Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 25
Beberapa hari berlalu, setiap makan bersama entah itu pagi, siang, maupun malam, Kael selalu tidak nampak. Kael juga pergi setiap Rosalina mendatangi setiap sisi dari villa itu.
"Dia menghindari ku?" ucap Rosalina setiap kali melihat Kael pergi.
Malam ini pun juga sama, Kael tak terlihat ketika makan malam bersama. Ada seorang pria yang datang ke villa itu untuk menemui Kael. Orang itu menyebut dirinya Rowan, dimana Rosa mengingat bahwa pria tersebutlah yang waktu itu menahan dirinya dan Al saat hendak akan pergi.
"Pak Bos ada di kamar ya, Papi Bos?" tanya Rowan saat baru saja datang. Ia awalnya mau duduk bersama di meja makan akan tetapi Rowan urung dan melenggang menuju ke tempat Kael saat tahu bahwa Kael ada di kamar.
"Iya, langsung ke sana aja. Soal kerjaan kan?" jawab Ben.
"Iya Papi Bos, kalau gitu saya permisi ya. Selamat menikmati makan malam," balas Rowan dengan senyum lebarnya.
Mereka kembali makan, Rosa dengan telaten membantu Al yang sedikit kesulitan saat mengambil ayam goreng kesukaannya.
"Apa Om nda ikut makan ladi, Oma, Opa?"
Al sudah bisa memanggil Ben dan Griz demikian. Namun bocah itu agaknya belum bisa atau belum mau memanggil Kael dengan sebutan ayah.
"Sepertinya begitu, Ayah Kael kedatangan tamu. Dan akan sibuk mengerjakan pekerjaan, jadi akan makan di kamar," jawab Griz.
Degh!
Rosa entah mengapa menjadi tidak enak hati dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia merasa tidak nyaman bahkan sedikit merasa bersalah. Rosa beranggapan bahwa karenanya, Kael tidak bisa menikmati makan bersama keluarganya.
Akan tetapi Rosa juga tidak bisa berkata apapun. Sebelum bertemu secara langsung dengan Kael, Rosa bertekad penuh untuk berani. Tapi pada kenyataannya nyalinya yang menciut dan hatinya penuh rasa takut.
Hingga makan berakhir dan mereka kembali ke kamarnya masing-masing, Rosa hanya diam. Namun saat waktu tidur datang, Rosa tak kunjung bisa memejamkan matanya.
Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya yang sangat mengganjal. Setelah memastikan bahwa Al tidur dengan pulas, Rosa turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Dia terus berjalan hingga ke dapur.
Apa yang dilakukan oleh wanita itu?
Rosa membuat dua cangkir kopi dan meletakkan camilan ke sebuah piring. Dengan sebuah nampan, Rosa membawa makanan dan minuman itu ke sebuah ruangan yang lampunya masih nyala meski malam sudah berlalu setengahnya.
tok tok tok
Rosa meletakkan nampan itu di lantai. Ia lalu mengetuk pintu ruangan tersebut, dan setelah mengetuk pintu, Rosa pergi dengan begitu cepat.
Bekerja di rumah milik Danurwenda yang ada di Jakarta, cukup membuat Rosa paham tentang apa yang dibutuhkan oleh sang pewaris keluarga tersebut yang tidak lain adalah Kael. Jadi Rosa menyiapkan hal yang sama seperti waktu dia bekerja di sana dulu.
"Bos, siapa yang ngetuk?" tanya Rowan yang mendengar pintu ruangan tersebut di ketuk.
"Nggak tahu, coba cek. Kok cuma sekali ngetuknya," jawab Kael.
Rowan mengangguk, dia langsung bergegas memeriksanya dengan membuka pintu. Namun tak ada siapapun di sana.
"Nggak ada siapa-siapa, Kael. Eh tunggu, ada nampan sama dua cangkir kopi yang masih panas," ucap Rowan. Dia mengambil nampan itu dan membawanya kepada Kael. "Siapa ya," ucapnya lagi.
Kael hanya diam, dia tidak berkata apapun. Akan tetapi sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya. Agaknya dia tahu siapa yang mengantarkan ini.
"Cukup, kita lanjut lagi," ucap Kael sambil menutup laptopnya.
"Eh, beneran ini. Ya udah kalau gitu aku ngopi dulu ah bentar sebelum on the way tidur," sahut Rowan.
Kael tidak peduli dengan apa yang dikatakan Rowan. Dia beranjak dari duduknya dan melenggang pergi. Kael mengeratkan jaketnya karena hawa dingin langsung menyeruak ketika ia sampai di luar rumah.
Ya Kael menuju kamar dimana Rosa berada. Namun tidak melalui dalam melainkan dari luar. Kael kembali berdiri di samping jendela. Dia tak mau berdiri tepat di depan jendela karena khawatir mengejutkan si empunya kamar.
"Makasih, aku tahu itu kamu yang membawanya. Meski kamu nggak nunjukin dirimu, tapi aku senang karena setidaknya kamu memerhatikan aku. Hahahah, aku kepedean ya kayaknya karena ngerasa gitu. Tapi apapun itu aku beneran seneng. Makasih ya. Cepet lah tidur, ini udah larut malam. Semoga kamu mimpi indah, selamat malam."
Degh!
Rosa tercengang saat mendengar suara Kael. Dia tidak menyangka bahwa Kael akan ada di sana dan mengucapkan terimakasih. Rosa juga tidak menyangka bahwa Kael akan tahu bahwa dirinya lah yang melakukan itu.
Satu hal yang diketahui oleh Rosa, bahwa ketika Kael bicara tadi, dia sama sekali tidak merasa takut.
Suara Kael terdengar lembut. Dan Rosa juga merasa bahwa Kael bukan lah pria jahat.
"Apa aku salah menilai? Tapi kalau dia nggak jahat, kenapa dia melakukan itu pada ku."
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara