AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Prosesi penyerahan motor mewah di dalam studio khusus Apex Motor Corp berlangsung sangat meriah.
Kilatan lampu kilat dari kamera fotografer dealer tak henti-hentinya menyoroti Al yang berdiri canggung di samping motor TP-Xw Limited Edition.
Setelah menandatangani berkas-berkas penting dan menerima kunci serta pelat nomor, Al akhirnya bisa bernapas lega.
Setelah berfoto-foto. Al pun langsung tancap gas.
Bentuk motor melaju, membuat setiap pasang mata di lampu merah langsung tertuju padanya, karena motornya sangat menarik perhatian.
Saat Al berhenti di depan sebuah toko, kerumunan orang yang sedang nongkrong di kafe sebelah toko langsung heboh.
"Ya ampun! Coba lihat ke sana! Itu bukannya motor TP-Xw limited edition yang pengeluaran terbaru itu?" seru seorang pemuda berkaus hitam sambil menyenggol lengan temannya, hampir menumpahkan kopi yang sedang diminumnya.
"Hah? Yang benar saja? Katanya harga motor itu lebih dari 1 Milyar rupiah di pasaran! Nggak nyangka ada orang di kota ini yang langsung beli tunai!" sahut temannya, ikut melotot dengan mata tidak berkedip.
"Anak orang kaya dari mana yang beli itu? Masih muda banget kelihatannya!" sahut yang lain.
"Sial, beruntung banget jadi orang kaya. Desain motornya benar-benar seperti jet tempur!" bisik warga lain yang ikut berkerumun di trotoar, terkagum-kagum.
Al yang mendengar bisik-bisik itu hanya bisa menahan senyum di balik helm mahalnya.
"Kalau kalian tahu aku mendapatkan ini hanya karena pemenang utama, kalian pasti bakal pingsan," batin Al geli.
Ia segera turun dan masuk ke dalam toko. "Permisi, Pak. Saya mencari perlengkapan sekolah," kata Al kepada pemilik toko.
"Oh, ada Mas. Mari masuk dan pilih-pilih," jawab pemilik toko ramah.
"Baik, saya ingin membeli buku, baju sekolah dan sepatu Pak. Ini uangnya," kata Al menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan .
Setelah menyelesaikan transaksi, Al bergegas kembali ke motornya, mengabaikan jepretan kamera ponsel orang-orang yang diam-diam memotretnya.
Ia melajukan motor barunya menuju ke pinggiran kota tempat kontrakan kecilnya berada.
Sebuah rumah petak sederhana di dalam gang yang sepi, ia memasukan motornya ke teras.
Al buru-buru berlari ke dalam kamarnya untuk menghitung jumlah uangnya.
********
Keesokan harinya...
Al siap berangkat sekolah dengan motor barunya.
Suara deru mesin memasuki gerbang sekolah pagi itu.
Begitu roda motor sport limited edition milik Al melewati pagar, pandangan orang-orang langsung melihat ke satu arah.
Beberapa siswa yang sedang berjalan kaki spontan menghentikan langkah. Mereka yang berada di parkiran langsung berbisik-bisik.
"Gila, itu kan cuma ada 50 unit di dunia?" bisik salah satu siswa sambil menyenggol temannya.
Al dengan santai memarkirkan motornya di barisan depan.
Saat ia mematikan mesin dan membuka helm full-face miliknya.
Satu per satu siswa mulai berkerumun di sekitar parkiran, membuat area yang biasanya sekadar jadi tempat singgah itu mendadak penuh sesak seperti pameran otomotif dadakan.
"Al! Seriusan ini motor lo?!" Saka, sahabat dekat Al, langsung menerobos kerumunan dengan mata melotot.
Tangannya hampir menyentuh tangki bensin yang mengilat sebelum ia menariknya kembali, seolah takut sidik jarinya mengotori bodi motor yang mulus itu.
"Ini kan motor limited edisi, harganya juga sekitar 1 milyar. Kok lo bisa dapet, sih?!" tanya Saka
Al hanya terkekeh pelan, menggantungkan helmnya di spion dengan gerakan yang sengaja dibuat sesantai mungkin. "Rezeki anak saleh, Saka," kata Al terkekeh.
"Ayo kota pergi sarapan, kali ini aku yang traktir," kata Al.
Namun, baru saja mereka berjalan sekitar dua puluh meter, terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa mengejarnya dari belakang.
"Al! Berhenti kamu!"
Al menghentikan langkahnya.
Al membalikkan badan dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ada apa, Ari?"
Ari berdiri dua langkah di depan Al. Wajahnya merah padam. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di matanya.
"Apa maksud ucapanmu tentang ayahku, hah?!" tuntut Ari dengan suara bergetar.
"Jangan asal bicara kamu! Keluargaku selama ini baik-baik saja! Kau pasti memfitnah ayahku!" kata Ari menunjuk ke arah Al.
Saka yang ada di samping menekuk alisnya. Ari memang sering memarahi Al, tapi masalah Al memfitnah ayah Ari, ia sama sekali tidak tahu.
Al menaikkan satu alisnya, "Baik-baik saja? Sepertinya kau memang tidak tahu ya?"
"Bajingan! Katakan yang sebenarnya!" Ari maju satu langkah, mencengkeram kerah baju Al dengan kasar.
"Kamu sengaja mengarang cerita itu untuk menghancurkan ibuku, kan? Karena kamu dendam pada kami?!" katanya dengan suara tinggi.
"Lepaskan tanganmu, Ari," ucap Al rendah, penuh ancaman.
Ari tidak bergeming, justru mempererat cengkeramannya. "Jawab dulu pertanyaanku!"
"Aku bilang... lepaskan."
Al mencengkeram pergelangan tangan Ari dan menekannya dengan kuat.
Ari meringis kesakitan, refleks melepaskan cengkeramannya sambil melangkah mundur, memegangi tangannya yang mendadak linu.
Al merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut sebelum kembali menatap Ari dengan senyum miring.
"Dendam? Untuk apa aku dendam pada orang-orang tidak penting seperti kalian?" Al melangkah mendekat, membuat Ari secara tidak sadar mundur setapak.
"Kalau aku mau mengarang cerita, aku akan memilih cerita yang lebih kreatif. Bukan cerita klise tentang seorang suami kaya yang bosan dengan istrinya yang bermulut racun, lalu mencari kehangatan pada daun muda di luar sana," kata Al.
Jantung Ari serasa berhenti berdetak.
"Ka-kau... pasti sengaja ingin aku marah kan..." Ari terbata-bata.
"Dan asal kamu tahu, wanita itu bahkan jauh lebih muda darimu. Bayangkan bagaimana hancurnya ibumu yang sombong itu jika tahu uang belanjanya dipotong setengah demi membelikan barang mewah untuk wanita simpanan suaminya," kata Al tersenyum miring.
Ari menggelengkan kepalanya, menolak mempercayai kenyataan pahit itu. "Tidak... itu tidak mungkin..."
"Pikirkan saja sendiri. Sekarang, mending kamu balik sana. Urus ibumu, urus keluarga mu dan urus ayah mu biar tidak selingkuh!" kata Al sambil menepuk bahu Ari dua kali dengan kasar, membuat Ari itu tersentak.
Al membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan pergi. Kali ini, Ari tidak mengejarnya lagi. Ari hanya terpaku di tempatnya, menatap punggung Al yang perlahan menjauh bersama Saka.