"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Pengkhianatan
Tiga hari setelah operasi, warna wajah Pak Anthony akhirnya tidak lagi seputih sprei rumah sakit.
Ia masih terbaring di ruang VIP RSUD Harapan Bangsa, tubuhnya dipenuhi bekas operasi dan rasa nyeri yang belum sepenuhnya pergi. Tetapi napasnya sudah stabil. Hasil darah membaik. Drainase bersih. Tidak ada tanda infeksi. Luka operasi besar itu mulai menutup seperti garis perang yang berhasil dilewati.
Rangga datang untuk ronde pagi bersama Pak Bambang.
Di tangan Rangga ada berkas pemeriksaan terbaru. Di tangan Pak Bambang ada tablet berisi foto hasil patologi.
"Margin reseksi bersih," kata Rangga. "Sel kanker utama sudah terangkat. Kita tetap perlu terapi lanjutan dan pengawasan ketat, tapi untuk kondisi operasi sebesar itu, hasilnya termasuk sangat baik."
Pak Anthony memandang langit-langit beberapa detik.
Lalu ia tertawa pelan.
Tawa itu kering, pendek, tetapi hidup.
"Saya mengalami kecelakaan, dibedah karena trauma, lalu ditemukan kanker, lalu hampir mati karena obat di ruang operasi." Ia menoleh ke Rangga. "Dokter, kalau bukan karena Anda, mungkin nama saya sudah masuk berita kematian tiga kali."
Pak Bambang menghela napas.
"Jangan terlalu cepat bercanda, Pak. Luka Anda bisa protes."
"Kalau saya masih bisa bercanda, berarti dokter kalian menang."
Rangga tidak tersenyum lebar. Ia hanya memastikan tekanan darah di monitor, lalu menutup berkas.
"Kami menang di meja operasi. Tapi ada perkara lain yang belum selesai."
Udara di kamar berubah.
Pak Anthony melihat wajah Rangga. Pengusaha tua itu sudah cukup lama hidup di dunia bisnis untuk mengenali nada seseorang yang membawa kabar buruk.
"Tentang vial itu?"
Rangga diam sesaat.
"Pihak kepolisian sudah menangkap tenaga pendamping pasien kontrak yang terekam di jalur farmasi."
Jari Pak Anthony yang berada di atas selimut berhenti bergerak.
Pak Bambang menutup pintu kamar dari dalam. Dua perawat yang tadi memeriksa infus sudah keluar. Ruangan itu kini hanya berisi tiga orang, suara monitor, dan satu kebenaran yang terlalu berat untuk dibuang ke koridor.
"Dia ditangkap di apartemen sewaan dekat RS Mentari Global," lanjut Rangga. "Kartu identitasnya palsu. Alamat awal palsu. Tetapi saat diperiksa, dia mengaku menerima instruksi untuk mengganti satu vial obat sebelum operasi Anda."
Rahang Pak Anthony mengeras.
"Dari siapa?"
Rangga membuka map tipis dan meletakkannya di meja samping ranjang.
Ia tidak mendorongnya terlalu dekat, seolah benda itu juga bisa melukai.
"Namanya Pak Robert."
Hening.
Monitor tetap berbunyi teratur.
Tetapi wajah Pak Anthony kehilangan warna yang baru saja kembali.
"Ulangi."
"Menurut keterangan awal, perintah datang melalui jalur Pak Gunawan. Tetapi sumber permintaan dan pembayarannya mengarah ke Pak Robert Tanuwijaya."
Pak Anthony tidak langsung mengambil berkas itu.
Matanya menatap kosong ke arah jendela. Di luar, cahaya pagi Kota Cakrawala jatuh di kaca rumah sakit. Mobil bergerak di jalan. Orang-orang hidup seperti biasa. Di dalam kamar itu, seorang paman baru saja mendengar bahwa keponakan yang ia besarkan mencoba membuatnya mati di meja operasi.
"Saya membesarkan dia seperti anak sendiri," kata Pak Anthony pelan.
Tidak ada yang menyela.
"Ayahnya meninggal ketika dia masih kuliah. Saya yang menarik dia masuk perusahaan. Saya yang ajari dia bertemu distributor, negosiasi, membaca laporan keuangan. Saya beri dia jabatan, saham insentif, ruang untuk salah." Napasnya mulai berat. "Dan dia membalas dengan obat?"
Rangga bergerak mendekat.
"Pak Anthony, emosi Anda harus dijaga. Tekanan darah bisa naik."
Pak Anthony menoleh tajam.
"Dokter, kalau ada orang mencoba membunuh Anda, apakah tekanan darah Anda akan sopan?"
Pak Bambang hampir menjawab, tetapi Rangga mengangkat tangan sedikit.
"Tidak. Karena itu saya tidak meminta Bapak tenang demi orang yang menyerang Bapak. Saya meminta Bapak hidup cukup lama untuk melihat dia bertanggung jawab."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Pak Anthony menutup mata.
Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi. Amarah masih ada, tetapi sudah tidak liar. Ia kembali menjadi Anthony Halim, pemilik saham utama PT Tirta Medika Jaya, orang yang bisa mengubah ruang rapat menjadi ruang vonis tanpa meninggikan suara.
"Telepon Robert."
Pak Bambang mengerutkan kening.
"Pak, sebaiknya lewat polisi dulu."
"Saya tidak akan membocorkan bukti. Saya hanya ingin mendengar mulutnya sendiri."
Rangga menatapnya. Setelah memastikan monitor masih stabil, ia tidak melarang.
Pak Anthony mengambil ponsel dari meja. Tangannya masih lemah, tetapi cara ia menekan nama kontak itu sangat pasti.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Om?" Suara Pak Robert terdengar terlalu cepat. "Bagaimana kondisi Om? Saya sudah mau ke rumah sakit, tapi jadwal direksi..."
"Kamu menyuruh orang mengganti obat saya?"
Di seberang sana, suara napas berhenti.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
"Om bicara apa? Siapa yang bilang hal seperti itu?"
"Jawab."
"Ini pasti fitnah dari RSUD Harapan Bangsa. Om sekarang terlalu dekat dengan mereka. Mereka ingin memecah keluarga kita."
Pak Anthony menatap Rangga. Tidak ada kepanikan di wajah dokter muda itu. Hanya ketenangan yang membuat kebohongan terdengar makin kecil.
"Robert."
"Om, saya melakukan semua demi kepentingan perusahaan."
Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
Pak Anthony terdiam.
Di ruangan itu, Pak Bambang mengangkat wajah.
Rangga menunduk sedikit, seolah mencatat pengakuan paling mahal yang pernah keluar dari seorang pengkhianat.
Pak Robert buru-buru berkata, "Maksud saya, demi menjaga perusahaan dari pengaruh luar. Dokter itu berbahaya. Dia punya obat, punya reputasi, punya dukungan publik. Kalau Om terlalu percaya padanya, PT Tirta Medika Jaya bisa kehilangan kendali pasar."
"Jadi kamu memilih membunuh saya?"
"Anda salah paham. Saya hanya ingin operasi itu gagal sebagai tindakan medis..."
Ia berhenti.
Terlambat.
Pak Anthony menutup mata.
Ketika ia bicara lagi, suaranya dingin.
"Mulai sekarang, jangan panggil saya Om."
Panggilan ditutup.
Ponsel itu masih berada di tangan Pak Anthony, tetapi tangannya tidak gemetar lagi.
Beberapa jam kemudian, di ruang rapat lantai atas RS Mentari Global, Pak Robert membanting ponselnya ke meja.
Pak Gunawan duduk di ujung meja dengan wajah gelap. Tirai ditutup rapat. Lampu ruangan menyala terlalu putih, membuat semua orang terlihat seperti sedang diinterogasi.
"Anda bilang jalurnya bersih," kata Pak Robert.
Pak Gunawan menjawab pelan, "Saya bilang risikonya bisa dikendalikan. Tidak ada rencana yang tetap bersih kalau pelaksananya tertangkap."
"Dia ditangkap dekat rumah sakit Anda."
"Karena orang Anda memilih tempat persembunyian bodoh."
Mata Pak Robert memerah.
"Jangan lempar semua ke saya. Kalau Anthony membeku, perusahaan saya bisa goyang. Tapi rumah sakit Anda juga akan jatuh kalau kasus ini terbuka. Obat diganti lewat jalur yang terkait dengan tenaga outsourcing kalian."
Pak Gunawan mengetuk meja sekali.
"Itu sebabnya kita butuh perlindungan administrasi."
Ponsel di tengah meja menyala. Panggilan masuk tanpa nama lengkap, hanya nomor yang sudah mereka kenal.
Pak Gunawan menekan pengeras suara.
Suara Pak Santoso terdengar tenang.
"Saya sudah mendengar. Polisi mulai bergerak?"
"Sudah," kata Pak Robert.
"Maka berhenti saling menyalahkan. Kalian berdua sudah masuk terlalu jauh."
Pak Robert tertawa pahit.
"Mudah bagi Anda bicara dari kantor."
"Anak muda," suara Pak Santoso menajam, "kalau dokumen Tipe A RSUD Harapan Bangsa lolos, kalau obat mereka masuk jaringan nasional, kalau Anthony berdiri di pihak Rangga, kalian bukan hanya kehilangan pasar. Kalian kehilangan panggung."
Pak Gunawan tidak membantah.
Pak Robert menekan rahang.
"Apa yang Anda mau?"
"Sederhana. Robert menyediakan dana dan akses perusahaan. Gunawan menyediakan jalur rumah sakit, tenaga, dan bukti tandingan. Saya menyediakan tekanan dari atas. Audit, izin, rekomendasi, opini administratif. Kita tidak perlu membunuh Rangga. Kita cukup membuat semua orang percaya bahwa dia terlalu berbahaya untuk diberi kepercayaan."
Ruangan itu hening.
Lalu Pak Robert berkata, "Dan kalau Anthony menyerang saya lebih dulu?"
"Serang balik sebelum dia berdiri tegak."
Pak Gunawan menatap layar ponsel.
"Target pertama?"
Suara Pak Santoso menjadi datar.
"RSUD Harapan Bangsa."
Di RSUD Harapan Bangsa, malam turun perlahan.
Pak Anthony tidak tidur.
Di samping ranjangnya, seorang staf hukum dari PT Tirta Medika Jaya berdiri dengan tablet dan beberapa dokumen digital. Wajahnya tegang dan ia hanya mengajukan pertanyaan penting. Orang yang lama bekerja untuk Anthony tahu bahwa perintah tertentu harus langsung dicatat.
"Bekukan seluruh kewenangan Robert Tanuwijaya," kata Pak Anthony. "Akses rekening perusahaan, hak tanda tangan, rapat direksi, jalur vendor, semua. Mulai malam ini."
"Siap, Pak Anthony."
"Siapkan laporan kepada pemegang saham. Tulis sebagai tindakan perlindungan perusahaan terkait investigasi pidana. Jangan beri dia ruang menggunakan aset perusahaan untuk melawan."
Staf hukum itu mengangguk dan keluar.
Pak Anthony kemudian melihat Rangga yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Dokter Rangga."
"Pak Anthony."
"Saya dulu mengira Anda hanya dokter yang menyelamatkan nyawa saya."
Rangga tidak menjawab.
"Ternyata Anda juga orang yang membuat saya melihat busuk di rumah sendiri."
Ia mengambil napas pelan. Nyeri operasi masih menahan dadanya, tetapi matanya sudah keras.
"Mulai hari ini, PT Tirta Medika Jaya adalah sekutu Anda."
Pak Anthony mengangkat dagu sedikit.
"Saya akan membantu Anda melawan mereka."