan. Dialah Irsyad—satu dari lima Lone Wolf terkuat yang masih aktif di jalanan Cikampek, sosok legendaris yang seharusnya sudah berada di tingkat Old Generation!
Dimby dan Friza seketika menyipitkan mata. Tubuh mereka sempat bergetar ketakutan merasakan hawa keberadaan Irsyad yang legendaris itu.
Irsyad berjalan mendekati tubuh Gilang yang hendak pingsan total. Sebelum kesadaran Gilang menghilang, Irsyad menatap Gilang pelan. "Gilang... sepertinya lu udah lupa... apa janji lu terhadap Virgi?"
Gilang yang kepalanya bersimbah darah menatap Irsyad samar-samar. Dengan senyuman tipis dan mata berkaca-kaca, Gilang menoleh ke arah Elisa. "Elisa... gua minta maaf... atas semuanya..." bisik Gilang pelan sebelum akhirnya memejamkan mata dan pingsan sepenuhnya.
Melihat teman-temannya dibantai sampai pingsan, amarah Zela meletus! Wajah dinginnya berubah garang. Irsyad melirik Zela, lalu melempar tas punggungnya ke arah Elisa. Di dalam tas tersebut terdapat kotak P3K lengkap.
"Obati luka mereka berdua, Elisa," perintah Irsyad tenang pada Elisa.
Irsyad lalu berpaling menatap Dimby dan Friza. Walaupun Friza dan Dimby sempat gentar menghadapi sosok Lone Wolf seperti Irsyad, rasa dendam Friza atas wakilnya, Fatah, yang sedang koma membuat Friza mengesampingkan rasa takutnya!
"Gua gak peduli lu siapa! Dendam CBC harus dibalas malam ini!" teriak Friza menerjang!
BOOM!
Pertarungan besar dua poros pun meletus seketika! Zela bersama Irsyad membantai habis barisan kroco Slonong Boys serta anggota Cijalu yang mencoba mendekat. Namun, pertarungan pilar berlangsung sangat sengit: Friza vs Zela adu kecepatan dan teknik fisik yang mematikan, sementara Dimby vs Irsyad menjadi ajang bentrokan kekuatan masif!
Di saat pertarungan luar biasa itu berkecamuk di dunia nyata, di dalam kegelapan alam bawah sadar akibat pingsannya, Ryuka dan Gilang mengalami mimpi buruk yang sama—memori kelam yang terkunci rapat di masa lalu mereka.
Di dalam mimpinya, Ryuka melihat kembali kejadian mengerikan saat dia masih berusia 11 tahun. Saat itu, Ryuka dan Gilang baru saja berjalan pulang sekolah dengan gembira. Namun, di tengah jalan, mereka dihadang oleh perang bentrokan antar-geng motor raksasa yang melibatkan abang mereka.
Dalam tragedi berdarah itu, Ryuka menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri abangnya, Arya Wijaya, tewas bersimbah darah dihantam secara curang oleh teman satu gengnya sendiri!
Menyaksikan kematian abang tercintanya secara tragis di depan mata, jiwa Ryuka kecil hancur seketika. Sesuatu yang sangat mengerikan terbangun dari dalam diri Ryuka...
BZZZZT!!
Seketika, aura hitam pekat yang sangat tebal merayap keluar dari tubuh Ryuka kecil! Kesadarannya hilang total, digantikan oleh naluri membunuh murni yang tak terkendali! Kemarahan itu bukan sekadar amarah biasa, melainkan sebuah fenomena mengerikan yang disebut Dark Impulsive!
Dalam mode Dark Impulsive itu, Ryuka kecil berubah menjadi monster tanpa akal sehat. Dia bergerak membabi buta, menghancurkan dan memukuli siapa saja yang ada di depannya tanpa peduli musuh atau teman! Kekuatan fisiknya melompat ke tingkat yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran anak kecil.
Setiap pukulan Ryuka membuat tulang-tulang petarung dewasa patah berkeping-keping! Tragedi perang besar hari itu berubah menjadi pembantaian massal akibat amukan Ryuka. Terdapat 13 korban meninggal dunia dalam peristiwa kelam tersebut—termasuk abang Gilang dan abang Ryuka sendiri yang tewas akibat luka fatal dari peristiwa malam itu!
Dalam memori mimpi itu, Gilang kecil terlihat gemetar ketakutan setengah mati di sudut jalan, menyaksikan Ryuka yang diselimuti aura hitam berjalan mendekatinya dengan mata merah menyala untuk memukulinya!
Namun, sebelum tinju maut Ryuka menghantam Gilang kecil... sesosok pria berbadan tegap bernama Virgi bersama sisa anggota yang selamat melompat mati-matian menahan tubuh Ryuka!
Virgi dan yang lainnya harus mempertaruhkan nyawa mereka, menahan pukulan-pukulan mengerikan dari Ryuka yang sedang mengamuk. Bahkan pria sekuat Virgi harus mengalami patah tulang rusuk dan luka dalam yang sangat parah demi menyadarkan Ryuka dari kutukan Dark Impulsive tersebut!
Di dunia nyata, Elisa masih sibuk meneteskan air mata seraya membalut luka di tubuh Ryuka dan Gilang yang terbaring tak berdaya. Sementara di depannya, suara dentuman pukulan Zela, Friza, Dimby, dan Irsyad terus mengguncang malam Cijalu yang kian mencekam.