"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
Flashback
Malam itu... hujan sangat lebat. Escobar baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Mobilnya berhenti tepat di depan rumah besar miliknya. Begitu pintu dibuka, seorang pelayan langsung berlari menghampiri dengan wajah panik.
"Tuan."
Escobar yang baru saja turun mengernyit, "Apa apa? Dimana istriku?"
Biasanya Lilyana selalu menunggu kedatangan. Tapi kali ini tidak. Rumah tampak gelap dan hanya ada beberapa pelayan yang tersisa di rumah.
"Nyonya..."
"Katakan ada apa? Jangan membuatku cemas." pekik Escobar.
"Sebenarnya Nyonya di rumah sakit... karena Nyonya terjatuh di kamar mandi, Tuan."
Escobar seketika membeku. "Apa?!"
"Nyonya dibaw sekitar satu jam yang lalu, Tuan."
Tanpa membuang waktu, Escobar dengan cepat berlalu kembali menuju ke mobil.
"Ke rumah sakit. Cepat!"
Mobilnya melaju menembus derasnya hujan Sepanjang perjalanan, Escobar terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satupun pun dari istrinya. Tangannya mengepal. Ia tahu kehamilan itu sangat berarti bagi istrinya. Dan mereka sudah menyiapkan kamar untuk anak mereka satu laki-laki dan satu lagi perempuan seperti yang dikatakan dokter. Terlebih lagi mereka sudah menunggu selama 10 tahun lamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Escobar membayangkan rumahnya akan dipenuhi suara tangisan bayi. Apa lagi saat dokter mengatakan bahwa mereka akan memiliki anak kembar. Ia bahkan telah menyiapkan dua kamar bayi.
Namun malam itu...
Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
BRAK!
Pintu ruang bersalin terbuka.
"Di mana istriku?!"
Dokter dan perawat yang masih bertugas segera menoleh. Salah satu perawat mendekat dan menahan Escobar untuk mengganggu operasi yang sedang berlangsung.
"Maaf, Tuan. Anda di larang masuk!"
Escobar menatap perawat itu dengan napas memburu.
"Itu istriku!"
"Saya mengerti, Tuan. Tapi Nyonya Lilyana sedang menjalani operasi. Kondisinya cukup kritis."
Wajah Escobar seketika berubah pucat.
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi?"
Perawat itu menundukkan kepala.
"Nyonya mengalami pendarahan setelah terjatuh. Dokter juga mengatakan posisi bayi cukup berisiko."
Escobar mengepalkan tangannya, "Bagaimana dengan bayinya?"
"Dokter sedang berusaha menyelamatkan keduanya."
Escobar menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Dari balik pintu terdengar suara dokter memberikan instruksi.
"Tekanan darah turun. Siapkan transfusi." ucap Dokter.
Perawat segera mengambil tindakan.
"Detak jantung bayi pertama melemah, Dok!" ucap perawat.
DEG!
Escobar seketika merasa seluruh tubuhnya membeku. Escobar mendekati pintu ruang operasi. Tangannya menyentuh pintu tersebut.
"Lilyana... Bertahanlah sayang," ucapnya lirih.
Beberapa jam berlalu. Hujan di luar masih turun deras. Escobar masih berdiri di depan ruang operasi. Jas yang dikenakannya susah basah akibat hujan, tetapi ia sama sekali tidak peduli.
Ia hanya menunggu kabar tentang istrinya. Dan menunggu kabar tentang kedua anaknya. Hingga akhirnya.
KLIK!
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah. Escobar langsung menghampirinya.
"Dokter."
Dokter menarik napas panjang, "Operasi berhasil."
Escobar memejamkan mata lega, "Bagaimana Lilyana?"
"Istri Anda selamat. Namun kondisinya masih sangat lemah dan membutuhkan banyak istirahat."
"Syukurlah..."
Escobar hampir kehilangan tenaga karena lega. Namun beberapa saat kemudian dokter terdiam. Escobar melihat raut wajah cemas bercampur lelah di wajah dokter.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Escobar.
Dokter menghela napas pelan sebelum akhirnya berbicara.
"Ada sesuatu yang belum saya katakan.".
Senyum Escobar perlahan menghilang. Dokter menatap nya dengan serius.
"Apa?"
Dokter menundukkan kepala, "Salah satu bayi Anda tidak dapat kami selamatkan."
Escobar langsung menegang. Untuk sesaat ia tidak mampu berkat-kata. Setelah sepuluh tahun menunggu... akhirnya ia memiliki anak dan itupun harus kehilangan sebelum ia dapat memeluknya.
"Tapi..." Dokter kembali melanjutkan. "Bayi kedua juga lahir dengan kondisi sangat lemah."
Senyum Escobar semakin menghilang. Ia tak sanggup mendengar semua yang diucapkan dokter.
"Lalu... bagaimana keadaannya?"
"Bayi itu mengalami gangguan pernapasan dan kehilangan banyak oksigen saat proses persalinan"
Escobar menatap dokter dengan cemas.
"Apakah dia bisa selamat?"
"Kami sedang berusaha."
Flashback off
aku bacanya mirip baca GPT Thor.
terlalu pendek dan nge beat.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.